Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Koh Su oleh Puthut EA

Posted on Ming, 15 Apr 2007

Harus kuakui, seluruh gambaranku tentang Koh Su ada pada laki-laki itu. Selama hampir setengah jam aku berada di sini, tidak pernah kudengar suaranya. Tidak juga pernah kulihat ia menoleh ke arah para pemesan dan pengantre. Dingin. Suntuk dengan dunianya sendiri.

Minyak dituang. Diambilnya sebuah benda dari kotak di dekatnya, digedoknya keras. Remuk. Dilemparkannya ke arah penggorengan. Dilakukannya hal itu beberapa kali. Tidak ada saus tomat di dalam botol, tidak ada juga botol kecap. Hanya ada satu botol yang berisi cairan berwarna coklat di dekatnya. Botol itu dibebat kain, yang dugaanku, dulunya berwarna putih namun sekarang mulai berwarna coklat.

Ketika sebulan yang lalu, sebuah kabar merayap di kampung ini, aku termasuk orang yang tidak peduli. Paling-paling hanya desas-desus yang sengaja disebarkan oleh seorang penjual yang sedang akan menggelar dagangannya agar laris. Seingatku, sudah belasan kali sejak aku kecil hal seperti ini terjadi.

Dari kecil aku sudah biasa dengan drama-drama kecil ini. Tiba-tiba ada beberapa mulut yang mengatakan bahwa resep nasi goreng ala Koh Su sudah ditemukan. Lalu orang-orang begitu ramai. Tidak lama kemudian, berdiri sebuah warung makan di kota kecil ini, khusus menyediakan menu nasi goreng. Orang-orang mengantre. Begitu ramai. Lalu hanya seminggu atau dua minggu, warung itu akan sepi kembali. Kukut. Tutup untuk selamanya. Begitu berkali-kali.

Di kota ini, nasi goreng identik dengan sebuah nama: Koh Su. Begitu dekatnya hubungan antara nasi goreng dan Koh Su, sampai nama Koh Su menjadi kata kerja untuk aktivitas membuat nasi goreng. Kalau ada seseorang yang berkata, ”Tadi pagi saya ngohsu,” itu berarti tadi pagi ia membuat nasi goreng. Atau kalau ada orang yang berkata, ”Ngohsu, yuk…” itu artinya ia mengajak membuat nasi goreng.

Di kota kecil ini, hampir semua jenis masakan yang biasa ditemui di kota-kota lain ada. Hanya satu saja yang tidak ada, warung nasi goreng. Kalaupun warung nasi goreng itu muncul, seperti yang aku ceritakan di atas, didahului dengan bumbu-bumbu cerita, tidak berapa lama sebuah warung berdiri, diserbu pembeli, kemudian mati. Hanya menambah deret kekecewaan orang akan penjual nasi goreng, dan semakin mengukuhkan legenda Koh Su.

Aku memperhatikan lagi penjual nasi goreng yang sedang khusuk dengan masakannya itu. Semua yang kubayangkan tentang Koh Su, memang benar-benar ada pada laki-laki itu. Rambut penjual itu lurus, panjang, agak jarang, dan dikucir. Di kepalanya bertengger kopiah hitam. Kumisnya jarang-jarang tapi dibiarkan tetap tumbuh, juga jenggotnya. Matanya sipit, dan di sepasang mata itu dikelilingi daging menggelambir. Tubuhnya tinggi dengan perut yang agak buncit. Di mulutnya selalu terselip sebatang rokok kretek. Kutaksir ia berumur empat puluh tahun lebih.

”Dek! Dek!”

Laki-laki itu selalu mengakhiri prosesi memasaknya dengan cara yang sama, dua gedokan keras di wajan, sebelum menuangkan ke piring. Pembantunya, seorang anak berusia belasan tahun yang biasa dipanggil ’Mbeng’ lalu mengantar sesuai dengan urutan pemesan.

Aku melihat ke sekeliling, masih banyak orang yang belum mendapatkan jatah pesanan mereka. Giliranku masih sangat lama.

Dari hulu sampai hilir, cerita tentang Koh Su serba tidak jelas. Ada yang bilang kalau ia bukan orang Tionghoa, melainkan orang Madura. Nama sebenarnya Sukendar. Tapi karena mirip orang Tionghoa maka ia dipanggil Koh Su. Tapi banyak orang yang tidak sependapat. Bagi sebagian orang, Koh Su adalah orang Tionghoa. Ada juga yang bilang kalau Koh Su orang Jawa, hanya ia belajar memasak dari orang Tionghoa di Tuban, lalu pulang kampung dan mendirikan warung nasi goreng yang kemudian sangat tersohor. Nama sebenarnya Surono. Mana yang benar, aku jelas tidak tahu.

Lenyapnya Koh Su dari kota ini juga tidak jelas. Sebagian orang bilang Koh Su mati. Sebagian orang yang lain bilang Koh Su melarikan diri entah ke mana. Ada juga yang bilang kalau Koh Su moksa karena ia menganut ilmu kebatinan. Bagi mereka yang percaya bahwa Koh Su mati pun punya versi masing-masing. Ada yang meyakini Koh Su mati dibunuh di warung makannya, jasadnya dibuang di Gunung Genuk. Ada yang bilang Koh Su mati dikubur bersama puluhan orang komunis di sebuah sumur tua di belakang sekolah rakyat setelah berkali-kali ia tidak mempan ditembak dan dagingnya tidak tergores ketika disembelih. Mana yang lebih tepat, tentu saja aku tidak tahu.

Konon, tempat berjualan Koh Su terletak di bawah pohon beringin, sebelah barat alun-alun, di dekat masjid. Beringin itu sampai sekarang masih kokoh berdiri. Koh Su dikenal sebagai penjual yang tidak banyak bicara. Ia hanya sibuk memasak. Ia tidak melayani pesanan yang neko-neko. Di resep Koh Su, nasi goreng adalah nasi goreng. Ia tidak pernah meluluskan permintaan nasi goreng pedas, nasi goreng tidak asin, tidak pakai telor atau daging, dan lain-lain. Semua seragam, sama. Anehnya, sekalipun seragam, Koh Su selalu memasak satu per satu masakannya. Sehingga semua yang memesan harus sabar. Selain itu, tidak ada yang boleh membungkus nasi goreng lebih dari dua bungkus.

Semua orang tahu Koh Su tidak menggunakan kecap, tomat atau saus tomat. Semua orang juga tahu kalau Koh Su memakai semacam saus berwarna coklat. Tapi apa ramuan saus itu, tidak ada seorang pun yang tahu.

Dulu, aku pernah bertanya ke kakekku bagaimana rasanya nasi goreng Koh Su. Kakekku hanya menggelengkan kepala sambil berkata, ”Susah mengatakannya.”

Pak Pardiman, penjual kopi yang sangat terkenal di kota ini juga melukiskan hal yang hampir sama, ketika aku dan teman-temanku menanyakan rasa nasi goreng Koh Su saat kami ngopi di warungnya. ”Ini nasi goreng Koh Su. Ini surga. Jaraknya hanya segini…” sambil berkata seperti itu Pak Pardiman mendekatkan jempol tangan kanannya dan telunjuk tangan kanannya. Kedua jari itu hampir menempel, seperti sedang menjimpit sebatang rokok.

Beberapa orang kulihat datang, memesan lalu mengantre. Beberapa yang lain harus pulang karena nasi goreng yang belum dimasak sudah habis dipesan. Giliranku masih lama, tapi tetap merasa beruntung, paling tidak aku masih kebagian.

Aku tidak tahu persis, apakah gara-gara Koh Su, atau karena hal yang lain, tetapi yang jelas nasi goreng adalah menu spesial penduduk kota ini. Begitu spesialnya sehingga tidak gampang diperjual-belikan. Pelajaran memasak pertama yang diajarkan dan dilakukan oleh anak-anak adalah ngosu alias membuat nasi goreng. Kalau ada peringatan hari tertentu, seperti Hari Kemerdekaan sampai Hari Maulud Nabi, pasti ada lomba ngosu.

Begitu tenarnya nasi goreng di kota ini, maka muncullah orang- orang yang memang suka menguji nyali. Pada kali pertama dan kedua, itu cukup menggegerkan. Selebihnya kemudian ditanggapi dengan biasa saja.

Saat itu aku masih duduk di sekolah dasar ketika ramai-ramai ada berita bahwa resep nasi goreng Koh Su telah ditemukan. Sama seperti cerita tentang Koh Su sendiri, cerita perihal ditemukannya resep masakan Koh Su serba tidak jelas. Setelah beberapa minggu, di dekat rumah sakit berdiri sebuah warung nasi goreng yang mengaku memiliki resep Koh Su. Selama berhari-hari nasi goreng itu ramai sekali. Antrean begitu panjang. Anak-anak kecil, termasuk aku, hampir setiap hari prembik-prembik, ngambek kepada masing-masing orangtua kami karena tidak juga dapat giliran mencicipi nasi goreng saking banyaknya antrean. Tapi setelah beberapa minggu kemudian, warung itu sepi. Dan ketika akhirnya aku mencicipi nasi goreng itu, tidak ada bedanya dengan bikinanku sendiri saat aku sering ngosu dengan teman-teman sebayaku.

Kali kedua, lebih heboh lagi karena warung makan itu berdiri di bekas warung makan Koh Su, di bawah pohon beringin dekat alun-alun. Di kain warung makan itu tertulis jelas: Nasi Goreng Koh Su. Tapi tulisan itu hanya berumur beberapa hari karena polisi melarang tulisan ’Koh Su’ yang dianggap berbau komunis. Tulisan dihapus, tapi yang mengantre tetap banyak, juga para polisi. Namun hampir sama dengan yang pertama, umur warung makan itu hanya beberapa minggu. Setelah semua penduduk mencicipi dan ternyata biasa saja, warung itu sepi kemudian tutup.

Kali ketiga dan seterusnya sudah tidak terlalu mengejutkan. Selalu ada desas-desus, lalu muncul warung nasi goreng, disambut dengan harapan dan antrean, dan kemudian kecewa.

Aku memperhatikan sekeliling lagi. Orang-orang menunggu tanpa banyak bicara, seakan mereka sedang menunggu saat-saat yang paling menentukan bagi mereka. Orang-orang yang sudah mendapatkan giliran makan menyantap hidangan mereka dengan tenang. Khidmat. Yang sudah selesai juga membayar dan pergi dengan tenang. Mereka seperti selesai menunaikan sebuah ibadah.

Masih ada beberapa orang lagi, baru kemudian tiba giliranku.

Di kota ini, ngosu atau membuat nasi goreng bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan hanya dengan sekian puluh menit. Semua ini karena bocoran resep-resep yang didapat dari Koh Su. Resep dan tatacara ini beredar dari mulut ke mulut. Mempengaruhi tindakan banyak orang dalam ngosu.

Kabarnya, nasi yang digoreng oleh Koh Su berasal dari padi di Dusun Ngandang, sebuah dusun di lereng Gunung Genuk. Padi itu ditanak sebagaimana biasa. Setelah matang, ditumpahkan di atas daun pisang lalu dikipasi dengan ipit, kipas yang terbuat dari bambu. Nasi itu dikipasi terus-menerus sampai hampir dingin, setelah itu dibungkus dengan daun pisang rapat-rapat. Nasi inilah yang kelak akan menjadi bahan utama membuat nasi goreng Koh Su. Untuk menghasilkan nasi goreng yang enak, buntalan daun pisang itu paling tidak harus berumur lima jam. Jadi, konon Koh Su selalu menyelesaikan beberapa buntalan nasi setelah selesai Duhur. Habis Magrib, nasi ini dibuka satu per satu, untuk dibuat nasi goreng.

Resep lain yang sudah ketahui banyak orang dalam membuat nasi goreng itu adalah dengan memakai kepala udang. Udang ini harus benar-benar udang laut dan harus segar. Kepala udang dipisahkan dari tubuhnya, lalu dikupas kulit luarnya yang keras dan dicuci sampai bersih. Setelah minyak dituang, pertama-tama kepala udang diremuk di atas talenan, kemudian dilempar ke minyak. Kepala udang itu menjadi semacam bumbu dasar. Untuk satu porsi nasi goreng dibutuhkan dua atau tiga kepala udang segar. Tergantung pada besar kecilnya kepala udang. Satu lagi, minyak yang dipakai untuk ngosu selalu minyak goreng dari kelapa.

Tiga orang lagi sampai ke giliranku mendapatkan seporsi nasi goreng yang menggegerkan kota ini.

Ketika warung ini mulai buka, hanya anak-anak kecil yang antusias menyambutnya. Kami yang sudah beranjak dewasa maupun orang-orang tua yang sudah cukup pengalaman dengan berdirinya warung-warung sejenis hanya merasa biasa saja. Paling-paling sama dengan yang dulu-dulu, begitu pikir kami. Tapi setelah berhari-hari, kabar tentang nasi goreng di warung ini semakin santer saja. ”Benar-benar nasi goreng Koh Su!” kata mereka yang sudah mencicipi.

Kemudian kabar tersebut segera meluas. Ditambah dengan hal-hal lain yang memperkuat kabar itu. Penjual baru itu, sampai sekarang kami tidak tahu namanya, sama seperti Koh Su, memasak nasi goreng seporsi demi seporsi. Penjual itu juga tidak melayani membungkus nasi goreng lebih dari dua bungkus. Ia juga hanya menjual kira-kira lima puluh porsi dalam semalam. Dimulai dari sehabis Magrib dan selesai sebelum pukul sebelas malam. Mereka yang mengantre harus menunggu di warung itu, kalau meninggalkan warung sebelum mendapatkan pesanan mereka, dianggap tidak jadi memesan.

Lalu kabar-kabar mulai bersayap, menerbangkan hal-hal lain. Ada orang yang bilang kalau penjual itu adalah anak kandung Koh Su. Konon, Koh Su yang pendiam itu mempunyai seorang istri dan anak di kota lain. Anak inilah yang mewarisi keterampilan Koh Su dalam membuat nasi goreng dan sekaligus mewarisi resep masakannya, terutama di dalam meramu saus berwarna coklat itu.

Sampai saat ini, tidak ada yang tahu namanya. Ia seperti datang tanpa nama, tinggal dan berjualan tanpa mengobral nama. Ia hanya datang bersama Mbeng dan seperangkat alat memasak, lalu mengontrak kios di dekat pasar yang sekaligus menjadi warung makan.

Kini tiba giliran nasi gorengku diracik dan dimasak. Dadaku berdebar.

Ketika kakekku penasaran karena orang-orang mulai membicarakan rasa nasi goreng dari warung yang baru berdiri itu, aku masih belum tertarik. Ketika kemudian kakekku menjajal dan membenarkan kelezatannya, aku tidak punya alasan lain untuk tidak penasaran. ”Bumbu dan caranya memasak sudah benar. Hampir mirip buatan Koh Su,” kata kakekku.

Bagi orang seusiaku, Koh Su jelas misteri besar. Cerita tentangnya mengambang di seluruh udara kota ini. Orang-orang yang mengalami nasi goreng Koh Su masih wasis bercerita saat aku masih kanak-kanak. Seluruh umurku yang berkaitan dengan nasi goreng adalah ngosu dengan bocoran resep dan tatacara yang tidak lengkap. Berasnya jelas tidak mungkin dari Ngandang, kadang minyaknya tidak menggunakan minyak kelapa. Dan yang pasti, kami tidak memakai saus berwarna coklat karena tidak tahu bagaimana cara membuatnya.

Ini sudah kali ketiga aku mencoba mengantre. Dua yang pertama, berakhir dengan lidah kosong. Setiap kali aku datang, antrean selalu penuh, dan Mbeng berkata dengan sopan, ”Maaf Mas, sudah habis.” Kali pertama aku datang jam sembilan malam. Kali kedua jam delapan. Kali ketiga ini, aku datang benar- benar saat Magrib usai. Itupun yang mengantre sudah banyak sekali.

”Dek! Dek!” suara pertanda akhir prosesi memasak terdengar. Piring dilumahkan. Nasi ditumpahkan di atas piring. Mbeng mengantar seporsi nasi goreng ke arahku. Hatiku nratab begitu menerima ulungan sepiring nasi goreng dari tangan Mbeng.

Aku memandang baik-baik nasi di depanku. Sempurna. Warnanya begitu menyentuh. Semua nasi berwarna sama, tercampur bumbu dan matang dengan rata. Baunya juga sempurna. Aku menyendok pelan nasi goreng di depanku. Aku memasukkan nasi ke mulutku…

Aku mampir di warung kopi Pak Pardiman. Kupikir, malam ini bisa semakin disempurnakan dengan ngopi dan ngobrol bersama banyak orang. Sampai di sana, suasana sudah sangat gayeng. Dari sepintas dengar, obrolan yang terjadi berkisar soal kelezatan warung nasi goreng yang baru kujajal itu. Semua orang bersepakat soal kelezatannya.

”Sudah sama dengan punya Koh Su, Pak?” tanya seorang anak muda.

”Hampir…” jawab Pak Pardiman.

”Kira-kira kurang di bagian mana?”

”Nasinya. Tapi bagaimana bisa dapat beras dari Ngandang?”

”Bukannya di Bangunrejo masih banyak sawah?”

Tidak ada jawaban dari mulut Pak Pardiman. Wajahnya tiba-tiba membeku. Dusun Ngandang sudah tidak ada lagi. Menurut cerita orang-orang tua, hampir semua penduduk Ngandang tersangkut peristiwa berdarah yang juga melenyapkan Koh Su. Lalu nama dusun itu diganti dengan nama Bangunrejo.

Setelah beberapa saat terdiam, sambil meracik kopi pesananku, Pak Pardiman mendesah, ”Seandainya saja itu hanya soal ganti nama…”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme