Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Odong-Odong oleh Seno Gumira Ajidarma

Posted on Ming, 14 Nov 2021

Ratri tidak pernah mengira betapa semuanya akan berakhir di Negeri Kegelapan.

Semua ini dimulai dengan keremangan, ketika odong-odong sudah kosong, dan tinggal dirinya sendiri yang belum diturunkan. Tukang odong-odong itu rupanya mengira semua anak sudah turun dengan pengasuh masing-masing, dan ia bisa segera melarikan odong-odongnya pulang.

Saat ia matikan lagu kanak-kanak dari kotak yang berisik itu, barulah ia tersadar bahwa ia tidak sendirian. Dalam remang, Ratri yang kecil memang tidak langsung kelihatan.

”Ah! Nèng! Kok belum turun?”

”Pan belum nyampé…”

”Belum nyampé? Emang mesti turun di mana?”

”Depan rumah …”

”Iya, rumahnya di mana?”

”Tau’.”

Maka tahulah tukang odong-odong itu bahwa ia bisa mendapat masalah, dan karenanya ia segera memutar balik odong-odong yang terbuat dari sambungan sepeda motor dan bak mobil itu, melarikannya di sepanjang jalan yang telah dilalui.

”Di sini rumahnya?”

”Bukan.”

”Dari sini naiknya?”

”Bukan.”

”Dari mana dong?”

”Tau’.”

Pusinglah tukang odong-odong itu, ketika semakin malam jalanan itu semakin membingungkannya. Lampu kendaraan dan lampu toko-toko berkelap-kelip mengalihkan pengamatan, suara sepeda motor yang saringannya dicopot, toa masjid yang terdengar meminta sumbangan berbaur dengan toa obral baju di pasar kaget. Ini masih jalan yang sama tentunya, tetapi mengapa tiada lagi yang dikenalinya?

Ditengoknya anak perempuan itu, hanya melamun saja, seperti bukan masalah bahwa hari sudah gelap, dan ia belum sampai ke rumah.

”Ratri!”

Terdengar teriakan dari tepi jalan, dan di kaki lima yang sudah selalu simpang siur itu tampak sejumlah orang mondar-mandir dengan gelisah.

Tukang odong-odong itu tidak tahu jika anak ini bernama Ratri. Ia mendengar teriakan itu, tetapi ada banyak juga teriakan lain. Siapalah kiranya yang akan tahu pasti bahwa teriakan yang satu itu adalah teriakan kegelisahan, berbalut kemarahan yang mendadak meluap, karena odong-odong itu tidak berhenti?

”Kejar!”

Suara kaki-kaki bersandal jepit berlarian menyela suara mesin bajaj, lagu qasidah dari toko busana muslim, dan lagi-lagi raungan knalpot sepeda motor tanpa saringan. Dalam kemacetan di perempatan, odong-odong itu terkejar dan dua-tiga orang melompat masuk, ketika pengemudinya masih sempat bertanya, ”Sebelah mana Nèng?”

Setelah itu terjadi kekacauan yang membuat kemacetan semakin parah, karena setelah pengemudi itu ditarik ke belakang, oleh tangan yang mencekal leher bajunya, odong-odong itu melaju ke tengah arus yang sedang saling bersilang. Sejumlah kendaraan tertabrak dan saling berbenturan. Sejumlah yang lain berbelok menepi tetapi tetap tak bisa pergi, ketika hal yang sama terjadi dari arah berlawanan.

Deretan panjang dari segala arah membunyikan klakson bersamaan, suaranya membubung ke langit, bagaikan doa salah alamat yang tidak akan pernah dikabulkan. Pusat kekacauan terdapat di tengah perempatan itu, seperti pusaran air bergejolak yang tidak pergi ke mana pun.

”Mau menculik ya? Bangsat!”

Saat seorang banpol muda tiba di perempatan itu, kemacetan belum juga terurai, tetapi tukang odong-odong itu terkapar di jalanan dengan wajah tanpa bentuk. Bapak tua penjaga kios rokok yang berusaha menolongnya, kesulitan menyeberangi jalan menuju ke kaki lima. Seragam banpol yang terus-menerus meniup peluit itu sedikit membantu penertiban. Namun setelah kemacetan teratasi, banpol itu merasa harus kembali kepada tugas sesuai peraturan.

”Ini kendaraan tidak jelas jenisnya, tidak ada nomor polisinya, kok berani berkeliaran sambil mengutip uang? Apa ada izinnya? Mana surat-suratnya?”

Tukang odong-odong yang pingsan itu tentu tidak mendengar, dan bapak tua penolongnya mendongak dengan mulut ternganga.

Odong-odong itu sendiri tidak terlalu rusak. Teronggok miring di atas selokan.

***

Dengan perasaan berbunga-bunga Ratri menaiki odong-odong pada suatu senja. Lagu-lagunya sungguh meriah, liriknya berkisah tentang kehidupan di dunia yang penuh dengan kebahagiaan bertamasya maupun kebahagiaan memiliki ayah ibu adik kakak. Odong-odong bagaikan datang dari surga, membagi-bagikan kebahagiaan sepanjang jalan bagi anak-anak yang kurang mengenal kebahagiaan itu, sehingga dengan mudah mendapatkan kebahagiaan maya melihat gambar-gambar di sisi odong-odong.

Gambar-gambar badut, makhluk mengenaskan itu, dan lagu-lagu riang. Amboi! Alangkah senangnya!

Ratri merasa dirinya melayang terbang. Bukankah lagu-lagunya berkisah dengan ceria tentang pelangi yang melengkung dari ujung ke ujung, mega jingga, langit ungu, bintang-gemintang, dan serba gemerlapnya semesta alam? Semua itu juga tergambar pada kedua sisi odong-odong, kendaraan yang seolah-olah akan membawa anak-anak ke surga, bersama badut-badut yang akan selalu membuat mereka tertawa.

Anak-anak dalam gendongan pengasuhnya, dibuntal kain yang mengikat ketat, kepalanya terbenam begitu dalam, apakah yang bisa dilihatnya selain ketiak dan atap odong-odong? Namun Ratri sudah tidak melihat anak-anak dengan mata kosong itu, entah kapan dan entah di mana mereka turun. Tinggal dirinya kini tinggi di awan, bebas dari kampung kumuh, rumah sumpek, celoteh nyinyir, senyum palsu, bau apak maupun wewangian tiruan yang mengecoh sebentar sebelum memudar.

Ratri menengok ke bawah, bahkan sepasang ondel-ondel yang bergerak-gerak itu pun tampak begitu kecil sekarang. Hatinya terasa ringan karena keriangan yang terasa meyakinkan seperti dirinya benar-benar berbahagia.

Ia sempat melihat kampungnya. Melihat ibunya berjalan keluar

dari balik pintu tripleks menuju ke ujung gang, tempat banyak orang menunjuk-nunjuk ke atas. Ke arahnya!

Apakah ibunya itu sedang mencari dirinya dan akan menyuruhnya pulang?

”Jangan pernah naik odong-odong lagi ya Ratri! Awas kamu! Apakah kamu mau jadi anak tukang odong-odong ?! Coba kalau waktu itu tidak ada yang lihat, tidak tahu sudah ada di mana kamu sekarang!”

Mesti ada di manakah dirinya? Ratri merasa dirinya berada di tempat yang paling diinginkannya, duduk di bangku dengan dagu berbantalkan punggung tangan di sisi odong-odong, menyaksikan lapisan-lapisan langit yang ditembus tanpa suara, selain gema lagu kanak-kanak yang kini membahana dalam pengertian sesungguhnya.

”Turun di mana Nèng?”

Didengarnya tukang odong-odong itu bertanya dengan suara terpendam. Ratri menoleh. Perban membalut seluruh kepala tukang odong-odong itu, dengan lubang hanya pada mata dan hidungnya.

***

Ratri memang tidak pernah mengira betapa semuanya akan berakhir di Negeri Kegelapan, meski bagi anak itu tidak penting benar ia berada di mana, asal selalu berada di dalam odong-odong, menembus dunia-dunia yang tidak pernah dikenalnya.

Juga tidak penting benar baginya, ketika nun jauh di Bumi seorang perempuan berkutang yang lepas kancing atasnya, berlari sambil menjinjing kain dan berteriak ke langit.

”Ratriiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!”

Poliklinik Madya RSCM—Pondok Ranji,

September/Oktober 2021.

Seno Gumira Ajidarma dilahirkan tahun 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977, kini tergabung dengan panajournal.com. Menulis fiksi maupun nonfiksi, dalam media massa maupun jurnal ilmiah; mendapat sejumlah penghargaan sastra, mengajar di berbagai perguruan tinggi. Buku yang belakangan terbit: Ngobrolin Komik (catatan tentang komik dalam 25 tahun terakhir), komik Macan (bersama Thomdean), komik Percakapan di Ruang Tunggu (bersama Sheila Rooswitha Putri), komik Layang-Layang (bersama Gerdi WK), dan roman Para Pelacur dalam Perahu. Masih menyambung cerita silat Nagabumi.

Danuh Tyas, lahir di Bandung, 11 Maret 1987. Selepas SMA, melanjutkan studi sarjana selama sekitar empat tahun (2005-2009) di studio seni lukis Seni Rupa ITB. Kemudian memutuskan melanjutkan studi magister dalam bidang teori dan sejarah seni di Seni Rupa ITB dan selesai dalam dua tahun (2012-2014).

sumber : kompas.id, 14 Nov 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme