Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mata Ibu oleh Isbedy Stiawan ZS

Posted on Ming, 18 Jun 2006

Sungguh, aku tak dapat menolak—bahkan secara halus—ketika Linda memintaku agar mengantarnya ke rumah ibuku. Tetapi, aku tetap mengulur-ulur waktu….

Aku hanya mau silaturahmi,” ujarnya kemudian. Ringan.

Aku bimbang. Sulit sekali untuk menyatakan tidak atau ya. Justru yang terbayang adalah wajah ibuku. Meskipun ibuku sudah tak lagi dapat melihat sejak lima tahun karena diabetes, ibu pasti tahu kalau yang kubawa bukan Mirna, istriku. Kemudian ia akan bertanya macam-macam tentang Linda. Perasaan seorang ibu yang sudah 60 tahun lebih hidup pastilah akan berkata lain. Setidaknya, dia akan berkata dalam hatinya bahwa aku sudah berani bermain api. Atau kebiasaan ibu yang selalu berterus terang akan bertanya: “Kamu sudah beristri lagi, ya? Jangan lukai hati perempuan. Jangan sekali-kali menipu istri, Rud.”

Kata Linda hanya mau silaturahmi. Benarkah tanpa maksud lain di baliknya? Aku ragu. Soalnya, Linda belum kenal dengan ibuku. Ibu juga tak mengenal perempuan lain bahkan sebagai temanku sekalipun, kecuali Mirna yang sudah menjadi istriku selama 23 tahun. Ibu juga amat tahu dengan pribadiku selama ini yang tak suka bermain-main api, tak pernah berkhianat. Bahkan sewaktu aku berpacaran dengan Mirna, aku tak pernah membawa perempuan lain ke rumah. Selalu Mirna yang kuajak. Senantiasa Mirna yang datang dan menemui ibu.

Kalau kini aku membawa Linda? Apa kata ibu? Kepercayaan ibu selama ini padaku pastilah segera tercoreng. Ia tak akan mempercayaiku lagi untuk selama-lamanya. Ibu akau menudingku sudah berkhianat pada Mirna, pada kaum perempuan. Dan, aku yakin, ibu pun akan terluka hatinya. Sebagai sesama perempuan, hati ibu akan sama seperti yang dirasakan Mirna. Apalagi, aku tahu benar, ayah selama hidup perkawinannya dengan ibu tidak kudengar berselingkuh. Secuil pun tak melukai hati ibu. Tidak juga bermain mata dengan perempuan lain. Maka bukan mustahil ibu akan berang kalau tahu yang kubawa ke hadapannya adalah perempuan lain, meski hanya teman biasa.

Kalau tidak berbisik, ia akan terang-terangan berujar: “Jangan bawa perempuan lain ke sini, apa jadinya kalau Mirna tahu? Ibu tak enak, dikiranya ibu menyetujui hubungan kalian!” Atau dengan cara lain: ibu menunjukkan sikap tak sukanya.

Ada hubungan? Benarkah aku memiliki hubungan khusus dengan Linda? Sungguh, sulit aku menjawabnya. Linda adalah perempuan yang kukenal enam bulan lalu pada malam pembacaan puisi di Gedung Kesenian. Ia menemuiku sesudah acara, dan seperti dia katakan bahwa ia kerap membaca tulisanku di berbagai media massa nasional. Terutama cerpen-cerpenku yang dimuat tabloid wanita dan di sebuah harian terbesar di Jakarta. “Tapi, saya juga menyukai puisi-puisi Mas Rudi. Bahkan saya amat menyukai puisi Mas yang untuk ibu, saya hafal di luar kepala. Puisi itu sungguh-sungguh menggugah saya, membuat saya teringat pada ibu saya yang sudah meninggal. Kapan-kapan boleh saya bertemu dengan ibu Mas Rudi?”

Waktu itu aku hanya mengangguk. Mungkin basa-basi. Karena pikirku, tak mungkin Linda akan datang ke kotaku. Lagi pula pertemuan di suatu tempat seperti di Gedung Kesenian, seperti sebuah perjumpaan yang terjadi di halte, terminal, pelabuhan, ataupun di dalam perjalanan. Hanya saling “”hello” untuk kemudian berjalan masing-masing atau dilupakan.

Tapi, meleset. Ternyata tidak setiap pertemuan yang tak sengaja dan sekejap lalu tak berkesan. Sebab, bagi Linda, perjumpaan yang sekejap itu amat berkesan. Ia datang ke kotaku. Sepertinya hendak menagih janjiku untuk mempertemukannya dengan ibuku yang terabadi dalam puisiku: “Kembali Ziarah”. Ia bahkan memujiku. Aku dinilainya sebagai anak yang berbakti pada ibu, yang memiliki kesejarahan yang sangat dekat dan kuat pada ibu.

“Dari puisi Mas Rudi itu, saya bisa merasakan bahwa pengarangnya memiliki kedekatan amat khusus dengan ibu. Padahal banyak pengarang yang menulis tentang ibu, tapi tak sedalam makna yang ada dalam puisi Mas Rudi. Itulah sebabnya, aku ingin sekali bertemu dengan ibu. Bagaimana sih sesungguhnya perempuan yang ada dalam puisi mas Rudi itu?” katanya memberi alasan saat kutanya mengapa ia ingin sekali bertemu dengan ibuku, sehingga jauh-jauh datang ke kotaku.

Linda kujemput di Bandara Radin Intan dengan pesawat pertama. Ia sempat kaget ketika ia kugiring ke motorku begitu keluar dari pintu bandara. Mungkin dalam benaknya, aku akan menjemputnya dengan mobil pribadi. Namun kekagetan itu hanya sesaat, wajahnya segera berganti ceria. “Wah, asyik sekali berkendaraan motor. Saya bisa leluasa melihat keindahan kotamu,” ucapnya segera melompat ke jok motor.

“Kamu benar-benar heroik!” pujiku.

“Aneh?”

“Tidak sih. Cuma aku benar-benar tak memperkirakan kalau kau akan datang. Kukira malam itu, kau hanya basa-basi….”

“Saya tak pernah main-main dengan ucapanku. Aku tak suka kepura-puraan,” katanya tegas. “Apa kau melihat wajahku seperti yang orang yang selalu pura-pura?”

“Tidak juga!”

“Nah, buang jauh-jauh kalau begitu pikiran negatifmu sejak sekarang tentang diriku….”

“Oke. Maafkan aku,” kataku kemudian. “Sekarang kita mampir dulu ke rumah makan. Aku yakin kau pasti sudah lapar. Iya kan?”

“Wah, tawaran yang bagus itu.”

Ini sudah hari ketiga Linda berada di kotaku. Ia sudah bertekad akan menetap agak lama, itu sebabnya, siang tadi ia memintaku mencarikan sewaan rumah. Ia tertarik dengan rumah itu, tinggal lagi kesepakatan harga. Sebenarnya aku sudah berulang menasihatinya agar segera pulang ke suaminya, tetap ia bersikukuh. Keputusannya sudah bulat: meninggalkan suaminya. Ia sudah mengajukan mutasi kerja ke bank cabang di kotaku.

“Tak ada yang bisa memengaruhi untuk kembali padanya. Aku sudah bosan dengan janji-janji palsunya!” tegasnya. Yang jelas, menurut Linda, akhirnya ini sejak suaminya pengangguran memang kerap ringan tangan. Padahal yang menutupi kebutuhan rumah tangganya dari gajinya.

Lalu ia meminta masukan perihal tata cara perceraian. Sekadarnya kujelaskan sejauh yang kutahu, tanpa ingin aku masuk ke persoalan rumah tangganya. Aku selalu berada di antara keduanya. Aku katakan padanya, biasanya yang menggugat perceraian bukan dari pihak istri. Oleh sebab itu, sulit jika pihak laki tak mau menceraikan.

“Kalau begitu masalahnya, ya sudah aku tak mau mengurus perceraian kami. Tapi juga aku tak ingin kembali menemuinya! Titik. Beres kan?”

“Jelas tak semudah itu,” kataku. “Kalau, misalnya, nasib menentukan kau mencintai seseorang dan lelaki itu juga ingin menikahimu. Bagaimana kalau suamimu tahu dan karena merasa kalian belum bercerai, ia pun menuntut?”

“Ah, itu urusan nanti. Sebuah masalah yang belum terbayang dalam benakku!” Linda menepis kemungkinan itu. Dan, ia memang tipe orang yang selalu realistis. Ia lakoni apa yang ada pada hari ini dan yang di hadapannya.

Setelah itu diam. Beberapa lama. Motorku melaju menembus kilapan cahaya lampu sepanjang Jalan Diponegoro—menuju Kota Telukbetung. Ketika melintasi perempatan Jalan Dr Susilo, Linda menunjuk sepasang patung—Muli dan Menganai—yang masih berselimut kain putih.

“Mengapa patung itu diselimuti. Patung apa itu?” ia bertanya. Deru motor membuat suaranya sayup-sayup sampai ke telingaku.

“Itu patung Muli-Menganai. Bahasa Lampung artinya ’gadis dan bujang’. Karena belum sesuai adat dan kalau tak salah banyak yang protes, akhirnya patung yang baru dibuat oleh Wali Kota yang baru dilantik terpaksa ditunda peresmiannya,” aku menjelaskan.

Linda tak lagi bertanya. Aku memacu motorku menuruni Jalan Diponegoro. Berhenti di sebuah warung khusus penjual pempek. Aku yakin Linda pasti ingin mencicipi pempek Palembang yang banyak disediakan di kawasan ini. Benar, ia bersemangat. Apalagi, setelah tahu harganya pun jauh lebih murah jika dibanding di Jakarta. Entah berapa puluh pempek disantapnya. Aku khawatir akan mengganggu perutnya.

“Kau keberatan mengantarku ke rumah ibu?” Linda kembali mengajukan pertanyaan, seusai pempek ke 15 dimakannya. Aku menghidupkan sebatang rokok. “Ya sudah kalau kau tak ingin, aku maklum. Berarti kau menganggapku hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu,” lanjutnya.

“Maksudmu, Linda?” Aku tak mengerti. “Bukan karena aku keberatan, cuma belum saatnya.”

Linda tak menyahut. Ia kesampingkan pandangannya.

“Maafkan aku, Linda. Bukan aku tak ingin mengenalkanmu dengan ibu. Hanya tidak sekarang,” kataku membuka percakapan sambil memasukkan makanan ke mulut.

Hening. Kutatap wajah Linda dalam-dalam. Aku menginginkan pengertiannya, sekali lagi, agar ia membatalkan untuk bertemu ibu. Aku hendak menjaga perasaan ibu yang selama hidupnya mendampingi ayah tanpa dikhianati. Aku juga mau menenggang rasa Mirna. Tetapi, bukankah Linda juga perempuan? Ia juga punya perasaan, setidaknya memiliki kerinduan pada figur ibu sejak orangtuanya meninggalkan empat tahun lalu.

“Katamu kemarin, mau mengantarku sekarang?”

“Tapi, sudah malam, Linda?”

“Sudahlah, tak usah beralasan. Kau memang tak ingin menemukan aku dengan ibumu. Aku jadi meragukan tentang puisimu itu…”

“Oke, oke. Ayo, malam ini aku antar kau menemui ibuku,” kataku sudah kehabisan cara untuk menolak keinginannya.

“Tapi, sepertinya kau terpaksa? Aku tak mau kau merasa dipaksa olehku, lalu mengantarku pun karena terpaksa. Aku tak suka itu…”

“Tidak, tidak. Aku mau mengantarmu sekarang, ayo…”

>diaC< Ibu ternyata belum tidur. Kulihat mukena belum dilipatnya. Pastilah ibu baru selesai shalat sunah usai Isa menjelang tidur. Aku mengambil tangan ibu dan mencium sedalam-dalamnya. “Ada apa Rud, malam-malam datang?” Adikku yang sudah berkeluarga dan menemani ibu mendekati telinga ibu dan berbisik: “Rudi datang membawa teman perempuan. Katanya ingin bertemu ibu…” “Siapa?” ibu bertanya. Entah lantaran tak mendengar atau pertanyaan yang menyimpan kecurigaan. Adikku mengulang. Ia menuntun ibu ke luar kamar. Linda segera menghampiri dan mengambil tangan ibuku untuk kemudian menciumnya. “Saya Linda Bu dari Jakarta. Saya tertarik dengan puisi Mas Rudi yang sangat menyanjung dan memuji Ibu. Karena itu, saya ingin sekali bertemu Ibu, hendak bersilaturahmi.” Ibu hanya diam. Rona wajah ibu tak sedikit pun berubah. Ia mencari kursi di tempat biasa ibu duduk. Linda mendekat. Menyerahkan kue ke tangan ibu. Setelah itu merogoh isi tas dan mengeluarkan sesuatu. “Siang tadi saya membeli kacamata, saya pikir Ibu tak bisa melihat hanya karena tak punya kacamata. Tapi…” ujar Linda sambil menyerahkan kacamata yang aku yakin harganya amat mahal. “Maaf, Nak. Mata Ibu sudah tak butuh kacamata lagi. Sudah tak berfungsi lagi….” “Bagaimana kalau dioperasi saja, Bu? Biar saya yang menanggung semua biayanya.” “Ah, tak perlu repot-repot, Nak. Biarlah, toh Ibu juga sudah tua. Umur Ibu sudah tak lama lagi.” “Jangan berkata begitu, Bu…,” aku mencegah ucapan ibu yang menjurus pesimistis dan pasrah. “Ya, Bu. Soal usia manusia, hanya Tuhan yang lebih tahu. Bagaimana, Bu, kalau mau dioperasi segera besok dibawa ke rumah sakit,” lanjut Linda. “Tak usah, Nak, tak usah repot-repot,” kata ibu lembut. “Mata Ibu juga sudah tak mungkin bisa kembali, sudah lima tahun. Lagi pula, Ibu juga sudah diberi kesempatan oleh Allah melihat dunia cukup lama. Ibu juga tak jalan ke mana-mana lagi, hanya di rumah…” “Tapi, Bu…,” sosor Linda. “Jangan sampai Ibu merepotkan Anak.” “Tidak, Bu…” “Jangan. Ibu berterima kasih dengan niat Nak Linda. Ibu juga berterima kasih Anak mau menjenguk Ibu, hanya karena membaca puisi Rudi. Ah, Ibu sendiri tak tahu apa puisinya itu, Rudi tak pernah membacakannya di depan Ibu…” “Bacakan….” Linda berbisik. Aku segera membacakan puisi “Kembali Ziarah”, tentu tidak seperti ketika aku membacakannya di panggung kesenian. Namun dengan interpretasi yang dalam, suaraku pelan dan bergetar. Kulihat tetesan yang menjelma anak sungai yang keluar dari sumber mata ibu membasahi kedua pipinya. “Walau Ibu tak mengerti, puisimu menyentuh…,” komentar ibu, usai kubacakan seluruh larik puisiku itu. “Sebagaimana meskipun mata Ibu sudah tak berfungsi, tapi Ibu tetap merasakan melihat dunia. Ibu bisa merasakan getar yang ada di dalam dirimu Rudi, juga yang ada padamu Nak Linda…” Kuperhatikan Linda serba salah mendengar ucapan ibu. Mata ibu lebih tajam. Perasaan ibu sangatlah dalam. Betapa dalam sehingga mampu menembus segala rahasia. “Jangan khianati istri dan anakmu. Menantu Ibu masih tetap Mirna…” bisik ibu sesampai di tempat tidur. Suaranya terbata dan pelan, tapi terdengar amat bergetar. Lampung, April-Mei 2006

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme