Setelah sekian lama, akhirnya hari ini datang juga. Hari di mana aku akhirnya bisa mewujudkan cita-citaku. Peresmian galeri wayang kulit milikku ini akan menjadi titik balik dari karierku sebagai seorang seniman perajin wayang kulit. Akan aku tunjukan kepada semua orang bahwa tidak selalu seni tradisional itu membosankan dan tidak menarik. Begitu pikirku awalnya, tapi entah mengapa sejak pemotongan pita, justru aku merasa ada yang kurang, tapi entah apa. Kupandangi pajangan wayang kulit di depanku. Ini adalah wayang kulit pertama yang diberikan Bapak kepadaku, hasil karya tangannya sendiri. Rama, seperti namaku.
Bapak adalah seorang dalang. Sebagai seorang dalang, karier Bapak tidak begitu bagus. Walau demikian, menurutku, Bapak adalah dalang yang sangat hebat. Aku selalu ikut dalam setiap acara Bapak mendalang, selalu ada perasaan yang berbeda setiap aku melihat Bapak mendalang dibandingkan dengan dalang lainnya. Seakan-akan wayang yang Bapak mainkan memiliki ikatan yang kuat dengan Bapak.
”Wayang itu bukan cuma sekedar seni, tapi jiwa,” itu yang selalu Bapak katakan setiap beliau mengajariku mendalang. Mungkin itu juga alasan mengapa Bapak selalu membuat wayangnya sendiri.
Saat aku masih mematung memandangi wayang Rama dengan segala kenangan tentang Bapak, aku mendengar suara memanggilku.
”Mas Rama,” panggil seorang perempuan yang sudah berdiri di dekatku sejak beberapa detik yang lalu.
”Iya? Maaf, siapa ya?” kataku.
”Perkenalkan, aku Shinta. Penulis,”
Kulihat lagi perempuan di sebelahku ini, cantik sekali. Wajahnya yang manis, kulitnya yang kuning langsat sungguh indah, serta bahasa tubuhnya yang anggun, persis seperti Shinta dalam kisah pewayangan.
”Waah,” tanpa sadar kekagumanku terucap.
”Ada apa, Mas?”
”Ah enggak, kaget aja. Namaku Rama dan kamu Shinta. Sepertinya ini takdir,” ucapku canggung berusaha mengalihkan perhatian.
Kemudian hari itu kami menghabiskan waktu bersama. Aku mengajaknya berkeliling melihat koleksi-koleksi di galeriku. Menyenangkan sekali berbincang dengannya. Dia juga orang yang pintar dan berpengetahuan luas. Dia bercerita soal segala hal, termasuk dia yang sebenarnya juga mengagumi tokoh Shinta dalam pewayangan dan dia ingin menjadi sepertinya. Katanya, Shinta adalah wujud dari kesetiaan dan kesabaran walau akhirnya dia harus dikecewakan Rama yang tidak memercayainya lagi.
”Aku ga akan bikin kamu kecewa, kok,” lagi-lagi aku tanpa sadar mengucapkan isi hatiku. Dia terdiam sesaat dan kemudian tertawa kecil.
”Iya Mas, aku percaya.” Malu sekali aku rasanya.
Sejak saat itu kami jadi sering bersama. Aku sering menemaninya menulis buku, entah itu di kedai kopi kesukaannya atau di mana saja ketika dia tiba-tiba berkata, ”Bentar Mas, sepertinya aku dapat inspirasi.”
Dia juga sesekali membantuku mengecek koleksi-koleksiku di galeri dan menemaniku ketika aku tampil sebagai dalang di beberapa acara. Ya, dalang juga salah satu pekerjaanku selain kolektor dan perajin wayang kulit. Meneruskan cita- cita Bapak.
Shinta selalu ada untukku. Dia juga selalu setia memberi dukungan ketika aku merasa ada yang salah padaku. Aku selalu kagum dengan pengetahuannya yang selalu tahu akan banyak hal, terutama soal wayang, dan juga selalu tahu apa yang aku butuhkan. Benar-benar seperti Shinta dalam kisah pewayangan. Aku jatuh hati. Sayangnya, nyaliku tidak sebesar Rama untuk mengutarakan perasaanku.
Suatu hari aku mendapat udangan sebagai tamu istimewa di sebuah Keraton. Aku diundang untuk mendalang di depan Raja dan orang-orang penting Keraton. Ini yang sejak dulu diimpikan Bapak, tapi belum sempat terwujud. Tanpa pikir panjang lagi, kusanggupi undangan mereka. Sekaranglah saatnya semua orang tahu akan kemagisan dari wayang.
Acara masih dua bulan lagi. Aku mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan berlatih setiap hari. Aku ingin menampilkan penampilanku yang terbaik hari itu. Tapi seberapa sering pun aku berlatih, aku selalu merasa ada yang kurang. Aku merasa permainan wayang kulitku belum bisa seperti Bapak, aku merasa tidak memiliki ikatan yang kuat dengan wayangku. Tidak berjiwa.
Waktu sudah semakin sempit, acara akan dilangsungkan bulan depan. Permainan wayang kulitku tidak ada perkembangan, masih belum berjiwa. Hal tersebut membuatku semakin tertekan. Untungnya aku masih punya Shinta yang mendukungku, katanya dia akan selalu siap membantu jika dibutuhkan.
”Kalau menurutku, kamu harus ubah pola pikirmu itu, Mas,” kata Shinta menasihati.
”Kamu selalu beranggapan bahwa wayang hanyalah sebuah alat yang kamu mainkan. Ingat kata bapakmu, wayang lebih dari itu. Harus ada ikatan dan berjiwa.”
Aku terdiam. Perkataan Shinta mengingatkanku pada nasihat Bapak dan juga alasan mengapa Bapak selalu membuat wayangnya sendiri. Shinta benar-benar hebat, pemikirannya sangat membantuku.
***
Inilah hari yang kutunggu, satu jam lagi aku siap memukau semua penonton dengan permainan wayang kulitku. Kulihat sebuah kursi yang kupesan kepada penyelenggara di posisi terbaik masih kosong. Ya, kursi itu kupesan untuk Shinta. Aku tahu sebenarnya dia tidak akan duduk dan melihatku dari sana. Sejak pertemuan terakhir kali yang ditutup dengan senyumnya itu, kami tidak pernah berbicara lagi. Semoga aku tidak mengecewakannya seperti Rama.
Kini aku sudah duduk di belakang kelir, layar yang digunakan dalam pentas wayang kulit. Sayang sekali, Shinta tidak bisa melihat pertunjukanku kali ini dari kursi spesial yang sudah aku pesan, walau begitu aku tidak akan mengecewakannya. Hari ini aku akan memainkan kisah Rama dan Shinta. Sengaja aku memainkan kisah ini sebagai tanda terima kasih untuk Shinta dan semoga dia juga berterima kasih kepadaku karena mewujudkan keinginannya untuk menjadi Shinta.
Aku membuka kotak besar di hadapanku yang berisi wayang kulit buatanku yang baru jadi beberapa minggu lalu itu. Aku menatap wayang kulit itu dalam-dalam. Aku yakin, permainan wayang kulitku kali ini akan menjadi yang terbaik. Penuh ikatan dan lebih berjiwa. Kemudian aku mengeluarkan wayang kulit itu dari kotaknya dan kuangkat dengan kedua tanganku. Lampu kuning menyorot wayang yang kuangkat itu, membuat wayang itu terlihat bersinar dan menawan. Lagi-lagi, tanpa sadar isi hatiku terucap, ”Kulitmu memang benar-benar indah Shinta.”
***
Nando Gloria, seorang penulis pemula. Bercita-cita dapat menerbitkan karya tulis sendiri suatu saat nanti.
sumber : kompas.id, 11 Des 2021.