Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sinai oleh Fransisca Dewi Ria Utari

Posted on Ming, 17 Jun 2007

Sinai melintas di depanku. Ia terlihat menawan hari ini. Tubuhnya beraroma wangi chamomile dan apricot. Rambutnya dikepang dua. Mantel panjang warna coklat tua membungkus tubuh semampainya dari dinginnya malam. Parasnya yang bulat tampak berias. Mata gemintangnya dibingkai warna ungu pucat. Maskara melentikkan bulu matanya yang panjang. Bibir tipisnya berulas warna shocking pink berkilat tersapu lipgloss. Ia sangat siap untuk tampil di depan umum. Oya, ini Jumat malam. Sudah pasti ia akan pergi ke kelab malam. Menggoyangkan tubuh indahnya di tengah desakan manusia yang berpeluh.

Ia memberiku seulas senyum. Aku begitu terpana melihat garis bibirnya yang menukik ke atas menyerupai bulan sabit. Ingin kuberikan balasan senyum setulus hati, namun ia sudah terburu berlalu. Tak menungguku untuk menanggapi salam senyumnya. Dalam sekejap, Sinai sudah membuka pintu gedung apartemen ini dan menembus angin beku di luar sana.

Dari jauh, kulihat ia berhenti sejenak. Mengeluarkan handphone mungil warna merah darah di dalam genggaman tangannya. Ia tampak mengangguk-angguk sejenak. Kemudian ia memasukkan handphone itu ke dalam tasnya. Lantas segera berjalan cepat setengah menunduk. Sesekali ia tampak menaikkan tudung kepala yang menaungi rambut hitam lurus yang jatuh hingga di atas bahu. Ingin kupeluk dan kubentengi tubuhnya dari tiupan angin. Kubayangkan kepalanya berlindung di dadaku. Oh… betapa indahnya.

Namun Sinai tetap berlalu. Ia berjalan menyusuri 7th Avenue, melintasi 16th Street, 17th Street, kemudian menyeberang menyusuri 19th Street, menuju 6th Avenue. Ia langsung berbelok menuju 20th Street begitu tiba di jalan besar 6th Avenue dan terus melangkah memasuki Avalon, diskotek yang mengambil tempat bekas gereja tua berarsitektur gothic yang terletak tepat di sudut jalan 20th Street dan 6th Avenue.

Tampak antrean panjang di pintu masuk. Ia melewati antrean itu dan langsung mendekati seorang penjaga pintu. Sinai tampak sedikit jinjit dan berbisik di telinga penjaga bersosok gempal itu. Wajah lelaki itu tampak tersenyum. Sinai langsung melintas di depannya dan masuk ke bangunan itu.

Di dalam, dentuman lagu hip hop, latin, dan rap berbaur menjadi satu. Wajah-wajah sarat hasrat hidup meliukkan tubuh mengikuti irama. Sebagian besar berpelukan dan saling mencabik bibir dalam ciuman. Sinai tampak tersenyum. Wajahnya berbinar cerah. Ia tampak tak sabar menunggu giliran penitipan mantel. Barulah aku tahu pakaian yang dikenakannya di balik mantel panjang. Rok pendek warna coklat beludru dan atasan tanpa lengan berkerah shanghai warna lavender. Ia mengenakan sepatu boot yang menutupi betis. Legging hitam tampak membalut kakinya.

Sinai bergegas melintasi lorong yang mengantarkannya menuju ruang balkon. Di bawahnya, ia melihat kerumunan orang-orang yang mengentakkan tubuh seiring dengan detak jantung yang menggema mengikuti suara musik. Kaki jenjang Sinai melangkah menuruni tangga. Dalam beberapa detik, ia sudah membaurkan diri dengan lautan manusia di bawah sana. Aku hanya bisa memandanginya dari balkon. Mengeratkan genggaman tanganku ke pinggiran terali. Dari atas, kulihat Sinai tampak mencium seorang lelaki yang menggamit pinggangnya dan segera menariknya ke dalam pelukannya. Gerahamku mengeras.

DJ memutar lagu My Love dari album terbaru Justin Timberlake. Dentuman beat mengantarkan tubuh Sinai meliuk dalam rengkuhan lelaki itu yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tubuh mereka menyatu erat. Mereka bergerak seirama. Kulihat tangan lelaki itu menyusuri perut Sinai dan menyelipkan jemarinya di balik baju lavendernya. Kedua mataku berair melihat Sinai tampak terpejam dan menyunggingkan senyum. Kepalanya mendongak, disandarkan di bahu lelaki itu yang langsung mencium bibir Sinai dari arah belakang. Tubuh mereka terdiam. Yang kini bergerak hanya kedua tangan lelaki itu yang menjelajahi tubuh Sinai.

Tubuhku melorot bersujud di lantai. Kepalaku kusandarkan di jeruji terali. Air di kedua mataku mengalir deras. Membasahi pipi dan memasuki mulutku. Terasa asin. Menyadarkanku kembali untuk membuka mataku yang sedari tadi terpejam. Aku panik saat menyadari Sinai dan lelaki itu tak lagi ada di antara kerumunan orang di bawah sana. Tubuhku bergegas bangkit meski kusadari tak lagi ada tenaga. Namun aku harus mencari Sinai. Menyelamatkannya dari tangan kotor lelaki itu. Kuturuni tangga setengah berlari dan kini kusibak kerumunan orang-orang di lantai dansa yang meloncat-loncat mengangkat tangan mereka seolah ingin menggapai siraman cahaya kerlap-kerlip dari langit di atas sana.

Tak lagi kulihat Sinai di antara mereka. Bergegas kularikan tubuhku memasuki ruangan bar di ujung sana. Kulewati lorong gelap yang dulunya mungkin sebuah koridor menuju tempat perjamuan. Saat itu aku mendengar suara desahan di salah satu sudut yang mengarah menuju bilik kecil bertuliskan restroom. Cahaya remang di dalam ruangan itu tak dapat menyembunyikan sosok tubuh Sinai yang sangat kukenali. Tubuhnya yang kini tampak bergerak dalam desahan panjang yang membuatku mematung. Ia dan lelaki itu telah berdosa.

Aku mengenal Sinai dua tahun silam saat ia memasuki apartemen ini. Tentu saja ia langsung menyita perhatianku. Mungkin karena ia cantik. Tapi banyak penghuni apartemen lainnya yang juga cantik. Bahkan melebihi dirinya. Namun ia berbeda. Sekilas ia terlihat memiliki keraguan akan apa pun yang dilakukannya. Ia sering sekali menggigit bibir bawahnya saat berpikir. Senyum manisnya juga sering diberikannya kepada orang-orang yang kebetulan satu lift dengannya atau berpapasan.

Namun dari semua sikapnya yang menurutku cukup unik bagi orang Manhattan pada umumnya, sisi menarik Sinai adalah namanya. Ia langsung tersenyum melihat ketertegunanku saat ia menyebut namanya.

“Oh, nama itu diambil ayahku dari Injil. Sebuah gunung suci tempat Nabi Musa mendapatkan 10 perintah Allah,” ujarnya pelan setengah berbisik. Seolah ia malu menyebutkan sejarah namanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan dirinya. Agaknya ketenanganku mendorongnya untuk bercerita lebih lanjut tentang dirinya. Di pertemuan kami selanjutnya, Sinai mengisahkan betapa ayahnya teramat sangat fanatik untuk menjadikannya suci. Nama telah menjadi kutukan baginya.

Beberapa kali ia memohon kepada ayahnya untuk mengganti namanya. Namun ayahnya tetap bergeming. Ia malah diberi jam malam yang mengharuskannya untuk berdoa dan membaca Injil setiap jam 6 sore. Pergantian waktu siang ke malam menurut ayahnya menandai dimulainya pencobaan bagi hidup manusia untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kegelapan. Semua itu tak terbantahkan Sinai hingga kematian ayahnya dua tahun silam. Saat itulah Sinai memutuskan pergi ke Manhattan dan memilih malam sebagai hidupnya.

Kini Sinai di depan mataku. Memperlihatkan kegelapan yang menjadi pilihan hidupnya. Melihatnya, aku menjadi teryakinkan akan panggilan hidupku yang sebenarnya. Sesuatu yang kucari selama ini namun tak pernah dapat terdefinisikan hingga aku bertemu Sinai. Gunung suci tempat aku akan menemukan kekudusanku.

Kusiapkan penyambutan yang akan membasuh kesesatannya. Kutaburkan kelopak-kelopak mawar di lantai kamarnya. Kupasang lilin beraroma di setiap sudut ruangan. Dalam gelap, aku menghitung waktu untuk mengantarkannya kepadaku.

Suara kunci diputar. Langkah kaki setengah goyah. Mantel yang tergantung asal di kapstok. Sarung tangan yang terlempar di meja. Tanpa nyala lampu, Sinai mencopot sepatunya. Umpatan kasar menyalak dari bibirnya saat ia menginjakkan kaki telanjang di atas kelopak-kelopak mawar. Ia pasti menginjak duri mawar yang kutebar di antara kelopak. Tubuh berdebam, goyah karena nyeri dan alkohol di kepala.

Kupapah tubuh kurusnya ke sofa. Kujilati telapak kakinya yang berdarah. Kusentuhkan ke pipiku yang dingin. Tubuhnya menggigil. Ketimbang marah, sorot matanya justru terlihat ngeri. Ia terdiam saat kubuka satu per satu baju yang dikenakannya. Aku mengambil handuk dan kucelupkan ke baskom air hangat yang kuletakkan di dekat kakinya. Kubasuh seluruh tubuhnya. Wajahnya yang pias, leher, bahu, kedua payudaranya, perut, paha, hingga kakinya yang tak lagi berdarah.

“Kini kamu sudah bersih, meski tak seluruhnya.” Aku berbisik pelan di telinganya sambil menghirup aroma tubuhnya. Kudesakkan kuat-kuat memasuki rongga hidungku untuk tetap berdiam di setiap relung otakku.

Sambil memandangnya menggigil, aku mengingatkannya kembali akan arti penting dirinya. Bukan bagiku. Tapi untuk dunia. Ini salahku. Seharusnya sejak dulu aku menyadarkannya. Sudah cukup waktu bermain-main bagi Sinai. Kini waktunya Sinai untuk kembali ke jalan yang sudah disiapkan Tuhan untuknya.

“Tentunya kamu ingat Sinai, sejak awal Tuhan telah menyucikanmu. Ada tertulis saat Tuhan berfirman kepada Musa untuk menguduskanmu,” ujarku sambil membuka Injil. Jari-jariku gemetar, tergesa ingin segera menemukan apa yang kucari. Gerakan jemariku terhenti di Kitab Keluaran Bab 19 Ayat 10. Sambil berlutut di sofa, kubisikkan sejumlah ayat dalam kitab yang mengisahkan perjuangan Musa membawa umat Israel keluar dari Mesir.

“Pergilah kepada bangsa itu dan suruhlah mereka menguduskan diri hari ini dan besok, sebab pada hari ketiga Tuhan akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di Gunung Sinai. Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu.” Aku mengakhiri pembacaanku, menutup Injil dengan bunyi berdebam, kemudian mengelus rambut Sinai.

“Kau tahu artinya itu, Sinai? Tidak sembarangan orang bisa menyentuhmu. Untuk itulah ayahmu menamai dirimu. Dalam dirimulah seharusnya bertakhta kekudusan Tuhan.” Sinai menggigil. Ia menggigit bibir bawahnya.

Kuletakkan Injil dengan takzim di meja dekat sofa tempat tubuh Sinai terbaring. Kulintasi ruangan tanpa menghiraukan duri mawar yang juga menusuk telapak kakiku. Aku menuju dapur. Segalanya harus dibersihkan. Sinai harus kembali dikuduskan. Kutarik sebilah pisau yang tertancap di penahan kayu di atas meja dapur. Pisau itu tampak mengkilat di genggamanku. Meski di kegelapan tanpa cahaya di kamar ini.

Sinai tergetar di sofa saat melihatku menghampiri dirinya sambil membawa pisau.

“Tenang Sinai, aku tak akan membunuhmu. Aku hanya akan menguduskanmu. Menyadarkanmu ke dirimu yang dulu. Dirimu yang sebenarnya. Kau terlupa dengan panggilan hidupmu.”

Kulihat Sinai meronta. Tubuhnya berpeluh. Terpaksa aku harus menahan tubuhnya. Kedua kakiku menjepit pinggangnya. Kini aku setengah duduk di atas tubuhnya. Tangan kiriku menahan dadanya yang terus bergerak. Tak ada pilihan lain. Aku harus segera melakukan penyucian ini.

Tangan kananku bergerak cepat, menghunjamkan pisau ke dada kirinya. Kurobek cepat dan di sanalah terletak pencarianku. Kugerakkan pisauku memotong urat-urat tak perlu dan kuambil jantungnya dengan tangan kiriku. Kini sepotong jantung berdenyut di telapak kiriku. Merah kehitaman. Ini jantung Sinai. Juga jantungku. Lubang di dada Sinai menganga. Pun dadaku.

New York, Maret 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme