Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wayang Kulit oleh Nando Gloria

Posted on Sab, 11 Des 2021

Setelah sekian lama, akhirnya hari ini datang juga. Hari di mana aku akhirnya bisa mewujudkan cita-citaku. Peresmian galeri wayang kulit milikku ini akan menjadi titik balik dari karierku sebagai seorang seniman perajin wayang kulit. Akan aku tunjukan kepada semua orang bahwa tidak selalu seni tradisional itu membosankan dan tidak menarik. Begitu pikirku awalnya, tapi entah mengapa sejak pemotongan pita, justru aku merasa ada yang kurang, tapi entah apa. Kupandangi pajangan wayang kulit di depanku. Ini adalah wayang kulit pertama yang diberikan Bapak kepadaku, hasil karya tangannya sendiri. Rama, seperti namaku.

Bapak adalah seorang dalang. Sebagai seorang dalang, karier Bapak tidak begitu bagus. Walau demikian, menurutku, Bapak adalah dalang yang sangat hebat. Aku selalu ikut dalam setiap acara Bapak mendalang, selalu ada perasaan yang berbeda setiap aku melihat Bapak mendalang dibandingkan dengan dalang lainnya. Seakan-akan wayang yang Bapak mainkan memiliki ikatan yang kuat dengan Bapak.

”Wayang itu bukan cuma sekedar seni, tapi jiwa,” itu yang selalu Bapak katakan setiap beliau mengajariku mendalang. Mungkin itu juga alasan mengapa Bapak selalu membuat wayangnya sendiri.

Saat aku masih mematung memandangi wayang Rama dengan segala kenangan tentang Bapak, aku mendengar suara memanggilku.

”Mas Rama,” panggil seorang perempuan yang sudah berdiri di dekatku sejak beberapa detik yang lalu.

”Iya? Maaf, siapa ya?” kataku.

”Perkenalkan, aku Shinta. Penulis,”

Kulihat lagi perempuan di sebelahku ini, cantik sekali. Wajahnya yang manis, kulitnya yang kuning langsat sungguh indah, serta bahasa tubuhnya yang anggun, persis seperti Shinta dalam kisah pewayangan.

”Waah,” tanpa sadar kekagumanku terucap.

”Ada apa, Mas?”

”Ah enggak, kaget aja. Namaku Rama dan kamu Shinta. Sepertinya ini takdir,” ucapku canggung berusaha mengalihkan perhatian.

Kemudian hari itu kami menghabiskan waktu bersama. Aku mengajaknya berkeliling melihat koleksi-koleksi di galeriku. Menyenangkan sekali berbincang dengannya. Dia juga orang yang pintar dan berpengetahuan luas. Dia bercerita soal segala hal, termasuk dia yang sebenarnya juga mengagumi tokoh Shinta dalam pewayangan dan dia ingin menjadi sepertinya. Katanya, Shinta adalah wujud dari kesetiaan dan kesabaran walau akhirnya dia harus dikecewakan Rama yang tidak memercayainya lagi.

”Aku ga akan bikin kamu kecewa, kok,” lagi-lagi aku tanpa sadar mengucapkan isi hatiku. Dia terdiam sesaat dan kemudian tertawa kecil.

”Iya Mas, aku percaya.” Malu sekali aku rasanya.

Sejak saat itu kami jadi sering bersama. Aku sering menemaninya menulis buku, entah itu di kedai kopi kesukaannya atau di mana saja ketika dia tiba-tiba berkata, ”Bentar Mas, sepertinya aku dapat inspirasi.”

Dia juga sesekali membantuku mengecek koleksi-koleksiku di galeri dan menemaniku ketika aku tampil sebagai dalang di beberapa acara. Ya, dalang juga salah satu pekerjaanku selain kolektor dan perajin wayang kulit. Meneruskan cita- cita Bapak.

Shinta selalu ada untukku. Dia juga selalu setia memberi dukungan ketika aku merasa ada yang salah padaku. Aku selalu kagum dengan pengetahuannya yang selalu tahu akan banyak hal, terutama soal wayang, dan juga selalu tahu apa yang aku butuhkan. Benar-benar seperti Shinta dalam kisah pewayangan. Aku jatuh hati. Sayangnya, nyaliku tidak sebesar Rama untuk mengutarakan perasaanku.

Suatu hari aku mendapat udangan sebagai tamu istimewa di sebuah Keraton. Aku diundang untuk mendalang di depan Raja dan orang-orang penting Keraton. Ini yang sejak dulu diimpikan Bapak, tapi belum sempat terwujud. Tanpa pikir panjang lagi, kusanggupi undangan mereka. Sekaranglah saatnya semua orang tahu akan kemagisan dari wayang.

Acara masih dua bulan lagi. Aku mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan berlatih setiap hari. Aku ingin menampilkan penampilanku yang terbaik hari itu. Tapi seberapa sering pun aku berlatih, aku selalu merasa ada yang kurang. Aku merasa permainan wayang kulitku belum bisa seperti Bapak, aku merasa tidak memiliki ikatan yang kuat dengan wayangku. Tidak berjiwa.

Waktu sudah semakin sempit, acara akan dilangsungkan bulan depan. Permainan wayang kulitku tidak ada perkembangan, masih belum berjiwa. Hal tersebut membuatku semakin tertekan. Untungnya aku masih punya Shinta yang mendukungku, katanya dia akan selalu siap membantu jika dibutuhkan.

”Kalau menurutku, kamu harus ubah pola pikirmu itu, Mas,” kata Shinta menasihati.

”Kamu selalu beranggapan bahwa wayang hanyalah sebuah alat yang kamu mainkan. Ingat kata bapakmu, wayang lebih dari itu. Harus ada ikatan dan berjiwa.”

Aku terdiam. Perkataan Shinta mengingatkanku pada nasihat Bapak dan juga alasan mengapa Bapak selalu membuat wayangnya sendiri. Shinta benar-benar hebat, pemikirannya sangat membantuku.

***

Inilah hari yang kutunggu, satu jam lagi aku siap memukau semua penonton dengan permainan wayang kulitku. Kulihat sebuah kursi yang kupesan kepada penyelenggara di posisi terbaik masih kosong. Ya, kursi itu kupesan untuk Shinta. Aku tahu sebenarnya dia tidak akan duduk dan melihatku dari sana. Sejak pertemuan terakhir kali yang ditutup dengan senyumnya itu, kami tidak pernah berbicara lagi. Semoga aku tidak mengecewakannya seperti Rama.

Kini aku sudah duduk di belakang kelir, layar yang digunakan dalam pentas wayang kulit. Sayang sekali, Shinta tidak bisa melihat pertunjukanku kali ini dari kursi spesial yang sudah aku pesan, walau begitu aku tidak akan mengecewakannya. Hari ini aku akan memainkan kisah Rama dan Shinta. Sengaja aku memainkan kisah ini sebagai tanda terima kasih untuk Shinta dan semoga dia juga berterima kasih kepadaku karena mewujudkan keinginannya untuk menjadi Shinta.

Aku membuka kotak besar di hadapanku yang berisi wayang kulit buatanku yang baru jadi beberapa minggu lalu itu. Aku menatap wayang kulit itu dalam-dalam. Aku yakin, permainan wayang kulitku kali ini akan menjadi yang terbaik. Penuh ikatan dan lebih berjiwa. Kemudian aku mengeluarkan wayang kulit itu dari kotaknya dan kuangkat dengan kedua tanganku. Lampu kuning menyorot wayang yang kuangkat itu, membuat wayang itu terlihat bersinar dan menawan. Lagi-lagi, tanpa sadar isi hatiku terucap, ”Kulitmu memang benar-benar indah Shinta.”

***

Nando Gloria, seorang penulis pemula. Bercita-cita dapat menerbitkan karya tulis sendiri suatu saat nanti.

sumber : kompas.id, 11 Des 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme