Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebuah Makam di Pucuk Bukit oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 12 Nov 2006

“Dul, bawalah aku pulang…,” sekonyong-konyong Ibu merajuk di seberang meja makan. “Kebun kelapaku…,” sambungnya menuai kata-kata. “Sudah sebulan kutinggalkan. Ilalang pasti sudah menyemak.” Bagai daun kekeringan, matanya benar-benar memohon.

Perlahan, aku menelentangkan sendok di tengah- tengah piring, menawarkan sekulum senyum, dan menyambut tatapan mata Ibu di seberang meja. Khayalku mengapung seketika. Alangkah senangnya perasaan Ibu kemarin, ketika berjalan kaki seperti beradu bahu denganku mengelilingi kompleks perumahan. Di pekarangan tetangga daun kelapa mendesau di pucuknya. Tentulah kibasan angin pagi yang menenteramkan di pucuk-pucuk daun itu yang telah membuat ingatan Ibu seperti diterbangkan kembali ke kampung halaman. “Bah ..,” cetusnya seraya menghentikan langkah saat itu. “Tak kusangka di Jawa ini ada pohon kelapa. Rendah dan lebat pula…,” katanya dengan mata terpesona.

Ibu diterbangkan Abangku ke Jakarta setelah diketahui pengobatan yang dijalaninya di Sumatera tidak menolong. Pembuluh darah di kaki kirinya semakin menyempit, membuat otot di situ kaku dan dia jadi sulit bergerak. Aku segera membawanya kepada seorang dokter kenalan.

Tiga puluh tahun lebih aku meninggalkannya. Dan sekarang, terbaring di atas tempat tidur dokter itu, Ibu sudah bukan seorang perempuan yang kokoh, pada haribaan siapa, ketika masih kecil, aku sering merebahkan kepala, menelusuk di bawah teteknya, merengek-rengek uang receh bakal jajan. Waktu telah membuat bahunya ringkih seperti memikul beban abadi. Waktu juga yang telah memahatkan sungai kecil bercabang-cabang seujung rambut di pojok matanya yang redup. Leher di mana aku dulu suka menggelayut, kini dibalut kulit yang menggelambir. Ubannya yang dulu dia minta kucabuti satu-satu dengan menggunakan sebulir padi, sekarang terhampar tipis di sekujur kepalanya. Hubunganku yang begitu rapat dengannya ketika masih kecil sampai pun aku beranjak dewasa, kini seperti terulang kembali. Tak lama setelah dokter kenalanku itu menyuntikkan sejenis obat perangsang pembuluh darah, Ibu melambaikan tangan ke arahku, membujukku supaya lebih mendekat. Dan dia memegangi lenganku.

Di ujung senyumnya dia berujar: “Ah…, Dul, sekujur tubuhku terasa gatal. Kakiku ini terutama. Seperti ada yang menggamit-gamit di dalam.”

Kupegang, kubelai kaki kirinya. Menenteramkan perasaannya. Membuat dia tidak merasa sendirian menghadapi gejala yang membuatnya seperti kena gelitik itu.

Aku senyum memandang matanya, mencium keningnya. “Tenanglah Ibu, itu pertanda baik, kupikir. Menggelitik seperti ketam, karena obatnya mulai bekerja, memperbesar pembuluh darah. Kalau darah bebas mengalir, Ibu akan biasa dengan leluasa bergerak.”

“Hm….”

Dalam beberapa hari, obat dari dokter kenalan itu membawa kemajuan yang berarti. Ibu mulai menemukan kembali keleluasaan untuk menggerakkan kaki kirinya. Sesuai anjuran dokter, dengan kutemani tentu, saban pagi dia melatih kakinya itu dengan berjalan mengelilingi perumahan. Sampai akhirnya lambaian pucuk kelapa memanggilnya pulang. Dan tak bisa ditahan. Katanya, selama hampir setahun dia mengupah seseorang untuk menebas menyiangi kebun kelapanya.

Dari seberang meja makan kembali dia membujuk: “Kau bilang sudah lebih dari sekilo yang kita jalani setiap pagi. Panjang kebunku tak sampai segitu. Aku sudah sehat, kuat, kalau begitu. Aku bersyukur karena kau,” katanya melepaskan tatapan pada mataku. “Tapi, Dul…, tolong, bawalah aku pulang.”

Tak ada lagi yang lebih menggugah buatku daripada kata-katanya itu. Tak ada lagi yang lebih penting daripada memuaskan keinginannya itu. Ada gelora yang harus didamaikan. Sehingga perasaannya lapang sedatar laut. Dan kupikir, kalau perasaannya terbebas dari keinginan pulang, yang membuat dia begitu mengharap, maka pada akhirnya pembuluh darah di kakinya itu pun tak akan menyiksanya lagi.

“Baiklah, Bu. Besok akan kutemui dokter, dan akan kubilang Ibu rindu kampung. Ingin pulang. Sudah terlalu lama di sini.”

Di seberang meja makan kulihat wajah Ibu menjadi tenteram.

Keesokan harinya, aku menemui dokter kenalan itu. Dia menuliskan resep yang pernah dituliskannya untuk Ibu beberapa kali. Katanya, kalau masih memerlukannya nanti, dia akan menuliskannya lagi. Minta tolonglah kepada perawat untuk menyuntikkannya, katanya. Inilah yang kemudian menjadi masalah. Abangku tidak punya kenalan perawat yang bersedia menyuntikkan obat itu. Semua orang yang dihubungi, katanya, takut kalau-kalau terjadi apa-apa. Dan belakangan baru aku ketahui penyakit Ibu kambuh lagi. Ia tak bisa bergerak. Hendak dibawa kembali ke Jakarta, dia menolak. Dia memilih bertahan dengan kakinya yang harus dia seret-seret daripada harus meninggalkan kebun kelapanya berbulan-bulan. Dan di tempat jauh dia disiksa pula oleh lambaian pucuk daun kelapa.

Pada suatu subuh, setahun kemudian, telepon berdering. Dengan menahan perasaan dan terbata-bata Abangku mengabarkan: Ibu meninggal….

Aku mengepal tinju, menghantamkannya ke meja. Buru-buru aku ke bandar udara, mengejar pesawat terbang dalam kesempatan pertama. Sesampai di kota tujuan, dengan mencarter taksi, satu setengah jam kemudian aku sudah melangkahi bendul pintu rumah yang sedang dirundung duka. Aku membiarkan saja Abang dan keluarga terdekat memeluki aku. Aku terus menyibak, meminta jalan dibukakan untukku menuju jasad Ibu yang sedang dimandikan di ruang belakang. Dia tergolek kaku, kuning membiru. Tidak kusangka tubuhnya menciut seperti itu. Tak peduli basah, aku lantas memeluknya, mencium pipinya, memagut ujung kakinya. Ketika kuangkat, tubuhnya begitu enteng. Di bawah tatapan puluhan pasang mata yang menangis, kuelus-elus kaki kirinya. Sembari tersengguk-sengguk aku memegangi kaki kirinya yang tak bisa diluruskan. Kentara sekali kaki itu lebih kecil dari pasangannya. Kupegang lagi kaki yang malang itu, kucium, dan aku tak kuasa menahan tangis sambil sesenggukan.

Di dalam hati, aku menyesali Abangku, dan siapa saja yang tidak becus meminta bantuan pada seseorang, perawat atau dokter, untuk menyuntikkan obat. Aku juga menyesali mengapa Ibu tak mau melunak barang sedikit, meninggalkan kebunnya barang satu atau dua bulan dan tinggal bersamaku sampai kakinya pulih seperti dulu.

Setelah dimandikan, jenazah diletakkan di ruang tengah. Sanak saudara, tetangga, handai tolan, mengerubung. Surat Yasin mendengung dengan takzim, dibacakan pelayat bergantian. Pemakaman akan dilangsungkan selepas lohor. Aku menanyakan kepada Abangku, bagaimana prosesi akan berlangsung. Di Jakarta, aku tak habis pikir menyaksikan iring-iringan yang selalu dilarikan seperti dikejar setan oleh para pengiring dengan mengibar-ngibarkan bendera kuning, memaksa orang menyingkir. Mirip sirkus harimau yang hendak lewat. Dan seakan-akan yang akan dimakamkan adalah seseorang yang penuh dosa, yang harus dilarikan cepat-cepat ke liang kubur supaya dosanya, seperti wabah yang mematikan, tidak menulari orang.

Ibuku bukan seorang pendosa! Dan aku tidak sudi dia diperlakukan seperti itu. Abang mengatakan Ibu akan dimasukkan ke mobil jenazah yang akan bergerak dengan ligat mengikuti pengendara motor yang mengibas-ngibaskan bendera merah.

“Merah?! Apa dia seorang komunis? Aku menyaksikan Marsekal Tito dimakamkan. Tak ada bendera merah. Apa-apaan ini?!”

“Itu kebiasaan di sini. Sama seperti kebiasaan di Jakarta, dengan bendera kuning.”

“Tapi, yang akan dimakamkan adalah Ibu kita, mengapa kebiasaan itu harus kita turuti. Itu toh bukan anjuran agama?”

“Mh….”

“Jadi, Ibu akan dilarikan cepat-cepat ke pemakaman? Padahal ini kota kecil, tak ada masalah lalu litas di sini. Mengapa Ibu harus diperlakukan seperti itu? Ibu dikenal banyak orang. Dia punya banyak teman. Perempuan terlarang untuk mengantarnya ke pemakaman. Jadi, mengapa teman-temannya tidak diberi kesempatan untuk membuka pintu atau jendela, untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya?”

“Ini sudah adat kebiasaan. Tak baik dilanggar….”

Uhh….

Aku terdiam. Baiklah. Aku meremas-remas tinju.

Ketika jenazah tiba di pemakaman, hatiku yang dari tadi terluka karena kehilangan Ibu tiba-tiba jadi marah meradang. Taman pemakaman ini rupanya sudah sejak lama terendam. Sungai yang mengalir tak jauh dari situ meluap karena pembalakan hutan yang berlangsung bertahun-tahun. Pabrik bubur kertas di hulu meracuni batang sungai. Kota yang dulu tak pernah banjir kini harus menanggungkan rendaman air yang berbau busuk. Tak terkecuali tempat persinggahan terakhir warga yang bernama pekuburan ini. Dan Ibuku akan dimakamkan di sini.

Para penggali liang kubur bersimbah lumpur. Dengan menggunakan beberapa ember, mereka berusaha untuk mengeringkan liang lahat. Tetapi, air terus saja menumpahi lubang itu. Lemas lututku, dan sepertinya aku ingin berteriak memprotes ketika Ibu bersama kerandanya dibenamkan ke dalam lubang yang penuh air berbau busuk itu. Dan dengan paksa lagi. Ibu lantas buru-buru ditimbuni. “Pemakaman macam apa ini?!” Aku tidak saja menangis. Juga murka melihat bagaimana jasad Ibu memasuki dunianya yang akan kekal. Aku merasakan betapa hina yang harus dia tanggungkan di kuburan yang tak pantas ini.

“Aku tak bisa menerima apa yang kau lakukan terhadap Ibuku ini,” kataku dengan geram kepada Abang ketika pelayat sudah menjauh. “Mengapa Ibu tidak dimakamkan di pemakaman keluarga di seberang sungai? Tempat ayah dimakamkan?”

“Sia-sia. Menurut perencanaan kota, pemakaman itu tak lama lagi akan digusur. Kau sendiri tahu, sejak zaman Belanda sudah ada rencana membangun jembatan menghubungkan kota dengan kampung di seberang. Pemakaman keluarga kita itu harus dipindahkan.”

Aku gusar dibuat keterangannya itu. “Mengapa kau tak pernah menceritakan semua ini kepadaku?”

“Kau jauh.”

“Sejauh apa? Kan bisa kau telepon. Aku tak bisa menerima Ibu diperlakukan seperti ini.”

“Aku juga,” katanya menantang.

Kurenggut kerah bajunya. Dia menggeliat. Sambil menangis, kuhunjamkan tinjuku kuat-kuat ke mulutnya. Dia menangkis dan balik menghajar bagian belakang kepalaku. Aku terjerembab. Mukaku tertelungkup ke dalam kubangan lumpur. Bukan hitam kelam yang kulihat, tetapi kuning membanjir. Aku tenggelam dalam lautan yang kuning. Lantas, dengan cepat kuning yang berayun-ayun dalam penglihatanku itu melenyap, berganti dengan hitam. Sungguh pekat. Ribuan kunang-kunang bersayap putih mengerlap-ngerlip menyongsong dari kejauhan. Bertambah dekat, dalam jumlah ribuan, barangkali, mereka datang seraya mengusung kafan putih. Aku tahu persis itu adalah Ibuku. Aku ingat simpul di ujung kakinya, karena akulah yang diam-diam memegangi pojok kafan dan membelitkannya ketika dia sudah tenggelam dalam balutan putih. Ribuan kunang-kunang itu menghamparkan jenazah Ibu di pangkuanku. “Lakukanlah yang sepantasnya untuk dia,” suara mereka menderu, namun dalam irama yang sejuk membujuk.

Aku tegak menyambut dan memegangi Ibu. Ditayangkan angin, aku dan Ibu kembali ke rumah. Dari situ, dengan Ibu dalam gendonganku, sambil terisak-tangis, perlahan kumelangkah menyusuri kota. Dan kulihat Ibu Salmah, guru mengaji Ibuku dulu, membukakan pintu, mengucapkan doa. Jendela-jendela rumah di seluruh kota kecil kami terbuka. Syahdunya perempuan-perempuan berdiri memegangi bendul jendela, menundukkan kepala, bibir bergetar mengalunkan Yasin.

Ketika prosesi itu sampai di tepi kota, dadaku terasa seperti dijepit.

“Mau ke mana kau makamkan?” Aku tak bisa membalik ke belakang. Yang terasa hanya pelukan yang kuat tetapi lembut melingkari dadaku.

“Dengan izinmu, akan kumakamkan di Pucuk Bukit, dari mana Ibu akan selalu bisa memuaskan hati menatap ladang kelapanya,” kujawab dengan bibir gemetar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme