Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Seduhan Air Gula untuk Emak oleh M. Rosyid H.W.

Posted on Sab, 02 Okt 2021

Apa yang akan kau lakukan jika mengetahui perempuan yang melahirkanmu tidak lama lagi akan dijemput malaikat maut? Rina hanya rutin menyediakan air gula untuknya. Itu adalah air putih biasa dengan gula yang dilarutkan. Mula-mula, Rina menyeduh gula dengan air panas, mengaduk-aduknya hingga larut, menambahkan sedikit air, dan memasukkan es-es batu. Manis, dingin, dan segar: Emak dimabuk sukacita. Sejenak, ia melupakan rasa sakit di tubuhnya.

Memandang Emak bersukaria di hari-hari terakhirnya, Rina tersenyum bahagia.

”Kenapa Emak gemar minum air gula?” tanya Rina bertahun-tahun lalu.

”Sejak kecil, Emak telah minum air gula. Dulu, saat Emak masih umur setahun setengah, air ASI Mbahmu tidak mengalir dan ia tak mampu beli susu. Akhirnya, Mbah memberikanku air gula sebagai penggantinya,” kisah Emak.

”Kamu harus bersyukur. Tiap hari bisa makan nasi. Sawah Mbahmu dulu sering gagal panen. Kami, anak-anaknya, sulit makan. Kata Mbahmu, air gula dapat menahan lapar. Mbah Kakung, Mbah Putri, Emak, dan saudara-saudara Emak, sejak kecil telah terbiasa minum air gula dan terkadang teh manis,” tambahnya.

Emak mengidap sakit tanpa ada kata sembuh, kecuali keajaiban datang. Tuhan hanya menurunkan anugerah setidaknya setahun kepadanya untuk hidup. Ia berbaring tak berdaya di atas dipan dalam sebuah ruangan bercahaya redup. Terlampau kecil untuk menyebut ruangan itu sebagai kamar. Lebih mirip bilik-bilik dengan dinding berwarna biru, satu jendela, dua lemari, dan televisi yang terus menyala.

”Penyakit ini adalah kutukan,” tegas Mbah Putri. ”Perempuan-perempuan di keluarga kita harus menanggungnya. Dulu, buyut perempuanmu adalah kembang desa yg digandrungi jejaka-jejaka sedesa. Seorang kepala desa menyukainya dan ingin menjadikannya istri kedua. Buyutmu menolak. Akibatnya, Kades marah. Santet dan kutukan dikirim.”

Mbah Putri berkata-kata dengan sesenggukan yang menghebat. Tak tega melihat Emak yang tergolek melemah. “”Tak kurang-kurang perempuan cantik di keluarga ini. Semuanya kena tulah kutukan. Yu Mar, anaknya Yu Mar, Yu Ten, Bulekmu, dan sekarang Emakmu. Tanda-tandanya sama: bintik-bintik hitam di dada.”

Demi kesembuhan Emak, Mbah Putri pernah membawanya ke dukun. Dukun itu meminta Emak membuka kancing bajunya, membaca mantra dengan mulut berbusa dan mengoles-olesi dada Emak dengan ramuan. Setelah beberapa menit, Emak berjingkat-jingkat dengan dada diserang sengat-sengat panas. Seperti disengat puluhan kalajengking, kata Emak. Dukun itu lantas bercerita kalau ramuan itu terbuat dari campuran tumbukan lombok, remah-remah jahe, dan kertas doa-doa. Sepulang dari dukun, bukan sembuh yang datang, tapi dada yang melepuh. Sejak itu, Emak tidak percaya dukun. Ia mengupayakan jalan lain demi kesembuhannya.

***

Pada mulanya adalah sebiji kacang tanah. Hanya sebuah: digigit lekas remah, ditelan langsung musnah. Namun, ia bukan makanan dalam mulut, ia bersemayam dan berakar dalam daging dada. Dengan akar yang menjalar, biji kacang itu tumbuh, tumbuh dan tumbuh melalui pipa-pipa tubuh. Akar-akar menancap kekar, menyerap nutrisi-nutrisi jasad dan menghisap sari-sari raga.

Rina tahu pertama kali tentang biji kacang itu pada suatu siang sepulang sekolah. Tak ada seorang pun di rumah kecuali dirinya. Bapak-Emaknya masih di sawah. Ia hendak mencari sedikit uang saku yang biasanya ia curi dari balik tumpukan baju di lemari. Dengan uang itu, ia berencana membeli ayam geprek di kota kecamatan bersama dengan teman-temannya. Nihil. Dua kotak kayu telah ia buka dan ia tak menemukan apa pun, hingga sebuah laci yang biasanya hanya berisi buku nikah menarik perhatiannya. Laci terbuka. Ia dapati setablet obat.

Rasa penasaran menggaruk-garuk kepalanya. Dengan berbekal mesin pencari di hape-nya, ia mengetikkan nama obat. Gambar penuh kata-kata bombastis muncul di layar: Obat herbal! Solusi penyakit anda!, Terbukti! Sembuh tanpa operasi!, Ampuh! Siapa bilang harus dioperasi? Obat ini jawabannya!

Saat Emak pulang, Rina tak membahas tablet-tablet itu. Toh, selama ini, Emak tak pernah mengeluhkan sakit apa pun. Ia malah menyinggung uang untuk membeli makanan yang sedang digandrungi remaja-remaja desa itu.

Beruntungnya, Emak mengiyakannya. Di kemudian hari, Rina tahu tablet-tablet itu hanya bersifat membantu menghilangkan rasa sakit dan mengurangi efek bahaya dari biji kacang di dada Emak. Bukan cara utama yang seharusnya dilakukan.

Biji kacang itu tidak hanya sekadar biji. Ia adalah pembunuh terbesar kedua di dunia. Rina mengetahuinya dari guru IPA di sekolah. ”Kesembuhan hanya datang jika biji kacang telah dikeluarkan dari tubuhnya. Itu pun jika masih berupa biji,” kata-katanya terdengar seperti sabda agung.

Namun, semuanya sudah terlambat. Biji kacang itu, kini, tak lagi hanya sebiji, ia telah menjadi berbiji-biji. Mirip kepal-kepal bulat buah murbei. Hitam, lembek, dan busuk. Mereka telah merambat, menancap kuat pada raga dan mengikat tulang-belulangnya. Tubuhnya sulit bergerak. Tulang punggungnya tak lagi tegak. Duduk ia tak mampu. Berdiri ia tak sanggup. Hanya tergeletak di atas dipan yang bergemeletak.

”Apakah Emak bisa sembuh?” tanya Rina pada Bapak. Ia tahu pertanyaan itu hanya basa-basi belaka yang sudah ia dapati jawabnya. Rina kerap kali mencari jalan bagaimana memusnahkan biji kacang di tubuh Emak lewat internet dan berkonsultasi dengan gurunya. Akhirnya, Rina menarik simpul bahwa sabda gurunya adalah sebenar-benarnya jalan.

”Tugas kita adalah berusaha. Kita memohon dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan,” jawab Bapak.

”Kalau doa tok, tidak akan sembuh, Pak. Harus ada tindakan. Emak harus dioperasi!” Rina memburu.

”Operasi itu menyakitkan. Kau mau ibumu menderita!? Kita pakai obat-obatan herbal. Lebih tidak menyakitkan. Dengan minum obat yang kemarin, benjolannya juga semakin mengecil.”

Rina dan Bapak sebenarnya pada posisi tahu-sama-tahu bahwa mereka berseberangan. Sudah dari dulu, Rina ingin Emak dioperasi dan sering berdebat dengan Bapak-Emak yang lebih memilih obat-obatan herbal. Bapak sering menunjukkan poster-poster bergambar testimoni-testimoni orang yang sembuh tanpa operasi. Rina mencibir bahwa poster-poster itu hanya bualan pelaris belaka. Rina tetap kukuh pada pendapatnya: operasi adalah satu-satunya jalan, tidak ada yang lain. Tetapi, apalah daya pendapat anak kelas satu SMA di hadapan keyakinan bebal orangtua. Ditambah lagi, operasi juga terhalang biaya yang tidak sedikit. Sekarang, semuanya sudah telat. Kesembuhan Emak hanyalah mukjizat.

***

”Emak tidak seharusnya minum air gula. Air gula tidak baik untuk kesembuhan Emak. Penyakitnya akan semakin ganas jika dialiri gula!” sergah Rina saat Emak merengek-rengek kehausan.

”Sudah. Buatkan saja! Laksanakan perintah Emakmu!” teriak Bapak.

”Tidak!” Rina mengeras, bergegas ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

Dalam sunyi, terngiang-ngiang kata gurunya di kepala. Walaupun penyakit ini diturunkan, tetapi ia tidak akan tumbuh jika tidak didukung oleh gula. Memang, penyakit ini diturunkan dari generasi ke generasi, tetapi penyakit ini akan tumbuh dalam tradisi-tradisi keluarga yang terkutuk.

Selama puluhan bulan, sebiji kacang di dada Emak disirami dengan larutan gula, cairan-cairan manis dan air-air es dingin. Selama ratusan hari, sebiji kacang dalam tubuh Emak dipupuk dengan lodeh-lodeh yang dihangatkan berhari-hari, disuburkan dengan aneka gorengan macam tahu tempe yang selalu digoreng di wajan dan disemai dengan bumbu-bumbu micin pelezat pada makanan sehari-hari.

Sontak, Rina tersadar ia juga tumbuh dalam tradisi Emaknya. Ia langsung membuka kancing-kancing baju, menanggalkan tali pengait bra dan memandangi dua bukit dadanya yang tumbuh sempurna: bulat, ranum, dan mengembang. Putingnya menyembul tersenyum. Ia lantas meraba-raba dadanya, memegang-megangnya dan memijit-mijitnya. Lembut dan kenyal. Namun, ketika telunjuknya sampai pada dada kanan yang berdekatan dengan ketiak, ia menemukan sebuah benjolan kecil, seperti sebiji kacang.

Dok! Dok! Dok!

”Cepat buat air gula! Atau kupatahkan jari-jarimu, ha!?” Bapak berteriak dan menggedor-gedor pintu kamarnya dengan keras. Rina lekas memakai bajunya dan membuka pintu.

”Anak goblok! Disuruh ke dapur malah ke kamar!”

Rina berlari ke dapur. Ia menjerang air hingga mendidih, menuangkan dua sendok gula ke dalam gelas dan menyeduh butir-butir gula bangsat itu dengan air panas. Sambil mengaduk sendok dalam gelas, bulir-bulir matanya menetes. Ia menangis sejadinya-jadinya. Bahunya berguncang-guncang. Sengguknya tertahan. Emak sudah terlalu menderita. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi demi kesembuhan Emak. Ia merutuki nasib karena ia malah membunuhnya perlahan-lahan dengan seduhan larutan gula untuknya. Tiba-tiba, mata Rina terbelalak. Seonggok kertas bungkus meredakan isak tangisnya.

”Emak tidak boleh lebih menderita lagi,” batin Rina, lalu menuangkan serbuk racun tikus pada gelas berisi larutan gula.

***

M Rosyid HW

Lahir dan tinggal di Sidoarjo. Esai dan cerita pendeknya dimuat di berbagai media masa. Kumpulan cerpennya yang akan terbit ”Rembulan di Bibir Teluk dan Cerita Lainnya”.

sumber : kompas.id, 02 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme