Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pemburu Babi oleh Arianto Adipurwanto

Posted on Kam, 18 Nov 2021

Kecepeh tengah duduk bersama suaminya di berugak ketika tiba-tiba mendengar suara nyanyian dari arah hutan. Berulang-ulang.

Ia menelengkan kepala, persis seperti yang dilakukan induk ayam tatkala mendengar lengking elang. Kecuntil, suaminya, duduk saja, bersila, menggaruk-garuk betis. Seekor lalat berusaha hinggap di lukanya yang masih basah.

”Suara siapa itu?” tanya Kecepeh.

Tangan Kecuntil yang menggaruk-garuk berhenti. Ia menelengkan kepala juga seperti ayam jantan. Namun ia tidak mendengar apa pun. Hanya gemuruh Sungai Keditan.

”Suara apa?” tanyanya, penasaran.

”Anak-anak nyanyi.”

Kecepeh mendengarkan lagi dengan lebih baik. Terdengar suara bocah, tepatnya dua orang bocah sahut-sahutan. Lama-lama semakin riuh; seperti ada puluhan bocah yang tengah bernyanyi dengan riang dan tengah berjalan mendekati rumahnya.

Mendengar Kecepeh terus bertanya dan menjadi semakin gelisah, Kecuntil meloncat turun, hampir saja terjatuh, dan berjalan mengelilingi rumahnya. Ia berhenti di belakang rumahnya, tempat ia bisa melayangkan pandangan ke kebun kopi dan bukit di kejauhan, mencari sesuatu yang barangkali saja menjawab kegelisahan Kecepeh. Namun yang terlihat olehnya hanya daun-daun kopi mengilap; terhampar sampai ke sungai, dan pohon dadap besar menjulang. Sungai Keditan tidak terlihat dari tempatnya berdiri, tetapi ia mendengar gemuruhnya semakin keras. Ia hendak kembali ke berugak ketika terdengar teriakan, membuatnya terkejut. Setelah teriakan kesekian, ia tahu siapa pemilik suara itu. Seorang warga yang tinggal di seberang sungai tengah memanggil suaminya segera pulang.

Angin dingin berhembus dan ia cepat kembali ke berugak.

”Tidak ada apa-apa,” ujarnya menjelaskan.

Kecepeh memandang suaminya dengan penuh heran, kemudian kembali menelengkan kepala. ”Semakin jelas sekarang. Ratusan anak-anak kayaknya.”

”Saya ndak dengar apa-apa.”

”Benar?”

”Ndak dengar apa-apa.”

Kecepeh merasa bulu kuduknya berdiri, tubuhnya membesar, menjulang tinggi, mencapai atap-atap rumah. Wajahnya mendadak tampak letih seperti baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sangat berat; seperti telah bertambah tua beberapa tahun.

”Ada apa?” tanya Kecuntil.

”Suara itu makin keras.”

”Saya ndak dengar apa-apa.”

”Benar-benar mau ganggu saya ini,” ujar Kecepeh dengan yakin.

”Kenapa bukan saya aja diganggu?”

”Mungkin karena saya yang ajak epe buka lahan ini.”

Waktu itu sore menjelang malam. Sandikala. Hujan baru saja selesai. Daun-daun dadap basah berserakan di halaman. Induk-induk ayam menuntun anak-anak mereka menuju tempat tidur; ceruk dalam di tebing kecil beberapa meter saja di sebelah barat berugak. Langit diselimuti mendung pekat. Angin dingin berhembus. Hujan sepertinya akan turun lagi, lebih lebat.

”Penunggu hutan itu, mereka berburu mungkin,” kata Kecuntil dengan maksud menenangkan.

Kecepeh tidak bisa tenang. Beberapa kali ia menjulurkan kepala melihat sekeliling. Tulang-tulangnya terasa ngilu, seolah angin telah mengirimkan penyakit ke tubuhnya. Dadanya seperti disumbat dan ia kesusahan bernapas. Takut nasib buruk akan menyergapnya, ia cepat turun dari berugak. Kakinya yang telanjang menginjak daun dadap. Ia berjalan ke dalam rumah dan sebentar kemudian keluar lagi dengan wajah yang semakin pucat.

Kecuntil memandang Kecepeh dengan penuh rasa ingin tahu dan lama-lama rasa cemas menghampirinya. Kecepeh berjalan ke tengah-tengah halaman, berdiri saja, menelengkan kepala, berusaha mendengar dari mana suara itu berasal. Tidak berhasil. Ketika ia yakin suara itu berasal dari arah hutan, dengan sangat cepat suara-suara riuh terdengar dari arah kebun ilalang di utara rumahnya. Ketika ia merasa telah melihat bayangan berkelebat di dekat jebak rumahnya, suara-suara itu terdengar dari arah puncak bukit, persis di tempat makam keramat berada. Ia cepat menoleh, tetapi yang tampak hanya ilalang dan semak-belukar.

Hanya sekejap Kecepeh merasa seperti dikepung. Ia yakin sekali seluruh tanah di sekitar rumahnya telah dipenuhi bocah-bocah yang bukan hanya bernyanyi, tetapi menari dan kaki-kaki mereka menebah tanah. Ia seperti mendengar suara-suara desah napas, suara batu-batu apung remuk, dan semak-belukar patah.

Kecuntil juga turun dari berugak, sekali lagi. Telanjang kaki. Menginjak daun-daun dadap. Pelan-pelan gelap menyelimuti. Dari bukit di timur kampung terdengar lengking burung hantu; lebih cepat dibanding malam-malam biasanya. Deru Sungai Keditan terus terdengar, diselingi suara-suara keras seperti sebongkah batu besar berbenturan dan pecah.

Kilat tiba-tiba menyambar, membuat segala sesuatu seperti menyala. Petir keras menyusul, menggeletar.

”Mau hujan. Kita masuk,” bujuk Kecuntil.

Kecepeh hanya diam. Berdiri di halaman. Membiarkan rasa dingin menjalari kedua kakinya.

”Mau hujan,” ulang Kecuntil.

”Masuk duluan.”

Kecuntil masuk dan keluar membawa lampu teplok dari bekas botol minuman, menggantungkannya di salah satu usuk berugak. Angin membuat api di ujung sumbu bergoyang-goyang.

Sepanjang ia berdiri itu Kecepeh terus merapalkan mantra. Ia ingin berusaha mengusir jauh suara-suara itu dari kepalanya. Mungkin karena merasa telah ditantang oleh mantranya yang terus diulang-ulang, suara itu terdengar semakin riuh. Terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat dekat dengannya.

Kecuntil masuk dan keluar membawa lampu teplok dari bekas botol minuman, menggantungkannya di salah satu usuk berugak. Angin membuat api di ujung sumbu bergoyang-goyang.

Kecepeh tidak tahan dan lengking panjang keluar dari mulutnya. Mengagetkan suaminya yang tengah duduk dan memandang nyala lampu yang mengecil-membesar seperti berusaha melepaskan diri dari ujung sumbu. Kilat menyambar dan petir keras menggelegar begitu ia menuntaskan lengking kerasnya. Itu cukup membuat ia yakin bahwa ada yang tengah menguji dirinya. Terburu-buru ia berlari ke dalam rumah dan keluar dalam keadaan tidak memakai baju. Selembar kain saja yang melekat di pinggangnya, menutup sampai pangkal paha.

”Ayo ke sini lawan saya!” teriaknya.

Kecuntil melihat sekeliling, tetapi hanya ada suara menggerisik di belakang rumah mereka. Ia cepat melihat ke tempat itu, tetapi tidak dapat melihat apa-apa. Burung hantu di kejauhan terdengar sebentar saja kemudian berhenti.

”Ayo ke sini lawan saya!” teriak Kecepeh lagi. Ia berdiri di halaman, kedua susunya yang telah kisut menggantung di dadanya. Kedua lengan kurusnya meliuk-liuk di udara seperti tengah melakukan tarian. Pelan-pelan gerakan tangannya bertambah keras. Mantra terus terapal dari mulutnya.

Suara itu terdengar semakin riuh di dalam kepalanya. Dan ia tidak bertanya apa-apa kepada suaminya, ia tahu suara itu hanya terdengar olehnya. Ia tahu ada yang tengah berusaha mengganggu dirinya. Karena itu, ia harus menghadapinya seorang diri.

”Ayo lawan saya!” teriaknya. Kilat dan petir menyambutnya. Ia mendongak ke langit, dan hujan begitu saja turun. Lebat. Sangat lebat. Kecuntil duduk di berugak, bersandar di tiang, bersila, dan memejamkan mata. Tadinya ia masih ragu pada apa yang terjadi, tetapi semakin lama ia semakin yakin Kecepeh tengah diganggu.

Kecepeh juga mulai memejamkan mata dan menari-nari di halaman. Kedua tangannya terus meliuk-liuk kemudian mencakar-cakar udara. Sepasang susunya menggelantung dan bergerak-gerak. Pelan-pelan kainnya terlepas dan ia bertelanjang bulat sambil menari dengan menghentak-hentak. Teriakan-teriakan keluar dari mulutnya. Bukan teriakan menantang, tetapi rapalan mantra yang membuat ayam-ayam yang tengah tertidur mengeluarkan suara penuh ketakutan. Di berugak, Kecuntil beberapa kali menarik napas berat.

Apa yang Kecepeh lihat kemudian menjadi hal terakhir yang ia ingat saat meninggalkan dunia menuju kehidupan selanjutnya bertahun-tahun kemudian. Persis di tengah halaman, berdiri dua orang bocah. Seekor babi hutan besar, terikat di tengah-tengah bambu yang mereka pikul. Keduanya bertelanjang bulat. Mereka bernyanyi dengan riang sahut-sahutan. Setelah berhenti sebentar, mereka berjalan lagi, memutari rumah. Meskipun hanya berdua, tetapi suara mereka begitu riuh seolah ribuan manusia ikut pula bersuara. Pada putaran ketiga, Kecepeh melihat bukan babi lagi yang terikat di tengah pikulan, melainkan dirinya sendiri yang telah telanjang bulat. Dirinya yang terikat itu tampak kesakitan dan melambai-lambaikan tangan, seperti meminta diselamatkan.*

Oktober 2018

***

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk lima besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Nusa Tenggara Barat.

sumber : kompas.id, 18 Nov 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme