Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anjing Marlon oleh Kiki Sulistyo

Posted on Sab, 31 Jul 2021

Aku bertemu Marlon saat sedang melihat-lihat burung di pasar yang letaknya bersebelahan dengan kantor pos tua yang kalau malam areal belakangnya dijadikan arena judi. Marlon tidak melihatku, aku melihat Marlon. Dia baru keluar dari kantor pos. Aku menyeru namanya. Dia menengok. Di mataku kelihatannya Marlon enggan bertukar sapa. Tetapi kukejar dia, seperti seorang alim mengejar pahala. Karena pasar ramai dan pergerakan orang jadi tersendat aku segera bisa menyusulnya.

 

Dia mengenakan kaus bergambar sampul album Megadeth, celana gombrong, dan sandal karet. Aku mengenakan kaus kuning bergambar iklan balsam, celana pendek, dan sepatu olahraga. Aku mau bicara tapi Marlon sudah bicara duluan. Dia bilang, “Saya sedang buru-buru. Kita ngobrol nanti saja.” Aku memegang lengannya dan melempar tanya, “Kamu tinggal di mana sekarang?”

Marlon celingak-celinguk, seperti takut ada orang lain yang mengenalinya. “Aku tinggal di belakang,” jawabnya sambil dagunya bergerak menunjuk arah. “Oh, ya? Aku sering ke pasar tapi tak pernah melihatmu.”

Marlon terlihat kikuk, ingin cepat-cepat pergi. “Aku mau ke rumahmu. Boleh?”  Kupikir dia pasti menolak. Seperti yang dikatakannya tadi, dia sedang buru-buru. Tetapi setelah beberapa saat, dia bilang, “Ayo!”

Sekarang aku yang kikuk. Tadi aku cuma basa-basi, tapi karena sudah telanjur, kami pun berjalan. Marlon di depan, aku di belakang. Kami masuk gang di samping kantor pos. Beberapa pria bermuka kusut memerhatikan kami sampai lenyap di mulut gang.

Gang itu bau pesing, sepertinya semua orang kencing di sana. Aku menahan napas sampai di depan pintu rumah Marlon.

Pintu itu sungguh aneh. Terdiri dari berbagai macam perkakas yang disusun hingga setinggi hampir dua meter. Aku perhatikan ada bekas gagang cangkul, setang sepeda, paralon, rangka payung, terali jendela, serta ban mobil di antara potongan-potongan kayu yang dipasak asal-asalan. Marlon menatapku yang masih menatap pintu. “Ada kawan yang mau datang, tapi tak apa-apa, kamu bisa berkenalan dengannya.”

Kami masuk. Meski amburadul, pintu itu kokoh juga. Tak terdengar suara derit ketika ia terbuka. Pemandangan di dalam beda sekali dengan pintu tadi. Tak ada satu pun perabotan di sana. Tembok putih bersih dan selembar karpet merah tergelar dengan ukuran yang sama persis dengan ruangan. Selain ruangan itu kelihatannya tak ada ruangan lain, setidaknya tak ada pintu yang menunjukkan ada ruangan lain. “Kamu tinggal di sini?” tanyaku. Kata Marlon, “Iya. Sengaja aku kosongkan, supaya bisa meditasi.”

Aku terlongo, sejak kapan Marlon tertarik pada meditasi. Rupanya penjara telah mengubah cara berpikirnya. “Ayo duduk,” lanjutnya. Kami duduk bersila. Ruangan hening seakan-akan kedap suara. Baru aku perhatikan, ternyata, tak kulihat pula ada jendela.

“Nanti kalau kawanku datang kamu tenang saja. Tak apa-apa kalau mau ikut dalam percakapan. Sambil menunggu, sekarang mari kita bermeditasi.”

Brengsek. Aku menyesal dan merasa terjebak. Tak kusangka Marlon berubah demikian rupa; dari penyanyi metal ke seorang yang dipenuhi asap spiritual. Padahal dulu kami sama-sama suka mabuk. Aku mau menghindar dari situasi ini tapi pikiranku tak bisa menemukan jalan keluar. Sembari menunggu cahaya pencerahan, aku ikuti saja permintaan Marlon. Aku lihat dia bersila di tepi karpet persis bersebarangan denganku. Di belakangku pintu aneh tadi berdiri seperti seorang penjaga, sementara di belakang Marlon tembok putih bersih memberikan efek seakan-akan ada kekosongan yang menjadi latar belakang meditasinya.

Marlon memejam mata, aku mau ikut memejam tapi masih diserang risau. Tak perlukah terlebih dulu aku ganti baju? Apa yang kukenakan sepertinya tak pantas untuk suatu ritual. Namun, melihat Marlon juga tak mengganti baju, aku pun mulai memejamkan mata. Aku berusaha berpikir untuk tak berpikir, sebagaimana saran yang pernah secara tak sengaja kudengar dari seorang ahli meditasi.

Kemudian aku tertidur.

Ketika terjaga dan membuka mata, di depanku Marlon sedang berhadap-hadapan dengan seekor anjing.

“Kau sudah selesai rupanya,” kata Marlon saat melihatku bergerak bangkit. Lalu lanjutnya, “Ini kawanku yang kubilang tadi. Ia datang dari jauh.”

Anjing itu menengok, menjulurkan lidahnya. Sekarang aku berpikir Marlon bukan berubah jadi seorang spiritualis, melainkan jadi seorang yang sempurna gila. Masa bodoh dengan kata-katanya, aku segera berbalik menuju pintu. Hendak kubuka tapi pintu tak punya gagang. Kutarik potongan kayu paling besar yang melintang, tapi pintu tak juga terbuka. Aku berpaling ke Marlon. “Tolong bukakan,” kataku. Marlon berdiri menghampiri. Aku sedikit cemas, jangan-jangan dia mau membunuhku. Dengan sebelah tangan dia menarik potongan kayu yang tadi kutarik, dan pintu pun terbuka. Aku keluar tanpa pamit. Setengah berlari menyusuri gang yang berbau pesing. Hendak kutahan napas, tapi aku sadar kalau bau pesing tadi sudah tak ada lagi.

Selama beberapa hari setelah itu aku nyaris tak bisa tidur. Mungkin tepatnya tak berani tidur. Aku takut ketika terjaga sudah berada di rumah Marlon. Kuputuskan meninggalkan rumah sewa dan pulang ke rumah peninggalan orangtuaku di sebuah gili kecil yang terpisah dari pulau tempatku hidup beberapa tahun belakangan. Dengan menumpang feri kecil aku tiba di gili dan langsung menuju rumah yang kumaksud. Ada satu hal yang berubah dari gili itu. Semula banyak anjing berkeliaran, tapi sekarang tak satu pun kulihat ada anjing. Ketika kutanyakan hal itu, seorang tetangga menjawab baru-baru ini ada operasi pemberantasan rabies. Anjing-anjing liar ditangkap, dikurung dalam kandang, kemudian dibawa ke pulau. Anjing milik tetanggaku itu bahkan nyaris juga ditangkap. Untung dia segera melihat, dan setelah menghitung beberapa lembar uang, anjing itu pun dibebaskan.

Hari pertama di gili aku tidur nyenyak. Ketika terjaga betapa lega rasanya mengetahui aku tak berada di rumah Marlon. Hari kedua tidurku lebih nyenyak dan lebih lama. Hari ketiga begitu juga. Hari keempat seseorang mengetuk pintu rumahku. Rupanya dia adalah petugas pos. Selembar amplop diserahkannya. Tak ada nama pengirim. Di dalam amplop ada selembar kertas. Ketika kubuka tampaklah gambar seekor anjing yang dikerjakan dengan serampangan. Kuperhatikan gambar itu yang sebetulnya terdiri dari berbagai huruf, tanda baca, dan simbol yang disusun menyerupai sosok anjing. Segurat tanda tangan di bagian bawah gambar dan sebaris nama. Selain itu tak ada pesan apa-apa.

Brengsek. Apa maksud Marlon mengirim gambar anjing padaku. Kuletakkan gambar itu di meja, lantas kuambil kertas, dan pensil. Kususun ulang huruf, tanda baca, dan simbol di dalamnya. Tetapi tak kutemukan susunan pesan apapun. Semuanya acak. Itu semua membuat bayangan Marlon dan anjingnya terasa mengerikan. Aku seperti menghadapi teror.

Karena tak ada yang bisa kulakukan, aku putuskan berjalan-jalan. Aku kenakan sandal karet, kaus bergambar sampul album Megadeth, dan celana gombrong. Pemandangan laut segera terpampang di depan ketika aku mulai melangkah. Udara bergaram terasa lengket di kulit. Rupanya ada satu hal lagi yang berubah dari gili ini; sekarang semakin ramai para pedagang menggelar barang-barangnya di tepi pantai. Selain pedagang manik-manik dan kain pantai, sekarang terlihat juga pedagang alat-alat pertanian, sepeda, bahan bangunan, payung, kusen jendela, dan aneka ban. Ada juga pedagang burung. Aku berhenti sejenak di depannya, memerhatikan burung-burung. Sepertinya pedagang burung ini yang paling ramai dikunjungi. Di antara kaki orang-orang yang berdiri, aku lihat seekor anjing mengendus-endus sambil berlari-lari kecil lalu berbaring agak jauh dari keramaian. Sepertinya itu anjing milik tetanggaku yang nyaris tertangkap petugas pemberantas rabies. Apakah ia senang menjadi satu-satunya anjing di gili ini? Aku teringat lagi pada Marlon, rasa ngeri menelusup dalam diriku. Rasa ngeri yang pelan-pelan berubah jadi rasa benci.

Kuputuskan mendekati anjing yang sedang tidur-tiduran itu untuk kutendang. Enak sekali ia, di bawah pohon ketapang, menelentang seperti turis banyak uang. Sepertinya menyenangkan jika kakiku menghajar dagunya. Suara dari moncong yang kesakitan bakal terdengar seperti suara penyanyi band metal. Ah, band metal. Kenapa aku harus membayangkan band metal,  itu bikin aku ingat lagi pada Marlon. Dia pernah jadi penyanyi band metal yang bubar setelah Marlon masuk penjara karena ketahuan menjual ganja. Ingatan pada Marlon bikin aku ragu-ragu menendang anjing. Aku kasihan pada Marlon karena Marlon sering kasihan padaku. Dia sering membawakan aku makanan; kadang karena aku minta, kadang tanpa kuminta. Maka ketika Marlon masuk penjara aku berusaha membebaskanya dengan cara mempelajari kitab undang-undang. Hasilnya Marlon memang bebas, setidaknya dia tidak lama mendekam di bui, tetapi itu bukan karena aku mempelajari kitab undang-undang, melainkan karena orangtuanya menjual rumah mereka, dan juga karena yang membeli rumah itu adalah orangtuaku.

Diserang oleh rasa kasihan, aku menjauh dari pedagang burung dan mendekat ke anjing yang sedang tertidur. Agar anjing itu tidak terkinjat, hati-hati aku duduk di dekatnya. Aku bersila dan memejamkan mata. Aku berharap tertidur dan ketika terjaga Marlon sudah ada di depanku.***

Mataram, 15 Mei 2021

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

sumber : kompas.id, 31 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme