Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ido dan Laut oleh Sofianti.

Posted on Kam, 22 Jul 2021

Ia duduk sendiri di tepi laut. Baginya desir ombak seakan nyanyian tak bernada. Dialah Ido seorang pelaut yang tangguh namun rapuh karena masa lalu. Saat ini usianya menginjak lima belas tahun. Ia tak seperti anak-anak pada umumnya, sangat senang dengan bermain dan bertemu teman baru. Ia adalah Ido yang selalu menutup diri dari orang-orang disekitar. Setiap sore ia akan duduk di atas ketapang sambil memandangi lautan. Lamunannya jauh menembus ujung samudera.

“…Ido, masuk nak. Sebentar lagi Maghrib…” lamunannya buyar oleh teriakan sang Ibu. Rumah mereka terletak di bibir pantai tak heran jika masyarakat di sini sangat akrab dengan laut.

Di tengah sedapnya santapan malam, Lauma ibu Ido menatap ketiga anaknya. Rasa haru tiba-tiba saja menghampiri dirinya melihat ketiga anaknya yang sangat lahap menyantap nasi jagung dan juga ikan kerapu bakar buatannya. Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari dia berjualan nasi kuning ditemani oleh anak pertamanya bernama Musa. Ido adalah anak kedua dan anak yang terakhir bernama Lamma berumur dua tahun. Ketiganya adalah putra terhebat sang ibu. Saat makan malam selesai Lauma memulai pembicaraan.

“…Ido, bolehkah Ibu meminta sesuatu padamu nak?” Ido mengangkat kepalanya dan menatap sang Ibu. Ia tak berucap sepatah katapun namun dari gerak-gerik tubuhnya Ido seakan bertanya ada apa Ibu? Lauma menarik napasnya dalam-dalam,

“…Hmmm…Ibu harap kau tak usah lagi menatap laut sepanjang hari, hidupmu masih panjang nak, kau tak bisa terus-terusan seperti ini, Ido kau anak yang kuat, bapakmu akan sangat kecewa jika melihatmu seperti ini nak, maafkan Ibu harus berkata seperti ini padamu karena setiap hari orang-orang terus membicarakanmu karena keadaanmu seperti orang sakit jiwa…” Mendengar itu Ido menatap tajam ibunya dan beranjak dari tempat duduknya. Malam itu dilalui Lauma dengan kecewa, sikap Ido menghancurkan hatinya. Namun sebagai seorang ibu ia tetap menyayangi Ido dan juga kedua anaknya.

Seminggu berlalu, malam itu dua orang wanita datang ke rumah Ido. Mereka adalah anak KKN yang berasal dari Universitas Tadulako, namanya Arumi dan Cika. Saat itu mereka melakukan kegiatan belajar bahasa Inggris setiap sore. Ia mengumpulkan anak-anak yang seumuran dengan Ido. Dan saat itu ia meminta Ido juga hadir pada proses belajar mengajar tersebut.

Waktu berlalu bersama derai ombak. Tak terasa proses belajar mengajar sudah berlangsung selama empat hari namun Ido juga tak kunjung datang. Karena penasaran anak KKN tersebut mengunjungi rumah Ido.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalaam,  eh, ada anak KKN. Masuk nak!” Salah seorang dari merekapun memulai pembicaraan.

“Owh iya Bu maaf ya sudah mengganggu. Begini, kami mahasiswa KKN ada program belajar bahasa Inggris setiap sore dan melibatkan anak-anak yang ada di kampung ini. Semuanya anak-anak di sini hadir kecuali Ido. Mohon maaf Bu, kami hanya ingin mengetahui alasan Ido tidak hadir ketempat belajar apa ya?”

Pertanyaan Cika membuat Ibu Ido diam, ia menatap dalam kedua anak KKN tersebut dan menunjuk ke arah laut.

“Itu Ido. Setiap sore Ido ada di tepi laut, ia tidak mau bergaul dengan teman-teman sebayanya ia hanya ingin berteman dengan laut, seperti itulah keadaannya nak kamu bisa lihat sendiri.” Arumi dan Cika saling berpandangan.

“Maaf bu, kami tak berniat untuk membuat ibu sakit hati.” Kemudian Cika meminta ibu Ido untuk menceritakan kronologi penyebab Ido seperti itu. Dan seperti inilah kisah Ido di kala itu:

Dulu, Ido adalah anak yang ceria. Selain itu ia juga cerdas dan sangat suka membuat kerajinan tangan dari rotan, terkadang ia membuat tas jinjing, membuat rak sepatu, tapis beras dan lain-lain. Dibanding dengan kedua saudaranya, Ia adalah anak yang sangat akrab dengan ayahnya. Setiap sore ayahnya akan mengajak Ido untuk pergi memancing. Jika hari libur maka ayahnya akan mengajaknya selesai shalat subuh.

Hari itu, hari Minggu selesai shalat subuh Ido dan ayahnya berangkat ke laut. Seperti biasa ibunya sudah menyiapkan rantang bekal yang juga harus mereka bawa. Ido dan ayahnya menyusuri laut dengan penuh pengharapan bahwa ia akan membawa pulang banyak ikan hari ini.

“Ayah, mana pancing Ido?”

“Nak hari ini kita tidak akan memancing.” Jidat Ido mengernyit, ia bingung untuk apa ia dan ayahnya ke laut kalau tidak untuk memancing. Dari dalam tas, ayahnya mengeluarkan botol kaca berwarna hijau yang telah dimasukkan bubuk serta dipasangkan sumbu diujungnya. Bom, yah itulah salah satu cara menangkap ikan dengan praktis yang sudah sering dilakukan masyarakat di kampung ini. Ido terkejut karena baru kali itu ia melihat secara langsung bom rakitan ayahnya.

“Hari ini kita akan melakukan pemboman ikan anakku, kita akan dapat banyak ikan.” Begitulah kata sang ayah.  Ido tersenyum karena sudah saatnya ia menyaksikan momen yang tak biasa ia lihat.

Pemboman ikan memang kerap terjadi di kampung ini, dan menjadi kebanggaan tersendiri bisa melihatnya secara langsung bagaimana para pelaut handal melemparkan bom rakitannya ke laut, meledakkan air dan menghasilkan banyak ikan.

Saatnya membakar sumbu. Ido tak sekalipun mengedipkan matanya, ia  benar-benar tidak ingin melewatkan momen ini. Ayah Ido berdiri pertanda telah siap melemparkan bom itu ke dalam air. Tak lama lagi sumbunya akan habis terbakar namun ayah Ido belum juga melemparkannya.

“Ayah lempar!” teriak Ido dari ujung perahu

Namun ayah Ido hanya terdiam menatap botol hijau itu.

“Ayah lempar!” Ido kembali berteriak.

Dan buuuuuuum,………….. bom meledak di tangan sang ayah. Ido terlempar jauh, di kepalanya tertancap kepingan kaca.

“Ayaaaaaaaahh…..”

Laut seketika berubah menjadi merah. Ido tak dapat melihat jelas matanya tertutup darah. Dengan samar-samar ia berusaha melihat ayahnya. Jarak mereka cukup jauh. Dengan mengumpulkan seluruh tenaganya Ido berusaha untuk sadar.

“Ayaaaaah….” Ido kembali berteriak. Saat itu ia hanya ingin

mendengar suara ayahnya.

“Ayaaaaah….” Ido menangis sekencang-kencangnya

“Tolong….., toloooong…,” seketika laut menjadi sangat menyeramkan. Tak ada seorang pun di sana. Ido yang masih kecil berusaha meraih kembali perahunya.

“Ayaaah…., ayaaaaah….,” hanya itulah kata yang keluar dari mulut Ido. Badannya bergetar, ia menjadi sangat kebingungan.

“Tolooooong…, tolooong…..” untuk menghentikan darah keluar, Ido menutup luka di kepalanya dengan tangannya.

Di dasar perahu terlihat banyak percikan darah disekelilingnya seperti lautan merah. Ido menutup matanya tak ingin melihat kejadian yang mengerikan ini. Bagai mimpi buruk yang menyiksa, laut sepertinya sedang marah pada Ido dan juga ayahnya.  Ido merebahkan badannya di perahu sambil berkata, ”Ayah maafkan Ido.”  Satu jam berlalu untung saja ada seorang nelayan yang lewat dan melihat Ido di perahu. Dan saat itulah Ido dan ayahnya mendapat pertolongan. Namun sayang, ayah Ido harus tewas mengenaskan, mayatnya ditemukan tanpa tangan sebelah kanan dan beberapa bagian tubuhnya tertusuk serpihan kaca. Karena hal inilah senyum Ido menghilang terbawa ombak.

____________________

Penulis yang bernama lengkap Sofianti. kerap disapa dengan sebutan Pia atau Sofi. Wanita berdarah suku Bajo ini lahir di Desa Pomolulu Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdul Said dan Masani. Lahir pada tanggal 11 Juli 1994.

Penulis mengenyam pendidikan sekolah dasar dikampung halamannya. Namun semenjak sekolah menengah pertama dan menengah atas penulis kini berjuang didesa tetangga yaitu Desa Meli dan Desa Labean. Dan sekarang penulis telah menyelesaikan studi S1 Kesehatan Masyarakat di Universitas Tadulako.

Menulis dan bercerita merupakan kata yang sudah dikenal penulis sejak menginjak sekolah dasar dan mulai melahirkan karyanya sejak berada di sekolah menengah pertama hanya saja untuk konsumsi pribadi.  Bagi penulis berkarya adalah proses. Jika kita tidak melewati proses maka tak akan ada karya yang tercipta.

sumber : kompas.id, 22 Jul 2021..

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme