Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Elegi Sekeping Pagi oleh Awi Chin

Posted on Ming, 28 Nov 2021

Suatu pagi pada tahun 1967.

KAMU tahu bagaimana rasanya tidur dengan ketakutan bahwa ketika terlelap, kepalamu mungkin akan terpenggal?

Aliong mengetahuinya dengan pasti. Beberapa hari ini tidurnya tidak tenang. Namun malam itu lain, ia terjaga sampai pagi datang. Sampai kicauan burung mulai terdengar dan tumisan son mi dari istrinya mulai menguar memasuki hidungnya. Dengan perasaan melayang karena kekurangan tidur, Aliong beranjak dari kasurnya yang berderit malas dan berjalan menuju dapur kecil mereka.

”Met ma ai nyi? (Masak apa kamu?)” tanya Aliong kepada Amoy, istrinya yang sedang menumis sesuatu. Yang ditanya tak langsung menjawab. Ia melirik Aliong dengan lelah, ”chau fon (nasi goreng).”

Aliong berjalan sebentar ke pintu belakang, tempat ia menyimpan peralatan bertukangnya. Lantai kayu rumah mereka berderit-derit saat ia melangkah masuk dengan palu di tangannya. Butuh beberapa waktu bagi Amoy untuk sadar bahwa Aliong tengah membuka paku yang menancap di fondasi shin than. Melihat hal itu Amoy berteriak, meninggalkan kompornya dan berjalan ke arah Aliong.

”Met ma ay nyi, Liong? (Kamu ngapain, Liong?)”

”Lia tung si ta ha met sika si, Moy. (Barang ini bisa membuat kita mati, Moy.)”

Amoy mulai menangis sambil berusaha merebut palu dari tangan Aliong. Diam-diam, bawang putih yang sedang ia masak dari tadi telah menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap.

*

Setiap benda mati, selaiknya benda hidup, mempunyai sejarahnya sendiri. Itulah yang diajarkan ibu Amoy padanya. Begitu pula dengan shin than yang berada di rumah kecil mereka.

Sebulan setelah Amoy mengalami keguguran anak pertamanya, kedua orang tua Amoy serta ketiga kokonya datang menghampiri kediaman mereka sambil membawa sesuatu dalam bungkusan koran. ”Ngai ten ti nyi sin kon an kiuk. Sika thai lia ting su pun nyi lau Aliong. (Kami tahu perasaanmu sedang sedih. Makanya kami bawa ini untuk kamu dan Aliong.)”

Ketika bungkusan koran itu dibuka barulah Amoy sadar bahwa keluarga membawa shin than untuknya. Bilah papan bercat merah itu terdiam sesaat sambil keluarga mereka menyantap camilan yang disediakan suami istri muda itu, sementara mereka semua menunggu loya datang untuk ”membersihkan” rumah mereka dan melakukan upacara sebelum shin than itu bisa mereka pasang.

Rumah itu belum lama mereka tempati karena mereka harus mengungsi beberapa waktu lalu. Amoy sebenarnya merasa sedih karena harus meninggalkan rumah lamanya, terlebih di rumah inilah ia mengalami pendarahan dan dukun beranak harus menguret dirinya. Merampas buah cintanya bahkan sebelum sempat ia petik.

Setelah upacara selesai dan matahari berusaha kembali ke peraduannya, Amoy terpaku menatap shin than yang sudah terpasang di rumahnya dengan jemawa. Amoy meletakkan hio dan memberikan persembahan ke sana. Sembari berdoa kepada Thi Kong agar kebahagiaan kiranya kembali diberikan kepada keluarga kecil mereka.

Malam itu Aliong dan Amoy kembali melakukan hubungan badan.

Tiga minggu setelahnya, rahim Amoy kembali diberkati oleh Thi Kong.

*

Salah satu fondasi shin than itu mulai goyah, namun masih cukup kuat menahan beban persembahan di atasnya agar tidak jatuh. Tidak seperti air mata di pipi Amoy yang mulai terjatuh ringkih.

”Emo a’ Liong, mo met fai ka shin than a’ (Jangan Liong, jangan dirusak shin than-nya),” isak Amoy sambil berusaha melepaskan palu dari tangan Aliong.

”Eng hiao ya, Moy. Ta ha kim chat bei loi met sika si a’. Nyi mo khon ma ngai lo thai si mang con? (Tidak bisa, Moy. Nanti tentara itu bakal datang membunuh kita. Kamu tidak lihat adik aku belum pulang?)”

Aliong menyentak tangannya keras. Membuat Amoy jatuh terduduk. Melihat hal tersebut Aliong langsung dengan sigap memegang kepala dan perut Amoy. Tempat anaknya yang belum juga merasakan hidup tengah bersemayam, ”Nyi em pha ma? (Kamu tidak apa-apa?)”

Amoy hanya menjawab dengan isakan, ”Ngai an kiang a, Liong (Aku takut, Liong),” ujarnya putus asa, ”sika mo met ma ai tungsi ce mai gi ten an boi bui si? (kita tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa mereka membenci kita?”

Lelaki itu hanya dapat terdiam mendengar pertanyaan retoris istrinya. Diletakkan palunya sejenak. Ia merengkuh istrinya yang tengah menangis sambil tersedu-sedu di bawah shin than. Aliong menenangkan terus istrinya sampai asap keluar dari penggorengan istrinya yang sedari tadi belum Amoy matikan. Tersadar akan hal itu Aliong bangun dengan sigap untuk mematikan api. Cukup shin than-nya yang kau lenyapkan, Aliong, pikirnya dalam hati. Jangan lantas rumah ini malah jadi terbakar.

*

Pada suatu waktu yang kelabu, Athung, adiknya, berkata padanya, ”Liong Ko, ngai oi cew then siu gi ten perbatasan Serawak kai. (Bang Liong, saya mau pergi bantu mereka di perbatasan Serawak sana.)”

Aliong hanya menghela napas. Adiknya lahir tepat pada saat kemerdekaan Indonesia. Dalam benaknya mungkin itulah yang menyebabkan Athung sangat berjiwa nasionalis. Ia teringat saat siaran radio dengan rekaman suara Presiden Soekarno terdengar membacakan proklamasi, jerit tangis adik satu-satunya itu pecah membahana mengalahkan suara Pak Soekarno.

Sudah berkali-kali Athung ingin mendaftar menjadi tentara Indonesia, namun mata sipitnya menghalangi jalannya. Maka ketika rekan-rekan main Athung yang sesama bermata sipit tergerak untuk membela Indonesia dalam kelompok yang mereka sebut Paraku, Athung pamit.

Dengan berat Aliong melepas adiknya untuk pergi menjadi relawan menjaga perbatasan Indonesia agar tidak dikuasai neokolonialisme Inggris di Negara Malaysia. Athung bahkan belum berumur 18 tahun kala itu. Entah apa yang akan dikatakan orang tuanya di surga kelak melihat kebodohan Aliong melepas Athung pergi.

Masalahnya adalah sudah lima tahun Athung pergi dan belum juga kembali. Dua tahun sebelumnya para keturunan Tionghoa di Pulau Jawa mulai dibantai atas tuduhan komunis. Aliong dan Amoy pun mengungsi semakin masuk ke dalam hutan di Singkawang. Mungkin itu jugalah yang membuat Amoy mengalami keguguran. Walau sejujurnya Aliong sangat takut mempunyai anak di masa sekarang. Mengingat para keturunan bermata sipit sepertinya tidak akan mempunyai masa depan di negeri ini.

Setelah menetap selama hampir dua tahun di rumahnya sekarang, Aliong mendapat setitik titik cerah dalam kehidupannya. Ia dan Amoy mulai bisa bercocok tanam serta berkebun. Bahkan sekarang Amoy tengah mengandung anaknya setelah mengalami keguguran sebelumnya.

Seminggu lalu salah satu relawan yang pergi bersama Athung tiba-tiba datang. Ia kabur karena anggota Paraku mulai difitnah oleh tentara Indonesia. Ia pun mengabarkan bahwa Athung telah terbunuh oleh tentara karena ia dituduh berkhianat dan sekarang mereka tengah mencari keluarga Athung. Aliong tak habis pikir mengapa adiknya yang mengorbankan masa mudanya untuk membantu tentara malah terbunuh oleh mereka.

Aliong tidak paham, yang Aliong pahami adalah ia harus menjaga Amoy dan anak mereka yang belum lahir. Ia bahkan tidak memberi tahu Amoy soal kabar ini. Ia takut kalau-kalau kekhawatiran ini akan membuat kandungan Amoy semakin melemah. Walaupun ia tidak tahu sampai kapan ia sanggup menyembunyikan ini dari istrinya.

*

Di meja makan, Aliong akhirnya menceritakan perihal kematian Athung.

”Nyi phien ngai ma? (Kamu bohong?)”

”Ce mai ngai phien nyi na, Moy? Ngai lo thai si het lia. Asa sika han jiu kei shin than, ke kim chat bei khon sika, Moy. Sika thong nyin si eng hiao met ma ai tung si bo. (Untuk apa aku berbohong, Moy? Adikku sudah mati. Kalau kita masih punya shin than itu para tentara bisa lihat. Kita orang Tionghoa tidak punya banyak pilihan soal itu.)”

”Asa nyi met fai ke shin than, thi kong bei at, Liong. Sika nak si bei si. (Kalau kamu rusak shin than itu, dewa akan marah, Liong. Anak kita bisa meninggal lagi.)”

”Asa ke shin than han kia bui, sika bei si a, Moy. Sika! Nye nak si eng hiao chut se’a (Kalau shin than itu masih di sana, kita yang akan mati, Moy. Kita! Anak kamu bahkan tidak bisa dilahirkan),” tidak ada kemarahan dalam nada bicara Aliong saat mengatakan ini. Hanya keputusasaan yang beresonansi di dalamnya.

Nasi dingin yang berada di tengah mereka tampak mulai mengeras. Amoy dan Aliong hanya dapat terdiam dengan pikiran masing-masing. Shin than di belakang mereka seakan lancang menertawai perdebatan mereka, padahal nasibnyalah yang sedang dipertaruhkan.

”Ngai hi Athung phen jiu kai ngai oi mun gi, ta ha ngai con sika hi nyi apak kai, nyi hiau chut se ka bui (Aku pergi ke rumah teman Athung sebentar untuk menanyakan sesuatu, pulangnya nanti kamu aku antar ke rumah orang tuamu dulu untuk mengungsi sampai anak kita lahir),” ujar Aliong memecah keheningan.

”Ho, cuma mo met fai ke shin than, Liong. Ngai han oi piong hio. Jit pien, Liong, jit pien ti’a (Baiklah, tapi jangan rusak dulu shin than-nya, Liong. Aku ingin menaruh dupa di sana. Sekali saja, Liong, sekali saja),” pinta Amoy dengan sangat.

Aliong berjalan ke arah istrinya dan memeluknya yang tengah duduk di bangku ruang makan, ”ho (baiklah),” ujarnya tenang.

Untuk sesaat Amoy merasakan kedamaian merasuk ke dalam tubuhnya. Sejenak ia berharap waktu dapat berhenti agar hanya perasaan ini yang ia ingat di hidupnya.

”Nyi mang sit fon’s, Liong. Ngai chien chun pun nyi’a? (Kamu belum makan kan, Liong. Aku gorengkan telur ya?)”

Aliong mengangguk. Kemudian beranjak pergi diikuti oleh Amoy di belakangnya, ”ngai eng kiu ha. (saya pergi tidak lama.)”

”Ho ho’a (Hati-hati),” jawab Amoy tanpa dapat menyembunyikan kecemasan di suaranya.

”Ingat jika ada yang ke sini, siapa kamu punya nama?” tanya Aliong perlahan sambil menatap masa Amoy lekat-lekat.

”Wati, nama aku Wati.”

”Dan suamimu?”

”Suami saya punya nama Joko.”

Dengan begitu Wati melihat suaminya pergi. Ia terus berada di pintu sambil melihat punggung Joko yang menjauh. Ketika Wati akhirnya menutup pintu, Joko membalikkan badannya, namun hanya pintu tertutup yang ia lihat.

Diam-diam, Wati seharusnya tersadar ia lebih tekun dalam harapnya untuk menghentikan waktu sejenak saat suaminya memeluknya tadi. Dengan begitu, tangan-tangan takdir mungkin tidak akan sedemikian kejam memainkan perannya.

*

Wati terus memasak. Tangannya menggoreng telur dan membaliknya dengan cepat. Ia tahu Joko pasti lapar dan masakannya harus sudah siap sebelum suaminya pulang ke rumah.

Ia menaruh telurnya ke dalam piring saat ia mendengar suara angin berdesing masuk ke dalam dapurnya. Dipandanginya dinding kayu di rumahnya dengan perasaan tidak nyaman. Seekor kupu-kupu tampak terbang masuk melalui jendela dapur dan hinggap di kusennya.

Ia beranjak ke arah shin than dan mulai membakar hio. Namun entah mengapa tiga gelas yang biasa ia isi arak di dalamnya mulai berubah posisinya. Tangan Wati berusaha terjulur mengambil abu bekas hio saat ia merasakan sakit di perutnya dan darah mulai mengalir di antara kakinya. Ia pun terjatuh dengan pelan.

Wati berusaha tidak panik, walaupun ia tahu bayinya tidak baik-baik saja. Ia memanggil nama suaminya perlahan. Ia mulai mencium bau amis darah. Ketika suara erangannya mulai terdengar tanpa terkontrol, dalam keputusasaan ia kembali memanggil nama suaminya.

”Aliong…”

Joko terus berjalan. Kakinya melangkah ringan sambil sesekali menendang kerikil. Ia tahu perutnya lapar dan ia tak sabar untuk memakan sarapannya yang sedang dimasak oleh Wati.

Ia menatap hutan di sekelilingnya dengan saksama saat ia mendengar suara angin berdesing di antara pepohonan. Dipandanginya hutan kayu di sekelilingnya dengan perasaan tidak nyaman. Seekor kupu-kupu tampak terbang keluar dari dalam hutan tersebut dan hinggap di kakinya.

Ia beranjak terus untuk segera sampai di jalan besar. Namun entah mengapa ada tiga bercak darah di jalan yang ia lalui. Ia pun menghampirinya dan berlutut. Tangan Joko berusaha terjulur mengecek bekas darah saat ia merasakan pukulan di kepalanya dan darah mulai mengalir di pipinya. Ia pun terjatuh dengan keras.

Joko berusaha tidak panik, walaupun ia tahu ada orang lain di belakangnya. Ia memanggil nama istrinya perlahan. Ia mulai mencium bau amis darah dan suara laki-laki di belakangnya mulai berteriak sambil terbahak. Dalam keputusasaan Joko kembali memanggil nama istrinya.

”Amoy…”

Diam-diam, sepasang kupu-kupu terbang dan hinggap di shin than. (*)

—

AWI CHIN : Penulis dan novelis dengan karya debut Yang Tak Kunjung Usai

sumber : JAWAPOS, Minggu, 28 November 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme