Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumah Makan oleh Indrian Koto

Posted on Ming, 09 Jan 2022

”Menikahlah denganku,” ucap sang sopir nyaris setiap usai meniduri si perempuan. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali dalam percintaan mereka yang ganjil. Meloncat-loncat lewat butiran keringat dan derit kasur, seperti laju truk di jalanan berlubang dan berbatu. Tak ada yang tahu rahasia kata-kata dari bibirnya yang hitam.

—

IA memainkan tubuh perempuan itu sedemikian rupa, sebagaimana ia memainkan setir di belokan tajam, di tempat sempit dan curam. Lincah, cergas, dan penuh ketelitian. Secepat ia memulai, secepat itu pula ia menyudahi. Ringkas dan agak terburu-buru, seperti menarik persneling dan menekan gas dan rem dalam sekali sentakan. Ia mendengus serupa babi, lalu membenamkan tubuhnya ke badan si perempuan.

”Sudah berapa kali kubilang, ha?! Jangan cium bibirku, kataku!” maki si perempuan ketika lidah sang sopir menjalar tak keruan. Lidah yang meliuk seperti truk pada setiap belokan tajam.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Di sini semua orang pandai menjaga rahasia. Sopir truk semacam dirinya, nyaris sepanjang hidupnya menghabiskan waktu di jalanan, memerlukan hal-hal ringan pengisi waktu agar tidak membosankan. Di tempat semacam inilah biasanya, rumah makan yang ramai oleh sopir truk, Fuso, dan tronton, mereka mencari sedikit hiburan. Saat-saat seperti ini pula ia terlihat lebih berkuasa dari kernet yang di setiap pemberhentian mesti memeriksa ban, angin, rem, serta segala kelengkapan lainnya.

Di usianya yang nyaris empat puluh tahun, lebih dari separonya telah ia habiskan di jalanan. Kali pertama ia ikut bus antarkota dalam provinsi, sebagai kernet dua –istilah untuk kaki tangan kernet yang sebenarnya, jika umur bertambah dan tentu juga pengalaman, ia akan naik pangkat jadi kernet satu– sebelum ia tamat sekolah dasar. Dari sana pula sekaligus ia belajar menjadi sopir, ketika semua penumpang habis dan mobil diangkut ke tempat pencucian. Dari satu bus ia pindah ke bus lain, dari bus antarkota ia beralih ke bus antarprovinsi. Sesekali waktu ia bisa pula ikut truk ke luar pulau. Begitu seterusnya, dari kernet ia menjadi sopir. Sampai kini, sampai usianya nyaris empat puluh tahun, sampai perutnya membuncit dan uban sudah rimbun di kepalanya.

Ia tak pernah sekali pun menikah.

”Dengan menikah kau bisa belajar mengumpulkan uang, tidak menghambur-hamburkannya di rumah makan dan membaginya dengan banyak perempuan,” begitu omongan kawan-kawannya di pangkalan. Tapi ia sudah terbiasa hidup di jalanan. Ia terlalu lama berhubungan dengan rem, gas, dan oli.

Kalaupun sesekali ia berkehendak, siapa yang mau kawin dengan sopir truk gemuk dan bau asap macam dirinya? Sementara di luar sana, dia tahu, dunia bergerak dengan cepat. Sesekali ia menyesali mengapa dulu tak berpikir usia tua macam begini?

***

Si perempuan mendesah. Tubuhnya mati rasa. Setelah memastikan tak ada lagi getaran kasar laksana truk tua di jalanan berlubang, ia mendorong tubuh yang membuat dadanya sesak itu dengan kasar. Berat dan menyusahkan. Ia mesti menarik napas berkali-kali. Ia merasa seperti tertindih ban tronton yang sarat dan melebihi kapasitas.

”Geser sana. Panas. Badanmu bau knalpot!”

Udara benar-benar pengap. Atap hanya sepenggalah dari kepala. Perempuan itu lalu berdiri. Keringat mengalir di tiap pori tubuhnya.

”Ke mana? Kenapa kau tak pernah mau tiap kali aku ajak menikah?” ucap si lelaki dari ranjang. Tubuhnya besar berminyak, seperti babi yang siap dibakar.

”Aku tak tahan dengan panas.”

Dibiarkan tubuhnya yang telanjang. Atap seng yang karatan dan bolong menyimpan, lalu memantulkan panas sedemikian rupa. Dibukanya jendela kecil yang menghadap jalan. Hari hampir petang, matahari masih memanggang. Jalanan lengang dan terbungkus debu. Angin dengan semena-mena menerobos kamar yang pengap dan panas seperti neraka itu. Tak lupa membawa debu dan bau ban terpanggang.

Ia menatap lurus ke jalan. Lengang. Di luar langit begitu terang, biru membentang. Apakah langit berwarna biru? Apakah yang berwarna biru itu adalah langit?

Di bawah berjejer truk-truk dan tronton bersilang-seling, penuh muatan dan barang-barang. Beberapa orang dengan tubuh setengah telanjang berbaring di bawah kendaraan masing-masing –para kernet yang terbiasa dan bersiaga dengan mesin, ban serep, dan dongkrak– penuh oli dan peralatan. Yang lain menggelindingkan ban, menggeser ke sudut kiri halaman. Perjalanan rasanya masih sangat jauh. Ke utara selepas persimpangan menuju kampung-kampung di kaki bukit dengan orang-orangnya yang udik, jalanan akan lebih kecil, lalu terdapat cabang-cabang kecil, berliku dan melulu gunung dan perkampungan melewati provinsi demi provinsi. Arah selatan penuh tanjakan dengan jurang di sisi kanan, beberapa persimpangan besar dan berujung di pelabuhan.

Dia masih berdiri di depan jendela. Tak banyak yang memperhatikan ruang yang menyerupai gudang yang terdiri atas tiga kamar tempat istirahat para sopir –yang sering kali ditemani perempuan seperti dia (ah, bisakah mereka, para sopir itu, sungguh-sungguh istirahat?). Tempat yang kotor, terjepit di antara rumah makan di bagian paling depan– yang memakan sebagian besar tempat persinggahan ini, kamar mandi dan sebuah musala kecil di belakang. Sementara di bagian depan, ia cukup terlindung oleh dahan ceri dan pondok kecil bertulisan ”tempel benan” dan ”tubles”, harta satu-satunya seorang Batak tua yang sepanjang hari berada di sana. Di seberang yang lain, berjejer kios-kios makanan kecil, roti dan minuman, pedagang mi rebus dan nasi goreng –sebagian masih milik tuan pemilik rumah makan. Dia penguasa kecil dan memiliki banyak musuh tentu saja. Beberapa armada bus harus dikuasai, para sopir harus dilayani sempurna dan sopir truk dan tronton pun perlu diservis sedemikian rupa agar tak memarkir kendaraan di rumah makan lain.

Lubang dan bekas tambalan aspal serupa koreng di punggung jalan. Beberapa kendaraan yang lewat seperti melarikan diri dari impitan nasib. Dulu dia berpikir, di sebalik ini semua sudah tak ada apa-apa lagi. Hanya gunung dan sepenuhnya kosong, tempat penghabisan jalan. Dan memang demikian, mesti tidak sehiperbola yang dibayangkan. Tak jauh dari sini, jalan-jalan bercabang, setiap cabangnya memiliki riwayat dan nasib sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, hampir semua kendaraan umum dan pribadi akan istirahat di sini, memulihkan diri untuk perjalanan yang agak menjengkelkan: semata lengang, semata jurang. Mereka, para sopir, lebih suka melewatinya berkonvoi dengan kendaraan lain. Sewaktu-waktu para perampok suka berkeliaran di pendakian. Dan dia, seirama dengan kesepian ini, serupa lekuk jalan penuh tikungan, senantiasa dilewati dan selalu ditinggalkan.

Ia sudah akrab dengan sopir dan kernet sejak lama. Sejak menyelesaikan bangku SMP ia sudah terbiasa dengan bus antarkota. Ia tak melanjutkan sekolah, lalu bekerja di sebuah rumah makan kecil di pinggir pantai tempat wisata. Di sana ia mula-mula melewatkan hidup yang keras dan berhadapan dengan lelaki. Di tempat wisata itu, ia akrab dengan bahasa kasar para preman dan lonte-lonte bernasib malang. Malam hari, pantai itu menjadi tempat mereka mencari uang. Para preman memungut uang keamanan, yang perempuan mendampingi lelaki yang butuh teman.

Ia menikah dengan seorang kernet bus antarkota yang kemudian menjadi sopir truk. Setelah mereka bercerai, lelaki itu mati dihajar orang ketika menabrak anak sekolah.

Ia lelaki yang pandai mengggoda. Di hari Sabtu ketika bus teramat padat oleh anak-anak sekolah yang pulang dari ibu kota, si gadis ikut berdesakan di dalam bus. Saat-saat demikian, dengan siasat tak terduga, si kernet menggesekkan badan ke tubuh si gadis. Si gadis sudah terbiasa dengan aroma ini dan mulai menikmatinya. Tak jarang, jika hari-hari tertentu ketika si gadis pulang, selalu menjelang petang, tentu bukan di hari Sabtu (ketika dia punya alasan pada si bos) ketika bus mulai lengang mereka duduk berdua di bangku penumpang. Usianya delapan belas tahun ketika itu dan si kernet berusia dua satu tahun. Perkenalan yang lima bulan itu cukuplah untuk mereka memutuskan menikah.

Setelah menikah, ia melarang suaminya menjadi kernet bus. Lebih baik ikut truk, katanya. Ah, perempuan gampang cemburu. Tentu ia mengingat bagaimana dengan mudahnya dia teperdaya dulu. Sopir dan kernet angkutan sama saja, orang yang nyaris tak bisa dipercaya soal wanita. Tapi sama saja, truk yang hanya bermuatan tak lebih dari tiga orang itu pun tak bisa jauh-jauh dengan perempuan. Di setiap pemberhentian langganan, selalu ada perempuan.

Maka secepat pernikahan dimulai, secepat itu pula mereka bercerai.

Ia mulai bekerja dari satu rumah makan ke rumah makan yang lain, dari satu pemberhentian bus ke pemberhentian yang lain. Anaknya semakin besar dan ia mulai tak cukup dengan bayaran yang kecil.

Berhadapan dengan sopir, ia mesti pandai-pandai mengambil hati. Tetapi kemudian ia pun terjebak pada dunia itu, menemani para sopir truk dan tronton yang kesepian. Sampai kemudian ia memutuskan sepenuhnya melayani berahi para sopir. Ia terbiasa diambil di satu rumah makan dan diturunkan di rumah makan yang lain. Sopir tronton dan Fuso yang biasanya berjumlah dua orang itu akan menggilirnya di ruang tidur sempit yang berada persis di belakang sandaran kursi. Dia akan melayani mereka secara bergantian dan mobil tetap jalan agar setoran tetap lancar.

Sampai kemudian ia tinggal di rumah makan terpencil yang ujung-ujung jalannya memiliki banyak simpang. Sampai ia bertemu sopir cerewet, berbadan tambun, dan mengigaukan soal-soal pernikahan ini.

***

”Kenapa kau tidak mau menikah denganku?” teriak si sopir agak keras. Dia masih meringkuk di ranjang tua dan berisik itu. Bulatan cahaya dari bolongan atap mencacah tubuhnya yang besar-gempal.

”Kenapa kau ingin menikah denganku?” si perempuan berteriak tak kalah keras. Ia mesti berakrab dengan kegelapan sesaat yang ia rasakan setelah berhadapan dengan matahari di luar jendela sana.

”Karena aku menyukaimu.”

”Karena itu aku tidak ingin menikah denganmu.”

”Keras kepala.” Si sopir bangun disertai suara berat dari tiap sendi ranjang.

”Kau yang celaka. Apa tak puas dengan tubuhku? Tak mau berbagi dengan yang lain?” Si perempuan melemparkan beberapa pakaian yang bertebaran. Celana kolor, kaus kutang dengan bau asap dan keringat.

”Kau terlalu cantik untuk tinggal di sini…”

”Dan aku dibayar untuk meramaikan tempat ini!”

”Bukankah kau bebas untuk tinggal di mana? Setiap sopir menurunkanmu di mana dia suka. Kenapa kau tidak turun saja di sebuah tempat bersamaku dan selamat tinggal tempat celaka ini.”

”Aku dibayar untuk bercinta di kamar ini. Kau bisa bebas membawaku dan menurunkan di tempat tertentu dengan perhitungan harga yang jelas.”

”Nanti aku akan membawamu, jauh-jauh. Nanti…” Sopir menerawang menghadap dinding, menatap tumpukan kardus dan sarang tikus.

”Kau tak akan punya cukup uang membayarku. Aku dihitung per jam dan berapa lama kau membawaku, di tempat mana aku kau turunkan.”

”Aku bisa membawamu kalau aku cukup uang…”

”Uangmu tak akan cukup untuk itu.” Suaranya bergetar dan dalam. Seperti keluar dari kejauhan.

”Kau perempuan keras kepala.”

”Kau pemain yang buruk di atas ranjang.”

”Terserah!! Akan kutunggu sampai kau meralat ucapan itu.” Si sopir meradang. Ia berdiri. Menatap si perempuan dengan mata nyalang. ”Tiga atau empat hari lagi aku akan singgah di sini. Menghabiskan semua uang untuk bisa mendapatkanmu.”

”Gajimu tak akan cukup kecuali kau rampok semua uang bosmu dan menggadaikan truk tua itu.”

Sopir itu mendekat, si perempuan mundur sesaat, si sopir terus merapat. ”Aku sungguh-sungguh menginginkan dirimu. Berapa kali sudah kubilang, menikahlah denganku, menikahlah denganku…” Lalu dirogohnya kantong. Sebelum keluar dilemparkan beberapa lembar uang ke atas ranjang.

Si perempuan berbalik, ditutupnya kembali jendela, nyaris tanpa suara. Di sebelah terlalu bising. Tetapi di luar lengang. Dia kembali ke ranjang.

”Kalau kau belum puas datang lagi kapan-kapan.”

”Tak perlu kau suruh, aku tahu kapan aku membutuhkanmu. Itu pun kalau kau masih butuh uangku.”

”Asalkan kau selalu membayar dengan penuh.”

Sopir berbalik dan menatapnya lebih garang

”Kau tak punya alasan untuk menolakku, tak pula cukup kuat untuk terus berada di tempat terkutuk ini, bukan?”

Pintu dibanting dari luar.

Hening! Perempuan terpekur sejenak. Laki-laki aneh yang hanya mau dilayani olehnya. ”Aku mencintaimu,” bisik si sopir selalu. Ah, betapa main-main saja rasanya. Seperti remaja belasan tahun, si perempuan berpikir nakal.

Demikian berbulan-bulan. Setiap datang, laki-laki itu terus mengigau soal pernikahan. Siapa yang percaya dia belum pernah menikah? Kalaupun iya apa bedanya?

Ia tahu, lelaki itu bersungguh-sungguh. Tapi apa jaminan atas kesungguhan? Laki-laki itu kini menyukainya karena ia punya harga. Jika nanti menikah, masihkah ia akan memujanya dan tidak berhenti di pangkalan lain dan meniduri perempuan lain? Siapa yang menjamin itu semua? Bukankah sedari awal laki-laki itu suka jajan dan bahkan mereka bertemu pun sebagai penjual dan pelanggan.

Betapa sulit untuk memercayai.

Dijatuhkan tubuhnya di ranjang. Masih telanjang ia terlentang.

Di luar udara panas, tapi ada sungai yang mengalir dari kamar cekung itu yang berhulu di matanya. Mencari muara jauh…! (*)

—

INDRIAN KOTO : Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Aktif di Rumahlebah Jogjakarta dan Rumah Poetika. Mengelola toko buku kecil dan penerbit kecil, #KedaiJBS dan Penerbit JBS.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 9 Januari 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme