Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ikan untuk Bapak oleh WS Djambak

Posted on Ming, 01 Agu 2021

Hari ini kepala bapak pusing sekali.

Betapa tidak, sepulang sekolah, anaknya yang bungsu menangis meraung-raung. Katanya, sebelum melunasi tunggakan SPP ia tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian semester. Jumlahnya bukan sedikit. Biaya SPP anaknya per bulan sebesar Rp 75.000, dan sudah menunggak semenjak awak semester.

Bapak sudah mencoba menemui taukenya yang biasa. Namun, sebelum utang yang sebelumnya—berikut bunga—dilunasi, Bapak tidak bisa meminjam barang sepeser pun. Hendak meminjam kepada Wak Ris pun dia sudah malu, sebab utang beras bulan lalu belum dibayarkan.

Sudah dua minggu ini Bapak tidak bisa melaut, sedang musim timur, gelombang mengempas begitu kuat. Kemarin malam saja, Risman, tetangganya, hampir tenggelam. Perahunya dilempar ke udara dan kemudian terbalik ketika hendak menepi. Pun kalau Bapak tetap memaksakan diri melaut, uang untuk pembeli solar juga ia tidak punya. Jikalau pun ada, tentulah lebih didahulukannya membayar uang sekolah si bungsu.

Lama Bapak duduk termenung di atas tunggul kelapa di tepi pantai. Diamatinya laut yang sudah serupa ibunya sendiri. Sudah menghitam dan membawa minyak bersama riaknya ke pinggir pantai yang sudah menjadi tubir. Dulu, sekali melaut Bapak bisa beroleh uang jutaan rupiah. Sekarang melaut selama seminggu pun, kotak es yang digunakannya untuk menyimpan hasil tangkapan, tak terisi penuh.

Malam… selepas salat Isya, Bapak pamit mau melaut—kendati cuaca kurang bagus—sembari menyalami satu demi satu anaknya. Kepada si bungsu, ia berjanji bahwa esok akan membawa ikan yang banyak untuk dijual di pasar, sehingga menghasilkan uang yang banyak. Si bungsu semringah mendengar janji Bapak. Sambil mencium punggung tangan bapaknya, ia berujar, ”Hati-hati, ya, Pak,” yang dibalas Bapak dengan senyum getir. Terakhir, ia mencium kening istrinya yang sedari tadi sibuk merajut jaring dari benang nilon. Istrinya yang tidak biasa dicium sontak kaget, meski tidak diperlihatkan betul. Lalu, Bapak beranjak menuju pantai yang hanya berjarak satu lemparan batu dari halaman rumahnya.

Bapak sengaja melaut pada malam hari agar tidak membutuhkan usaha yang begitu besar mengayuh dayung. Seperti kebanyakan nelayan tradisional yang—belum mengenal mesin—memanfaatkan angin darat yang bertiup ke laut pada malam hari, menyapu gelombang dan menghanyutkan perahu hingga jarak yang dituju. Barangkali itu jua alasan kenapa Lancang Kuning berlayar malam, seperti lirik lagu pada siaran radio yang sering didengar Bapak.

Sesekali Bapak mengayuh jua—mengarahkan kemudi agar tidak melenceng terbawa arus. Ia teringat masa-masa dulu belum punya mesin diesel, laut ditujunya dengan setangkai dayung yang diayun sepasang tangan, seolah menyibak riak gelombang.

Dari jarak tiga mil dari darat, setelah melempar sauh, Bapak membentang jaring dengan cekatan. Tangannya sibuk mengulur gulungan jaring dengan busa stirofoam bekas sebagai pelampungnya. Jaring itu dihamparkan di laut serupa net pada lapangan voli yang dibentang sejauh berapa ratus depa.

Di sekelilingnya tak dijumpai satu pun kapal yang tengah menjaring. Hanya saja, dari jarak jauh sana terlihat lampu suar berkedap-kedip. Dulu, nelayan ramai menjaring di sana. Namun, semenjak beberapa oknum menangkap ikan dengan bom dan racun, ikan di sana sudah mulai berkurang. Bahkan, baru-baru ini terjadi konflik antara nelayan tradisional dan nelayan jaring batu yang mengakibatkan pembakaran kapal nelayan jaring batu oleh nelayan tradisional. Jika saja polisi dan petugas dari Dinas Perikanan tidak lekas datang, bisa dipastikan akan ada korban nyawa, baik dari pihak nelayan tradisional maupun nelayan batu.

Selesai melepas jaring, ia juga—mengulurkan benang nilon yang dijalin dengan beberapa kail pancing yang sudah disangkutkan umpan—memancing ikan untuk dimasak dan dimakannya malam ini hingga esok. Masing-masing kail berjarak 50 cm, total sekitar sepuluh kail. Dengan sabar ia menunggu ikan mampir dan memakan umpan yang diberikan. Jika beruntung, ia bisa dapat ikan selar. Di perahunya sudah dilengkapi dengan kompor minyak tanah, periuk, serta kuali. Biasanya, sekali melaut, ia bisa menghabiskan waktu paling cepat semalam dan paling lama dua minggu di laut—tergantung jarak tempuh dan persediaan bahan bakar.

Bapak memandang ke arah langit berwarna biru pekat dengan bintik-bintik putih yang cemerlang. Diamatinya bintang yang mengelompok dan berpendar—yang jika titik-titiknya disatukan dengan sebuah garis, mewujud beberapa bentuk—dan bisa dijadikan sebagai penunjuk arah.

Sejak memperoleh perahu hibah dari pemerintah yang dilengkapi dengan GPS, ia seperti tidak pernah lagi melihat ke arah langit—selain melihat gumpalan awan kumulonimbus penanda badai akan datang.

Dahulu, ketika usianya masih teramat muda, ayahnya mengajarkan beberapa bentuk rasi bintang yang dijadikan penunjuk arah. Ada rasi biduk, atau bahasa kerennya Ursa Mayor (beruang besar) yang dalam pengamatannya tidak menyerupai biduk sama sekali, apalagi beruang—melainkan seperti layang-layang berekor yang menukik jatuh—sebagai penanda arah utara. Sebaliknya, di selatan ada rasi bintang layang-layang atau salib selatan yang juga memiliki nama lain Crux. Arah timur agak ke tenggara sedikit, ada titik bintang yang terang serupa cacing meliuk yang dikenal sebagai rasi bintang kalajengking. Sebelah barat ada rasi Orion yang menumpuk dan menyebar—yang dalam pengamatan orang Yunani dahulu tampak sebagai pemburu.

Ia ingat bagaimana dulu ia sehari-hari melaut bersama ayahnya. Bermacam hal yang dijumpainya di laut; lumba-lumba, penyu, bahkan puting beliung yang hampir membalikkan biduk ayahnya. Awalnya, ia hanya ikut ketika hari libur saja, namun, ketika dirasakannya suatu keseruan dapat melaut bersama ayahnya, ia pun mulai malas untuk bersekolah. Jadilah ia berhenti sekolah ketika menduduki kelas 4 SD. Dulu sekali melaut ayahnya dapat membawa pulang ikan sepenuh lambung perahu. Sekarang, ketika ia yang melaut, dapat satu kotak fiber saja sudah syukur.

Lewat tengah malam, pasang mulai meninggi. Biasanya akan surut ketika menjelang subuh. Bulan mati—sebagai awal penanggalan kalender hijriah—pada malam ini menjadikan pasang lebih tinggi daripada hari-hari biasa. Konon, menurut pengikut kaum bumi bundar, pada masa bulan mati dan bulan purnama; bumi, bulan, dan matahari berada pada satu garis lurus, yang mengakibatkan daya tarik menarik dan berdampak kepada semakin cembungnya permukaan laut.

Bapak menarik benang pancingnya. Umpan yang diberikan sudah habis, namun ikan tidak satu pun yang tersangkut. Mau tak mau, ia hanya makan nasi dengan sambal tanpa lauk (lagi). Semoga saja esok ketika jaring diangkat, ketidakberuntungannya berakhir dengan banyaknya ikan yang berhasil ditangkap.

Lamat-lamat, di darat sana terdengar suara azan subuh. Bapak sudah bangun dari tadi. Tidurnya tak nyenyak, bahkan dalam mimpi pun ia masih ditagih uang SPP oleh si bungsu. Selepas salat subuh, Bapak tidak lekas menggulung jaring. Ditunggunya hingga matahari sedikit meninggi, berharap semakin banyak ikan yang tersangkut di sana.

Ketika matahari merangkak naik tiga kali panjang jaring, barulah ia beranjak ke arah haluan. Sambil harap-harap cemas, ia menggulung perlahan jaring perlahan-lahan. Napasnya tertahan setiap kali tangannya menggulung jaring.

Hingga jaring sudah tertarik seperempat, baru beberapa ekor ikan yang tertangkap, seperti; ikan lomek, ikan biang, ikan senangin, serta beberapa ekor ikan serai.

Bapak tidak henti-henti berdoa. Satu tarikan lagi, tiba-tiba tangannya berhenti. Matanya membeliak tak percaya melihat beberapa ekor ikan terubuk besar dan buncit menggelepar-gelepar tersangkut di jaringnya. Sepertinya baru tersangkut. Ia mempercepat tarikan jaringnya. Terbayang sudah uang SPP si bungsu dan biaya hidup selama beberapa waktu ke depan—berikut pelunasan utang kepada tauke dan di kedai Wak Ris. Seekor terubuk bertelur bisa dihargai hingga sejuta rupiah, kononlah beberapa ekor yang didapatnya.

Ah, semoga saja es batunya cukup untuk semua ikan ini, harapnya senang.

Mentari semakin terik, sedang ia belum juga selesai mengumpulkan semua ikan yang terjaring. Punggungnya sudah panas terbakar, tapi semangatnya masih berkobar. Tidak sia-sia ia tak lekas pulang selepas subuh menjelang. Semoga saja ia bisa membawa ikan sepenuh perahu.

Lagi asyik menggulung jaring dan mengumpulkan ikan ke dalam kotak styrofoam, dengan kecepatan yang tak terduga, sebuah speedboat fiber mendekati perahu Bapak dan merapat.

Kemudian seorang yang berseragam melemparkan tali sebagai tanda agar Bapak menautkan tali tersebut ke Perahunya. Beberapa lelaki gagah—lengkap dengan segala atribut di dada—turun ke perahu Bapak. Setelah basa-basi seadanya, mereka bertanya tentang surat-surat kapal. Bapak menunjukkan salinan surat yang ditandatangani oleh Syahbandar.

Ketika Bapak tengah ditanyai oleh beberapa orang, beberapa lainnya membongkar tempat penyimpanan ikan miliknya dan kemudian berteriak, ”Ditemukan beberapa ekor terubuk dalam kondisi bertelur!”

Seorang laki-laki berkacamata hitam—agaknya pimpinan mereka—terlihat mengeraskan rahang. Sambil menatap tajam, ia berkata, ”Bapak tahu kalau sekarang adalah musim pelarangan penangkapan ikan terubuk?”

Bapak terdiam mematung. Wajahnya pucat pasi. Terbayang keluarganya makan seadanya (lagi), dan si bungsu merengek minta uang sekolah (dan lagi). Pikirannya kalut, pandangannya sudah gelap.

Tanpa menunggu Bapak menjawab, si pimpinan tadi kembali berujar, ”Bapak tahu kalau ikan terubuk dilindungi? Silakan naik ke kapal untuk kami mintai keterangan lebih lanjut.”

Bapak tak lagi mendengar mereka berkata. Saat ini, telinganya hanya mendengar teriakan pilu anak istrinya—dan pandangan matanya sibuk menjelajahi seisi perahu mencari parang berkarat miliknya.

WS Djambak saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel. Beberapa cerpennya pernah terbit di media cetak lokal dan daring. Penulis pernah masuk nominasi 20 karya terbaik dalam sebuah perlombaan menulis cerpen, serta menjuarai lomba kepenulisan esai tingkat nasional bertemakan mangrove. Prestasinya yang terbaru masuk kategori terbaik dua pada lomba kritik seni yang ditaja oleh ISBI Bandung (2020).

Yuswantoro Adi, lahir di Semarang 11 November 1966. Pelukis pemenang Grand Prize Winner Philip Moris Asean Art Award 1997 di Manila, Filipina. Selain melukis juga menulis, mengajar, dan memberi pelatihan serta sesekali jadi narasumber seni rupa.

sumber : kompas.id, 01 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme