Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Melukis Ulang Kampung Item oleh Gesit Ariyanto

Posted on Kam, 23 Sep 2021

“Kamu enggak cocok jadi warga kampung sini. Kalah lagi hehhh!” gertakan Wanto diarahkan kepada lelaki di hadapannya. Kancil, si kurus yang disasar itu, beda telak dengan Wanto, kakaknya yang bertubuh gempal, berkulit gelap, rahang menonjol. Keduanya saudara sekandung yang tak kenal ibunya sejak balita, sedangkan bapaknya lebih sering menghilang daripada tinggal di rumah bilik pengap di Kampung Item.

Sore itu, Kancil lunglai di dingklik kayu rapuh sisa bongkaran. Wajahnya yang tirus melebam, tubuhnya bersandar miring hampir rebah, tarikan napasnya naik turun tak beraturan. Ia baru saja adu pukul dengan sejumlah pemuda kampung lain, berebut secuil lahan parkir di pasar sayur. Wanto benar, adiknya dan dua temannya kalah lagi. Beruntung mereka masih lolos dari sabetan badik.

Lagi? Iya, lagi. Entah ini perkelahian keberapa dalam hidup Kancil yang memasuki usia 18 tahun. Yang ia ingat, lebih sering kalahnya daripada sukses memukul, apalagi merobohkan lawan. Bahkan, ia tak ingat lagi kapan kemenangan terakhirnya berkelahi. Itulah kenapa Wanto menjulukinya pecundang. Ya, selalu kalah.

“Mending jadi badut saja sana,” Wanto mengejek. Kancil membisu. Bau alkohol menyeruak bersama kepulan pekat asap rokok yang diembuskan Wanto, bersekongkol dengan bau tak sedap aroma sungai gelap keruh di sisi kampung. Wanto tidak menyukai kekalahan karena menunjukkan kelemahan. Tetapi, itu urusan adiknya, bukan dirinya.

Kancil menerima saja julukan pecundang atau apapun itu, yang telah menjadi label di antara mereka. Toh ia memang hampir selalu kalah adu jotos. Namun, ia punya pembelaan karena perawakannya kecil dan pendek, yang juga menjadi ikhwal kenapa ia dipanggil Kancil, sedangkan Wanto yang tiga tahun lebih tua menjelma menjadi pentolan kampung. Satu kesamaan mereka dengan warga kampung lain, punya nyali besar menghadapi kerasnya hidup, jika nyali yang dimaksud adalah hidup mengalir begitu saja tanpa perencanaan.

Kampung Item nama julukan kawasan yang entah sejak kapan disematkan. Mungkin karena aliran sungai berair hitam yang membelah kantong permukiman di tengah kota itu. Atau, mungkin satire pada gelapnya masa depan warga kampung itu. Di sana, rumah-rumah berimpitan di antara gang-gang selebar sepeda motor berhiaskan tali jemuran tak beraturan berikut aneka cucian bergelantungan. Anak-anak tumbuh besar dengan realitas sosial bahwa keindahan itu surealis, tidak nyata. Hidup ini wajib diperjuangkan dengan segala cara meskipun hasilnya akan begitu-begitu saja, sebagaimana orangtua dan warga dewasa di sana melakukannya. Tak ada tempat bagi kelemahan, apalagi berharap belas kasih.

Baca juga : Aldrich dan Mimpinya Menjadi Wordsmith

Tak satu pun keluarga di kampung itu orang kantoran bergaji besar plus bonus melimpah, apalagi wiraswastawan kelas menengah. Tak pula ada generasi muda tamatan perguruan tinggi. Dua gambaran sukses di sana hanyalah Yudi “Buntut” si juragan togel dan Tono “Calo” yang makelar apa saja. Selain mereka, Kampung Item adalah rumah bagi pengangguran, kuli pasar, tukang becak, dan pekerja serabutan seperti buruh gendong, tukang gali, hingga pesuruh apa saja. Para perempuan banyak tinggal di rumah saja, menjadi buruh cuci, atau pramusaji di kelab malam kecil dengan upah di bawah standar.

Itu pula yang membuat warga kampung yakin bahwa keberanian dan pekerjaan fisiklah yang akan menopang hidup, bukan pekerjaan bermodal harta apalagi pendidikan tinggi. Jauh dari bayangan dunia Kampung Item. Ora obah, ora mamah alias hanya dengan berjuang maka kamu bisa makan.

Anak-anak pun secara tidak sadar atau sadar merekam semua itu. Semboyannya, berani berbuat berani menanggung segala risiko yang ditimbulkan. Lalu, selesaikan sendiri masalahmu karena orangtua kalian bukanlah siapa-siapa dalam struktur kekuasaan di kota. Dan, berkelahi hanyalah salah satu nilai hidup awal yang mereka kenal sejak dini. Itulah perwujudan nyata dari berani hidup. Kalah menang urusan mburi, urusan belakangan.

Itu pula yang membentuk Wanto dan Kancil, juga siapa saja yang tumbuh besar di sana. Sakitnya fisik karena berkelahi atau tawuran bukanlah persoalan. Terluka adalah sisi mata uang kerasnya hidup yang mereka hadapi hari ini, esok, lusa, atau hari kemudian. Berkelahi juga menjadi jalan menyelesaikan masalah.

Sejak kanak-kanak, mereka sudah dijadikan “jangkrik aduan” para pemuda kampung. Yang menangis diolok-olok hingga berani bangkit lagi, memukul lagi, sampai dianggap cukup para “penonton” yang mengelilingi. Setelah itu, mereka menguji keberanian hidup berikutnya, berkeliaran di jalanan, pasar, makam lokalisasi liar, atau mencoba segala sesuatu yang baru dan memabukkan dalam arti sesungguhnya.

Maka dari itulah Kancil dan hampir seluruh generasi muda di sana akrab, bahkan bersahabat atau kebal dengan rasa sakit. Slogan mereka “raraireg” alias “lara ora marai wareg”, sakit tidak akan bikin kenyang. Kalau mau kenyang, jangan takut sakit. Menangis, apalagi. Tabu!

Selain berkelahi, trik lain yang membentuk cara bertahan hidup adalah berbohong. Kebohongan bukanlah musuh dari sebuah kejujuran, karena kejujuran tak akan mengubah nasib. Nasib diperjuangkan, lagi-lagi dengan segala cara. Sejak kecil mereka ditempa meniti jalan menjadi berani, dimulai dengan mengutil penganan di pasar, kios-kios kecil, mencuri sandal atau kotak amal di mushala.

Kancil sesungguhnya menolak atau sadar bahwa ia tak sepenuhnya serupa dengan gambaran generasi Kampung Item. Ia sadar betul itu. Berkelahi lebih sering kalah, menenggak sedikit alkohol atau secuil pil koplo sudah teler, mencuri tak punya nyali, berbohong jelas bukan keahliannya. Pernah suatu malam, dalam ritual ujian kedewasaan di makam Cina yang dijadikan lokalisasi liar, Kancil yang masih kelas 1 SMP malah terjerembab di lubang makam karena teler berat, lalu ditolong waria yang seharusnya memberinya layanan perdana.

Bukannya iba, teman-temannya yang menjadi mentor hidup di jalanan malahan terbahak-bahak. Kejadian itu menjadi legenda konyol si Kancil yang selalu menjadi lelucon berkelanjutan di antara mereka. Di dalam hati, Kancil mensyukuri kejadian malam itu, karena ia pun sesungguhnya merasa ada yang keliru. Bukan karena rasa berdosa, jijik, aib, atau hal-hal lain seperti dijejalkan para pengkhotbah. Lebih karena ia merasa tak nyaman terlalu cepat dipaksa menjadi dewasa.

Kancil memiliki ketertarikan berbeda, bahkan tergolong tak lazim di kampung keras itu. Sejak kecil ia suka menggambar dan berimajinasi. Sebenarnya, ia terhitung pintar secara akademis di kelas, tetapi tidak ditopang lingkungan hingga akhirnya memilih mengakrabi dunia seni yang lebih luwes. Di sekolahnya, ia beberapa kali mewakili lomba menggambar antarsekolah yayasan dan tak jarang menang. Ia juga menekuni teater dan pantomim, sesuatu yang kerap menjadi olok-olok di Kampung Item. Itu pula yang membuat Wanto menyebutnya badut.

Semua pencapaian dalam lomba-lomba seni jelas bukanlah bentuk sebuah prestasi bagi warga Kampung Item. Apalagi dibangga-banggakan. Hidup ini keras, tak bisa ditaklukkan dengan laku-laku lain selain kekuatan fisik dan keberanian, jika perlu nekat.

Kancil memiliki ketertarikan berbeda, bahkan tergolong tak lazim di kampung keras itu. Sejak kecil ia suka menggambar dan berimajinasi. Sebenarnya, ia terhitung pintar secara akademis di kelas, tetapi tidak ditopang lingkungan hingga akhirnya memilih mengakrabi dunia seni yang lebih luwes.

Tak peduli itu semua. Kancil abaikan konsesi kekerasan dan olok-olok itu. Kali ini ia bertekad melanjutkan melatih anak-anak usia sekolah di Kampung Item bermain peran, dalam sebuah drama sederhana setelah membaca pengumuman di Pusat Balai Budaya tentang lomba pentas seni budaya antarkampung yang akan digelar di Balai Kota dalam rangka peringatan ulang tahun kota. Tak lama lagi.

Namun, sekalipun yakin melangkah, ia merasa perlu mengadu, mengumpulkan energi. Jika sudah begitu, ia tahu kemana harus menuju. Hanya ratusan langkah dari mulut gang Kampung Item.

“Tidak usah jadi pikiranmu,” kata Wasih, perempuan setengah baya itu.

“Tapi aku, kan bukan badut, bulik”. Kancil terdengar seperti merengek.

“Wanto masmu itu, kan, hanya asal ngomong.” Wasih menyodorkan segelas cairan hitam beraroma kuat yang biasa ditemui di kios-kios jamu, sahabat akar rumput kota.

Perempuan yang dipanggil bulik itu sudah seperti ibu bagi Kancil. Sehari-hari ia menjaga warung gerobak hingga dini hari. Wasih pula yang sejak kecil merawat, menjaga Wanto dan Kancil. Tak jarang ia menginap di bilik pengap itu, juga ketika ayah keduanya sedang berada di bilik bersekat itu.

“Kamu mirip ibumu,” ujar si bulik.

“Ibu, yaa…” Kalimat itu terpotong. Pikiran Kancil menerawang jauh.

Ia tak punya kenangan sama sekali tentang ibu. Bahkan, definisi seorang ibu pun ia belum paham benar. Ia bingung ketika teman-temannya di sekolah dasar dulu berceloteh riang tentang sosok ibu yang memandikan, menidurkan, menyiapkan sarapan, mengantar sekolah, bekerja, atau mengambil rapor. Kancil hanya tahu sosok itu ada pada bulik Wasih, itupun tak sepenuhnya utuh.

Dari Wasih pula ia tahu jika ibu kandungnya pergi meninggalkan rumah sejak ia bayi. Perempuan itu seorang penari ledhek tradisional yang mencari nafkah bersama kelompoknya dari kampung ke kampung. Turut berjuang menafkahi keluarga kecilnya, pada akhirnya perempuan tangguh itu tak tahan lagi menghadapi perangai suaminya, pekerja serabutan temperamental dan terlalu mencintai judi dan alkohol. Hampir tiada hari tanpa adu mulut jika keduanya sedang satu atap.

Hingga suatu pagi buta, sembari menenteng tas kain kecil, ia mengetuk pintu rumah Wasih. Tubuhnya kuyu, matanya sembab, entah menahan sakit, pedih, atau sedih. Atau, lebih dari itu. “Nitip bocahku, ya, sih,” katanya sesenggukkan. Wanto kecil masih terlelap di rumah. Lalu, ia menghilang meninggalkan sekaleng susu, hampir 18 tahun lalu. Tak ada kabar berita. Entah kini di mana.

“Cil, malah ngelamun ki piye, tho?”

“Ohh…nggak kok bulik.” Kancil tersadar. Minuman hitam tadi tandas dalam sekali teguk. Sensasi hangat menjalar dari kerongkongan, dada, hingga seluruh tubuhnya di malam gerimis itu.

“Kampung ini butuh orang seperti kamu, Cil. Bocah-bocah yang latihan drama itu kelihatan senang bukan main. Bulik belum pernah melihat rasa bungah seperti itu di sini. Kalau perlu beli perlengkapan buat lomba, omong saja. Piro?”

“Mboten, lek. Cukup”.

Kancil sungguh merasa beruntung memiliki bulik Wasih. Perempuan itu pula satu-satunya yang menangisinya ketika sebulan lebih menghilang bersama gerombolan kecil sebayanya untuk sebuah petualangan. Mereka jadi penumpang gelap kereta, “nggerenjeng” menyinggahi sejumlah kota di Jawa Tengah, hidup dari mengamen dan mengutil, lalu tidur di mana saja. Kembali ke kampung, remaja-remaja itu menemui kenyataan bahwa tak satupun keluarga mereka merindukan. Hanya si bulik yang menginterogasi Kancil dan memintanya bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Dan, seperti sebuah mantra: kasih sayang tulus tak pernah sia-sia.

Sejak itu, Kancil tahu apa arti dirindukan dan dicintai, meskipun ia tidak bisa memahami sepenuhnya pengalaman perasaan itu. Seperti mati rasa, meskipun tidak benar-benar mati. Mungkin, ya mungkin, karena itu pulalah yang membuatnya berbeda dengan Wanto dan generasi muda kampung itu.

Perasaan itu juga yang membangkitkan energi melatih anak-anak setulus hati. Ia membiarkan mereka menjadi dirinya sendiri, dengan keceriaan sealami mungkin, hingga saat tampil dalam lomba pentas seni. Keperluan kostum dipinjam dari teater sekolah, pupur basah putih menghiasi wajah-wajah polos itu untuk membentuk berbagai ekspresi.

Kancil bahagia dengan proses dan keceriaan anak-anak yang menghidupkan kampung selama latihan di lahan kosong di tepi sungai berbau. Hasil lomba di Balai Kota bukanlah tujuan akhir, karena ia hanya ingin nama Kampung Item setidaknya pernah disebut dalam sebuah peristiwa di luar hal yang berurusan dengan kriminalitas dan masalah sosial perkotaan. Itu saja.

***

Siang di akhir bulan itu, suasana Kampung Item geger lagi. Sejumlah polisi tak berseragam berjaga-jaga di mulut gang. Sebagian keluar masuk rumah-rumah warga mencari barang bukti untuk dua kasus: narkoba dan duel antarpemuda.

Sesungguhnya, penggerebekan kasus narkoba bukan hal baru di sana. Sebelum-sebelumnya, warga yang ditangkap dengan tuduhan bandar narkoba –meskipun sesungguhnya hanya pengedar dan kurir kelas teri- akan kembali muncul di kampung setelah membayar tebusan sejumlah rupiah. Yang tidak sanggup, makan minum gratis di penjara 1-2 tahun.

“Aku dengar lagi ada pejabat aparat baru,” bisik salah satu warga di antara kerumunan kecil.

“Iya, aku disuruh diam dulu.” Yudi “Togel” bertestimoni.

“Tiarap dulu, ya.” Warga lain mengulum senyum.

Begitulah yang terjadi di Kampung Item, penggerebekan kasus narkoba atau perjudian menjadi semacam siklus tak teratur, menyesuaikan adanya rotasi pejabat korps seragam coklat level kota atau provinsi. Lalu, beberapa pekan kemudian, semua kembali pada ritme seperti biasa.

Namun, kali ini ada kasus lain, perkelahian berdarah melibatkan Wanto. Ia menjadi buronan setelah duel berdarah yang menewaskan lawannya. Wanto sendiri menghilang, sehingga sejumlah polisi menggeledah bilik rumahnya. Kancil yang siang itu berada di rumah, turut digiring ke markas kepolisian untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Didampingi Wasih, Kancil bersiap pergi, ketika sejumlah bocah pentas dramanya membawa kabar bahwa mereka kampiun lomba pentas seni budaya antarkampung. Kabar mengejutkan itu datang bersamaan ketika Kancil harus menjadi saksi jalan kekerasan Wanto, wajah Kampung Item. Kancil yang sudah ditunggu petugas, meminta anak-anak itu memastikan lagi kebenaran kabar ke panitia lomba di Pusat Balai Budaya, tak jauh dari Kampung Item, sekitar 30 menit saja berjalan kaki.

“Balai Budaya? Di mana?”

“Sebelah mana pasar? Makam Cina?”

Anak-anak itu saling melempar tanya, bingung. Kancil tak tahu persis harus bersedih atau bahagia dengan kepolosan mereka. Segera ia tersenyum, terbayang lukisan baru Kampung Item yang saat itu masih berupa sketsa.

***

Gesit Ariyanto adalah pekerja media yang tinggal di Tangerang Selatan.

sumber : kompas.id, 23 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme