Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sambal Keluarga oleh Puthut EA

Posted on Ming, 20 Agu 2006

Di keluargaku, ada satu jenis sambal yang nyaris tidak pernah absen dari meja makan kami, terutama saat makan pagi. Sambal itu sangat sederhana, baik bahan maupun cara pembuatannya. Beberapa butir cabai hijau, ditambah sepotong kecil bawang putih dengan garam secukupnya, lalu ditetesi minyak goreng panas sisa menggoreng sesuatu. Setelah diulek, sambal itu dihidangkan begitu saja di atas cobek, berbaur dengan menu lain.

Sambal itu bukan menu tambahan atau menu penyempurna. Ia merupakan menu utama. Lauk yang lain seperti tidak ada jika sambal itu tidak hadir, tetapi sambal itu akan tetap menggiurkan dengan iringan lauk yang lain. Sambal itu tetap enak jika disandingkan dengan ayam goreng, telur, atau tempe. Tetap enak sekalipun hanya ada kerupuk atau pete.

Masing-masing anggota keluarga kami mempunyai nama sendiri-sendiri untuk menyebut sambal itu. Yu Sumi, orang yang bertahun-tahun membantu memasak di rumah kami, menyebut sambal itu dengan nama sambal korek. Mungkin karena sekalipun sambal itu sudah tandas, kami tetap mengoreknya dari cobek untuk mencari sisa-sisa. Ibuku memberi nama sambal itu dengan nama sambal galak. Alasannya, sambal itu terasa sangat pedas, galak di mulut. Bapakku menyebut sambal itu dengan nama sambal bahagia. Konon kata bapakku, sambal sederhana itu gampang membuatnya bahagia. Ayundaku, satu-satunya saudara kandungku, menyebut sambal itu dengan nama sambal malas. Maksudnya, sambal itu membuatnya malas untuk menyelesaikan sarapan, selalu ingin menambah nasi. Dan aku memberi nama sambal itu dengan nama sambal asal. Siapa pun orangnya, asal sudah bisa memegang cobek dan ulekan, pasti bisa membuatnya.

Kalau sambal itu absen dari meja makan kami saat sarapan, masing-masing kami mempunyai kalimat antik untuk meresponsnya. Ibuku akan berkata, Yu Sumi sedang ngambek. Sedangkan bapakku akan mengatakan kalau penjual cabai hijau sedang menikah. Ayundaku lain lagi, jika sambal itu tidak hadir, ia selalu bilang, sidang kabinet batal. Ayundaku memang senang sekali menonton laporan khusus yang ditayangkan TVRI, terutama kalau Pak Harmoko membacakan harga-harga bahan makanan, termasuk harga cabai. Aku sendiri akan bilang, upacara tanpa bendera. Biasanya, sebelum makan, aku akan mengeluarkan aba-aba untuk diri sendiri jika tidak ada sambal tersebut di meja makan, “Upacara tanpa bendera, mulai!”

Sarapan pagi bagi kami adalah sebuah prosesi yang khusyuk tapi tetap cair dan ringan. Sambal adalah uba-rampe yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Sambal itu telah menjadi sambal keluarga.

Pada saat sarapan, kami juga saling menandai siapa di antara kami yang sedang mempunyai masalah. Kalau ada salah seorang di antara kami tidak antusias berebut sambal dari cobek, pasti ia sedang mempunyai masalah. Pasti.

Sampai aku dan ayundaku besar, sambal keluarga itu tetap menduduki rangking teratas di keluarga kami. Jika kami berkumpul di rumah, menu itu selalu dipastikan ada saat sarapan. Hanya ketika aku dan ayundaku sudah tumbuh besar, kami berdua memberi sebutan yang berbeda lagi untuk menu sambal. Beberapa bulan setelah aku kuliah, aku menyebut sambal itu dengan nama sambal proletar. Sedangkan ayundaku menyebutnya dengan nama sambal kenangan.

>diaC< Keluarga kami bertemu di meja makan tiga kali dalam sehari. Pagi, ketika ibu-bapakku akan pergi ke kantor dan kami bersiap pergi ke sekolah, lalu siang ketika kami semua sudah tiba dari tempat masing-masing, dan malam hari seusai salat maghrib. Tapi hanya pada pagi hari kami benar-benar seperti “bertemu”. Di siang hari, aku yang satu selera dengan ibuku, lebih memilih santapan sayur asem, sedangkan bapakku dan ayundaku lebih memilih sayur lodeh. Di malam hari, makanan kami lebih sering dibeli dari luar rumah, dan kami pun membentuk konfigurasi selera yang berbeda, aku dan ayundaku lebih suka makan masakan Padang, sementara ibu dan bapakku lebih suka menikmati lontong sayur atau pecel lele. Tidak bisa kumungkiri, menu makan pagi yang tidak tergantikan itu telah berubah menjadi begitu jauh, penuh dengan isyarat dan petanda yang lembut bagi kami sekeluarga. Seperti menenun sebuah jaringan mental yang gaib dan penuh rahasia. Kalau ada tamu menginap di rumah kami, tidak peduli apakah itu saudara dekat seperti nenek atau bude, atau teman-teman ibu dan bapakku, bisa dipastikan menu itu bersembunyi, lenyap dari meja makan kami. Seolah kami saling melempar pesan, “Sekarang sedang ada orang lain.” Hanya ada satu orang saja yang kami percaya untuk mengetahui rahasia lembut itu, Yu Sumi. Dialah yang menguntit proses itu bertahun-tahun, dan ikut menyukseskan ritual sarapan dengan baik. Dan karena itu, ia adalah bagian dari kami. Dengan pelan dan pasti, aku mulai menyadari bahwa itu bukan sekadar perkara jenis sambal tertentu. Itu lebih rumit dari yang kami rasakan di lidah. Pertama aku menandai itu ketika ayundaku pergi kuliah di luar kota. Tetap ada menu itu di sarapan kami bertiga, tapi tetap seperti tidak biasanya. Dan kami butuh waktu untuk menyesuaikan, dan kami tahu, itu adalah cara menyesuaikan, bukan idealnya. Tiga tahun kemudian, ketika aku menyusul ayundaku kuliah di kota yang sama, tidak jarang kami pun sering mencoba membuat kedua menu itu, hasilnya sama, tidak akan pernah sama persis ketika itu kami santap di rumah bersama ibu dan bapak kami. Sambal itu baru kami nikmati kembali sebagai sambal keluarga ketika kami berkumpul. Sambal itu bau benar-benar sambal karena ia berada di sana, di sebuah pagi, di rumah kami, ketika kami semua lengkap mengepung meja. Lalu semua itu berkembang lebih jauh lagi. Aku masih mengingat saat itu, ketika kali pertama ayundaku membawa pacarnya pulang ke rumah, memperkenalkan kekasihnya itu ke kedua orangtua kami. Pagi saat sarapan, ayundaku terlihat sebagai orang yang paling resah. Ia langsung pucat dan tidak berselera, begitu di meja makan, di antara sekian banyak lauk-pauk tidak ada kedua menu itu. Sebuah isyarat telah dilempar ke meja makan. Dan ayundaku begitu lunglai. Kali kedua ia membawa kekasihnya yang lain, ia pun mengalami hal serupa. Dan itu bukan hanya menimpanya, tetapi juga pernah menimpaku. Sekali menimpaku karena hanya sekali pula aku membawa pacarku pulang ke rumah. Semenjak itu, kami berdua harus berpikir berkali-kali kalau ingin membawa pacar kami pulang ke rumah. Setelah mengalami ketiga kejadian itu, aku memberi nama sambal itu dengan nama sambal ujian, sementara ayundaku memberi nama sambal maut. Perubahan penyebutan itu hanya membuat kedua orangtuaku tersenyum ringan dan tetap tenang. Saat kami berdua tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orangtua kami, memakan sambal dengan lahap ketika berkumpul bersama keluarga menjadi semacam registrasi ulang untuk mengukuhkan sesuatu yang kami anggap penting. Sarapan pagi adalah ritual validasi atas diri kami berdua, aku dan ayundaku. Suatu kali, ketika hampir dua tahun ayundaku tugas belajar ke luar negeri, begitu pulang ke Indonesia ia langsung mengajakku pulang ke rumah. Paginya, dalam suasana makan pagi yang hangat, ayundaku menyantap sambal keluarga itu dengan cara yang tidak pernah ia lakukan. Kupikir, ia bukan sekadar rindu pada sambal dan suasana di keluarga kami, tapi juga dalam rangka menunjukkan sesuatu yang penting untuk disampaikan. Hasilnya, ia tidak makan siang dan tidak makan malam karena kekenyangan dan perutnya panas. Tapi keesokan harinya, ia tetap menyantap sambal itu dengan antusiasme yang tidak kalah dari pagi sebelumnya. Dua tahun yang lalu, akhirnya, satu orang lagi menjadi bagian dari keluarga kami. Mas Rudi, yang sekarang menjadi suami ayundaku, lolos dari pedas sambal maut. Ketika pagi itu, ayundaku melihat sambal keluarga terhidang di atas cobek saat makan bersama, ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung memekik dan mencium ibu-bapakku, dan merangkul Mas Rudi. Tentu saja Mas Rudi yang tidak tahu apa-apa hanya bengong. Kini, mereka berdua telah dikarunia seorang putri yang lucu, dan sekalipun keponakanku itu mempunyai nama panjang yang bagus, toh ayundaku memanggil anaknya dengan panggilan sayang: Mbal…. >diaC< Pagi ini adalah pagi yang paling membuatku salah tingkah. Ayundaku, Mas Rudi, dan putri mereka ramai bermain di beranda depan. Ibuku sedang mempersiapkan sarapan buat kami di dapur. Hanya bapakku yang tidak terlihat. Sementara Dian, kekasihku, masih berada di kamar. Sesekali, ayundaku masuk ke ruang tamu, tempat di mana aku mencoba mengatasi perasaanku yang serba tidak menentu. Beberapa kali ayundaku memberi isyarat supaya aku tenang. Bahkan tidak segan ia menepuk pundakku, seakan memberi semangat dan ketenteraman bahwa pagi ini, semua akan baik-baik saja. Kemarin, ayundaku beserta suami dan putri mereka berkunjung ke rumah orangtua kami. Mereka dipanggil pulang ke rumah oleh ibuku setelah aku dan Dian memastikan bahwa kami berdua akan datang. Ini kali pertama Dian kuajak ke rumahku, dan ini berarti drama sambal keluarga akan dimulai. Setahun lebih aku menjalin hubungan dengan Dian, dan baru kali ini aku memberanikan diri mengajaknya mengunjungi kedua orangtuaku. Hampir semua hal telah kami bicarakan berdua, kecuali satu hal: sambal keluarga. Semalam, kami semua telah berkumpul. Semalam, suasana begitu akrab sehingga seharusnya aku tidak perlu terlalu khawatir akan drama pagi ini. Tapi bukankah seperti itu yang dulu terjadi kepada kedua mantan kekasih ayundaku dan mantan kekasihku? Malam yang nyaman, bukan berarti sebuah tiket yang bisa menentukan apa yang terjadi di pagi harinya. Dian keluar dari kamarnya. Ia menemuiku, dan bilang akan membantu ibu di dapur untuk mempersiapkan sarapan. Tapi sebelum aku mengiyakan, ibu sudah memanggil-manggil kami dari dapur. Perasaanku semakin kocar-kacir, pikiranku semakin kacau. Ayundaku bersama Mas Rudi dan putri mereka segera masuk ke gelanggang pementasan. Dian memberi isyarat agar kami berdua segera menyusul ke dapur. Pelan aku bangkit dan menggandeng tangan Dian. Pada tangan itu, aku ingin memastikan dan memperkuat sesuatu yang serba tidak menentu. Aku mendengar suara ramai di dapur, suara keponakanku ditimpali suara ayunda dan ibuku. Suara yang ringan dan bingar. Beberapa meter dari ruang makan, aku melihat semua sudah menempati kursi masing- masing, hanya Mas Rudi yang masih menggendong putrinya sambil terus bercanda. Bapakku yang dari pagi tidak kulihat juga sudah berada di sana, sementara Yu Sumi masih kulihat sibuk di dapur yang terletak bersebelahan dengan ruang makan. Pelan kami berdua masuk, menuju tempat duduk yang tersisa. Dan mataku menyapu sajian di meja makan…. Jantungku berdetak mengencang dan mengeras. Kusapu berkali-kali dan kuperiksa dengan seluruh perhatianku, tetap saja aku tidak menemukan satu menu yang paling kutunggu-tunggu. Tubuhku terasa ringan. Tapi aku berusaha tetap tenang, dan duduk di kursiku. Yu Sumi masih melakukan sesuatu di dapur, mungkin masih di sana…. Semoga…. Rasa tidak menentu juga kulihat di raut muka ayundaku. Mas Rudi, orang yang akhirnya tahu tentang drama sarapan ini, setelah mengambil makanannya, keluar dari ruang pentas. Ia memberi alasan akan menyuapi putrinya di beranda. Tapi aku memaklumi, ia sedang tidak ingin mencampuri satu peristiwa yang mungkin tidak mengenakkan hatinya. Sarapan dimulai. Tanganku gemetar, aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Berkali-kali, aku melihat ayundaku juga berusaha menghilangkan ketegangan dengan cara menarik napas dalam-dalam. Sementara ibu dan bapakku terlihat seperti biasa, tenang dan ramah. Dan Dian…, ia juga tenang. Yu Sumi datang membawa sesuatu. Harapanku bangkit. Tapi setelah tahu apa yang ada di tangannya, yang kemudian diletakkannya di meja, kembali gelombang harapan itu kandas seketika. Kali ini, Dian melihatku dengan heran. Tapi ia meneruskan mengambil lauk yang ada di meja. Percakapan-percakapan ringan mulai hadir. Ibuku bicara, bapakku bicara, Dian menjawab dan menimpali. Ayundaku sesekali ikut ambil bagian. Hanya aku yang belum mengeluarkan sepatah kata pun. Yu Sumi datang lagi, ia membawa sesuatu. Harapanku naik lagi. Tapi lagi-lagi, ia tidak membawa sesuatu yang kuharapkan. Saat tahu itu, aku hanya punya satu pikiran… habis… aku habis! Tapi tepat di saat pikiran buruk itu menguasaiku, ibuku bangkit. Ia menuju dapur. Tidak lama kemudian ia masuk lagi membawa cobek. Aku hampir memekik, tapi aku ingin memastikan sesuatu di dalamnya. Dan apa yang kuharapkan ada di sana, sambal keluarga datang! Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Ayundaku bahkan langsung berteriak girang. Sementara aku menahan diri untuk tidak berteriak, tapi mengulum senyum lega. Dian juga tersenyum, aku tidak tahu apa maksud senyumnya. “Mbak Dian, sambal… ini sambal keluarga kami,” ibu mengeluarkan suara. “Iya, Dian. Sambal ini enak sekali,” ayundaku menimpali sambil tangannya mengeruk sambal dengan sendok dan menjatuhkan sambal itu di piringnya. Aku yang begitu girang, masih berusaha menahan semuanya. Dadaku dipenuhi rasa syukur. “Iya, Bu… saya juga suka sambal ini. Saya sering membuatkan sambal ini untuk eyang kakung saya…,” sambil berkata seperti itu, Dian mengambil sesendok sambal. Aku benar-benar lega. Semua terasa lapang dan ringan. Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa ada yang berhenti di ruang makan ini. Aku melihat mata ayundaku terhenti pada sesuatu. Aku melihat mata ibuku juga terhenti pada sesuatu. Aku memastikan apa yang terjadi dengan itu semua…. Napasku seperti berhenti. Aku melihat satu adegan ringan tapi tajam. Tangan Dian mengambil sebotol kecap, dengan pelan ia menuangkan kecap itu di atas sambal yang sudah berada di piring makannya. Dengan tenang ia berkata, “Tapi saya paling suka kalau ditambah kecap.” Aku diam. Ayundaku diam. Ibuku diam. Bapakku diam. Semua diam. Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Mereka berdua kembali mengeluarkan kalimat-kalimat ringan untuk mencairkan suasana. Dian tetap makan dengan tenang, sambil sesekali menimpali pembicaraan. dian sambal muncul dengan dramatis gembira dian menuangi sambal yang diambilnya dengan kecap!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme