Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak Ibu oleh Reda Gaudiamo

Posted on Ming, 06 Agu 2006

1978

“Berapa?”

“Lima setengah.”

“Lima?”

“Lima setengah, Bu.”

“Lima setengah ya lima!”

“Tapi bisa jadi enam, Bu.”

“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!”

“…”

“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”

“…”

“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan, sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!”

“…”

“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”

“…”

1983

“Aku mau masuk bahasa, Bu.”

“Bahasa? Bahasa apa?”

“Jurusan Bahasa.”

“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”

“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”

“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”

“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”

“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”

“Tapi, Bu…”

“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”

“Tapi …”

“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus. Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”

“Bu, tapi …”

“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main, mengobrol tak berguna di telepon!”

“…”

“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu. Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”

“…”

1994

“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”

“Puji syukur!”

“Ibu jadi penasehatnya, ya?”

“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”

“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”

“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”

“Kami tidak mau di rumah, Bu.”

“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”

“Tidak juga.”

“Di mana? Di mana?”

“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”

“Tobat!”

“Kenapa, Bu?”

“Jadi bukan klinik spesialis?”

“Klinik spesialis juga.”

“Tapi di…”

“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”

“Tobat! Tobat!”

“Ibu tidak setuju?”

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?”

“Kaya?”

“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”

“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”

“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”

“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang…”

“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.”

“…”

“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka klinik di kampung nelayan!”

“…”

“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

“…”

“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”

1999

“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”

“Anak yang mana lagi?”

“Yang paling kecil!”

“Si Sri?”

“Ya.”

“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”

“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani, anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”

“Nantilah, Bu.”

“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu dengan tanah?”

“Ibu!”

“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa. Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”

“Bukan itu masalahnya, Bu.”

“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek. Tidak sempat bergaul. Kenalan!”

“Ya, ya…”

“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-kumpul sama keluarga besar kita. Ibu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”

“Bu!”

“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri. Biar Ibu yang cari.”

“Kalau nggak cocok bagaimana?”

“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.

“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”

“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”

“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”

“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? Ibu tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”

2002

“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”

“Aduh, ramainya!”

“Bukan ramai, senang! Meriah.”

“…”

“Ibu juga kepingin punya cucu.”

“…”

“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”

“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”

“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang. Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang repot.”

“Nantilah…”

“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu! Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian. Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”

“…”

2006

“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”

“…”

“Tahun depan?”

“…”

“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”

“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”

“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”

“Ya.”

“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami, belum?”

“Sudah.”

“Dia setuju?”

“Tak perlu ditanyakan, Bu.”

“Kamu itu memang keterlaluan!”

“Dia, Bu. Bukan aku.”

“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”

“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”

“Tidak pulang? Tugas luar?”

“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”

“Aduh, Gusti!”

“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. ”

“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu biasa. Biasa sekali!”

“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini.…”

“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”

“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-adikmu.”

“Tapi aku bukan Ibu.”

“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”

“Aku tidak bisa, Bu. ”

“Kuat sampai tua. Sampai mati.”

“Bu…”

“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.”

“…”

“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”

“…”

pustaka jaya, 2006

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme