Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perempuan Tua di Rumah Panggung oleh Bulan Nurguna

Posted on Kam, 29 Jul 2021

Deretan kebaya rumahan tergantung di belakang pintu kamarnya yang tak berkunci. Ada putih gading, merah muda, abu-abu, dan lain-lain -semua berkesan kusam. Sebagian kecil dari pakaian itu masih digunakannya dan sebagian lainnya sudah tergantung entah sejak kapan. Bila anaknya ingin merapikan, ia selalu menolak, “Yang itu jangan dicuci, belum kotor. Aku masih ingin memakainya.” Selalu begitu yang dikatakannya.

Suatu kali anaknya geregetan lalu diambilnya pakaian-pakaian itu saat sang ibu sedang tidur. “Ke mana semua yang ada di belakang pintu?” tanya sang ibu agak kesal ketika bangun dan didapatinya gantungan di balik pintu sudah kosong melompong.

“Aku cuci semua. Bisa jadi sarang nyamuk kalau kelamaan digantung, sarang penyakit.” Si ibu diam saja dan selama tiga hari kemudian tidak menyapa anaknya.

Di dalam kamarnya memang banyak benda-benda. Di bawah dipan besi yang selalu berderit ada beberapa kardus berisi barang-barang yang sudah tak terpakai dan beras dengan buah-buahan diperam di dalamnya: sawo, srikaya, atau mangga yang semuanya dipetik dari pekarangan. Buah-buah itu tidak dimakannya seorang diri melainkan ia bagikan pada Eni dan anak-anak kecil yang biasa lewat atau bermain di depan rumah. Bila tak ada buah yang bisa dibagi atau ketika buah-buah itu masih mentah ia akan bersedih dan hanya bisa menatap bocah-bocah dari jendela kayu ruang tamu.

Di dalam kamar juga ada sebuah lemari kayu dengan pintu kaca. Di sana ia banyak menaruh cendera mata: celak mata yang wadahnya terbuat dari kuningan tebal, sajadah, mukenah, dan tasbih yang semuanya oleh-oleh dari Arab yang khusus dipakai ketika hari raya. Selain itu, ada kain-kain, kebaya, dan semua pakaian yang tidak muat disimpan di lemarinya. Ada juga alat-alat yang biasanya diletakkan di dapur tetapi lebih suka ditaruhnya di lemari itu, seperti piring keramik, sendok, garpu, panci besar yang biasa dipakai bila ada acara di rumahnya atau rumah tetangga, dan lain-lain.

Dari banyak benda dalam kamarnya ada yang sudah tidak dipakai dalam sepuluh tahun terakhir dan mungkin nanti hingga akhir hayatnya. Tetapi ia suka memandanginya, mengembalikan ingatan pada saat benda itu dibeli, oleh siapa saja pernah dipakai, dan peristiwa-peristiwa yang dilalui bersama benda itu. Terkadang keponakan-keponakan yang sekampung dengannya mengatakan bahwa ia adalah seorang yang pelit, tak suka berbagi walau sekadar benda-benda tua dan hampir rusak. “Bila punya uang beli saja pakai uang mereka! Mereka masih punya kaki dan tangan yang kuat kan, pakailah kaki tangan itu, jangan bisanya tangan di bawah saja,” begitu katanya bila mendapat kabar dari Eni bahwa ia dibicarakan orang-orang.

Beberapa tahun belakangan rumah itu lebih mirip cangkang. Ia semakin jarang keluar karena mesti susah payah menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Apalagi rumah panggung itu  tidak begitu ramah pada orang yang sudah tua. Bila ia ingin melihat-lihat pekarangan, untuk menuruni tangga kayu saja butuh beberapa menit bahkan tidak jarang perlu diawasi dan dibantu anaknya. Sesekali ia akan terduduk di salah satu anak tangga untuk mengambil napas padahal tangga itu hanya memiliki delapan anak.

“Tolong pungut dan petik asam di belakang rumah, aku ingin kirim lewat Jibril untuk ibu dan bibinya,” katanya di dapur suatu kali.

“Jibril masih akan lama kembali ke kota, lagi pula sebulan lalu kita sudah mengirim banyak asam lewat Yuval,” jawab Eni.

“Orang kita tidak bisa kalau tidak makan asam. Apalagi Mina dan Ria pasti banyak pakai. Belum lagi kalau diminta tetangga atau mereka ingin memberi tetangga.”

“Tetangga di kota tidak saling kenal. Paling-paling nanti asamnya berjamur. Lagi pula suami mereka kan orang Lombok, mereka jarang makan asam. ”

“Kalau bagus caranya menyimpan, tidak akan berjamur. Ini bukan tentang suami mereka, ini tentang aku dan anak-anakku.”  Bila ibunya sudah berkata begitu, Eni akan langsung menunaikan perintah. Kalau tidak dituruti sering kali ibunya “berdemonstrasi” dengan jalan hanya makan sedikit dan mengurung diri dalam kamar.

Dengan dibantu anak-anak yang biasa bermain di pekarangan, sebaskom asam pun terkumpul. Eni dan ibunya mengupas asam satu-persatu, itu membosankan bagi Eni. Pertama-tama kulit asam harus diremukkan dengan cara membenturkannya ke lantai kayu. Lalu dikupas, disingkirkan bijinya, dan disatukan sebesar kepalan tangan untuk tiap porsinya. Pekerjaan itu bisa memakan waktu berjam-jam dan tentu saja ibunya tidak akan mampu. jadilah pekerjaan itu dilanjutkan oleh Eni.

“Tidakkah kita perlu ke rumah Paman Risyad menanyakan madu? Sepertinya dia masih punya.”

“Setelah membersihkan asam aku akan ke sana,” jawab Eni yang masih sibuk mengurus asam. Tak ada tanggapan. Tak lama kemudian yang terdengar cuma suara mengorok ibunya.

Dua minggu lagi Jibril akan kembali ke kota. Neneknya kadang-kadang datang padanya atau memanggilnya dari kamar. Neneknya mengerti bahwa sebagai seorang tua ia mesti tahu diri. Keberadaannya saja mungkin sudah merupakan gangguan bagi orang muda, apalagi bila ia menasihati cucunya itu.

Di zaman Jepang dulu, ia terpaksa menikah cepat karena setiap perawan di kampung akan dibawa pasukan Jepang. Keperawanan akan membuatnya susah, jadi ia lebih memilih menjadi istri ketiga. Lagi pula istri pertama suaminya lebih tua lima belas tahun dari sang suami dan mereka tidak memiliki anak, sedang istri kedua sudah meninggal. Jadi alih-alih dipandang sebagai perebut suami orang, ia lebih dianggap sebagai adik atau bahkan anak.

Di tahun-tahun awal pernikahannya ia sering mendapat kiriman masin, madu, terasi, ikan asin, atau beras dari istri pertama suaminya. Bila bertemu di pasar -ketika ia pergi menjual kelapa, telur, atau ayam- ia akan disapa lebih dahulu oleh sang istri pertama. Sebagai orang yang lebih muda sapaan saja sudah membuat ia ketakutan.

Sekarang ketika ia memiliki kesempatan menjadi orang tua ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam kehidupan orang muda mana pun. Namun rupanya ia sendiri punya batas dari apa yang dianggapnya ideal. Eni, salah satu anak perempuannya, memilih tinggal di kampung -dan tidak merantau- karena melihat kondisi ibunya yang memang mulai lebih membutuhkan banyak bantuan. Dulu ketika hampir menikah, Eni ragu-ragu melihat calon suaminya yang rupanya tidak ingin tinggal di kampung, apalagi di rumah mertua. Calon suaminya itu ingin merantau. Jadilah Eni tidak menikah sampai sekarang. Kadang-kadang perempuan tua itu ingin ajal menjemputnya cepat-cepat agar Eni punya kesempatan menikmati hidupnya sendiri, tidak seperti dirinya yang harus mengurus banyak hal sepanjang hidupnya.

“Nanta ga..,” katanya setiap kali ia ingat pada anaknya sekaligus pada dirinya sendiri.

***

Belencong, 2 Desember 2020 – 9 Februari 2021

Catatan:

1. Masin: sambal khas Sumbawa berbahan dasar udang kecil

2. Nanta ga/Nanta: kasihan

Bulan Nurguna, lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media cetak dan situs daring. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

sumber : kompas.id, 29 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme