Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mila Karakas oleh Mashdar Zainal

Posted on Ming, 24 Okt 2021

Kalau tidak keliru, saya masuk SMA pada pertengahan tahun 1997. Dalam satu kelas ada dua puluh empat siswa. Sepuluh laki-laki dan empat belas perempuan. Pada suatu pagi di awal caturwulan dua, kelas kami kedatangan satu murid lagi, seorang perempuan, ehingga jumlahnya genap dua puluh lima. Sepuluh laki-laki dan lima belas perempuan.

Murid baru itu namanya Sumilah. Panggilannya Sumi. Dia datang dari pedalaman dusun di lereng Gunung Lawu. Dia mengaku, dusun tempatnya dilahirkan itu bernama Karakas sehingga kadang anak-anak menjulukinya Bocah Karakas. Dan, sampai detik ini, saya tak pernah mencari tahu apakah dusun bernama Karakas itu benar-benar ada. Bagi saya, Sumi dan Karakas bukanlah sesuatu yang penting dan tidak akan menjadi sesuatu yang penting. Saya sudah hampir melupakannya.

Tak ada kenangan menarik waktu SMA. Semua berjalan begitu saja. Seperti sebuah adegan yang harus ada dan hanya butuh dilewati. Bukan cerita inti. Kendati demikian, kelebat-kelebat ingatan tentang masa-masa SMA masih ada dalam kepala saya meski tidak banyak. Salah satunya adalah ingatan tentang Sumi. Mungkin saya tak akan sudi repot-repot menggali ingatan tentang Sumi, Bocah Karakas itu, kalau saja dia tidak muncul di televisi.

Beberapa waktu lalu, saat antre menebus obat untuk anak saya yang kena demam berdarah di apotek rumah sakit, saya memelototi televisi yang menyala di ruang tunggu. Pada sebuah acara kontes dangdut, saya melihat wajahnya di televisi untuk pertama kali. Wajah yang tampak tidak asing. Wajah khas bocah gunung, hanya saja penuh polesan. Lantas isi kepala saya meraba-raba, di mana kiranya saya pernah menjumpai wajah itu? Lalu, nama itu muncul, tertulis di layar televisi; Mila Karakas. Sekarang, yang tidak asing di telinga saya adalah kata ”Karakas”. Ingatan di kepala saya kembali bergerak, melakukan pencarian, perlahan sambung-menyambung, hingga kemudian muncullah ingatan tentang Bocah Karakas bernama Sumilah yang berasal dari dusun di lereng Gunung Lawu. Jelas sekali, wajah itu adalah wajah yang sama dengan wajah bocah di bangku sekolah puluhan tahun silam itu. Bocah gunung bernama Sumilah.

Di rumah saya tidak ada televisi, sebab itu saya ketinggalan berita, terutama berita-berita tidak penting yang kerap muncul di televisi, seperti gosip artis, termasuk berita tentang profil pemenang kontes dangdut di sebuah televisi swasta. Ketika saya mencoba mengetik nama Mila Karakas di mesin pencarian, nama itu bertebaran di seluruh halaman. Begitu pula fotonya. Gadis itu sebenarnya tidak cantik. Hanya saja, kadang wajahnya yang khas bocah gunung itu enak dipandang. Bahkan, meski dia tak memakai tata rias muka.

Dulu waktu SMA, gadis itu berjilbab. Alisnya tipis dan bibirnya berwarna merah pucat sehingga dia selalu tampak seperti orang yang baru bangun tidur. Dia bukan tipe anak pendiam meski dia tetap tahu sopan santun. Nilai-nilainya tidak bagus, tapi juga tidak buruk. Dan dia suka sekali menyanyi. Seingat saya, dulu dia punya tiga buku catatan yang berisi lirik-lirik lagu yang sedang masyhur dan digandrungi anak muda ketika itu. Banyak sekali teman kami yang meminjam buku lirik lagunya untuk disalin di buku tulis masing-masing. Dalam hal menyanyi, ketika itu, dia adalah inspirasi. Teman-teman begitu terkesima, ketika dia menyanyikan lagu ”Merinding Bulu Romaku” pada acara pentas seni. Selanjutnya, ketika ada penampilan-penampilan menyanyi, dia selalu jadi bintang yang disodorkan ke depan panggung,

Dulu, waktu SMA, dia memang sedikit centil. Tidak malu-malu saat ngobrol dengan anak laki-laki, yang bahkan baru dia kenal. Suatu hari, saat jam olahraga, dia pernah menendang kemaluan seorang teman laki-laki kami gara-gara berani mencolek pantatnya. Dan seingat saya, dia pernah mengirim surat kepada salah seorang teman lelaki kami yang lumayan alim di kelas. Namanya Hasan, dia suka sekali menyanyikan lagu kasidah dan selawat. Suatu hari di acara pentas hari besar keagaman, dia dan Hasan tampil bersama menyanyikan kasidah besutan Nasida Ria berjudul ”Perdamaian”. Mungkin sebab kesempatan itulah Sumi kesengsem dengan ketampanan dan kesalehan dan kemerduan suara Hasan.

Kendati surat demi surat telah dikirimkan oleh Sumi, saya tidak ingat Hasan pernah membalas surat-surat itu. Sejak perkara surat-surat yang tak pernah dibalas itu, antara Hasan dan Sumi seperti terbentang jarak. Meski demikian, Sumi tak tampak berhenti mengejar-ngejar Hasan. Sampai kemudian kami semua lulus. Dan di acara perpisahan yang syahdu pada suatu malam, Sumi menyanyikan lagu ”Bagaikan Petir di Siang Hari” yang sempat dipopulerkan oleh Nais Larasati. Mungkin kami semua ingat, Sumi menyanyikan lagu itu penuh penghayatan, bahkan dia benar-benar menangis. Dan rasanya, kami semua mulai menebak-nebak bahwa sesungguhnya Sumi sedang menangisi Hasan yang sebentar lagi bakal diboyong mondok ke Pesantren Lirboyo oleh bapaknya. Ketika kami guyoni perihal tangisan di atas panggung itu, Sumi hanya berseloroh bahwa dia tidak hanya menangisi Hasan, dia menangisi semua teman-temannya. Perpisahan memang acara yang menyedihkan, bisa membuat siapa pun menangis, dan dia bilang belum siap berpisah dengan kami semua.

Dan memang bukan Sumi seorang yang menangis selepas acara itu. Hampir semua anak perempuan menangis ketika itu. Dan satu-satunya ucapan Hasan yang bisa kami dengar seusai acara itu adalah sebuah khotbah pendek: bahwa kita semua harus fokus menuntut ilmu, jangan memikirkan soal cinta-cintaan dulu. Bahwa jodoh itu urusan belakang, urusan Tuhan, kalau jodoh pasti takkan ke mana.

Seusai acara kelulusan dan perpisahan, kami semua benar-benar berpisah. Di antara kami ada yang melanjutkan kuliah, ada juga yang pergi mondok seperti Hasan, ada juga yang pergi merantau keluar kota, seperti saya, ada pula yang minggat ke luar negeri jadi TKI, dan tidak sedikit pula yang memilih berdiam di kampung halaman menerima warisan pekerjaan dari orangtua sebagai petani, buruh pabrik, penjaga toko, dan lain-lain. Waktu seperti mencacah belah semua cerita waktu SMA, menjadi bagian-bagian kecil, sebuah ingatan yang dibawa masing-masing kepala dan tak penting untuk diunggah.

Semenjak melihat Sumi di televisi—yang mengubah namanya menjadi Mila Karakas, saya jadi rajin mengikuti berita—terutama tentang Mila Karakas. Hingga beberapa waktu silam, seseorang memasukkan saya ke grup Whatsapp alumni SMA. Anggota dari grup tersebut tidak lebih dari tujuh belas orang. Dan dalam grup tersebut tidak ada Sumi meski ikon gambarnya adalah foto Sumi, yang kini telah bermetamorfosis menjadi Mila Karakas—yang begitu kami banggakan. Di grup tersebut tidak pula ada Hasan, teman kami yang alim dan pendiam itu. Konon, selepas mondok, dia mengajar di sebuah sekolah di Surabaya, lalu pindah ke Jakarta. Di antara kami tak ada yang benar-benar tahu seperti apa kabarnya sekarang. Mungkin Hasan sudah jadi orang sukses di luar sana. Seperti halnya Sumilah alias Sumi alias Mila Karakas, yang sekarang sudah jadi artis Ibu Kota. Tentu tidak mudah menghubungi artis Ibu Kota, alih-alih memasukkan nomor kontaknya ke grup Whatsapp teman alumni SMA, yang notabenenya adalah sekumpulan rakyat jelata.

Konon, untuk menghubungi Mila, apa pun itu, harus lewat manajernya. Dan, menurut salah satu teman kami yang juga ada dalam grup tersebut, tarif untuk mengundang Mila Karakas manggung bisa buat DP beli tanah di perumahan yang lumayan elite.

Dalam grup tersebut kami mulai bergunjing. Bahwa benar adanya, sekarang gadis centil itu telah menjadi artis Ibu Kota. Bakat yang dia bawa sejak kecil, sejak SMA, tidaklah sia-sia. Dan setelah jadi artis, dia mulai melepas jilbab, lalu menyemir rambutnya menjadi merah, kadang hijau, kadang biru, dan yang paling sering warna pirang keemasan. Pakaiannya juga seksi-seksi. Dan konon, kalau beli baju atau sepatu, sekali pakai. Entahlah.

Beberapa teman mengobrolkan bahwa untuk menjadi artis seperti itu, dia tidak cuma bermodal bakat atau tampang, tapi juga bermodal kemolekan tubuh. Kita semua paham maksudnya. Beberapa kawan perempuan yang tidak sepakat dengan pernyataan itu memilih untuk keluar grup setelah  berkomentar bahwa grup ini tidak lebih baik dari apa pun yang dilakukan Mila Karakas—seandainya dia memang melakukan hal buruk. Di grup ini tidak ada karya, tidak ada manfaat, cuma bergunjing. Begitulah, beberapa kawan keluar masuk grup. Keluar lagi. Dimasukkan lagi. Sekali-kali saling mencaci. Hingga mendadak, seorang kawan mengirimkan tautan sebuah berita yang tajuknya: Tersebar Video Tidak Senonoh Mila Karakas dengan Salah Satu Artis Senior.

Dalam laman yang sama, terpampang pula berita lain yang masih berkaitan dengan Mila Karakas: Mila Karakas Menggugat Cerai Suaminya, Wahyu, yang Diduga Telah Menyebarkan Video Perselingkuhan Tersebut. Dalam berita itu, terpampang foto suami Mila Karakas yang sedang menggendong anak balita, tampak menunduk menyedihkan. Tentu kami semua tidak asing dengan foto lelaki yang sekilas menunduk itu.

Semenjak tersebarnya video tersebut, banyak masyarakat yang baru tahu bahwa Mila Karakas ternyata sudah bersuami dan punya seorang anak. Dan nama suaminya adalah Wahyu Hasan Sobari. Nama yang sama sekali tidak asing bagi kami. Mendadak dada saya sebak, dijejali rasa sedih yang aneh. Kenangan puluhan tahun silam itu pun kembali memenuhi kepala saya: sebuah panggung, seorang gadis centil bernyanyi dengan seorang pemuda alim yang pendiam.

Perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian…

Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai…

Bingung, bingung, kumemikirnya….

Malang, 2020

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984,  suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tersiar di berbagai media. Buku terbarunya yang akan segera rilis Gelak Tawa di Rumah Duka, Basabasi 2020. Kini bermukim di Malang.

Rahmat Jabbaril bernama asli Rahmat. Belajar seni sejak 1985 sampai sekarang secara otodidak di jalan, kampus, warung, sampai gedung parlemen. Kadang di pasar, hutan, dan perkotaan untuk mengadvokasi kaum miskin kota dengan metode seni rupa penyadaran, menulis, melukis, dan performance art. Puluhan kali ikut pameran bersama.

sumber : kompas.id, 24 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme