Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Natal dan Percakapan Dua Manula Rote Ndao oleh Fanny J. Poyk

Posted on Ming, 26 Des 2021

Opa Jimmy Dethan menggerakkan bahunya lebih kuat lagi. Bahu itu mendorong kedua lengannya, lalu menggerakkan tangannya ke arah parang yang mengilat tertimpa sinar matahari siang yang terik. Ia mengasah parang itu dengan kekuatan penuh. Gurat-gurat di pelipisnya tampak semakin nyata.

—

BIBIRNYA yang kemerahan akibat sirih yang dimamahnya mengeluarkan liur, lalu ia meludah dengan seenaknya sambil berkata, ”Anjing cuki mai, dong pikir dong sa yang bisa marah. Beta juga bisa, awas lu Baingao (1) bodok, beta parang lu pung batang leher putus!” katanya berapi-api.

”Heee lu (2) marah deng siapa? Minggu depan su mau Natal, jang marah-marah terus. Lu harusnya bertobat!” ucap istrinya, Mama Tua Marliana, yang sedang menganyam daun lontar untuk dibuat pohon Natal yang akan dipasang di halaman rumah bebak (3) mereka.

”Be marah karna itu anak deng dia pung Mama son berdosa, lalu karnapa dibunuh dengan keji? Siapa yang su tega bunuh itu balita yang belum berusia dua tahun? Dia pung masa depan masih panjang eee…” kata Opa Jimmy Dethan dengan raut muka kesal. Parang yang biasanya ia gunakan untuk memotong buah dan daun lontar kian kuat diasahnya.

Lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun itu mengerutkan dahinya. Ada tanya yang tak terjawabkan di benaknya. ”Karnapa manusia semakin jahat Mama, dong sonde (4) takut masuk naraka, ko (5)?” tanyanya pada sang istri. Gurat kesedihan terlihat sangat jelas di wajahnya. Ia bagai membangkitkan luka lama yang disimpannya dalam-dalam.

”Kalau manusia baik samua, ini dunia su son (6) ada. Manusia su (7) masuk surga, neraka sepi,” jawab Mama tua ringan tanpa beban. ”Sudah, biarkan hukum yang berbicara. Kitong (8) tunggu sa (9) hasilnya nanti. Besok lu pi (10) ke Pasar Koenino, beli tepung, mentega, gula halus deng (11) kenari. Beta mau beking (12) kokis (13) Belanda untuk Natal nanti. Sekali-sekali kitong makan kue enak, jang (14) gula air dari pohon lontar terus. Bosan,” lanjut istrinya.

Opa Jimmy Dethan mengerutkan keningnya. ”Kokis Belanda? Awiii (15)…kue apa itu, beta (16) baru dengar,” ucapnya.

Sang istri yang akrab disapa Mama Tua memperlihatkan bentuk kue yang ada di laman YouTube. Sejak ia dibelikan handphone oleh sang putra yang menjadi aparatur sipil negara di Jakarta dan si anak selalu mengirimkannya kuota internet, Mama Tua punya mainan baru. Perempuan asal Desa Baa, Pulau Rote, ini berkat kecerdasan otaknya dalam waktu singkat sudah lihai memainkan gawai.

Tidak hanya itu, ia juga bisa mengirim berita melalui WhatsApp ke putranya. Dan ketika sang anak juga mengirimkan suaminya handphone, Mama Tua menjadi mentornya. Dalam waktu singkat, Opa Jimmy Dethan sudah mahir memainkan telepon genggam. Beragam peristiwa ia tonton melalui kanal YouTube, termasuk kisah pembunuhan ibu dan anaknya yang masih balita itu. Konon pembunuhan itu akibat cinta segitiga. Sayangnya, sejak ada benda itu, Opa Jimmy sering merasa kepalanya pusing, terlebih lagi setelah ia membaca beragam berita kriminal di kanal media sosial itu.

”Sudah, lebe (17) baek lu baca dan dengar khotbah akhir zaman tentang kedatangan Tuhan yang disampaikan para pendeta sa. Manusia dunia memang su semakin jahat. Lu juga harus bertobat, jang minum sopi talalu (18) banyak, nanti lu pung darah tinggi naek. Ini su mau Natal. Kitong baca kabar yang baek-baek sa,” ujar istrinya kala melihat sang suami memijit-mijit keningnya usai membaca berita-berita yang mengerikan di kanal milenial itu.

***

Suatu hari ketika Opa Jimmy pulang dari Pasar Koenino di Kota Kupang, setelah menempuh perjalanan dari pelabuhan Pantai Baru dengan menumpang kapal feri selama tiga jam, ia melaporkan perihal situasi kota yang menurutnya sudah mirip ibu kota Jakarta. Tahun lalu dia diajak sang putra ke kota megapolitan itu. Sang istri sambil memamah sirih dan matanya terus tertuju pada gawainya mendengarkan kisah suaminya dengan perhatian terbelah dua. Opa Jimmy marah ketika melihat istrinya sebentar-sebentar menatap layar gawai dan tidak melihat ke arahnya.

”Awiii ini perempuan tua, lu su seperti pejabat daerah sa, sabantar-sabantar (19) itu mata lihat lu pung (20) henpon. Lama-lama beta rampas itu barang, lalu beta banting, dengar dulu beta pung carita (21)!” pintanya dengan nada tinggi. Urat-urat di pelipisnya terlihat. Itu pertanda tekanan darahnya kembali naik.

”Sabar, lu jang marah lagi, atau lu su makang daging se’i babi Kupang di warung Bambu Kuning?” tanya Mama Tua sambil matanya tak lepas dari kisah gosip para artis yang baru kawin dan baru bercerai juga.

Sesekali Mama Tua menonton drama Korea yang memberikan kenikmatan baru padanya. Gegara film Korea itu, Opa Jimmy kerap kesal karena istrinya lebih sering memberinya sayur kelor atau merungga tanpa lauk.

”Hee maitua (22), lu pikir beta sapi kah? Tiap hari lu kasih beta makang (23) sayur bening merungga. Sudah, jangan nonton itu drama Korea terus, nanti beta WA Dominggus supaya jangan lagi kirim pulsa untuk beli kuota internet,” ujar Opa Jimmy sembari menyebutkan nama putra mereka.

”Sabar, beta lagi lihat itu bintang-bintang film Korea pung dandanan untuk Natal nanti. Beta mau lihat dong pung baju yang paling modern, nanti beta bawa pi tukang jahit di Baa,” jawab istrinya.

”Sekalian sa lu pi operasi plastik lu pung muka. Atau itu susu yang melorot lu kas (24) naek, perut lu pi kas kempes!” canda suaminya.

Mama Tua membesarkan matanya. ”Oke, nanti beta minta doi (25) ke Dominggus, beta mau pi ke Korea untuk operasi plastik,” katanya.

”Lu su mulai gila, gara-gara itu henpon, lu pung otak su mulai dicuci,” kata suaminya.

”Lu juga begitu. Tiap hari lihat berita pembunuhan, perkosaan, juga korupsi. Lu pikir lu analisis politikkah? Sudah jang bahas lagi semua berita kriminal, besok lu naik pohon lontar, beta mau beking gula merah dari tuak lontar, habis itu lu pi bawa ke pasar di Baa, uangnya buat beking kokis Belanda yang beta lihat di YouTube. Kitong makang enak dengan rasa kue luar negeri,” kata Mama Tua. ”Jangan bangkitkan luka lama lai,” tambahnya.

Obrolan hari itu berlanjut hingga malam. Opa Jimmy juga bercerita tentang Kota Kupang yang menurutnya tidak seperti ketika ia masih muda, kala duduk di bangku sekolah menengah pertama. Natal di kota itu mulai mengikuti pola di kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia. Orang-orang berduit banyak yang merayakannya di hotel-hotel yang berdiri megah di sekeliling pantai berdekatan dengan Pantai Tode Kisar.

Di masa sebelum pandemi, ada beberapa hotel yang menyuguhkan musik dengan genre modern seperti jazz maupun pop, kadang musik Hawaian diperdengarkan. Para penyanyi ada yang datang dari luar negeri, ada pula dari ibu kota. Di pusat kota, kafe untuk anak muda dan para manula yang berusia sekitar lima puluh tahun ke atas pun ada. Tamu-tamu yang datang ke kafe manula ada pasangan suami istri, ada janda, dan juga duda. Mereka berdansa dengan iringan lagu-lagu di era ’70-an hingga ’80-an.

Bila Natal tiba, Kota Kupang hingga pelosok desa penuh dengan kerlap-kerlip lampu-lampu yang menghiasi pohon cemara. Ada juga pohon artifisial yang menyerupai cemara, ada pula yang memotong pohon cemara dari halaman rumah untuk bisa dihiasi lampu warna-warni yang berkedap-kedip ceria. Suasana Natal sangat terasa.

”Sudah, biarkan Kota Kupang dengan kemeriahan Natal-nya sendiri. Kitong di Rote cukup memandang pohon Natal dari rangkaian daun lontar sa. Nanti kitong hias deng lampu-lampu Natal yang dikirim Dominggus tahun lalu. Lampu-lampu itu masih bagus. Sambil kitong melihat khotbah Natal di seluruh dunia melalui henpon,” kata Mama Tua Marliana.

”Kitong sonde pigi (27) ke gerejakah?” tanya Opa Jimmy.

”Sudah ada pengumuman manula dilarang masuk gereja, takut tertular Covid. Jadi supaya aman, kitong ikut khotbah melalui henpon sa,” jawab Mama Tua.

***

Dan di malam Natal itu, ketika sayup-sayup ombak Pantai Nembrala terdengar, Opa Jimmy lagi-lagi berteriak kencang sambil berjalan tergesa masuk ke rumah bebaknya untuk mengambil parang. Ia berkata akan pergi ke Kupang untuk mencari pembunuh seorang gadis yang telah diperkosa oleh seorang lelaki di sebuah hutan cemara di dekat Lapangan Udara Penfui. Darahnya seolah mendidih. Luka yang mulai menutup menganga kembali. Air mata tampak di bola matanya. Kabut sedih juga membayang di pelupuk mata Mama Tua Marliana.

Kemudian, sayup-sayup ketika mereka terguguk mendengar lagu Malam Kudus dinyanyikan dari gereja yang tak jauh dari rumah bebak mereka, keduanya mengatupkan tangan dan berdoa pada Tuhan yang mereka sembah agar putri mereka Jublina yang telah meninggal dan tubuhnya dibuang di Laut Sawu oleh suaminya kini bersemayam di surga bersama Tuhan Sang Pencipta Semesta. Jublina dibunuh oleh suaminya setelah dia mengetahui sang suami berselingkuh dan menikahi perempuan pelakor itu secara diam-diam. Pasangan suami istri manula asal Pulau Rote itu mencoba meredam pedih dari kisah masa lalu yang tersimpan erat di benak ingatan mereka.

Malam kudus, sunyi senyap;

dunia terlelap.

Hanya dua berjaga terus,

ayah bunda mesra dan kudus

Anak tidur tenang, Anak tidur tenang.

Malam kudus, sunyi senyap.

Kabar baik menggegap;

bala sorga menyanyikannya,

kaum gembala menyaksikannya:

”Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!”

Malam kudus, sunyi senyap.

Kurnia dan berkat

tercermin bagi kami terus

di wajah-Mu, ya Anak Kudus,

cinta kasih kekal, cinta kasih kekal. (*)

—

Catatan:

1. baingao = sebutan untuk seseorang yang tidak disukai, umpatan dalam dialek Kupang

2. lu = kau

3. bebak = rumah tradisional orang NTT/Rote

4. dong sonde = mereka tidak

5. ko = kah

6. son = tidak

7. su = sudah

8. kitong =kita

9. sa = saja

10. pi = pergi

11. deng = dengan

12. beking = bikin/buat

13. kokis = kue

14. jang = jangan

15. awiii = astaga

16. beta = saya

17. lebe = lebih

18. talalu = terlalu

19. sabantar-sabantar = sebentar-sebentar

20. pung = punya

21. carita = cerita

22. maitua = istri

23. makang = makan

24. kas = beri

25. doi = duit

26. lai = lagi

27. pigi = pergi

 

FANNY J. POYK : Lahir di Bima pada 18 November. Lulusan Institut Ilmu Sosial Politik Jakarta ini aktif menulis cerpen, puisi, dan novelet sejak 1974.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 26 Desember 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme