Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pembunuh Bertopeng oleh S Prasetyo Utomo

Posted on Ming, 17 Sep 2006

Perempuan penyanyi kelab malam itu tak merasakan getar angin yang lamban di atas kuil emas Buddha tidur. Somsri senantiasa mencari makna ajal yang damai di wajah patung keemasan itu. Belum juga dimengertinya, mengapa kedamaian yang menenteramkan terpancar pada wajah Buddha menjelang wafat. Selalu saja ia menatap wajah kekasih gelapnya, Somjai, yang terperangkap kecemasan. Setidaknya, kilau keemasan patung Buddha tidur, yang begitu panjang, dan pertikaian hatinya untuk mengantar lelaki itu ke Kuil Wat Pho telah membuatnya tersadar, ia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi mengasihi lelaki muda itu. Ia memiliki ruang yang bebas untuk mengepakkan sayapnya seperti pesona merpati-merpati yang berkeliaran di pelataran candi.

Lelaki muda itu, Somjai, pernah mengungkapkan keinginannya pada Somsri akan hasratnya menyempurnakan hidup sebagai biksu, dengan kepala gundul mengilat dan jiwon1) melilit tubuhnya. Somjai bicara dengan kesantunan. Matanya teduh. Mata yang memancarkan kebeningan serupa mata air, yang mengalirkan hidup dengan keikhlasan.

Somjai tak banyak berkata-kata. Ia serupa serangga dalam jaring laba-laba. Asmara telah menjerat dan melilitnya. Menjerat langkahnya untuk membebaskan diri dari kubangan lumpur dunia. Meski tempat yang paling disukainya berkunjung ke patung Buddha tidur, tetapi rasa cemas terus meretus hatinya. Ia bercinta dengan perempuan penyanyi kelab malam yang sudah bersuami dan memiliki anak. Anehnya lagi, perempuan itu selalu didera rasa cemas akan ancaman seorang pembunuh bertopeng Buddha, yang sesekali muncul di kejauhan — serupa bayangan — mengarahkan senapan ke keningnya.

“Aku semakin takut kha2),” kata Somsri saat berdiri di bawah wajah patung Buddha tidur—perangai damai menjelang wafat—yang sangat disukainya. “Dekat denganmu, sepertinya aku diburu maut.”

“Katamu, di sini tempat yang paling damai khrab3).”

Tersipu-sipu, Somsri ingin mengelak, tetapi pada saat yang bersamaan, ingin mengiyakan. Ia selalu menikmati ketenteraman setiap saat berkunjung ke kuil ini. Tapi ia terus dibayangi lelaki bertopeng wajah Buddha yang menebar senyum kedamaian, dengan senapan di tangan, mengincar menembak keningnya. Ia dirasuki ketakutan bila mendadak kepalanya ditembus peluru panas.

“Aku merasa diuber penembak gelap bertopeng wajah Buddha,” kata Somsri, seperti meretas mimpi buruk, yang menyelubungi tidur resah. Ia merasa telah dihalang-halangi untuk meraih ketenangan hati bersua Somjai. Ketenangan yang merapuhkan perasaannya. Tak seperti ketika ia menyanyi di kelab malam, yang memberinya kegairahan, pesona, dan debur dada yang membangkitkan pelangi—ia melayang dalam cahaya.

Tapi ketika kemudian Somsri menyadari tempat tinggalnya di rumah petak, yang kecil, sempit, kumuh di bilangan Klong Toey, ia merasa dihamburkan dari cahaya pelangi itu. Tersuruk dalam lumpur membusuk. Rasanya tak ingin ia kembali ke rumahnya yang berantakan, rumah yang penuh kegaduhan.

Berjalan di sisi Somjai, perempuan itu menemukan ketenteraman yang penuh kelembutan. Ia menatap sepasang mata yang teduh, mata yang memancarkan kedalaman bening Danau Lumpini Park—tentu tidak jalang, tidak mesum ingin menelannya. Mata lelaki itu seperti membasuh luka-luka yang mengotori tubuhnya.

Bulan purnama di atas Danau Lumpini Park, Somsri di samping calon biksu yang menampakkan ketenangan. Memandang permukaan danau yang memantulkan kebeningan bulan. Tapi ketika di antara celah-celah pepohonan menyembul sosok bayangan lelaki bertopeng Buddha, dengan laras senapan yang benar-benar mendesingkan peluru, Somsri menggigil ketakutan. Peluru tak menembus batok kepala Somsri. Hanya merontokkan rambutnya. Perempuan itu memucat, bergetar, berpeluh dingin, dan tak bisa berkata-kata.

Perempuan itu mendekap Somjai, ketat dan menggigil. Ia mencari ketenangan dalam tubuh lelaki itu, seperti ia menemukan ketenangan dalam patung Buddha tidur—yang terbujur, dengan tangan menyangga kepala, menopang wajah memendam senyum di ambang ajal.

“Aku tak lagi bisa bersamamu,” ratap Somsri, sambil mendekap tubuh Somjai, ingin melenyapkan diri dalam tubuh lelaki itu. Ia tahu biksu itu sama sekali tak jadi sasaran tembak. Cuma dirinya—penyanyi kelab malam— yang menjadi sasaran bidikan butir peluru.

“Kau akan selamat, selama berdua denganku,” kata Somjai.

“Justru nyawaku melayang bila berada di sisimu. Mungkin kau sendiri yang mengutus seseorang untuk membunuhku?”

Terbelalak Somjai. “Mengapa aku ingin membunuhmu?”

“Kau tak ingin dikotori perempuan sepertiku,” kata Somsri, “sementara kau tak bisa lepas dariku.”

“Apa aku sejahat itu?”

“Kau tidak jahat. Kau hanya memelihara kebimbangan dalam dirimu. Kau ingin terbebas dari pertemuan-pertemuan gelap bersamaku.”

Wajah Somjai tidak menampakkan ketersinggungan. Tak menampakkan keterkejutan. Ia masih tampak tenang sebagaimana sediakala—ketenangan permukaan danau yang menyimpan kedalaman lumpur.

Mengurung diri di rumahnya, diam-diam Somsri dirajam kegundahan. Ia tinggal di rumah yang kecil, pengap, dengan denging nyamuk yang merisaukan telinga. Anak-anak bermain di kawasan kumuh Khong Toey tanpa kenal waktu. Teriakan-teriakan, kegaduhan, selalu menenggelamkan purnama. Bulan tak lagi memiliki kelembutan cahaya.

Telah beberapa hari ini ia tak lagi memiliki kekuatan untuk menyanyi di kelab malam. Tubuhnya seperti lumpuh untuk digerakkan. Mulutnya tak lagi mengeluarkan suara, apalagi menyanyi dengan kemerduan yang menawan para penonton. Ia takut bila saat menyanyi—dan Somjai menungguinya—sebutir peluru melesat bersarang ke dalam tubuhnya, tepat mengenai dada.

Apakah Somjai memang benar mengutus seseorang untuk membunuhnya agar ia terbebas dari samsara dan segera menjalani kelahiran baru, dan menjelma dalam kehidupan yang lebih baik? Bukan lagi penyanyi kelab malam. Bukan lagi sebagai penghuni kawasan busuk. Bukan sebagai istri yang dipecundangi suami. Bukan lagi sebagai kekasih gelap seorang calon biksu.

“Sampai kapan kamu akan tetap tinggal di rumah?” tegur suami Somsri.

“Aku takut. Penembak bertopeng Buddha selalu mengincarku.”

“Kenapa mesti takut? Kematian akan mengantarmu pada kehidupan baru yang lebih baik.”

“Bagaimana dengan anak kita?”

Somsri memandangi anak lelakinya, Wichai, yang belum lagi genap setahun. Masih sembilan bulan. Merangkak-rangkak. Sesekali berdiri. Terjatuh. Berdiri lagi. Terjatuh lagi. Wichai inilah satu-satunya yang membangkitkan semangatnya untuk tetap bertahan hidup. Ia bimbang hingga kemarahan memuncak. Dia memasuki kamar. Mengenakan pakaian panggung. Menampakkan belahan dada yang ranum. Lengannya bening, ramping, bertato bunga teratai.

Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan rumahnya. Menghambur ke jalan raya. Naik tuktuk4) memasuki keriuhan kota. Mengarah ke Lumpini Night Bazaar. Ia kembali duduk di bawah panggung. Menangguk pelan-pelan anggur merah Gracia dari Chile. Merokok. Embusan asap yang lembut meredam kegundahan. Aroma anggur merah dan asap rokok berdenyar-denyar, melambungkannya menjadi penyanyi.

Kali ini ia mesti merelakan segalanya. Mungkin akan datang padanya tembakan. Akan meluncur sebutir peluru, dua butir, atau bahkan lebih, menembus kening, mungkin dada, dan membuatnya rubuh. Berlumpur darah.

Dan menyanyilah Somsri di atas panggung, dengan napas mengembuskan aroma anggur merah Grazia dari Chile. Lengannya terbuka yang sesekali terangkat, menampakkan tato bunga teratai. Saat itulah ia melihat Somjai muncul di kelab malam membawa bayangan pantulan cahaya bulan di atas Danau Lumpini Park. Di kejauhan berkelebat menyelinap di antara penonton pembunuh bertopeng Buddha. Menembakkan pelurunya, melesat dan bersarang di antara kedua ujung alis mata perempuan itu. Ia tergeletak seketika. Panggung kelab malam itu beberapa saat gaduh. Setelah itu sunyi. Orang- orang memandangi tubuh molek yang terbujur dingin. Masih tersisa aroma anggur merah Gracia dari Chile di mulutnya yang belum menyelesaikan larik terakhir lirik lagunya.

Gerimis turun di perkampungan Klong Toey. Di rumah Somsri, malam sangat rapuh. Tak terdengar suara pertengkaran sebagaimana biasanya. Tak terdengar teriakan dan bentakan-bentakan suami Somsri. Sejak Somsri meninggal dan diperabukan, lelaki itu larut dalam kemurungan. Sesekali dilihat orang, lelaki itu mengajak Wichai kecil meninggalkan rumah, bermain di gang. Sesekali tampak dia berjalan-jalan seorang diri, linglung, tanpa Wichai di sisinya.

Wichai kecil merangkak-rangkak sendirian di rumah kecil yang pengap. Telah beberapa saat bocah itu ditinggalkan ayahnya. Sendirian di rumah. Merangkak. Berdiri. Terjatuh. Merangkak. Menangis. Tak seorang pun mau menolong. Dibiarkan saja bocah itu merangkak-rangkak.

Bergegas-gegas menyusup rintik gerimis seorang biksu muda, terlilit jiwon kuning yang membasah. Ia melintas permukiman Klong Toey itu dengan buru-buru. Memasuki rumah Somsri. Heran dan iba ia mendapati Wichai merangkak-rangkak, terisak-isak tangis dalam kesendiriannya. Tubuh bocah itu berlumur air kencing dan kotorannya sendiri. Biksu itulah yang mengangkat Wichai, memandikannya, menggantikan pakaian yang bersih, dan membawanya pergi dengan taksi meninggalkan kota.

Taksi itu terus menembus gerimis, menembus kelam yang basah, menuju sebuah kuil tua berlumut di daerah pegunungan. Kuil yang sepi dari keriuhan kota. Patung Buddha tak semewah di Wat Pho. Di kuil tua ini patung buddha berlumut, tidak berwarna keemasan sebagaimana di lingkup keraton dan di pusat kota. Memang sesekali masih terdengar di antara desau angin pegunungan itu suara nyanyian Somsri melintasi padang rerumputan.

Di sini Somjai memutuskan untuk menghabiskan hidupnya sebagai biksu, sambil menunggu Somsri lahir dalam kehidupan yang baru. Tetapi, mungkin ia tak kan menemukan siapa pun. Ia sudah merasa tenteram bersama Wichai, yang bening matanya menampakkan ketenangan danau. Telah dibawanya sepertiga abu jenazah Somsri, yang hendak disimpan dalam kuil sunyi di tepi hutan. Biarlah sepertiga abu jenazah Somsri disimpan di kuil tua yang jauh di pedalaman. Di kuil tua tepi hutan ini ketenangan hati Somjai serasa merasuk dalam keheningan. Ia terbebas dari kecemasan, terbebas dari harapan-harapan yang bukan miliknya.

Arnoma Hotel, Bangkok, 2006

Catatan:

1) Jiwon = jubah biksu

2) Kha = partikel penghormatan yang diucapkan penutur perempuan

3) Khrab = partikel penghormatan yang diucapkan penutur laki-laki

4) tuktuk = angkutan kota Bangkok, serupa bajaj di Jakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme