Bia membuka pintu kamar dengan siku tangan kirinya. Kedua tangannya menjinjing dua kantong besar, juga tas kecil manis yang tersandang di bahu kanan. Diam-diam Bia merasa senang karena menemukan dirinya tidak merasa gugup. Setidaknya Mami tidak akan mengetahui bagaimana perasaan Bia yang sebenarnya.
“Mami….Halo?” Bia muncul dari balik pintu.
“Bia, sebentar!” Suara Mami menjawab sedikit berteriak dari kamar mandi. Bia duduk lalu mengatur remote AC agar suhu udara yang cukup sejuk. Udara di luar membuatnya merasa panas. Tak lama Mami muncul dengan penampilan yang terlihat segar. Mami melewati meja rias, memberi pewarna bibir, warna merah merona.
“Mami?” Bia tersenyum sambil memandang ibunya yang berjalan pasti ke arahnya. Mereka duduk berdua berpandangan, tersenyum. Senyum ibu dan anak yang hangat namun menyimpan sesuatu yang sedang saling disembunyikan antara kehangatan dan kesedihan.
“So, Mami, bagaimana kabar Mami hari ini?” Bia memecah suasana, suaranya terdengar mengambang.
“Heem.. indah…baik!, Mami baik-baik, Bia,” jawab Mami. “Ini, yah?” Mami melirik ke arah kantong yang dibawa Bia, membukanya, melihat isinya dan secepat itu Mami berseru, “Aduh, gemes!”
Bia menarik nafas, tersenyum melihat ekspresi ibunya. “Gemes, ya Mi? Ini ada banyak lagi” Bia memberikan kantong lain. Tidak sabar Mami membukanya, dan lagi-lagi ia berseru gembira seperti anak kecil membuka kado ulang tahunnya.
“Ini rambut palsu semua? Ha..ha..ha.., beneran?” Mami tertawa, mengawati rambut-rambut palsu dalam kantong itu
“’Kan Mami mintanya gitu,” Bia ikut tertawa. “Macam-macam bentuknya, Mi, mengejutkan!” Kata Bia sambil membantu Mami mengeluarkan semua rambut palsu, lalu semua digelar di atas meja. Ada banyak rambut palsu, dengan berbagai model dan warna.
“Ini halus amat, Bi!” Mami mengusap-usap rambut bermodel gelombang panjang.
“Iya, itu katanya buatan Korea, Mi, tapi pabriknya di Sukabumi!” Mami mendelik lucu mendengar jawaban Bia. Lalu ia mencoba rambut palsu buatan Korea yang pabriknya di Sukabumi itu.
Bia mengamati ibunya. “Iket dulu rambut Mami, sini..” Bia melepas ikat rambutnya untuk dipakai mengikat rambut ibunya, seperti model dicepol. Sambil melakukan itu Bia menjelaskan, “Kalau rambut panjang mesti dicepol dulu. Apalagi model rambut palsu yang pendek ini.”
“Iya, ah, mungkin nanti rambut Mami potong pendek saja, yah? Tapi lihat nanti saja.”
“Bi, jadi gatel!” Mami geli sendiri, tak lama rambut palsu bergelomgang panjang itu ia lepaskan.
“Eh, itu rambut asli, Mi, gatel, ya?” Bia membaca kertas dari boks-nya. “Ini ada rambut yang pendeknya. Gusti, betul rambut asli, kita tidak tahu ini rambut siapa ha..ha..ha!”
“Ih, amit amit Mami gak pantes kalau rambut gini!” Mami kemudian menggantinya
“Coba dulu yang ini, Mi?” Bia mengambil model rambut yang lain. Mami mencoba, rambut palsu yang pendek. Berdiri di depan cermin
“Eh, pantes juga, ya?” Kata Mami.
“Iya, Mami kelihatan seger! Atau yang ini juga bagus, Mi, model bob, lebih lembut,” Bia mengambil model rambut yang terletak di ujung meja. Mami memasangnya, berdiri dan mematut wajahnya lebih jelas di depan cermin tempat mereka berdiri.
Bia berjalan kemeja rias, mengambil kaca kecil dan dia pantulkan cermin itu ke belakang bentuk model rambut yang Mami kenakan. Mami memandangi setiap bagian rambut palsu yang terpasang di kepalanya. “Ini juga lembut, Bi. Mami kalau gerak gerak, copot, gak, ya?”.
“Lho, ‘kan nanti dijepit, Mi,” Bia mencari cari jepit di atasnya. Setelah menemukannya, ia menjepit ramput palsu itu ke celah-celah rambut asli ibunya, di dalam dan di bawah telinga. Mami memutar-mutar kepalanya, tengok kanan kiri, dan rambut palsu itu copot! Mereka tertawa. “Ih, amit amit Bia! Bagaimana kalau Mami pakai terus copot waktu Mami sedang berjalan atau jogged? Pasti heboh!” Kata Mami di sela suara tawanya.
“Lagian ngapain Mami heboh jogdet-joget? Apalagi kalau nanti Mami beneran sampai harus pakai rambut palsu.” Mia menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan. Kenapa itu harus aku ngomong gitu, sih? Batinnya.
“Ah emang kenapa?” Tanya Mami sambil lenggak lenggok mencoba rambut palsu yang lain, sambil diam-diam juga berharap Bia tak menjawab pertanyaannya.
“Ini kayaknya cocok,ya, Bia?” Mami mengalihkan perhatian, merapihkan anak rambut yang menyembul keluar.
Tanpa menunggu jawaban Bia, Mami memilih-milih rambut palsu di atas meja. “Ini enggak usah!” Mami memeriksa empat macam rambut palsu lain. “Ini juga.” Tiba-tiba Mami tertawa sambil meraih sebuah model rambut palsu, “Ini ha..ha…warnanya biru, Bia?”
Bia ikut tertawa melihat model rambut yang ditunjukkan ibunya. “Ha..ha..ha kocak, ya, Mami?”
“Mami mau coba?”
Bia melepas rambut palsu yang menempel di kepala Mami. “Ini ada macem macem Mi, warnanya aneh-aneh!”
“Ih, gelo! Ha..ha…ha mau kemana pake rambut warna warni!”
“Buat seru-seruan, Mami!” Jawab Bia sambil memasangkan rambut itu di kepala Mami. Lalu Mami membuka dus rambut palsu terakhir, “Yang ini kribo, Bia, ha..ha..ha!”
“Bia, nih, pake!”Giliran Mami memasangkan rambut kribo ke kepala Bia. Di depan cermin inu dan anak itu terpingkal- pingkal saling memasangkan rambut palsu. Mami dengan rambut warna biru dan Bia dengan model rambut kribo
“Ini semua pinjem dari Orlando, Mi, tinggal dipilih mana yang cocok,” jelas Bia. Mami tertawa memotret dirinya dan Bia. Ibu dan anak itu beruangkali berganti pose, sehingga suasana dalam rumah begitu hangat dan ceria. Di luar hari beranjak menuju sore. Beberapa gumpalan awan tampak mulai menutupi matahari.
***
Suasana dalam rumah tiba-tiba menjadi sepi. Dalam kamar Mami duduk seperti menahan sakit, ia berusaha mengatur nafasnya. Di sampingnya Bia menatap cemas. Pelan-pelan Mami berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangan dan jarinya. Dia berjalan keluar kamar, di depan teras ada hamparan rumput hijau. Mami jalan mengitari rerumputan, sambil mengibas-ngibaskan jemari kaki, agar peredaran darahnya lancar.
Mami menengadahkan wajahnya kelangit. Menghirup udara sepenuh paru-paru, melepasnya pelan-pelan. Mami memandang jauh ke langit, awan-awan dan garis-garis cahaya matahari,. Ada juga celah-celah di antara awan itu, dan terlihat langit biru yang jauh.
Bia datang menyodorkan segelas air. Mami mereguknya sedikit, sebelum kembali ia berjalan-jalan mengelilingi hamparan rumput. Bia diam saja, menyimpan gusar dan serba salah. Ia paham betul sifat ibunya. Ibu yang tak ingin terlihat rapuh di mata anaknya, di mata siapapun.
Bia berusaha tetap tenang, seperti kedatangannya tadi, seperti yang diniatkannya, bahkan sebelum sampai ke rumah ibunya. Ia harus terlihat tegar, meski tahu betapa sulit menyembunyikan kesedihan melihat kondisi ibunya.
“Bagaimana rasanya tubuh Mami sekarang, baikan?” Ia bertanya setelah mengatur nada suaranya agar tetap tenang.
“Segar” jawabnya Mami. Lalu dia merebahkan diri di rerumputan, memejamkan matanya sambil terus mengatur pernafasan. Mami meletakkan tangannya di dada seperti memastikan bahwa jantungnya masih berdegup dengan baik, dan, atau, entahlah. Bia menatap penuh rasa cemas.
Lama Bia memandangi wajah ibunya. Wajah perempuan yang tegar namun syahdu, wajah yang terpejam seakan sedang menikmati setiap hembus angin.
“Sakit, ya, Mi? Tiap hari masih sakit begini ‘kan?”
Mami tidak menjawab, tampak ia kurang nyaman dengan pertanyaan itu. Tapi Bia masih terus bertanya, mendesak, “Iya, ‘kan?”
“Enggak juga,” jawab Mami singkat sambil tersenyum, lalu membuang pandang ke arah lain. Bia mengikuti arah pandangan ibunya, menerawang melihat hampara pemandangan di depan mata; hamparan kebun dan sawah milik tetangga yang tampak indah, berpulas cahaya sore kekuningan. Dengan hati yang tidak menentu ia memandangi keindahan pemandangan itu, dan itu membuat perasaannya semakin gusar.
Akhirnya Bia memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini selalu dihindari ibunya. Ia menyiapkan seluruh perasaannya, sebab tahu ibunya adalah perempuan yang tak menyukai tangisan, apalagi melodrama. Setenang mungkin Bia berkata, “Jadi keputusannya bagaimana, Mi? Kemo saja?”
Mami tak menjawab, sehingga Bia seperti bertanya pada angin. Angin yang berhembus segar dan mampu mengusap air mata yang hendak turun. Bunga kamboja berwarna kuning, satu jatuh di atas rumput. Bunyi kicau burung terasa semakin riuh. Sore terus bergerak. Suara laut di kejauhan, gemuruh yang mendekati senyap.
Bia dan Mami masih saling diam.
“Bi kayaknya Mami mau yang pendek saja, tapi jangan pakai poni. Rambut palsu model itu kayaknya cocok untuk Mami, biar seger juga,” kata Mami tiba-tiba. Suaranya pela, membuka mata, tersenyum.
Bia memandang ibunya, dan ia merasa mengerti. Mami perlahan bangun dan duduk.
“O, iya, ‘kan model itu kalau dipakai Mami enggak terlalu kelihatan rambut palsu, ‘kan?” Mami senyum-senyum sambil merapihkan bajunya. Bia melihat ibunya yang tampak lebih tenang sekarang.
“Ya, kan, Bi, Mami tidak terlihat palsu pakai rambut palsu, ‘kan?”
Mereka berdua berpandangan. Bia menahan semua perasaannya, berusaha memahami ibunya. Bia tahu, Mami yang menahan sakit dan hanya dia sendiri yang tahu. Sakit yang dibalutnya dengan senyum segar. Bia memandang dengan penuh perasaan. Bia dan Mami tersenyum saling paham
“Ya, Mi, tidak terlihat rambut palsu, kok, kalau Mami pakai model itu.”
3:30 Sore, Suwung 11 Agustus 2021
***
Happy Salma, seorang seniman di bidang pemeranan, produser seni pertunjukan dan juga pengusaha. Ia seringkali juga menulis. Karyanya pernah masuk menjadi salah satu nominasi pemenang Literary Khatulistiwa Award tahun 2006 melalui karyanya berjudul Pulang.
sumber : kompas.id, 07 Okt 2021.