Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ismael Anak Baik oleh Kiki Sulistyo

Posted on Ming, 29 Agu 2021

Beberapa hari sebelum terserang tifus, Ismael pergi ke pantai untuk berburu kerang. Dia membawa satu kantung kecil terbuat dari kain tipis untuk menampung hasil buruannya. Sore hari ketika arus laut mulai deras dan ombak menghantam dengan keras, kerang-kerang akan terseret ke tepian, dan ketika air tertarik kembali ke laut, kerang-kerang itu tertinggal di basah pasir, dengan susah payah menggali untuk sembunyi. Pasir basah membentuk pusaran kecil ketika kerang-kerang menggali, saat itulah orang mencidukkan tangan untuk mendapatkan kerang itu.

Cangkang kerang berwarna hitam mengilat. Bentuknya oval dengan ukuran dari sekecil kuku sampai setengah jari orang dewasa. Biasanya yang seukuran kuku lebih sering terseret ke tepian, karena itu, orang akan riang ketika berhasil mendapatkan kerang ukuran setengah jari. Namun, sore itu, sampai senja membias di cakrawala, Ismael baru mendapatkan kerang-kerang kecil saja. Kenyataan itu membuatnya murung. Sambil duduk di pasir, diperhatikannya kerang-kerang yang sudah hampir memenuhi kantung kainnya. Sempat terpikir untuk melepas kembali kerang-kerang itu. Dibayangkannya secuil daging di dalam cangkang, secuil daging yang bakal kian menyusut setelah direbus.

Ismael berburu kerang bukan hanya karena dia ingin makan daging kerang, melainkan juga karena dia merasa senang membayangkan rasanya memakan hasil tangkapan sendiri. Di buku-buku pelajaran, terutama Ilmu Pengetahuan Sosial, ada gambar ilustrasi pemandangan desa, pesisir, maupun kota. Kadang di ilustrasi itu ada menyelip gambar-gambar hewan, ternak, ataupun buruan. Sering Ismael membayangkan dirinya jadi peternak atau pemburu dan hidup dari hasilnya.

Semenjak ayahnya hilang, bayangan itu kian mekar di pikirannya. Namun, karena Ismael masih kecil, dia belum bisa jadi peternak atau pemburu, hanya kerang yang bisa diburunya. Ismael tak pernah sekalipun mengajak teman-temannya. Sesungguhnya, semenjak ayahnya hilang pula, Ismael jarang bermain bersama teman-temannya. Dia yang semula pemarah dan senang berkelahi berubah jadi anak pendiam dan tak senang berkumpul, baik di sekolah maupun di Gang Melayu, lingkungan rumahnya.

Saat memperhatikan kerang-kerang kecil dalam kantung kain dan berpikir untuk melepas kembali hewan-hewan itu, mata Ismael tak sengaja memperhatikan kulit tangannya yang penuh biji-biji pasir. Kulit yang dirasanya semakin hitam hari-hari belakangan ini. Ismael meletakkan kantung kain di sebelahnya, lalu membersihkan pasir yang menempel di kulit tangannya. Tangan kirinya merogoh kantung kain dan mengambil seekor kerang. Dibandingkannya cangkang kerang dengan kulit tangannya. Matahari hampir senja membuat banjir cahaya, bunyi ombak terserak seakan-akan ada dinding kaca yang terus-menerus pecah. Meski kegelapan cangkang kerang dan kegelapan kulit tangannya jauh berbeda, Ismael merasa keduanya serupa. Perasaan itu membuatnya semakin murung. Ulu hatinya terasa perih sebab kemurungan itu. Oh, tidak. Ulu hatinya perih bukan karena kemurungan, melainkan karena semenjak pagi Ismael belum makan apa-apa. Oh, tidak. Ismael belum makan apa-apa bukan karena tidak ada yang bisa dimakan, melainkan karena pikirannya terlalu fokus pada rencana berburu kerang.

Angin yang semenjak tadi menerpa apa saja tiba-tiba terasa menggigilkan. Bulu-bulu halus meremang di tubuh Ismael. Dia bergidik, seperti akan diserang meriang. Menyadari rasa tak nyaman di tubuhnya, Ismael bangkit. Sosoknya yang kecil, dengan kaus putih bergambar boneka Si Unyil, terlihat seperti bintil di keluasan pasir pantai. Ismael masih bimbang, apakah akan membawa pulang hasil buruannya atau melepasnya kembali. Sekonyong-konyong dia teringat ayahnya yang hilang. Kata orang, ayahnya dimakan hantu petrus. Ismael tak percaya cerita itu. Dia percaya ayahnya menghilang karena dia sudah jadi anak nakal, dan anak nakal pasti dihukum oleh Tuhan.

Kepercayaan itu tumbuh setelah guru mengajinya berkisah tentang hukuman bagi anak-anak nakal; anak yang gemar meninggalkan sembahyang dan tak berbakti pada orangtua. Ismael jelas memiliki ciri-ciri itu. Bahkan, Ismael baru mulai pergi mengaji setelah ayahnya hilang. Ibunya yang mendaftarkannya. Guru mengajinya adalah seorang laki-laki yang kira-kira seusia dengan ayah Ismael, tampangnya pun mirip; bertubuh besar dan tinggi serta memelihara berewok. Hanya saja, guru mengajinya itu tak memiliki tato dan mukanya bersih. Ismael berpikir guru mengajinya itu pasti dekat dengan Tuhan. Ismael jadi sering membayangkan rupa Tuhan. Dalam bayangan itu, yang paling sering muncul adalah sosok ibunya. Tuhan sepertinya mirip dengan ibunya, dan pada kenyataannya guru mengaji itu memang dekat dengan ibunya.

Setelah lepas dari duduknya, Ismael merasa pusing dan kakinya sedikit gemetar. Digenggamnya erat-erat kantung kain. Mungkin dengan tak lagi menjadi anak nakal, ayahnya akan kembali. Ismael telah mulai menjadi anak baik dengan tak lagi bermain dengan teman-temannya yang pelan-pelan diyakininya sebagai sekumpulan setan yang telah sekian lama menggodanya sebagaimana pernah diceritakan oleh guru mengajinya. Kadang-kadang kalau guru mengajinya itu datang ke rumah, memang dia menyuruh Ismael keluar bermain, tetapi itu karena si guru pasti ingin mengujinya, menguji keimanannya. Hal itu juga pernah diceritakan si guru, bahwa hanya melalui ujianlah seseorang bisa dikatakan dekat dengan Tuhan. Bukankah untuk naik kelas di sekolah setiap orang juga harus menempuh ujian?

Ismael ingin dekat dengan Tuhan, supaya Tuhan mengembalikan ayahnya. Dan untuk itu Ismael tak boleh jadi anak nakal, dan untuk itu juga dia harus melepas kembali kerang-kerang hasil buruannya. Namun, bersamaan dengan pikiran itu, rasa lapar datang mengoyak-ngoyak perutnya. Terbayang daging kerang yang setelah direbus, digoreng lagi bersama cabe rawit, bawang putih, bawang merah, tomat, dan garam. Liur Ismael nyaris berlelehan membayangkan asap mengepul dari sambal goreng kerang itu. Saat kebimbangan kembali datang, dia seperti baru sadar bahwa senja sebentar lagi tiba, sudah waktunya pergi mengaji. Ismael melihat sekeliling, pantai tak terlalu ramai. Ada beberapa orang dewasa bersiap memancing. Ada beberapa pasangan duduk-duduk dekat anjungan. Di tengah laut, lampu-lampu sampan mulai dinyalakan. Sebuah kapal besar pengangkut bahan bakar terapung-apung seperti bukit karang. Ismael merasa badannya makin lemas dan dia harus segera membuat keputusan.

Sedikit tertatih Ismael berjalan ke arah laut. Dibukanya kantung kain ketika ombak bergerak ke tengah, ditumpahkannya kerang-kerang itu ke pasir basah. Seperti merasakan bau kebebasan, kerang-kerang itu keluar dari cangkang dan langsung berusaha menggali. Dengan pikiran yang tak mudah diuraikan, Ismael memperhatikan kerang-kerang itu sesaat, sebelum ombak kembali datang dan kerang-kerang itu menghilang.

Ada perasaan tenang menyusup ke batin Ismael. Dia telah menjadi anak baik, Tuhan akan memberi rahmat baginya. Sesaat terbayang ketika pulang nanti ayahnya sudah ada di rumah. Ismael melangkah meninggalkan pantai, dia merasakan tubuhnya agak baikan. Tuhan tampaknya sudah langsung memberinya rahmat.

Dengan tergesa-gesa Ismael berjalan. Dia harus jadi anak baik, dan untuk itu dia tak boleh telat datang mengaji. Jalan kecil yang menghubungkan pusat kota dan pantai itu agak sepi. Orang-orang tampaknya juga pulang untuk mengaji. Kota ini dipenuhi orang-orang baik, pikir Ismael. Kecuali teman-temannya, tentu saja. Di depan sebuah gudang tua, Ismael melihat seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan sangkar burung yang dibawanya. Ismael kenal anak itu, salah satu dari setan-setan kecil, karenanya dia tak ingin bahkan untuk sekadar beradu sapa dengan anak itu. Ismael semakin mempercepat langkahnya, namun sayang, setan kecil itu sudah telanjur melihatnya. ”Ismael, mau ke mana?” serunya. Ismael pura-pura tak mendengar, tapi anak itu meraih sangkar burungnya dan segera mengejar Ismael.

”Ndak ada orang ngaji hari ini,” ujar si anak ketika sudah sejajar dengan Ismael. Kalimat itu membuat Ismael menghentikan langkahnya. ”Kenapa?” tanyanya. Burung dalam sangkar melompat-lompat gelisah seakan burung itu adalah setan yang mendengar ayat-ayat suci. Si anak berusaha menenangkan burungnya. ”Kikkki, Kikkki,” serunya sambil menjentikkan jari. ”Aih, kamu ndak tahu, ya. Guru ngaji kita kan sedang di rumahmu. Banyak orang juga di sana.” Ismael mengerutkan kening, dia tidak tahu soal itu, karenanya dia bertanya lagi. ”Kenapa banyak orang di rumah saya?”

Anak itu tak menjawab, dia malah balik bertanya sambil memperhatikan Ismael, ”Kamu cari kerang, ya? Mana hasilnya?”

”Sudah saya lepas,” jawab Ismael.

”Dilepas? Kenapa? Daripada dilepas, kan lebih baik kasih saya buat makanan burung. Aduh, kamu benar-benar bodoh, Ismael. Kamu bodoh, makanya ayahmu hilang!”

Mendengar kalimat itu, Ismael terkinjat. Benarkah ayahnya hilang karena dirinya bodoh? Ismael tak percaya. Emosinya segera naik serupa ombak bersiap menghantam daratan. Dia ingat guru mengajinya pernah bilang bahwa setan akan selalu menggoda manusia dan karena itu setan harus dimusnahkan.

Sementara anak itu terus mengucap kata ”bodoh”, Ismael mengepalkan tangan. Sambil komat-kamit mengucap ayat-ayat suci yang telah dihafalnya, dengan sekuat tenaga Ismael mengarahkan tinjunya ke muka anak itu.***

Mataram, 24 April 2021

Kiki Sulistyo, lahir di kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Ni Wayan Dasti, lahir di Badung, Bali, tahun 1990. Sempat menempuh pendidikan di jurusan DKV di New Media Bali, kemudian belajar seni rupa secara otodidak. Menekuni seni grafis, desain, dan kreasi multimedia, termasuk kolaborasi komik animasi dan mural serta membuat kover buku. Aktif mengikuti berbagai lokakarya seni rupa di Bali dan luar Bali, termasuk Workshop Video Art bersama Krisna Murti di Bentara Budaya Bali dan lain-lain. Telah berpameran bersama di beberapa ruang seni terpilih di Bali.

sumber : kompas.id, 29 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme