Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Janji oleh Reinaldus K Mogu

Posted on Sab, 24 Jul 2021

Dia terus menangis dari kamarnya. Tidak juga ia keluar untuk mengambil sedikit kebahagiaan lalu tersenyum. Pun tidak membiarkannya penghibur-penghibur datang ke dalam kamarnya untuk membawakan satu dua lelucon. Yang ia buat hanya benar-benar untuk menangis, dan menangis.

Dalam tangisnya ia sekali-kali berteriak, menyesali dirinya yang sungguh malang. ”Aku menyesal…!” teriaknya. Orang-orang yang menyaksikan insiden itu dari luar rumah sedikit merasa terharu. Mereka merasa terlarut dalam situasi yang sangat menyedihkan itu. Pun mereka tak tahu harus berbuat apa. Selain lotot menyaksikan pertunjukan yang diaktori oleh bayang-bayang.

Orang-orang dalam rumah itu juga serasa tak memedulikan situasi, atau mungkin bingung. Mereka berkali-kali mondar-mandir di depan pintu kamar, bukan juga untuk membuka pintunya, tapi malah menggaruk kepalanya masing-masing, yang entahlah sudah sejam gatalnya.

”Aku menyesal…!” teriaknya lagi-lagi. Kali ini suaranya lebih keras dari yang sebelumnya. Lantas banyak orang yang kaget. Namun tidak membuatnya berhenti menangis. Malah ia kembali lagi dalam tangisnya. Lalu menangis sejadi-jadinya.

Tak ada yang benar-benar tahu sampai kapan ia meratap dan menyesali dirinya.

***

”Hae, Tanta Sebet, pergi ke mana lagi itu si Om Nani?” tanya seorang anak muda di suatu pagi, yang entahlah ia merasa bingung dengan omnya yang pagi-pagi buta selalu keluar rumah dengan nae songke-nya yang selalu di-tengge salah. Entahlah, ke mana tak ada yang tahu.

”Katanya pergi cari obat untuk Pet, Nana,” jawab tantanya singkat.

Itulah pesan yang selalu diberikan suaminya tatkala ia keluar rumah pagi buta. Juga katanya obat itu hanya bisa diambil saat pagi buta. Dan hanya dia yang tahu. Katanya.

Anak muda tersebut merasa heran karena selama sepekan ini, ia selalu melihat omnya keluar rumah pada pagi buta dengan nae songke-nya yang itu-itu saja. Yang entahlah sebuah kebetulan atau tidak. Mungkin saja hanya sebuah kebetulan.

Ya, memang sepekan ini anaknya, Peter, menderita sakit yang tak tahu jenis apa. Tapi setidaknya jika menyentuh tubuhnya yang mungil itu, ada rasa panas yang dirasakan. Ia juga sering berbicara dan tertawa sendiri di tengah malam, tak tahu siapa yang mengajaknya berbicara dan membawanya lelucon.  Itulah sebabnya, banyak orang yang tak tahu jenis sakit yang dideritanya itu.

Bahkan warga sekampung pun tak ada yang tahu. Tatkala mereka mendengar cerita tentang sakit yang diderita si Peter, mereka selalu heran dan sedikit menduga-duga. Ada yang mengatakan panas tinggi, asma, dan juga tak sedikit orang pun menduga itu sakit kampung.

Lantas tiap malam banyak anak muda yang datang nongkrong di depan teras rumah Tanta Teres, hanya untuk menjaga si Pet dari hal-hal yang tidak dinginkan, terutama dari ata mbeko yang menjadi bahan bicaraan tiap malam.

Biasanya mereka nongkrong sampai larut malam, juga karena mereka tidak hanya datang bercerita, tapi juga sambil minum tuak bakok dan judi kartu. Ya, hal yang paling mereka senang. Dan ketika waktunya untuk tidur, sebagian dari mereka pulang ke rumahnya masing-masing, sedangkan ada juga yang menginap.

***

”Tapi, sudah periksa ini Pet(kah)?” lagi tanya anak muda, setelah lama diam menyaksikan kepergian si Om Nani.

”Sudah, Nana. Tapi kata dokter, Pet tidak mengalami sakit apa-apa,” jelas tantanya sambil memasukkan tiga sendok gula ke dalam cangkir ukuran sedang.

”Mungkin ini yang mereka sebut dengan sakit kampung, Tanta?” ujar sang anak muda dengan suara yang sedikit hilang, tenggelam dalam batuknya. Mungkin karena debu dapur yang sangat tebal.

”Saya juga berpikir demikian, Nana. Tapi om-mu bilang jangan percaya itu sakit kampung. Bohong, katanya,” ujar sang tanta sambil memasukkan empat sendok kopi ke dalam cangkir yang sudah dituangi serpihan gula. Entah bagaimana hasilnya nanti. Tak peduli.

”Ya Tuhan, benar itu sakit kampung, Tanta. Masak Tanta tak percaya.”

”Saya percaya itu, Nana. Tapi om-mu itu tetap bersikeras,” ujar sang tanta sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir tadi.

Tangannya terus mengaduk kopi dalam cangkir tersebut. Mengaduk sampai ia berhasil mendapat rasanya. Lalu sesaat tangan kanannya menuangkan kopi itu ke dalam berapa gelas yang sudah menanti aroma kopi.

Belum saja satu gelas terisi penuh. Tiba-tiba si Om Nani kembali lagi dengan napas yang sedikit kelihatan lelah. Rupanya ia habis lari dari jarak 100 meter.

”Ada apa, Om?” tanya sang anak muda, kaget atas kedatangannya.

”Ah, tidak ada, Nak. Tidak apa-apa. Kalian di sini baik-baik, kan?” tanyanya balik. Seakan-akan ada bahaya besar yang segera muncul.

”Baik-baik saja, Om,” jawab sang anak muda dengan sedikit heran. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh omnya. Tapi sudahlah.

”Baiklah, bagaimana obatnya. Sudah dapat(kah)?”tanya sang istri. Berharap suaminya, Nani, memberikan obat yang dimaksud.

”Ya Tuhan, iya saya lupa. Ah!” sesalnya sambil memegang kepala.

”Ya Tuhan, Nani…. Kau pergi apa saja sampai-sampai kau lupa. Selama sepekan ini kau selalu keluar rumah, tapi tak ada hasilnya.”

Om Nani tak bersuara, barangkali merenung kesalahannya itu. Ia tak mampu berkata-kata, selain berusaha mengatur napasnya serileks mungkin. Sesaat situasi hening. Yang terdengar hanya suara rintihan si Pet dari dalam kamar.

”Baiklah kalau demikian. Kita bawa saja Pet ke ata mbeko. Barangkali ia nanti bisa disembuhkan,” ujar istrinya dengan sedikit rasa kesal, setelah lama hening.

”Ah, Teres, kau ini bisa-bisa saja, mana mungkin ata mbeko itu menyembuhkannya.”

”Om, lebih baik kita cobakan saja. Ayahku juga dulu disembuhkan oleh ata mbeko,” kata sang anak muda berusaha meyakinkan.

”Hei, itu beda sakitnya dengan yang dialami anakku,” jelas Om Nani.

”Tapi, Om….”

”Diam!”

”Tap….”

”Kubilang diam! Diam! Kau anak muda,” sambar Om Nani dengan sangat marah.

”Kau dengar! Kau baru dilahirkan kemarin. Jauh di bawah saya! Jadi jangan atur-atur saya.” Lagi jelasnya, dengan suara sedikit tinggi. Kali ini ia menggerakkan jari telunjuknya.

Ia sempat melayangkan tangannya untuk memukul anak muda yang baginya menyebalkan. Tapi sudahlah, ia tak mau membuat masalah baru. Toh anak muda itu juga telah banyak berbuat baik untuk keluarganya. Bayangkan saja, selama sepekan ini, ia tak pernah tidur di rumahnya. Itu hanya karena ia ingin memastikan teman kecilnya, si Pet, baik-baik saja.

”Hei! Teres, mengapa kau sangat percaya itu ata mbeko. Tidakkah kau percaya Tuhan?” tanyanya berusaha membenarkan diri.

”Kalian harus dengar ini, bahwa Tuhan sangat membenci ata mbeko. Jadi bagaimana mungkin Tuhan memberikan kuasanya ke tangan ata mbeko itu, untuk menyembuhkan orang seperti Pet ini,” tambahnya.

”Nani, kau ini bodoh sekali. Kita oebakan saja. Masakah kita membiarkan anak kandung kita menderita seperti ini,”  ketus istrinya dengan sangat marah.

”Iya Om, masakan kita tidak berusaha mengobatinya. Saya sangat yakin Om, cepat atau lambat kalau kita seperti ini, pasti Pet mati pagi ini.”

”Hei! Bodoh! Diam kau! Jangan-jangan kau ingin membunuh anakku. Iya, benar saya sangat yakin. Pasti kau ingin membunuhnya, bukan? Kau tinggal lama-lama di sini pasti hanya untuk itu(kan)! Jawab!”

Om Nani rupanya sangat marah. Kali ini ia menampar anak muda tersebut. Namun sayang, ia tak berhasil meraih pipinya.

Lalu mereka kembali lagi dalam hening, tak ada yang bersuara. Lagi-lagi yang terdengar hanyalah suara rintihan si Pet yang tak dipedulikan.

”Ah, biar aku sekarang yang mengurus sakit si Pet. Kau Nani, tak usah ikut campur. Aku akan membawanya ke ata mbeko,” ujar sang istri kepada suaminya, Om Nani, setelah lama mereka tak bersuara.

”Ah… Teres, mana mungkin ata mbeko bisa menyembuhkannya. Jangan sampai, tatkala kau membawanya, ata mbeko lagi marah dan sedang tak ingin diganggu. Dan ketika kau membawa dan memaksanya untuk segera menyembuhkan, bisa saja ia marah dan malah membuat Pet makin menderita dan akhirnya nanti mati. Apakah kau nyaman kehilangan seseorang yang benar-benar kau cintai? Atau kau ingin membunuh anakmu sendiri?” jelas sang suami. Berusaha meyakinkan istrinya yang masih lotot untuk membawa Pet ke ata mbeko.

Mendengar penjelasan tersebut, sang istri dan anak muda tadi diam. Mereka mulai menggaruk kepala dan mencari solusi untuk mengatasi semuanya ini.

”Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya sang istri.

”Mari kita berpikir,” ajak suaminya.

Dalam hening mereka mulai berpikir. Hening. Benar-benar hening. Tak ada suara yang terdengar.

”Jadi pilihan kita sekarang hanya dua, ke ata mbeko atau ke rumah sakit?” tanya sang anak muda.

”Tidak mungkin kita bawa ke ata mbeko, bukan? Bagaimana kalau nanti ata mbeko-nya marah. Bisa bahaya, bukan?” ujar omnya.

”Hem! Kita bawakan saja ke rumah sakit,” ajak si Tanta Teres.

”Ah, masakan kita membawanya lagi ke rumah sakit, ini kali keenamnya kita bawakan Pet ke rumah sakit. Syukur jika kali ini dokter bisa mendapatkan sakitnya, kalau seperti sebelumya? Malu, bukan?”

”Hei! Nani, bisakah kau menerima sedikit usulan kami? Masakah kita benar-benar diam, tak peduli dengan derita yang dialami Pet ini.”

”Ah, baiklah kita bawakan saja sudah,” ujar sang suami dengan sedikit lirih.

”Baiklah, aku akan membicarakan ini kepada Pet. Dan kau Nani, kau yang urus ambulansnya.”

”Baiklah.”

Sesaat keduanya bergerak, menjalankan tugasnya masing-masing.

Sedangkan sang anak muda tadi hanya mematung. Nasibnya tak lagi dihiraukan. Sama seperti kopi pait dalam cangkir.

Ia menyaksikan om dan tantanya bergerak ke kamar. Yang satu ke kamar si Pet, sedangkan omnya menuju ke kamar pribadinya, barangkali mencari jaringan untuk menelepon petugas ambulans.

Tak lama ia mematung, tiba-tiba terdengar suara tangisan tantanya. Ia langsung berlari menuju suara tersebut, dan ia mendapatkan tantanya sedang meratapi mayat yang ada di depan matanya.

”Ya, Tuhan, mengapa secepat ini,” sesal sang anak muda yang menyaksikannya. Sedangkan sang ayah, dari dalam kamarnya, mengembus napas panjang. Merasa semuanya berakhir. Berhasil memberikan tumbalnya dengan bersih. Yang pada pagi buta tadi diminta oleh poti wolo dengan sangat marah, karena terlalau lama menepati janji.

____________________

Keterangan:

Nae songke: kain adat Manggarai

Tengge: memakai

Poti wolo: Malaikat pencabut nyawa

Pait: rasa pahit

Nana: panggilan untuk anak laki-laki

Ata mbeko: dukun

Tuak bakok: moke

Reinaldus K Mogu. Penulis adalah seorang pelajar kelahiran 19 Desember 2003, pernah meraih sertifikat juara lomba menulis cerpen tingkat SMA dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Penulis juga aktif menulis artikel dan puisi dalam berbagai perlombaan dan pernah menjadi juara dalam lomba menulis puisi bertema bebas yang diselenggarakan oleh Penerbit Jendela Sastra Indonesia.

sumber : kompas.id, 24 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme