Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ketika Mereka Pulang oleh Susialine Adilia

Posted on Ming, 08 Apr 2007

Jamal membetulkan sarungnya. Keluar kamar, mengambil senter di meja panjang, membuka pintu belakang, dan menghilang di kegelapan malam. Meninggalkan Imah, istrinya, yang menggigil di kamar sempit pengap. Menjemput Mus. Hanya itu yang bisa dilakukan Jamal jika penyakit Imah kambuh.

Mus membuka pintu. Dia telah hafal siapa yang mengetuk pintu dini hari begini, dua tiga jam sebelum beduk subuh ditabuh. Seperti biasa, dua orang itu bergegas menuju rumah Jamal, lima ratus meter dari rumah Mus, melintasi pematang yang memisahkan rumah mereka.

“Saya sudah bilang biar mereka mengurus sendiri keperluannya. Mereka kan bukan tamu, Mbah. Ini rumah mereka sendiri,” kata Mus begitu mulai mengoleskan balsam kerik ke punggung Imah.

Imah menjawab dengan gumaman yang tak jelas. Ah, pasti juga jawaban yang sama seperti tahun-tahun lalu. Mereka pulang hanya setahun sekali, masak dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Dan Mus tidak berkata-kata lagi.

Dulu, waktu Mus masih tinggal di sini, dialah yang mengurus rumah, sawah, sampai pengelolaan penggilingan padi keluarga ini. Sejak kecil ia telah dilatih menjadi pengurus rumah tangga sekaligus petani. Emaknya dulu buruh di keluarga Jamal ketika seperempat luas sawah di desa ini masih menjadi miliknya. Jamal pula yang menikahkan emak Mus dengan buruh penggilingan padi. Lalu membuatkan rumah mungil dan memberi pesangon sepetak sawah di selatan desa. Tetapi, kemiskinan yang mendera membuat keluarga itu menyerahkan pengasuhan Mus kecil kepada Imah. Sejak itu Mus menjadi bagian dari keluarga Imah.

Imah meringis menahan sakit setiap uang logam di tangan Mus menggerus kulit keriputnya. Pikirannya masih tertuju pada anak-anaknya yang kemarin datang dan sekarang telah pergi lagi. Benar kata orang, tak ada bedanya punya banyak anak atau sedikit. Setelah tiba masanya, anak-anak itu akan pergi mencari hidup mereka sendiri dan meninggalkan orangtuanya. Begitu juga yang dirasakan Imah. Ia telah melahirkan dan membesarkan sembilan orang anak. Toh ia tetap merasa sepi mengisi hari tua hanya bersama Jamal, suaminya.

Para tetangga sering berkata, enaknya menjadi orangtua seperti dirinya, punya banyak anak dan sudah jadi orang semua. Tinggal duduk menunggu kiriman. Imah hanya akan menjawab dengan kata: amin. Mungkin memang begitu mestinya, batin Imah. Tetapi, sebentar kemudian pikiran itu diusir pergi. Agamanya mengajarkan bahwa orangtua harus tanpa pamrih mendidik anak-anaknya. Kewajiban itu harus dijalankan semata-mata untuk mencari ridla-Nya karena anak-anak adalah titipan dari-Nya.

Mendidik sembilan orang anak hingga menjadi orang seperti sekarang sudah merupakan karunia. Sembilan orang anak! Hingga dulu dia tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Memang pada masa itu suaminya anak tuan tanah terkaya di desa ini. Mereka hidup dikelilingi buruh puluhan jumlahnya. Ada buruh yang mengerjakan sawah, ada pula yang mengurus anak-anak dan rumah tangga. Tetapi, tetap saja, mengandung dan menyusui mereka menguras habis tenaganya. Imah hampir tak pernah beristirahat dari tugas reproduksi. Ketika seorang anak belum selesai disusui, dia telah hamil. Begitu seterusnya, hingga sembilan orang anak lahir dari rahimnya. Sekarang, ketika tenaga tuanya tinggal sisa-sisa, tak ada seorang anak pun di sampingnya.

Hidup di desa terpencil membuat anak-anaknya harus pergi ke luar desa untuk melanjutkan sekolah mereka. Sebagiannya bahkan ke luar kota, ke Pati, Rembang, atau bahkan lebih jauh lagi, Jombang. Kota-kota yang diyakini sebagai tempat mencari ilmu dunia dan akhirat.

Selesai sekolah sebagian anaknya pulang, tinggal beberapa lama di rumah sebelum kembali ke kota mencari kerja. Sebagiannya tak sempat kembali karena segera mendapat pekerjaan. Ketika pulang lagi, anak-anak itu membawa seseorang yang akan dipersunting menjadi istri atau suami. Begitu seterusnya. Hingga sembilan orang anak itu menikah dan meninggalkannya. Mereka baru akan ke desa, ke rumah orangtua ketika lebaran tiba. Itu pun tak lama. Paling dua malam saja. Bahkan sebagian tak pernah bermalam.

Sering Imah menghibur diri. Tugasnya sebagai orangtua yang mengasuh, mendidik, hingga menikahkan anak telah dilakukannya. Meski ia dan Jamal tak lagi bisa mempekerjakan banyak orang karena sawahnya semakin berkurang, orang-orang masih tetap menaruh hormat kepadanya. Salah satunya karena ia adalah orangtua yang telah mengantarkan keberhasilan anaknya. Tentu Imah bangga. Apalagi saat lebaran tiba, sembilan orang anaknya datang bergantian atau bersama-sama dengan mobil yang beraneka rupa. Mobil yang bagi orang desa dilihat sebagai lambang kesuksesan. Maka pantas saja orang-orang mengira Imah tinggal ongkang-ongkang kaki karena segala kebutuhan terpenuhi.

Kenyataannya, Imah dan Jamal harus tetap membanting tulang mereka yang lapuk dimakan usia. Mereka tak mau menadahkan tangan di depan anak-anak. Apa yang telah dilakukannya bukan untuk meminta balas jasa. Tetapi, apa boleh buat. Kesehatannya tak memungkinkan lagi. Penyakit gula turunan yang diwariskan orangtua Imah membuatnya semakin lemah. Jamal yang dulu tampak lebih sehat dari orang seusianya kini mulai sakit-sakitan juga. Tak ada pilihan kecuali membagi petakan sawah itu untuk sembilan orang anaknya. Dan karena tak ada seorang pun anaknya yang tinggal di desa ini, maka pilihannya adalah menjual atau menjual tahunan sawah itu kepada para tetangga. Kehidupan Imah dan Jamal sepenuhnya menjadi tanggungan sembilan anaknya, begitu hasil rembukan anak-anak mereka saat berkumpul setahun lalu. Maka, berakhirlah kisah Jamal sebagai tuan tanah.

“Sudah Mbah,” kata Mus sambil mengemasi perlengkapan kerik.

Imah membalikkan tubuh ringkihnya. Telentang memandang Mus di keremangan kamar. “Untung ada kamu, Mus,” bisiknya lirih. Air matanya meleleh dari sudut-sudut mata.

“Saya pulang dulu ya, Mbah. Pagi nanti saya ke sini,” Mus berdiri memandang Imah, menunggu anggukan kepala yang akan mengantarnya pulang.

Perempuan muda itu pun meninggalkan rumah Jamal, sendirian. Berjalan tenang, perlahan. Benaknya dipenuhi beban. Ia dinikahkan Imah dua tahun lalu. Sampai lima bulan lalu Mus bersama suami dan anaknya masih tinggal bersama Imah. Tetapi, seorang menantu Imah memperkarakan keberadaannya di rumah besar itu, maka ia nekat membangun rumah dengan uang pinjaman. Tak ada pilihan. Rumah orangtuanya terlalu sempit untuk ditumpangi, rumah mertuanya yang juga sedesa pun tak jauh beda.

Kemarin sore pemilik uang itu kembali datang. Sepeda motor, harta paling berharga milik suaminya belum laku juga. Siapa mau membeli kendaraan yang BPKB-nya masih jadi agunan. Maka, tawaran Pak Muslih, makelar TKI itu, kembali melintas-lintas dalam pikirannya.

Setengah tahun setelah kejadian itu. Ussi, cucu Imah dan Jamal dari anak keduanya Fikri, merayakan pernikahannya dengan pengajian akbar di desa. Sekalian pertemuan keluarga, kata Fikri. Usai pengajian setelah semua tamu pulang, sembilan orang anak itu pun berkumpul di ruang tengah. Malam telah larut, tetapi beberapa orang anak akan kembali ke kota besok pagi sehingga tak ada waktu lagi.

“Kita harus selesaikan semuanya malam ini,” Fikri yang mempunyai gagasan pertemuan memulai. “Seperti kesepakatan dulu, Bapak dan Ibu sekarang menjadi tanggung jawab kita.”

“Tidak usah sekarang, Mas,” Ilham yang tinggal di kota, tujuh kilometer dari desa itu menyela. “Sebelum kita membicarakan soal ini, aku sudah melakukannya. Siapa yang mengobatkan Ibu selama ini? Siapa yang membayar tunggakan listrik?”

“Iya Mas, makanya ini kita bicarakan supaya lebih tertata. Bukan hanya Mas Ilham sendiri yang menanggung kebutuhan Bapak dan Ibu,” Arif, si bungsu, bersuara.

“Aku sudah bilang berkali-kali, buatkan Bapak dan Ibu rekening bank. Itu akan mempermudah kita semua,” Rosyad, anak nomor enam yang juga tinggal sekota dengan Ilham berkata.

“Itu pun jadi masalah Mas. Rekening itu atas nama siapa dan siapa yang akan mengurusnya? Repot kalau Bapak dan Ibu harus mengurus sendiri,” Alfan giliran berikutnya.

Maka, ramailah pertemuan itu membahas cara pengiriman uang bagi Imah dan Jamal. Sampai sejam kemudian tak ada kesepakatan. Memberikan secara langsung sebulan sekali jelas tak mungkin bagi sebagian mereka. Sementara membuka rekening bank dengan alasan kepraktisan memunculkan masalah sendiri. Siapa yang akan mengurusnya? Rosyad sudah bersedia, tetapi banyak saudara tak menyetui karena sifat istrinya yang kurang terpuji. Fikri menawarkan diri. Tetapi, hampir semua anak menolak karena terlalu jauh tinggalnya.

Kericuhan terjadi. Masing-masing punya pendapat dan tak mau mempertimbangkan pendapat orang lain. Hingga lewat pukul satu dini hari. Imah dan Jamal sudah terkantuk-kantuk ketika situasi memanas. Fikri menuduh Ilham pamer dengan segala bantuan yang telah diberikan selama ini. Ilham menuduh Rosyad tak paham situasi. Arif mengomentari Fikri tak menimbang kekuatan sendiri….

Tiba-tiba Imah berteriak, “Sudah!” katanya menahan sedu-sedan, “Kalau hanya mau membuat keributan, kalian tak usah pulang! Aku dan bapakmu ini sudah tua. Ingin melihat kalian hidup rukun dengan saudara. Tetapi, setiap bertemu ribut selalu. Sudah, aku tidak mau dengar lagi.”

“Tunggu dulu, Bu, kami ini membicarakan kepentingan Ibu dan Bapak,” Fikri coba menenangkan.

“Mendengar kalian bertengkar itu bukan kepentinganku!” Imah semakin tersedu. “Tugasku sudah selesai, merawatmu, menyekolahkanmu, menikahkanmu. Aku dan bapakmu ini hanya ingin hidup tenang menunggu mati. Kalau kalian keberatan menanggung hidup orangtua ini, biar kami mencari sendiri. Dulu ibumu ini anak orang melarat,” Imah menunjuk dadanya. “Tidak akan kaget kalau sekarang kembali menjadi melarat.”

“Bu, jangan bicara begitu,” Arif berdiri.

Namun, Imah sudah tak mampu menguasai diri. Perempuan tua itu terus menceracau di antara sedu sedannya. Hingga tubuhnya melemas dan terjatuh dalam pelukan Rosyad. Para menantu yang sejak tadi duduk di belakang tanpa suara kini merubung Imah yang pingsan.

“Bawa ke kamar,” kata salah satu dari mereka.

“Panggil Mus,” teriak istri Arif.

“Mus di Saudi!” jawab istri Ilham.

Semua bingung. Tak ada yang tahu bagaimana mengembalikan kesadaran Imah. Fikri berteriak dalam kepanikan, “Bawa ke rumah sakit.”

Alfan menyiapkan mobilnya. Bersama beberapa orang saudara ia antarkan Imah ke rumah sakit di kota. Tetapi hingga beberapa waktu sesudahnya, perempuan tua itu tak sadarkan diri juga.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme