Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon Mangga Alas Tua oleh S Prasetyo Utomo

Posted on Ming, 29 Jul 2007

Jalan setapak di tepi Alas Tua terus mendaki, licin, rimbun, dan sunyi. Salma menelusuri jalan setapak, sehabis diguyur hujan siang tadi. Ia melintasi tepian Alas Tua, hutan di tepi kota. Kandungannya membesar. Tinggal hitungan hari ia melahirkan. Perjalanan ke makam kedua orangtuanya kali ini didorong keinginan yang aneh tiap jengkal tanah. Dinikmatinya debur dada penuh harap. Ia ingin melahirkan anak lelaki yang tampan, yang memiliki rekah senyum menawan. Ia terus melangkah di antara jalan setapak, di bawah pohon-pohon mangga yang merimbun, dengan kuncup-kuncup daunnya yang hijau muda kemerahan.

Perempuan bunting itu tak mengenal rasa takut, malah memancarkan daya pikat yang kuat, pada senja berkabut. Senja melarutkan kesenyapan jadi detak harapan bagi perempuan bunting itu. Senyap senja menelannya jadi perempuan terselubung bayang-bayang pengharapannya sendiri. Ia takjub terhadap bayi yang diangankan lahir sebagai lelaki tampan.

Seorang lelaki muda, betapa tenang, memandangi Salma. Lelaki muda itu duduk di sebuah batu besar, di bawah pohon mangga. Di tangannya tergenggam buah mangga yang ranum jingga.

“Boleh kuminta buah mangga itu?” pinta Salma. Tergiur.

“Ini satu-satunya buah mangga yang berbuah di hutan ini. Kalau kau minta, aku tak punya lagi.”

“Demi bayi yang kukandung, berikan buah mangga itu.”

“Kalau kau makan buah mangga ini dan bayimu lahir lelaki, pasti tampan dan memikat!”

“O, aku suka anak lelaki yang tampan dan memikat.”

“Tapi kau tak kan bisa melupakanku.”

Termangu, lama terdiam, Salma menerima buah mangga itu dan bergegas memasukkannya dalam tas. Ia buru-buru meninggalkan lelaki muda yang tak pernah dikenalnya. Saat ia menoleh, lelaki muda itu sudah raib. Ia tak lagi bisa lupa wajah lelaki muda yang menjulurkan buah mangga padanya. Hari keburu berkabut, dan ia harus segera mencapai makam orangtuanya sebelum gelap. Ia mesti menabur bunga di makam ayah ibunya. Di kuburan itu peziarah sesekali datang dan pergi, dan lenyap dalam pekat pohon-pohon kamboja.

Sungguh aneh, bagi Salim, saat memandangi Salma, istrinya, yang memancarkan cahaya pada wajahnya. Ia tak berani menatap wajah bercahaya itu terlalu lama. Sebelumnya, ia selalu memandangi wajah itu dengan teduh. Wajah Salma memang selalu tampak bening. Menyejukkan, tapi kini tampak serupa bintang yang memancar dari langit tanpa tepi, jauh, tak terjangkau. Ada keangkuhan yang menyelubungi wajah perempuan itu. Tiap kali memandangi wajah istrinya, ia merasa teraniaya. Ia bukan lagi menjadi bagian dari kecemerlangan cahaya wajah Salma. Cahaya wajah itu mengasingkannya. Cahaya wajah yang membenamkannya dalam lumpur. Aneh. Sepulang Salma dari makam orangtuanya, dan makan buah mangga pemberian lelaki di Alas Tua, selalu saja ia memancarkan cahaya wajah secerah matahari rekah.

“Dari mana kau dapat buah mangga itu, Salma? Ini belum musim,” tegur Salim.

“Seseorang telah memberiku. Kalau anak kita lahir lelaki, dan ganteng, katanya.”

“Bagaimana mungkin?”

“Wajahnya akan selalu bercahaya.”

Salim tak bisa memahami perilaku istrinya yang senantiasa memandangi cermin, mengusapi wajahnya, dan seakan wajah itu kian bercahaya setiap pagi. Wajah yang memancarkan harapan. Salim cemburu dengan harapan yang memancar dari wajah istrinya. Tapi kenapa ia makin merasa asing dengan perempuan bunting itu? Ia merasa telah terhalang tabir yang menjauhkannya dari perempuan itu. Salma kian cantik, kian rekah senyum terpendam dalam bibirnya. Keringat yang mengucur dari pori-pori perempuan itu harum. Ia merindukan pekat bau keringat istrinya selama ini, juga kecantikan yang ramah, pandangan mata yang teduh. Ia kian merasa bila Salma bukan lagi menjadi miliknya. Salma telah menjelma pribadi yang asing, yang sama sekali tak dikenali sebelumnya.

Takjub dan hampir tak percaya, ketika Salim memandangi wajah anak lelakinya: tampan dan bercahaya. Sewaktu pertama kali ia menimangnya, usai subuh, ia tak menduga, inikah anak lelakinya? Anaknya yang pertama, yang dinanti kelahirannya dengan dada yang berdegup cemas. Bayi itu berkulit bersih, halus, dan lembut. Salma senantiasa berbincang-bincang dengan bayinya.

Tak sekejap pun bayi lelaki itu berpisah dari Salma. Pada saat bayi itu bisa membuka mata, tampak sepasang matanya jenaka. Mata yang jernih. Bila pagi ia berceloteh. Berdua, Salma dan bayi itu, bercengkerama. Salim merasa tersia-siakan. Kehilangan perhatian Salma.

Lambat-laun Salim merasa sendirian, meski mereka bertiga di rumah. Salma tak lagi mengajaknya berbincang-bincang. Salma begitu asyik dengan bayi lelakinya. Terkesan tak memerlukan siapa pun.

Pada saat Salma mengemasi seluruh pakaiannya, barulah Salim tersentak. Ia tak paham, apa yang bakal dilakukan istrinya. Kopor-kopor pakaian itu dimasukkan dalam bagasi mobil.

“Kamu mau ke mana?” tegur Salim, tak paham. Ia tak pernah menemukan perilaku Salma yang aneh serupa ini.

“Aku mau menempati rumah peninggalan orangtuaku. Hidup berdua dengan anakku.”

Tertegun, Salim memandangi Salma yang sibuk. Dia tak pernah menduga, Salma benar-benar berniat meninggalkannya.

“Aku tak mungkin hidup bersama lelaki yang berwajah murung.”

“Jadi, karena wajahku murung, kau meninggalkanku?”

“Wajahmu begitu beku, tanpa gairah!”

Salim merenung: wajah yang murung—seperti yang selalu dikatakan Salma dulu—telah menjadi tabir penghalang. Dulu, sebelum mereka menikah, Salma memang pernah mengeluh, wajah Salim terlalu murung, muram, tanpa gairah. Tapi bukankah Salma tak pernah mempersoalkannya? Salma menerima segala hal yang ada pada dirinya, sampai perempuan itu hamil tua, dan pergi ke makam orangtuanya. Dia pulang dengan ketakjuban memakan buah mangga, seiris demi seiris, dan sangat enggan membuang bijinya ke tempat sampah.

Salma menolak, saat Salim ingin mengantarkannya. Perempuan itu menampakkan kegairahan saat meninggalkan rumah Salim yang kusam dan melapuk. Ini rumah yang dibeli Salim dengan susah payah, dengan berhutang, dan masih bertahun-tahun akan lunas. Memang sejak awal mula Salma menempati rumah ini, ia tampak bimbang. Ia kelihatan tertekan, dan Salim tahu, istrinya memaksakan diri untuk tinggal di rumah tua, di perkampungan pinggir kota. Salma sempat mengajukan permohonan pada Salim, agar mereka tinggal di rumah warisan orangtuanya—sebagai anak tunggal yang kini yatim piatu. Rumah itu dikosongkan, sungguh sayang karena luas, dengan empat kamar besar, ruang tamu, ruang makan, dapur, dan halaman tempat bocah-bocah bermain.

Tiba di rumah warisannya, Salma turun dari mobil, menggendong bayi mungil dan menciuminya. Yang paling menggetarkan, bagi Salma, saat ia berada di ruang tamu, memandang lukisan (mengenai) ayah dan ibunya. Lukisan dengan pancaran wajah yang menakjubkan. Selalu saja ia memandangi wajah ayahnya yang cemerlang, penuh harap. Dan wajah ibunya yang bijak.

Di rumah inilah Salma mencari masa lalunya. Semenjak bayi hingga ibunya meninggal, pada umurnya yang remaja, ia hidup dengan Ayah—yang kelak ia tahu, ayahnya menolak untuk menikah lagi. “Kau tak usah cemas, aku tak akan menikah lagi.” Memang ayahnya tak lagi menikah, meski sempat sangat dekat dengan seorang gadis belia. Dari keseluruhan sosok gadis itu, yang paling memikat—menurut Ayah—wajahnya yang bersih, wajah yang memantulkan ketulusan hati. Tapi ayah memenuhi janjinya: tidak menikah dengan siapa pun hingga meninggal. Salma menikah dengan Salim, lelaki berwajah kuyu—seorang pegawai kecil, dengan gaji pas-pasan. Tinggal di rumah kecil, kusam, dan berhimpit-himpit dengan rumah tetangga. Betapa susah payah ia harus meletakkan mobil kesayangannya, karena pelataran yang sangat sempit.

Belum juga Salma bersua lelaki tampan, dengan wajah jernih, bercahaya, yang berdiam di Alas Tua. Salma tak lagi melihat kekuatan yang lain, yang bisa meruntuhkan hatinya untuk bersua lelaki tampan itu. Tiap sore ia melintas tepian Alas Tua, berziarah ke makam orangtuanya. Tapi, sungguh, tak sekejap pun ia bersua lelaki itu, meski cuma bayangan. Bahkan bertemu lelaki itu dalam mimpi pun, ia tak pernah.

Sungguh aneh, Salma tak bisa membebaskan diri dari wajah lelaki tampan pemberi buah mangga. Wajah yang jernih, tulus. Ia takjub dan terjerat pada wajah lelaki itu. Salma tak peduli, orang-orang yang memandanginya saat ia berdiam lama-lama menjelang gelap malam di tepi Alas Tua. Mengharap seorang lelaki tampan bakal muncul, mendekatinya. Di batu besar di bawah pohon mangga itu, Salma tak menemukan siapa pun. Hanya sebongkah batu. Orang-orang itu memandangi Salma yang berdiri terpaku di depan sebongkah batu. Mata mereka mencemooh. Tapi Salma tak peduli.

Haruskah, pikir Salim, Salma meninggalkannya dan tak kembali, hanya untuk mengikat seorang lelaki dengan wajah jernih, memancarkan pesona, yang lenyap dalam pekat Alas Tua? Benarkah pencaran wajah lelaki tampan pemberi buah mangga itu telah mengalahkan segala hal, termasuk kesetiaan dan harapan?

Salim cemas, bahkan gemas, lantaran wajahnya yang mengeruh, dan bukannya semakin jernih. Malah kian kotor dan belakangan mulai berkerut samar. Ia malas bercermin, melihat sendiri wajah letih yang memantul di hadapannya. Ia tak lagi bisa menatap wajahnya dengan kerelaan. Tiap kali ia menatap cermin, tampak wajahnya yang serupa abu dalam tungku mati, yang luruh. Ia makin membenci lelaki tampan dengan wajah indah yang dicari Salma. Ia ingin menemukan kembali jalan hidup bersama istrinya. Tapi bagaimana caranya?

Sesuatu tumbuh di tempat sampah, rekah dari biji mangga yang mengering. Batang menjulur dari rekah biji mangga, puncaknya diteduhi dua lembar daun yang terjuntai, hijau muda kemerahan. Salim tertegun, memandangi rintik gerimis yang mengayun-ayunkan daun itu. Masih rembang pagi, dan tunas pohon mangga itu menjadi daya pikat yang menggetarkan hati lelaki itu. Ia merasakan kegugupan yang penuh harap.

Pohon mangga yang tumbuh itu, bukankah dari biji mangga yang dimakan Salma? Salim menanam pohon mangga itu di sudut pelataran, dengan harapan, Salma bakal kembali suatu ketika kelak. Pohon mangga itu bakal menjadi besar, dan rimbun—entah berapa tahun lagi, kelak, dan tentu akan berbuah. Ia merasakan desir harapan dari dalam dadanya.

Dorongan hati yang aneh, menggugupkan, saat Salma menapaki jalan berumput ke makam orangtuanya. Lewat tepian Alas Tua, Salma berharap bertemu dengan lelaki muda pemberi buah mangga ranum saat ia mengandung. Ia melewati jalan setapak, di bawah batang-batang pohon yang meranggas—yang terbakar semalam—dan suara gergaji mesin, truk-truk, traktor, begu, dan lelaki-lelaki kekar penebang pohon. Alas Tua lenyap dalam sekejap. Akankah tumbuh sebuah kota dan pusat perbelanjaan? Salma menggigil, mencari-cari dalam kabut basah, di mana lelaki tampan dengan senyum rekah menawan itu.

Salma melihat samar bayangan tubuh lelaki tampan itu, di bawah kilau bulan, berdiri di antara batang-batang pohon ranggas terbakar, tersenyum. “Kalau kau ingin menemuiku, carilah di rumah suamimu. Di sana tumbuh pohon mangga, dari biji yang kau makan dulu.”

Kilau bulan tersangkut di pucuk-pucuk ranting pepohonan hutan ranggas. Salma tergetar. Memandangi lelaki tampan yang menghilang, lenyap dalam semak-semak perdu terbakar. Kilau rembulan begitu tajam menerawang gaun Salma, dan ia melangkah bimbang: akankah segera kembali pada suami?

Pandana Merdeka, Mei 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme