Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pertalian Ken Arok dan Purwwa oleh Risen Dhawuh Abdullah

Posted on Ming, 19 Sep 2021

1/

Usai bercerita, mungkin kamu melihat wajahku merah. Ada sesuatu yang memukul-mukul di balik dadaku, menimbulkan rasa sakit yang tidak dapat kujelaskan. Bayangan-bayangan pahit itu terus meneror dalam kepala, menimbulkan rasa malu yang menggunung. Aku sangat menaruh harap kepadamu, membayarkan dendamku yang terpaksa masih bersemayam dalam hati, sebab ketidakberdayaanku.

Risen Dhawuh Abdullah

Kekalahan itu memang memalukan. Sangat memalukan. Dewata mungkin tidak menyukai tindakanku yang membabi buta menyerbu negeri Jenggala, sehingga aku dijatuhi hukuman dengan cara pergi sebagai pengecut ke Panawijen. Aku begitu bangga pada awalnya, Kertajaya berhasil kubuat malu. Ia melarikan diri dari medan perang. Tidak sama sekali kuperhitungkan bahwa ada kemungkinan ia akan menyusun kekuatan.

Pasukan itu seperti gelombang yang datang tiba-tiba. Pasukan itu dipimpin oleh panglima Tunggulametung. Aku lari, sebab menyadari kekalahan sudah di ambang mata. Pasukanku berhasil dibuat porak-poranda olehnya. Aku tidak mati, tapi berlumur kepengecutan. Tawa Kertajaya terdengar hingga sepenjuru Jenggala. Aku yakin Tunggulametung menjadi besar kepala setelah ia diangkat sebagai akuwu [1] berkat jasanya; menumpas pasukanku. Orang itulah, yang telah merawat dendamku.

”Aku sangat berharap sekali padamu, Arok. Kamu dapat menebas tangannya, supaya ia tidak bisa mempertahankan Ken Dedes, sehingga kamu dapat dengan mudah mengambilnya,” ucapku yang kesekian kalinya; berucap kata menaruh harap.

Aku percaya dengan kemampuanmu. Kamu sering merampok dan memenangi pertempuran dengan orang-orang yang hendak menyerahkan upeti kepada Kediri—hasil rampokan itu kamu bagi-bagikan kepada rakyat kecil. Tidak pernah kudengar kalau kamu tertangkap. Apakah tidak pernah ada yang melaporkan akan hal ini kepada raja? Jelas, banyak. Namun, lagi-lagi kamu hebat. Aku mengakui. Topeng penyamaran yang kamu gunakan sangat ampuh.

Ya, kamu mengenakan topeng setiap kali merampok supaya jati dirimu tidak ada yang tahu—aku sungguh heran kamu tidak pernah mengalami kesialan, misalnya topeng yang kamu kenakan terlepas. Kabar tentangmu memang sudah menyebar luas. Bagi rakyat kecil, kabar itu laksana bau bunga yang harum. Namun, bagi penguasa, kabar itu menjaga kegelisahan yang tidak kunjung hilang.

Kamu paham apa yang kurasakan. Serangan pasukan yang dipimpin oleh Tunggulametung ternyata belum cukup membuatku menderita. Ada hal yang juga menjadi penyebab aku merawat dendam. Maka itu aku mengutusmu untuk membunuhnya. Ia membawa pergi Ken Dedes, putriku, sebagai rampasan perang. Orang tua mana yang tidak terluka, anak gadisnya dirampas oleh seorang lelaki dan dinikahinya? Firasatku mengatakan kalau anakku ingin terlepas dari penguasaan Tunggulametung. Hanya saja ia tidak punya daya.

Kamu pun berangkat dengan sorot mata penuh tanggung jawab. Wajahmu memancarkan keyakinan, kalau kamu akan dengan mudah menghabisi Tunggulametung. Aku percaya kamu tulus dalam membantu, kamu tidak akan meminta apa-apa dariku. Aku sempat berbisik—bukan berjanji—kalau Ken Dedes mau, aku  akan menikahkan dirinya denganmu. Tapi apakah mungkin? Sedangkan dari kabar yang kudengar, kamu disukai oleh seorang gadis bernama Ken Umang. Ah, pada akhirnya yang terpenting kamu bisa menghabisi bajingan itu, bukan andaian yang sedang tergambar dalam angan. Supaya apa? Supaya dendam dan lukaku terobati.

2/

Rencanaku buyar. Keris yang semestinya kucabut, justru masih nyaman dalam warangkanya. Nafsu yang telah menggebu; membunuh Tunggulametung hilang tidak berbekas. Dewata telah memperlihatkan kekuasaannya kepadaku lewat Ken Dedes, berupa kecantikan yang sangat luar biasa. Ken Dedes seperti bidadari yang turun dari kayangan, bahkan mungkin jika ada yang lebih tinggi tingkat kecantikannya daripada bidadari, Ken Dedes menempati posisi itu.

Aku terpaksa menunduk kepada Tunggulametung, sebagai tanda hormat diriku atas seorang penguasa. Kulakukan hal ini demi melihat Ken Dedes. Malam-malamku pun menjadi berwarna berkat bayangan Ken Dedes. Rasa kantuk seperti telah menemukan obatnya. Cahaya bintang di langit begitu indah, seindah mata Ken Dedes. Aku benar-benar mabuk akan Ken Dedes. Segala hal tentang keindahan Ken Dedes mendorongku untuk selalu menyempatkan diri mengintipnya dari balik tembok kediamannya.

Aku paling suka kalau Ken Dedes sedang sendirian, menyiram bunga atau bermain kelinci. Bagiku, pemandangan seperti itu tidak ada tandingannya; perpaduan keindahan alam dengan makhluk yang kebetulan bernama perempuan. Suatu kali aku ketahuan kalau sedang memperhatikan Ken Dedes. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku menatapnya, dia membalas tatapanku. Segera kusadarkan diriku dari angan-angan yang kotor. Kuucapkan maaf untuknya. Kepadanya aku mengaku kalau hanya ingin membuktikan ucapan orang-orang yang mengatakan kalau dirinya cantik.

Pipi Ken Dedes memerah jambu. Ada keinginan untuk menyentuhnya. Pertemuan itu mengundang pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hingga suatu kali secara tidak sengaja, Ken Dedes jatuh terpeleset di depan rumah, hingga pakaian bagian bawahnya tersingkap. Tidak sengaja aku melihat ke suatu titik; selangkangan Ken Dedes. Dari sana terpancar sinar. Ken Dedes yang tahu itu segera menutupi dan berusaha tidak menatapku.

Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali meminta maaf. Malam harinya beberapa kali aku menelan ludah. Angan-anganku menjadi tidak karuan—sebenarnya bisa dikatakan lebih ke pikiran kotor. Hanya Ken Dedes yang ada dalam pikiran. Aku berusaha menghilangkan. Kukibas-kibaskan kepala ke kiri dan ke kanan. Namun tetap tidak bisa hilang bayang-bayang Ken Dedes.

Alhasil aku menjadi gelisah dan kegelisahan itu menuntunku untuk datang kepada bopo angkatku—Bango Samparan—di Karuman. Kuceritakan padanya apa yang aku alami. Bopo angkatku tidak langsung menanggapi, ia diam sejenak, seakan apa yang telah kusampaikan merupakan masalah yang perlu banyak pertimbangan untuk diselesaikan.

”Menurut cerita nenek moyang, perempuan yang kelaminnya bersinar, dia akan menurunkan orang-orang besar,” kata bopo angkatku. ”Mungkin, Ken Dedes akan menurunkan raja-raja Jawa, karena ia ada di Jawa.”

Kata-kata bopo angkatku menyebabkan aku diam sejenak. Aku merasa bahwa ucapan itu seperti memberi semacam dorongan untuk mengabulkan keinginanku yang berusaha kupendam; keinginan memiliki Ken Dedes sepenuhnya. Menurunkan raja-raja Jawa. Kata-kata itu begitu membekas di hatiku. Takhta kebesaran, keadaan yang serba megah, pelayan-pelayan istana, rakyat-rakyat yang makmur. Bayangan-bayangan itu membuatku tersenyum. Aku menjadi teringat dengan kesanggupanku dengan Purwwa, membunuh Tunggulametung. Kalau begitu, mengapa aku tidak memanfaatkan rencana itu? Batinku. Tentu saja ini kesempatan emas.

Aku pun menjadi berterus terang kepada bopo angkatku kalau aku ingin memilikinya.

”Saya juga tidak tahu, setiap kali saya menghilangkan bayang-bayang Ken Dedes, selalu tidak bisa,” ucapku. Aku sangat berharap sekali, bopo angkatku merestuiku untuk memiliki Ken Dedes. Dalam hati aku berdoa di atas kebusukanku.

Bopo angkatku mendukung apa yang menjadi keinginanku. Ia bukannya melarangku. Ia justru bangga akan cita-citaku. Namun ia memberiku petunjuk kalau Tunggulametung bukanlah orang yang sembarangan. Ia sangat sakti mandraguna. Jadi senjata yang akan digunakan untuk membunuhnya, tidaklah senjata yang sembarangan.

”Datanglah kepada Empu Gandring. Dia empu yang terkenal ampuh dalam membuat keris. Ceritakan apa yang menjadi keinginanmu, maksudku cukup sampai pada keinginan membunuhnya saja. Perihal kamu ingin memiliki Ken Dedes jangan diceritakan. Katakan saja kalau kamu melakukan semua ini untuk kepentingan rakyat karena hidup mereka ditindas penguasa.”

Begitu tiba di tempat Empu Gandring dan kusampaikan padanya maksud dan tujuanku datang, Empu Gandring langsung menyanggupi. Namun, ia tidak bisa bila harus membuat keris dalam waktu yang singkat. Alasannya Tunggulametung bukan orang sembarangan.

”Aku butuh waktu setahun karena banyak hal yang harus kulakukan,” katanya.

Setahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku keberatan dan menawarkan waktu yang lebih pendek. Empu Gandring tidak mau. Terpaksa aku mengiyakan.

3/

Tiada kata yang tepat untuk menggambarkan, betapa bahagianya aku begitu kabar kematian Tunggulametung tiba di telingaku. Dendamku sudah terbalas tuntas. Ken Dedes terlepas dari jerat Tunggulametung dan kembali padaku. Sebagai boponya, aku tentu senang bukan kepalang. Wajah Ken Dedes tampak lebih bersinar ketimbang yang kukenal. Dari sorot penglihatannya menyiratkan kalau ia sudah terlepas dari beban yang selama ini menindihnya.

Namun, ada satu hal yang membuatku tidak sreg dengan Ken Dedes. Ternyata ia jatuh cinta kepada Ken Arok. Aku tidak bisa menyalahkan perasaan Ken Dedes. Namun, ia juga harus tahu kalau Ken Arok juga disukai oleh seorang gadis. Saat aku hendak mengatakan hal itu, aku ditimpa kabar yang membuat tulang-tulangku remuk. Ken Dedes mengaku sedang mengandung anak dari Tunggulametung. Yang aku tidak habis pikir, mengapa baru sekarang ia sampaikan?

”Oleh sebab itu, restuilah aku dengan Ken Arok. Dari sikapnya kepadaku, aku yakin omongan Ken Arok dapat dipercaya, kalau ia akan merawat anak ini dengan sepenuh hati, bopo. Niat Ken Arok sungguh tulus. Aku sangat mencintainya, bopo.”

Kugugurkan niatku mengungkap rahasia yang dimiliki Ken Arok kalau ia sedang disukai oleh seorang gadis. Anak yang ada di rahim Ken Dedes lebih penting untuk dipikirkan. Ia berhak mendapatkan kasih sayang dari seorang bopo. Cerita soal Ken Umang benar-benar kukubur dalam-dalam. Apakah suatu ketika rahasia penting itu akan terbongkar? Hanya waktu dan keadaan yang bisa menjawabnya. Tentu saja yang kuinginkan, rahasia itu tetap terjaga.

Sayangnya, tiba-tiba aku tidak yakin kalau rahasia itu akan terpendam selamanya.

Keterangan :

[1] jabatan setingkat camat.

Jejak Imaji, 15 Agustus 2021

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015 kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Jika ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Zusfa Roihan, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, November 1987. Menyelesaikan studi untuk gelar BA and MA di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Saat ini dia aktif sebagai seniman dan dosen di almamaternya. Dia juga terlibat beberapa riset, kurasi, dan pameran seni, baik skala nasional maupun internasional.

sumber : kompas.id, 19 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme