Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Permen oleh Agus Noor

Posted on Ming, 06 Mei 2007

Melihat mulut Iza yang terus cembetut, Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Anak-anak suka permen, itu biasa. Neal sendiri, sewaktu kanak-kanak, suka sekali permen. Neal tak akan pernah lupa: di ruang tengah, tempat biasanya Papa, Mama, dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi, selalu tersedia sekotak aneka permen. Permen dalam bungkus warna-warni. Seperti bantal-bantal mungil milik peri. Permen toffee, fudge, lollipop, juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati,” kata Mamanya. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis, penuh warna dan menyenangkan seperti permen.”

Ah, permen. Bantal mungil warna-warni milik peri. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. Saat kehidupan ini masih ranum, peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Sepanjang hari yang riang, ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis, hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Dan pada malam hari, saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan, bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Saat peri-peri mungil lelap itulah, seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun, kemudian mengumpulkannya dalam keranjang. Saat terbangun pagi hari, peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal mereka sudah hilang. Mereka sedih, dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang bergelantungan, sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri,” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan lembut saat mereka kulum. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu, di malam hari menjadi bengkak mulutnya.

Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman, “Begitulah, Nak, sebermula permen muncul di dunia manusia. Ia manis dan lembut karena dipakai sebagai bantal para peri. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Sampai ia berumur sembilan tahun, Neal suka meletakkan kotak dari kayu berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Permen-permen dalam kotak itu ia tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. Ia membayangkan, pastilah ada peri yang sedih dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Maka, bila peri itu masuk ke dalam kamarnya, peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu.

Sampai sekarang pun, setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak, ia tak mau repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya menenteng biji-biji permen. Ia ingat, seminggu sebelum ia melahirkan Iza, ia bermimpi puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik.

Tapi, permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang baik. Mestikah ia menjelaskan pada Iza, kalau permen-permen yang dijajakan di perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual,” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. “Lebih enak permen ini, membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar.”

Tapi, wajah Iza terus cemberut. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.

Sekarang ini, hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. Selintasan, permen itu memang mengundang selera. Tetapi, Neal tak suka dengan para pengasong itu, yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. Takut, bila ia tak membeli, mereka akan memecah kaca mobilnya.

Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. Ia sering mendengar bagaimana permen itu dibuat. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. Kesedihan dan kegetiran hidup yang mereka rasakan sehari-hari, mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke dalam panci-panci rongsokan, kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku penderitaan. Mencampurnya dengan gelatin agar kental, memberinya sedikit gula, pewarna dan pengawet. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Para perempuan tua yang kelelahan dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. Sementara bau got mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu, para anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik.

Neal membayangkan, tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji permen ranum yang bergelantungan, tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan; kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang korengan. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang kemudian dijajakan di perempatan jalan.

“Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal, setengah menggerutu, pada Samuel.

“Lho, apa salahnya?”

“Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa, menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya.

“Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotak-kotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi.

“Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi penjahat kapak merah, kan?”

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.”

Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda untuk memetiknya.

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya.

Pras menutup handphone-nya.

“Siapa?” tanya Melly.

“Neal.”

“Kamu mesti jemput istrimu?”

Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…”

“Permen?”

“Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya.

Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu.

“Kok kamu beli?”

“Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….”

Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran.

“Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?”

Pras menganggap Melly bercanda.

“Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…”

“Tahu dari mana?”

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?! Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah.

“Coba, deh…”

Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya.

“Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya.

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas.

Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu. Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan. Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah.

“Sudah tidur Iza?”

Neal mengangguk. Pelan Pras mencium bibir istrinya. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya.

“Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.

“Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa,” jawab Pras sambil memandang mata Neal dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…”

Jakarta, 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme