Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Laut yang Terancam oleh Gusti Trisno

Posted on Sab, 25 Sep 2021

Marsa berkeliling ke Tempat Palelangan Ikan (TPI) Panarukan. Perempuan bermata elang itu menyaksikan para nelayan yang baru saja pulang dari laut dengan membawa hasil tangkapan yang maksimal. Melihat keadaan itu, ia begitu senang. Puncak kesenangan itu, ia transfer kepada Suliman.

”Kamu sudah bekerja dengan keras. Pantas para nelayan mendapatkan hasil tangkapan sebanyak itu.”

Membaca pesan pamannya itu, senyum Marsa mengembang. Ia langsung mengenang satu windu setelah menjadi kepala laboraturium Samudra Mina Jaya. Laboratorium itu semacam menjadi pengingat hari libur nelayan melaut dengan memperhitungkan kalendar Madura. Tak hanya itu, laboratorium itu juga menjadi sarana untuk memperbaiki ekosistem laut yang juga memengaruhi tangkapan nelayan.

Marsa bersama timnya juga menggagas peraturan laut yang kemudian diajukan kepada para DPRD Situbondo. Pemangku kebijakan daerah itu langsung setuju dengan gagasan Marsa dan tim. Terlebih Marsa meminta perwakilan rakyat itu mengesahkan undang-undang perlindungan laut, terutama soal umur ikan yang bisa ditangkap dan larangan menggunakan bom ikan.

Umur ikan memang tak pernah diperhatikan sebelumnya oleh banyak orang, Marsa merasa itulah yang kurang terdeteksi sehingga ikan-ikan yang ditangkap nelayan begitu acak. Bahkan para anak ikan yang masih kecil ikut tertangkap akibatnya ikan menjadi sedikit di lautan. Untuk itu, Marsa dan timnya membuat alat pengukur usia ikan sekaligus berat dan panjang ikan. Alat itu semacam metal detector yang dipasang di depan pintu tempat penimbangan di palelangan.

Apabila, alat tersebut berbunyi, ikan berusia muda otomatis terdeteksi. Untungnya, alat tersebut belum pernah mendeteksi pelanggaran tersebut. Kalau soal larangan menggunakan bom ikan, Marsa telah tahu itu sejak lama.

Bahkan saat pamannya kecil, sudah sering nelayan menggunakan bom ikan. Apalagi, di masa-masa tera’an atau di antara tanggal 15-30 dalam kalendar bulan Madura. Masa-masa itu membuat nelayan tak bisa melaut akibat ikan yang tak muncul ke permukaan. Jika para nelayan memaksa ke laut, mereka tak akan mendapatkan apa-apa. Kecuali menggunakan bom ikan. Hanya saja, pelanggaran itu jelas merugikan ekosistem laut. Untungnya, ekosistem itu terkendali setelah Marsa menjadi kepala laboraturium.

Ponsel Marsa kemudian berdering pelan. Perempuan itu langsung mengibaskan kenangan tentang kiprahnya. Untungnya ponselnya membantu itu, jika tidak ia akan tenggelam dalam kenyamanan karena merasa paling wah.

Di ponsel yang sebening kaca itu, Marsa melihat pamannya sedang menelepon.

”Ada apa, Paman?” tanya Marsa, heran.

”Metal detector akan sebentar lagi berbunyi!”

Singkat. Padat. Jelas. Begitulah pamannya tanpa berbasa-basi.

Marsa kontan kembali memandang tempat palelangan yang seperti biasa saja. Tak ada pelanggaran apa pun. Akan tetapi, Suliman bukanlah tipe orang yang gampang bercanda. Pasti peringatan itu muncul karena institusi yang begitu kuat. Atau barangkali pamannya memantau sebuah kapal yang membawa ikan berusia muda dari jauh. Apa pun itu tak lagi penting bagi Marsa, ia harus segera mencari titik temu.

Dan, tiba-tiba, waktu menggulung dengan cepat memberi kabar pada Marsa yang dengan sabar menunggu peringatan pamannya menjadi kenyataan. Alarm peringatan berbunyi di palelangan. Tanpa disuruh, tim Marsa yang bertugas sebagai Keamanan Laut (Kamla) langsung bergerak ke palelangan ikan. Mereka meringkus kawanan nelayan yang baru saja hendak menimbang tangkapan hasil laut.

Para kawanan nelayan itu terdiam. Mereka seperti rusa yang terluka. Pasrah dan langsung menyerah begitu saja. Tentu jika mereka berusaha melawan, kekuatannya tak akan sebanding dengan Kamla yang begitu gagah perkasa.

”Bawa mereka ke ruang pengadilan di laboraturium,” putus Marsa.

***

Marsa yakin para kawanan nelayan itu tak berasal dari desanya. Kulit mereka begitu legam ditambah rambut kecoklatan yang tampak kentara. Namun, kehadiran mereka membuat geger TPI Panarukan pagi ini. Mereka telah membuat kekacauan sekaligus melanggar aturan laut yang sudah disepakati para anggota Dewan.

”Siapa ketua kalian?” tanya Marsa dengan manik matanya yang berubah semerah saga. Ia benar-benar tampak naik pitam.

Orang-orang itu terdiam. Seolah-olah mengaku kalah dan sadar apa yang telah dilakukan. Namun, kebungkaman itu tak boleh terlalu lama. Marsa menutut penjelasan.

Setelah tak mendengar jawaban, Suliman melipat jarak kaki dengan Marsa. Melihat pamannya datang, Marsa tak sekali pun heran, bagaimanapun pamannya merupakan orang penting di laboraturium sebelum akhirnya pensiun. Ia adalah pengendali IT yang tak tertandingi sepanjang zaman.

”Siapa ketua kalian?” tanya Marsa dengan manik matanya yang berubah semerah saga. Ia benar-benar tampak naik pitam.

”Mereka tak tahu akan aturan di wilayah kita, Marsa. Bukankah hukum tidak berlaku bagi orang yang tidak tahu?” Suliman langsung mengeluarkan titah membuat Marsa terdiam seketika.

Memang orang-orang itu tak tahu hukum, tetapi tak tahu bukan berarti diam. Mereka harusnya mencari tahu sebelum tiba di tempat ini.

”Mereka tetap harus dihukum, Paman.”

Suliman mengangguk-angguk mengerti. ”Kita serahkan sama pihak Kamla.”

Keterangan Suliman sekaligus menandakan bahwa intrograsi pelaku pengambil ikan di usia dini telah selesai.

Kamla kemudian membawa kawanan nelayan yang berjumlah sebelas itu. Kesebelasan itu hanya terdiam, tak satu pun berbicara. Mereka benar-benar seperti rusa yang tertembak panah. Tak bisa lari cepat ataupun sekadar mengerang kesakitan.

”Musuhmu selanjutnya bukan mereka,” tutur Suliman membuat Marsa mengernyit bingung. ”Selama delapan tahun ini, kamu berhasil membuat perairan di laut Panarukan tenang. Hanya saja, ombak bisa datang tanpa diprediksi. Begitu pun orang-orang yang mau merusak laut ini.”

Marsa memandang lekat-lekat wajah pamannya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda bercanda. Netra pamannya berusaha menjelaskan keseriusan yang mendalam.

Marsa lalu memandang para petugas laboratorium yang menjaganya saat menginterograsi kawanan nelayan itu. Petugas yang memakai jas lab berwarna biru muda itu mengangguk mengerti. Kemudian, pergi tanpa permisi meninggalkan Marsa dan pamannya.

Suliman mengajak Marsa ke ruang IT. Kosong. Lenggang. Seolah-olah lelaki itu telah menyiapkan tempat itu untuk berbicara secara intens dengan Marsa.

Lelaki bertubuh legam akibat cahaya matahari itu langsung menunjuk pada layar monitor di salah satu komputer. Marsa langsung memandang gambar trisula yang dibuat pamannya. Trisula itu begitu cantik, tetapi ada bagian tengah yang dibuat lebih pendek dibanding kanan-kirinya. Bagian tengah juga memberikan ruang sebesar ponsel berukuran lima inci.

”Berikan ponselmu!” pinta Suliman.

Marsa memberikan ponsel itu dengan ikhlas. Lalu, si paman langsung meletakkan ponsel itu di papan tetikus. Kontan ponsel itu langsung berpindah ke arah trisula. Marsa kaget dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa ponselnya seperti biasa dengan kepunyaan banyak orang.

Ponselnya memang keluaran baru. Strukturnya sebening kaca, tapi tak retak meskipun jatuh berjuta kali. Lewat ponsel itu, Marsa cukup menjetikkan jari untuk melihat keadaan laut melalui aplikasi Kawal Laut yang ia buat bersama tim. Kecuali peristiwa tadi, aplikasi itu seolah tak berguna.

”Kamu tadi tidak bisa mendeteksi kejadian pencurian ikan di bawah umur kan?” tanya Suliman membuat Marsa langsung mengangguk. ”Ponselmu diretas. Begitu juga Tim Laboratorium. Namun, mereka lupa tidak meretas ponselku.”

”Apakah mereka itu sebelas kawanan nelayan tadi?”

Suliman menggeleng lemah. ”Kawanan nelayan tadi adalah umpan. Mereka tak pernah tahu aturan wilayah ini. Mereka hanya ingin mengais rezeki.”

”Lalu?” Desak Marsa.

Suliman tak menjawab. Ia menggerakkan kursor ke arah trisula yang telah lengkap dengan ponsel Marsa. Lalu, lelaki itu menekan tombol enter. Beberapa detik kemudian, trisula keluar dari layar komputer. Semula berbentuk kecil, kemudian berubah setinggi Marsa.

”Ini senjatamu! Mereka tak akan meretas trisula ini! Mereka tak akan mampu.”

”Siapa yang dimaksud, Paman?”

”Para pengebom ikan. Mereka akan mengebom laut saat kalian sibuk dengan para kawanan pencuri ikan di bawah umur. Setelah mendapatkan ikan itu, mereka akan pergi ke pulau seberang.”

Marsa langsung mengangguk mengerti. Ia sangat percaya akan kekuatan tafsir pamannya atas kejadian. Sistem otak paman berbeda dengan manusia biasa. Ia telah dilatih khusus memecahkan persoalan laut. Kemudian, Marsa langsung memanggil beberapa petugas laboratorium. Mereka bergerak ke tengah laut. Suliman juga mengikutinya.

”Tugasmu cukup menenggelamkan mereka, Nak. Kita tak perlu banyak bicara. Para perusak alam tak perlu diberikan kesempatan untuk kembali merusak lagi.”

”Baik, Paman.”

Setelah timnya siap, pergerakan langsung dimulai. Mereka menggunakan kapal selam yang berwujud ikan hiu besar. Di kapal itu, layar kapal selam segera menemukan titik aneh. Titik aneh itu dibaca Suliman sebagai calon lokasi pengeboman. Kapal selam yang terparkir di bawah laboraturium itu langsung meluncur cepat. Kemudian, langsung ke permukaan tepat di hadapan para perusak laut. Para perusak laut itu kaget dengan hiu yang begitu besar. Mereka seperti menemukan harta karun terpendam.

”Kita keluar. Kamu cukup mengarahkan trisula itu ke dalam laut. Lalu, ombak akan menggulung kapal mereka.”

”Kekuatan trisula ini sangat kuat, Paman? Macam trisula Dewi Rengganis di cerita rakyat saat melawan musuhnya.”

Suliman tertawa sejenak. ”Memang itu trisula yang kubuat mirip dengan di masa lalu. Hanya saja, kekuatannya juga ditambah oleh ponselmu yang begitu berbeda dengan manusia kebanyakan. Ponsel itu akan memberikan daya sengat listrik berjuta volt sekaligus dapat menciptakan ombak. Kamu cukup membuat mereka terkejut, lepas itu kita biarkan laut berbicara akan nasib mereka.”

Marsa mengangguk mengerti. Ia dan Suliman keluar dari kepala hiu. Para calon pengebom ikan itu kontan terkejut. Akan tetapi, Marsa tak membuang waktu. Ia melakukan titah pamannya. Dan, ombak kemudian menggulung para pelanggar hukum laut itu.

Selepas itu, tawa meledak di antara Marsa dan Suliman bahkan saat mereka kembali ke dasar kapal selam.

”Kamu telah terpilih, Nak. Kamu yang akan menjaga lautan ini. Tak hanya di Panarukan, barangkali di Situbondo hingga pantai di ujung Timur Jawa lainnya. Kekuatan trisula Dewi Rengganis memiliki struktur yang sama dengan yang kamu miliki. Terlebih ponselmu akan menjadi alarm jika ada bahaya.”

Marsa mengangguk mengerti. Ia langsung mengambil kembali ponselnya di trisula. Kemudian, pesan menggunakan aksara Madura kuno berhasil dibacanya. Di sana tertulis jelas jika trisula itu tak mungkin berhasil diciptakan, jika komponen trisula masa lalu tidak ditemukan Suliman. Pun, yang menggunakan harus orang pilihan si pemilik asli di masa lalu.

Membaca itu membuat Marsa senang menjadi orang pilihan. Ia pun akan berusaha menjadi perwakilan pengadilan laut demi kebaikan masyarakat di wilayah kekuasaannya. Dan, dengan trisula ciptaan teknologi itu, ia pasti akan lebih mudah menjaga kedaulatan laut.

***

Gusti Trisno, alumnus S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Ia menjadi Pemenang Harapan dalam Kompetisi Menulis Cerita Bergambar yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Buku terbarunya berjudul Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan (Elexmedia Komputindo).

sumber : kompas.id, 25 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme