Tidak ada yang tahu, sejak kapan dan siapa yang menanam pohon kapas itu. Begitu juga sampai sekarang, tidak ada pula yang mengaku pemilik dari pohon besar itu. Pohon yang menjulang tinggi ke angkasa, besarnya tidak terjangkau pelukan tangan orang dewasa, menurut kata orang-orang tetua kampung, pohon itu memang sudah begitu adanya.
Pohon kapas besar itu tumbuh begitu subur, berada di tepi jalan hitam kampung kami, tepatnya di jalan lurus, kiri kanan diapit pematang sawah. Daunnya hijau dan tumbuh lebat, Jika sedang berbuah, maka pohon itu akan berubah putih, kapas-kapas bergantungan di ujung ranting, mengelupas bila buah itu sudah matang, sedikit saja angin bertiup makan beterbanganlah, kapas-kapas itu ke seluruh penjuru kampung, semua menjadi putih seputih kapas diterpa sinar matahari.
Di sebuah musim angin barat, terjadilah hujan badai, pohon kapuk itu disambar petir, sebagian dahan berhamburan jatuh ke tanah, menutupi badan jalan dan persawahan karena terlalu besar, warga kewalahan membersihkannya sampai-sampai harus meminta bantuan dari kampung sebelah, kapas berhamburan menutupi jalan.
Banyak juga warga yang memanfaatkan buah kapas itu, ketika waktu senggang mereka berbondong-bondong mengutip dari sisa-sisa terpaan angin, buah kapas yang jatuh tidak pernah terbuang, semua diangkut warga kampung, untuk dijadikan kasur, sebagai alas tidur, bantal tidur, bahkan guling sekalipun. Memiliki kasur merupakan harta termewah bagi warga kampung. Itulah sebab buah kapas itu diangkut warga, ada pula yang berebut ingin mendapatkannya.
Sejak kapuk itu berbuah, seluruh warga kampung memiliki kasur, mereka tidak lagi tidur yang hanya beralaskan anyaman tikar pandan. Meski mendatangkan manfaat, ada pula yang menginginkan pohon itu segera ditebang, selain beralasan sudah sangat terlalu besar, ada pula yang mengatakan pohon itu sudah berpenghuni, warga meyakini pohon itu merupakan sarang kuntilanak. Tapi ada pula warga yang menolak usulan itu mentah-mentah, sebagian dari warga menginginkan pohon itu tetap tumbuh besar, sebagaimana kemauan para leluhur mereka terdahulu, jauh sebelum kampung barat dan kampung timur dileburkan menjadi satu, pohon kapuk itu merupakan satu-satunya pembatas kedua kampung, bersebab itu pula pohon terus dijaga dan diperlihara untuk mengingat para pemuka kampung terdahulu, atas pertimbangan itu pohon gagal ditebang.
Menurut kabar yang beredar dari warga kampung, seseorang telah memergoki kuntilanak sedang bergelantungan seperti kapas sebanyak buah kapas di pohon itu. Tapi setelah warga kampung mengenal kasur spring bed, buah kapuk mulai dilupakan pelan-pelan, hanya satu-dua orang saja yang masih setia menggunakan kasur kapas, keberadaan pohon kapas pun kemudian mulai dilupakan warga.
Banyak juga warga yang memanfaatkan buah kapas itu, ketika waktu senggang mereka berbondong-bondong mengutip dari sisa-sisa terpaan angin, buah kapas yang jatuh tidak pernah terbuang, semua diangkut warga kampung, untuk dijadikan kasur.
Sejak itu orang-orang hanya mengingatnya ketika malam tiba, jika melintasi pohon itu, bersebab kabar dari mulut ke mulut, bahwa pohon kapas besar itu dihuni makhluk halus, pengalaman ini pernah dialami Ismail, ketika ia pulang dari tempat penganjian. Malam itu pukul 22.30 WIB sudah sangat larut untuk suasana kampung yang sepi, disertai hujan rintik-rintik, tanpa senter Ismail berjalan dalam kegelapan, sesampai di pohon kapas ia melihat sosok putih berdiri di bawah pohon, ia merinding, entah apa yang dipikirnya, kemudian bergegas lari karena ketakutan.
Keesokan harinya, beredarlah informasi tentang peristiwa itu ke seluruh penjuru kampung, sejak itu pohon kapas mulai angker dan ditakuti oleh orang-orang kampung. Pada suatu malam peristiwa ini kuceritakan pula pada Maduki, biasanya kami memanggilnya Bang Maduki, karena memang umur beliau lebih tua dari kami, begitulah cara orang kampung ini menghormati mereka yang lebih tua.
”Apa Abang sudah mendengar tentang keberadaan sesosok hantu putih di pohon kapas pinggir jalan itu,” tanyaku, saat menemuinya di warung kopi Mak Iteh.
”Belum,” kata Maduki. ”Bagaimana kisahnya?” tanya Maduki penasaran.
Peristiwa horor itu dialami Ismail, kataku, persis pada Kamis malam lalu, ia melihat sosok putih tepat berada di bawah pohon kapas besar itu, jelas saya kepada Maduki.
”Lalu bagaimana nasibnya setelah itu?” Maduki lanjut bertanya.
”Ismail ambil langkah seribulah,” jawabku sambil tertawa.
Mendengar cerita itu Maduki hanya merespons dengan wajah dingin sembari senyum, karena seumur-umurnya tidak pernah melihat dan berjumpa dengan yang namanya hantu, kecuali yang diperankan dalam film horor di televisi-televisi.
”Mungkin yang dilihat Ismail hanya goni,” kata Maduki.
”Mengapa Abang mengatakan begitu, dia bercerita sungguh-sungguh loh bahwa yang dilihatnya benar itu hantu,” ujar saya meyakinkan Maduki.
Sebab begini, jawab Maduki, sore itu saya memupuk padi di beberapa petak sawah yang berada tidak jauh dari pohon kapas itu, karena selesainya sudah terlalu gelap, goni-goni itu saya sangkut di pohon. ”Mungkin malam itu goni tersebut yang dilihat Ismail,” jelas Maduki.
”Mungkin saja, apa yang dilihat Ismail bukan goni yang saya maksud,” sambung Maduki.
Saya pun tertawa seusai mendengar penjelasan itu.
Tapi demikian, orang-orang tetap saja memercayai pohon itu berpenghuni, sampai sekarang ada saja orang yang takut melintas ketika malam hari melewati pohon itu dan begitulah adanya pohon kapas di tepi jalan meninggalkan misterinya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, dan musim pun terus berganti, pohon kapas terus membesar, sekarang pohon itu tidak sanggup lagi dijangkau oleh dua bahkan tiga pelukan tangan orang dewasa, pohon itu benar-benar besar, semakin rindang, cabang-cabang makin kokoh, buahnya pun semakin lebat, hanya saja seperti yang kukatakan tadi, semenjak warga mengenal kasur spring bed, keberadaan kapas mulai tidak lagi diminati, kapas di kampung tidak lagi empuk untuk ditiduri.
Warga pun mulai lupa, lupa dengan pohon kapas, kecuali ketika memasuki musim kampanye pemilu. Pohon itu kembali didatangi, untuk ditempel embel-embel pemilu, bukan hanya dari kampung tapi dari banyak daerah lain mendatangi pohon itu, bermacam dan corak wajah tertempel di situ, dan banyak pula tertulis janji-janji, semua diumbar di situ, jadilah pohon itu warna-warni, seperti halnya warna partai politik di daerah kami, setelah itu orang-orang melupakannya lagi selama lima tahun ke depan.
Baru kemudian mengingatnya lagi ketika 24 Desember, warga kampung mendatangi pohon itu, bukan ingin mendapatkan kapas dari buah kapuk, bukan juga ingin menempelkan embel-embel pemilu, mereka dibariskan, ada juga yang dipaksa merayap-rayap di sawah.
Setiap tahun ketika memasuki tanggal 24 Desember pasti akan tersangkut sebuah bendera bintang bulan, dengan perpaduan warna merah dan hitam, entah siapa yang mau bersusah payah menyangkutkannya di atas pohon besar itu, sampai orang-orang kampung ikut bersusah kewalahan menurunkannya.
Bendera itu paling dimusuhi negara, bahkan dilarang untuk mengibarkannya, karena itu warga di kampung dikumpulkan untuk menurunkan bendera dari pohon besar, sembari diinterogasi satu per satu perihal orang yang telah menaikkan bendera itu, tentu saja warga tidak mengetahuinya, apalagi pemasangan dilakukan ketika malam hari.
Tidak sedikit dari mereka mendapat kekerasan dari aparat. Karena sudah sangat sering dinaikkan bandera terlarang itu oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya mengira bendera dinaikkan oleh si hantu sang penghuni pohon besar, habis siapa lagi yang berani naik sampai ke ujung dahan untuk mengikat bendera kalau bukan dia. Bukankah selama ini dia yang sering bergelantungan di pohon ini, seperti cerita orang-orang kampung.
Karena sudah sangat terlalu sering membuat resah, seseorang nekat melaporkan bocoran ini kepada aparat, bahwa selama ini yang sering membuat ulah di pohon besar sosok hantu berpakaian putih yang muncul saat hujan rintik-rintik tengah malam dan sering menakut-nakuti warga yang melintas, dia juga yang telah mengikat bendera-bendera itu di ujung dahan.
Setelah melaporkan penghuni pohon, sang pelapor pun dikenai sanksi merayap di dalam sawah yang baru saja digarap petani, serta dikenai wajib lapor selama dua minggu berturut-turut karena dianggap sudah memperolok-olok petugas.
Setelah kejadian itu pohon besar pun disarankan warga kampung untuk dirobohkan, tapi setelah dirobohkan pohon itu tetap hidup dalam ingatan-ingatan warga, kembali membesar di lorong-lorong kampung, dan berbuah lebat dalam cerita-cerita orang, bahkan lebih banyak dari buah-buah sebelumnya.
***
Teuku Hendra Keumala, lahir di Nagan Raya, 20 Maret 1986, aktif menulis cerpen dan artikel, serta bekerja sebagai jurnalis di salah satu media lokal di Aceh.
sumber : kompas.id, 01 Jul 2021.