Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kardigan oleh Ayu Prawitasari

Posted on Kam, 26 Agu 2021

Rasanya mirip air mata yang asin. Semula kupikir begitu, namun kurasa aku salah. Kardigan dan kaus yang lengket di tubuh membuatku yakin kalau aku tak menangis. Panas dini hari ini membuat tubuhku basah kuyup. Keringat yang terbit dari dahi mengalir hingga mataku.

Pukul tiga pagi dan rasanya gerah sekali. Padahal, semalam aku kedinginan. Kardigan tua itu kulepas, kutaruh di meja samping tempat tidur. Kurasa selimut ini juga membuatku bertambah gerah. Aku duduk di pinggiran tempat tidur, mengucek mata yang masih mengantuk sambil melipat selimut tipis di sampingku.

Ini adalah dini hari ketiga. Urutannya sama. Aku berangkat tidur dengan tubuh kedinginan sehabis mandi malam, sepulang bekerja. Memakai kardigan tua yang usianya lebih dari separuh usiaku. Memasang selimut yang sama tuanya. Dua benda yang kubawa dari kampung halaman menuju tempat perantauan tepat saat usiaku 19 tahun. Saat aku mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di sebuah kota yang sangat jauh dari tempatku dilahirkan.

Aku menyebut kardigan ini pakaianku, salah satu kebutuhan pokok ketika aku masih ditakdirkan menjadi manusia. Kardiganku ini tak perlu berubah menjadi tanda modernitas seperti jeans, t-shirt, stiletto, atau sneakers-ku yang kerap berganti demi menyenangkan manusia lain. Kardigan ini tak pernah kupakai untuk menyenangkan siapa pun. Dia hanya ada untuk diriku.

Aku tak pernah membawa kardigan ini keluar kamar. Sebab, begitu keluar kamar, aku akan memakai kardigan lain. Aku kerap berganti baju secepat etalase toko fashion dekat tempatku tinggalku mengeluarkan produk terbaru.

Nah, kardigan tua ini pengecualian. Dia selalu ada di kamarku. Kucuci dua pekan sekali, tepat pada pagi hari agar bisa segera kujemur dan malamnya bisa kupakai lagi tanpa perlu disetrika. Selimutku sama saja. Polanya maksudku. Selimut tipis itu selalu kucuci pada pagi hari sehingga malamnya sudah bisa kupakai kembali.

Sayangnya, terkadang, alam tak selalu ingin bersahabat denganku. Hujan bisa turun berhari-hari sehingga kardigan tua itu tetap basah meski sudah berjam-jam tergantung di tiang jemuran. Ketika itu terjadi, aku hanya bisa memandang kardigan yang basah itu dengan pasrah.

Akhirnya aku memang harus memakai kardigan yang lain saat tidur malam. Tentu saja tak adanya kardigan tua kesayanganku itu membuat banyak perbedaan. Walau gelap malam tetap dengan mudah membuat mataku terpejam, namun kardigan asing sering kali membuat mimpiku menjadi lebih beragam dan berantakan. Apakah itu tandanya aku tak tenang? Entahlah. Yang jelas aku merasa ada sesuatu yang hilang.

Kupikir tak ada satu pun kenangan di masa mudaku yang tak terkait dengan kardigan ini. Salah satunya waktu aku menyadari bahwa ruangan tiga kali tiga meter, kamarku yang baru di perantauan, tiba-tiba terasa begitu mencekik. Waktu aku menyadari bahwa dalam satu hari saja langkahku tiba-tiba saja menjadi sangat terbatas dari kamarku menuju kamar mandi atau kamarku menuju kampus. Waktu aku tiba-tiba menyadari bahwa sofa coklat di kampung halaman, tempat aku biasa duduk sambil membaca novel dan menyeruput teh panas manis buatan ibu begitu kurindukan. Waktu aku mulai mempertanyakan lagi keputusan yang pernah kubuat dengan gagah berani untuk mengambil perguruan tinggi yang jauh dari kampung halamanku. Jadi sudah benarkah keputusanku?

Kugigit bibirku keras-keras sambil bergegas menuju kamar. Meringkuk di kasur yang digelar di lantai, memakai kardigan yang dibelikan ibu dari Pasar Klewer dan selimut baru yang rasanya masih tertinggal sentuhan tangannya. Sejak itu, berbulan-bulan kemudian, kardigan dan selimut itu tak pernah kucuci supaya aku bisa tetap merasakan kehadiran ibu di sampingku. Kehidupanku berubah semenjak menjadi mahasiswa, namun kardigan itu tidak.

Lalu, aku juga masih ingat bagaimana kardigan itu memelukku erat di hampir sepanjang perjalanan malam menuju kampung halaman, beberapa tahun kemudian. Ayah mengabarkan padaku bahwa ibu telah berpulang pada hari Minggu yang hening. Ibu menyerah kalah ketika tabung oksigen yang dibawa ayah dari apotek datang dengan sangat terlambat. Apotek banyak yang tutup pada hari Minggu.

Aku menyambar kardigan tua kesayanganku, memasukkan beberapa baju dengan tergesa-gesa di ransel merah, lalu meneleponmu. Kamu adalah laki-laki yang sangat mirip dengan kardiganku. Nyaman dan selalu hangat.

”Ibu pergi,” ujarku terbata. ”Aku pulang malam ini,” lanjutku sambil menangis dan terus menangis di pelukanmu sepanjang perjalanan malam itu. Bus malam melaju sangat kencang menembus jalanan yang lengang dan tampak asing. Kardigan dan lenganmu yang kokoh menopang tubuh dan kesadaranku yang limbung.

—

Aku mengusap dahiku yang terus saja berkeringat. Detak jam yang tegas dan kegelapan yang mengurung berhasil mengaburkan waktuku. Masa lalu, masa kini, dan kegelisahan mengenai masa yang akan datang bercampur-baur menjadi satu. Aku merasa seakan melangkah mundur meski saat itu aku sebenarnya sedang duduk kebingungan di pinggiran tempat tidur dengan pikiran yang melompat-lompat tentang kecemasan masa depan sekaligus kasarnya kulit permukaan masa lalu.

Kardigan tua itu terlipat rapi di pangkuanku. Tiba-tiba saja pikiranku melompat pada lengan kokohmu. Hidungku juga dengan mudah membaui jejak aromamu. Dan kini aku bahkan mulai merasa bisa mendengar lagi setiap kata-katamu.

Kugigit bibirku keras-keras sambil bergegas menuju kamar. Meringkuk di kasur yang digelar di lantai, memakai kardigan yang dibelikan ibu dari Pasar Klewer dan selimut baru yang rasanya masih tertinggal sentuhan tangannya. Sejak itu, berbulan-bulan kemudian, kardigan dan selimut itu tak pernah kucuci supaya aku bisa tetap merasakan kehadiran ibu di sampingku. Kehidupanku berubah semenjak menjadi mahasiswa, namun kardigan itu tidak.

”Aku akan menikah bulan depan. Bagaimana aku harus mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin kukatakan, sayangku?” Laki-laki itu mendatangi tempat kosku malam-malam dengan suara bergetar dan wajah kusut yang tak bisa kugambarkan.

Aku menelan ludahku sendiri. Sejujurnya, aku sudah menduga akan mendengar kalimat semacam itu dan sekaranglah saatnya. Laki-laki itu, yang lengannya senyaman kardiganku akan menikah, dan calon istrinya bukanlah diriku.

Calon istrinya sebenarnya orang yang telah aku kenal betul. Dia adalah gadis manis yang sangat mengidolakan lelakiku. Dan lelakiku itu tak bisa menolaknya.

Sebagai mahasiswa yang hidup dari sokongan beasiswa, aku tahu sekali bahwa lelakiku itu tak akan bisa menyelesaikan kuliah tanpa bantuan ibu sang gadis. Seorang wanita tua yang sangat menyayanginya, yang kerap menggratiskan kamar kos untuknya, dan yang kerap membantu segala keperluannya hingga ia bisa memiliki foto dengan senyum lebar dan toga yang menghias kepala.

Hidupku lantas menjadi asing. Perasaan asing sama ketika aku memasuki kamar pertamaku di perantauan; atau saat aku menempuh perjalanan malam di bus yang melaju kencang bersamamu; atau juga saat melihat bapak menguruk tanah, meninggalkan ibu di peti dalam kesendirian. Segalanya mendadak menjadi abu-abu, keras, dan dingin.

Aku meraih kardiganku. Memeluk erat diriku sendiri dan meringkuk di sudut kamar, berupaya mencari kenyamanan di tengah semua hal yang asing. Air mataku telah kering saat jariku menghapus semua nomormu di ponselku. Dua tahun lalu aku telah kehilangan ibu yang tak meninggalkan pesan apa pun untukku dan kini aku kehilanganmu. Aku hanya ingin menjadi kuat seperti bapak yang mengangkat peti ibu, memasukkannya dalam liang, lalu melangkah pergi.

—

Gadis kecil itu menggoyang tubuhku berkali-kali sambil menciumi pipiku. Aku tak bisa bersikap keras kepala dengan melanjutkan tidurku di hari Minggu yang sebenarnya adalah hari favoritku untuk bangun sangat terlambat.

”Tapi Mama kan berulang tahun hari ini. Jadi Mama harus bangun. Dan lihat Mama, lihatlah apa yang aku belikan untukmu,” jerit gadis kecil itu sambil tertawa tanpa henti. Dia adalah gadis 10 tahun yang sangat ekspresif, sifat yang sama sekali tak kumiliki. Ah, dia mengambil sifat itu darimu tanpa pernah kamu tahu. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini sampai kapan pun.

Kali ini aku benar-benar terbangun dengan perasaan campur aduk. Aku sungguh lupa kalau ini adalah hari ulang tahunku. Sungguh tak kusangga anak perempuanku yang justru mengingatnya.

”Ini untuk Mama,” kata dia sambil menyerahkan sebungkus kado untukku.

Aku menerima kado itu dan segera membukanya. Di balik kertas kado aku melihat boks kecil yang di dalamnya terdapat kardigan warna coklat tanah. Warna kesukaanku.

”Mulai sekarang aku harap Mama memakai kardiganku. Kardigan lama Mama yang tipis itu dibuang saja. Mama kan cantik, masa pakai pakaian jelek,” kata dia sambil membuka satu per satu kancing kardigan itu lalu memaksaku memakainya.

Aku menurut saja. Kupakai kardigan baru itu dengan bantuannya. Tawa gadis kecil itu tak bisa berhenti waktu melihat kardigan yang dia beli dengan uang tabungannya tersebut sungguh pas dengan tubuhku.

”Ah, Mama, Mama sungguh cantik sekali. Nah, kardigan lama itu kubuang saja ya. Kardigan itu kusut sekali Mama,” kata dia sambil memelukku. Rengkuhan dia begitu kuat hingga aku tiba-tiba saja bisa kembali merasakan lengan kokohmu yang mendekapku di sepanjang perjalanan malam itu. Aku bahkan juga bisa merasakan dekapan ibu saat melepaskanku di perantauan, pun dekapan Bapak waktu aku pulang ke kampung halaman dengan perut besar sendirian. Seorang wanita tanpa suami.

***

Ayu Prawitasari merupakan jurnalis yang tinggal di Solo.

sumber : kompas.id, 26 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme