Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Memorium oleh Anindita S. Thayf

Posted on Ming, 19 Des 2021

Di kota ini, bayang-bayang memanjati dinding nyaris secepat laba-laba. Sesuatu yang, anehnya, hanya disaksikan oleh mereka yang berusia di atas enam puluh tahun: para sepuh. Sebenarnya, hal itu bukan rahasia karena keberadaannya tidak pernah ditutup-tutupi.

—

PARA sepuh selalu berusaha memberi tahu anak-anak dan cucu-cucu mereka perihal bayang-bayang meresahkan tersebut, tapi tiada yang percaya. Anak-anak dan cucu-cucu malah menuduh para sepuh hendak mencari perhatian dengan mengarang cerita demikian, termasuk anak-cucu Mima.

Mima berpikir, barangkali itulah satu dari sejumlah alasan di balik keputusan kedua anaknya untuk menitipkannya di Memorium. Sebuah keputusan yang disodorkan kepadanya semendadak angin menampar helai daun tua. Membuatnya terkejut hingga gemetar lama.

”Sebenarnya, berita soal rencana pemerintah itu sudah terdengar lama, Mami. Jika Mami rajin melihat berita, bukan hanya menonton drama dan acara hiburan, Mami pasti akan tahu,” beber si sulung yang tiba-tiba saja menemuinya di rumah si bungsu pada malam itu.

”Lagi pula itu cuma semusim. Mami akan keluar pada musim panas nanti, seperti janji pemerintah. Mami tidak usah khawatir.”

”Betul, Mami. Kata pemerintah, itu hanya semacam pusat peningkatan kesehatan dan kesejahteraan untuk orang-orang seumuran Mami,” tambah si bungsu yang biasanya lebih suka berbicara kepadanya lewat pesan di ponsel kendati mereka serumah, tapi malam itu ikut bersuara.

”Lihat dulu brosur dan foto tempatnya, Mi.” Si bungsu menunjukkan sederet gambar pada layar ponselnya kepada Mima. ”Bukankah Memorium tidak seperti rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, tempat karantina, apalagi panti jompo? Ia lebih seperti kapal pesiar mewah, menurutku. Pemerintah pasti menghabiskan banyak dana untuk membangunnya.”

Mima meraih kacamata baca yang selalu tergantung di dadanya demi bisa melihat dengan jelas apa yang disodorkan anaknya. Usia telah merampok banyak hal darinya, termasuk semangat mengikuti kabar dan berita seperti dulu, tapi setidaknya Mima ingin tahu satu hal. Meskipun buta pada banyak kejadian di sekelilingnya, Mima merasa perlu tahu ke mana anak-anak akan menyingkirkannya walaupun, kata mereka, itu hanya sementara.

Sebuah pusat rehabilitasi khusus lansia telah dibangun oleh pemerintah atas dasar kepedulian dan kemanusiaan, demikian beri tahu kalimat pertama pada brosur elektronik Memorium. Sebagai penduduk dengan populasi terbanyak abad ini sekaligus warga senior, pemerintah merasa perlu untuk memberikan pelayanan kesehatan dan perbaikan kesejahteraan terbaik kepada para sepuh, jelas kalimat kedua. Penjelasan tersebut lalu ditutup dengan sebuah slogan berlogo huruf P&L yang dirangkai membentuk hati.

Peduli Bangsa, Lindungi Masa Depan. Pedulilah dan Lindungilah, Mima membacanya dalam hati. Sesaat, dia dihampiri perasaan seolah pernah membaca kalimat yang nyaris serupa itu, tapi entah kapan dan di mana, dia sudah lupa. Begitu pun, Mima masih ingat apa yang terjadi di rumah si sulung empat tahun lalu sebab kejadian itulah yang menempatkannya pada posisi ini.

Kejadiannya setelah Mima memasuki masa pensiun. Di tengah waktu luangnya yang melimpah, di dalam hunian sempit anaknya, Mima menyaksikan langsung kemunculan bayang-bayang meresahkan itu dan membuatnya diserang ketakutan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap sepuh yang mengaku pernah melihat ”bayang-bayang cepat memanjat dinding” mestilah bakal terjebak dalam kondisi mental yang tercemari klaustrofobia parah.

Awalnya, rasa gelisah dan serangan panik saat berada di ruang sempit masih bisa ditahan-tahan hingga batas tertentu. Selanjutnya, kondisi fisik penderita akan menunjukkan perubahan drastis yang lebih disebabkan oleh aneka penyakit yang muncul bersama tahap awal kegilaan. Proses ini berlangsung dalam jangka waktu yang berbeda pada tiap sepuh. Hal serupa telah dialami lebih dulu oleh kakak Mima, yang membuat tubuh tambunnya berubah setipis kasur kapuk tua dalam waktu tidak sampai setahun. Di ujung penderitaan itu, dia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terduduk dan mata terbuka di depan televisi umum sebuah rumah sakit jiwa. Sungguh Mima tidak bisa membayangkan penderitaan yang harus dilalui sang kakak.

Mima telah menghuni Memorium selama lima bulan dua puluh satu hari. Mima sengaja merekam detail waktu masa tinggalnya per hari dalam aplikasi Diari Bersuara yang diunduhkan cucu keempatnya ke dalam ponselnya. Mima melakukan itu hanya agar dia tidak lupa untuk bersiap jika tiba saatnya anak-anak dan cucu-cucu datang menjemput. Pun, agar dia tidak terlena.

Mima menyetujui pujian si bungsu untuk Memorium. Tempat ini benar-benar hebat. Selain pelayanan kesehatan terbaik, lengkap, dan rutin, lingkungan Memorium yang lapang, tenang, dan nyaman memulihkan kesehatan mental Mima dengan cepat. Gejalanya memang masih tahap awal. Namun, selama di Memorium, Mima seolah berada dalam kenangan terindah masa lalunya.

Itulah masa ketika tempat-tempat yang luas dan rumah-rumah berteras masih ada. Begitu pula pohon-pohon dan kebun hijau, garasi, hingga kolam ikan koi masih mudah ditemukan. Pada masa itu, Mima pernah memiliki sebuah rumah berteras dengan pot-pot bunga kebanggaan. Rumah pemberian orang tua Mima, tempat dia membesarkan anak-anak, tapi terpaksa dijual ketika suaminya wafat dan kedua anaknya membutuhkan hunian sendiri. Sejak itu, Mima menumpang tinggal di tempat anak-anaknya.

Seiring Mima menua, kota ikut menua bersamanya. Serupa para sepuh yang mulai kehilangan rambut, kota juga kehilangan rumah-rumah berteras, apalagi tempat-tempat luas. Daratan dirontokkan oleh sapuan banjir dan gerusan air laut. Sebagai gantinya, kini kota hanya diisi gedung-gedung tinggi. Untuk hunian warga, isi gedung dipetak-petak dalam ukuran yang seragam kecilnya. Sepetak tempat tinggal yang dijual sangat mahal, tapi bisa disewa dengan harga yang cukup terjangkau bagi pekerja yang mau terus bekerja lembur setiap hari. Rumah dengan pot-pot bunga yang berbaris, apalagi yang memiliki banyak pohon buah serupa rumah omanya dulu, sudah lama punah dan hanya tertinggal dalam cerita-cerita Mima untuk cucu-cucunya.

Mima tidak pernah menyalahkan anak-anak atas apa yang dialaminya, bahkan setelah mereka bergegas memindahkan barang-barangnya ke Memorium sehari sesudah mereka menyampaikan soal itu. Tidak pula Mima menyalahkan kesombongan para dokter, psikolog, dan ahli gerontologi yang menganggap klaustrofobia para sepuh sebagai wujud keterasingan sosial yang lumrah terjadi pada lansia. Orang-orang muda nan pandai itu, juga anak-anak dan cucu-cucu, tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya hidup di tengah abad yang kian maju teknologinya, tapi kian terasing orang-orangnya. Hanya Mima dan orang-orang seusianya pula yang paling tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik serangan klaustrofobia para sepuh yang merata.

Itu adalah sesuatu yang lebih dari sekadar bagian dari proses penuaan. Sebuah trauma yang berasal dari masa lalu. Masa-masa saat pandemi Covid-19 mengganas dan membuat Mima dan lansia seangkatannya terpaksa menjalani karantina rumah selama hampir dua tahun. Masa-masa ketika anak-anak dan cucu-cucu masih berwujud ide dalam kerangka takdir calon orang tuanya.

Mima tidak akan pernah lupa betapa terpenjara hidupnya kala itu. Hari-harinya dibayang-bayangi rasa takut pada virus tak kasatmata sekaligus kesepian yang sulit diungkapkan. Dia masih berumur enam tahun. Baru saja lulus TK dan bermimpi memakai seragam SD serupa milik kakaknya saat pandemi datang. Terpaksalah Mima bersekolah dari rumah, bermain dalam rumah, menghabiskan waktu dengan menatap dinding atau berputar-putar dalam kamar. Hingga tiba saatnya pandemi itu pergi sendiri setelah meninggalkan luka kenang-kenangan dalam diri para penyintasnya. Sebuah perasaan terkurung yang hanya bisa dimengerti oleh lebah yang tersesat lama di balik tirai jendela tebal.

Dari puncak Memorium, pemandangan laut lepas, berikut pantai cokelat dan cakrawalanya, selalu terlihat indah di mata Mima, meskipun sebuah proyek pembangunan entah apa yang belum selesai membentangkan tendanya di sisi kanan pantai. Sejak hari pertama tiba di Memorium, Mima memutuskan itulah tempat favoritnya. Sejujurnya, itu bagian terbaik dari Memorium, menurut Mima. Sehamparan geladak luas beratap akrilik bening yang dilengkapi dengan barisan kursi pijat otomatis, taman berbantal kursi empuk yang dihiasi bunga-bunga plastik, hingga kolam buatan dangkal berair hangat untuk mencelupkan kaki. Di salah satu sudut geladak, sebuah akuarium besar berisi ikan warna-warni yang berenang lincah dan beberapa sangkar berisi burung-burung ribut juga disediakan bagi para sepuh yang ingin merasakan kembali sensasi memiliki hewan piaraan. Di tempat itu, Mima merasa hidup kembali.

Memorium adalah sebuah kapal Angkatan Laut karam yang telah disulap dengan sangat canggih dan indah oleh pemerintah untuk para sepuh. Awalnya, Mima sempat khawatir saat mengetahui dia akan tinggal di atas kapal. Namun, kedua anaknya meyakinkan keamanan Memorium dengan berkata bahwa pemerintah tidak mungkin membahayakan keselamatan warganya. Mereka juga mengingatkan tentang keputusan sulit yang mesti diambil pemerintah untuk mengatasi situasi saat ini dan betapa beruntungnya Mima bisa merasakan kelegaan hidup biarpun hanya semusim.

”Seandainya kapal itu untuk hunian warga, aku mau saja bertukar tempat dengan Mami,” ucap si sulung.

”…. apalagi anak-anakku,” tambah si bungsu. ”Mereka pasti akan sangat senang tinggal di tempat seluas itu.”

Mendengar kata-kata tersebut, Mima memilih pasrah. Diam-diam, dia menyimpan niat untuk membagikan pengalamannya tinggal di Memorium kepada cucu-cucunya nanti sebagai dongeng sebelum tidur. Namun, malam ini, Mima lagi-lagi hanya bisa menyimpan rencana itu dalam hati dan memutuskan tidur lebih cepat. Mima hanya harus bertahan kurang lebih dua–tiga bulan lagi dan rajin-rajin berdoa agar cuaca tidak seekstrem biasanya. Sambil menatap kalender hujan pada ponselnya, Mima berharap puncak musim hujan lekas terlewati agar semuanya segera berakhir.

Di luar Memorium, hujan deras yang tidak berhenti selama seminggu seolah membuat laut yang muak merasa perlu mengamuk. Mengempaskan ombak besarnya keras-keras ke arah pantai hingga menghanyutkan segala benda dan makhluk yang sudah direncanakan dan ditakdirkan untuk hanyut malam itu. Salah satunya terpal penutup proyek pembangunan dekat pantai hingga terungkaplah apa yang disembunyikan dari umum dan selalu membuat Mima penasaran jika melihatnya dari kejauhan.

Sebuah tugu peringatan yang siap diresmikan pemerintah sudah berdiri sana. Tanpa setahu Mima, namanya tertera pada puncak sebuah daftar di bawah tulisan ”Pasien Memento Mori Sanatorium (Memorium) dalam Kenangan”. Pada hari peresmian tugu itu nanti, Mima jelas tidak bisa hadir sebab dia telah menjadi bagian dari masa lalu yang harus dikorbankan demi kepentingan pemerintah dan keturunannya, bangsa dan masa depan. Anak-anak dan cucu-cucunyalah yang akan diundang. Para pewaris ganti rugi yang sudah mengantongi surat perwalian berisi tanda tangan para sepuh, termasuk Mima. Surat sakti yang akan ditukar dengan uang tanda belasungkawa pemerintah. Uang senilai satu petak rumah baru. (*)

 

ANINDITA S. THAYF : Lahir 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel. Novel terbarunya Ular Tangga (2018).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 19 Desember 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme