Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Farida Sudah Pulang oleh Kiki Sulistyo

Posted on Ming, 23 Jan 2022

Dulu Amrozi sering melihat Farida berdiri di belakang meja sebuah warung kecil, melayani orang-orang yang datang memesan kopi dan camilan dan menghabiskan waktu dengan berbincang membahas persoalan-persoalan di sekitar mereka. Farida selalu mengenakan kain untuk menutupi rambutnya. Pipinya kemerahan seperti cabai setengah matang. Bulu-bulu matanya tebal seolah bukan bulu, melainkan kawat-kawat logam. Sepasang anting tergantung di telinganya, bergoyang-goyang setiap kali kepalanya bergerak.

—

FARIDA sudah menarik perhatian Amrozi sejak Amrozi masih berseragam sekolah dasar. Setiap hari Amrozi menantikan saat-saat dirinya berbelanja di warung Farida; membeli kembang gula atau dipang kacang. Kadang dia sengaja meminta kembang gula dengan warna-warna tertentu hanya agar punya alasan berlama-lama di warung itu. Farida akan selalu memenuhi permintaannya, dan dia bisa mengamati wajah Farida sampai puas.

Amrozi tahu Farida itu istri Tuan Kasdut, laki-laki yang jumlah istrinya seperti bersaing dengan jumlah bercak panu di tubuhnya. Meski Amrozi menyukai Farida, dia sama sekali tak menyukai Tuan Kasdut. Pikiran bocahnya bahkan bisa menangkap suatu ketidakadilan; bagaimana mungkin Farida bisa tahan dalam waktu lama di dekat Tuan Kasdut jika tiap saat laki-laki itu selalu marah-marah? Tuan Kasdut bahkan pernah memarahi Amrozi hanya karena Amrozi memetik daun-daun banten di pagar halaman rumahnya. Padahal, dalam pikiran Amrozi, daun-daun itu sama sekali tak ada gunanya.

Rasa tak sukanya pada Tuan Kasdut menumbuhkan juga rasa tak sukanya pada Tuan Kusni. Keduanya dipanggil ”Tuan” karena konon sama-sama keturunan bangsawan. Keduanya juga akrab satu sama lain seakan-akan gelar ”Tuan” itu telah menyatukan mereka. Pernah kedua Tuan ini memarahi Amrozi pada waktu bersamaan. Saat itu Amrozi datang ke warung untuk membeli kembang gula. Dia sedikit kecewa karena tak melihat Farida. Yang ada cuma Tuan Kasdut dan Tuan Kusni sedang bersenda gurau di bangku panjang. Melihat Amrozi, Tuan Kasdut merasa kesal. Dia bilang, ”Ganggu orang aja. Mana belanjanya cuma sedikit begini!” Amrozi merasa kecut. Sempat diperhatikannya bercak-bercak panu di badan Tuan Kasdut yang cuma mengenakan kaus singlet. Ketika Amrozi beranjak dari warung, giliran Tuan Kusni yang memarahinya. Tuan Kusni bilang, ”Kalau datang ucap salam! Ndak pernah diajari mamaknya ya. Kenapa rambutmu merah begitu?” Amrozi makin kecut. Diusap-usapnya rambutnya yang memang kemerahan. Rambutnya merah bukan karena disemir, melainkan karena sering terbakar matahari. Timbul suatu bayangan dalam pikiran Amrozi; seandainya dia punya bom, dia akan meledakkan kedua orang itu.

Amrozi tak begitu ingat sejak kapan Farida menghilang. Warung Farida sepertinya juga ditutup bersamaan dengan itu.

Setelah beranjak remaja Amrozi mulai melupakan Farida. Dia juga mulai menyadari, bersama lepasnya masa remaja, satu per satu kawannya menghilang. Dia tak tahu ke mana kawan-kawannya itu. Yang dia tahu, selepas sekolah menengah atas, tak seorang pun dari kawan-kawannya itu yang melanjutkan belajar ke universitas. Amrozi pun tak melanjutkan pendidikannya. Namun, berbeda dengan kawan-kawannya, dia masih tetap tinggal di permukiman itu. Mamaknya yang sudah menjadi janda sejak Amrozi masih bayi tak memintanya mencari kerja. Mungkin karena Amrozi anak satu-satunya. Kehidupan tak terlalu buruk buat Amrozi; dia masih bisa cukup makan dari hasil warung mamaknya yang dibuka di depan rumah.

Sepertinya warung itu mulai dibuka beberapa waktu setelah warung Farida ditutup. Dulu kawan-kawan Amrozi sering berkumpul di warung mamaknya. Namun setelah kawan-kawannya menghilang, pengunjung warung itu tinggal orang-orang tua dan anak-anak kecil yang membeli kembang gula atau dipang kacang seperti yang dulu dibeli Amrozi di warung Farida.

Salah seorang anak yang sering datang ke warung itu adalah Jamal. Dari mamaknya Amrozi tahu Jamal adalah cucu Tuan Kasdut, entah dari keturunan istrinya yang mana; yang jelas, bukan dari Farida. Siapa pun tahu, dari Farida, Tuan Kasdut tak mendapatkan anak.

Jamal berbeda dari anak-anak lain. Dia tak suka bergaul dengan kawan-kawan seusianya. Waktu ditanya soal itu, Jamal bilang bahwa dia tak satu frekuensi dengan mereka. Entah dari mana dia mendapatkan kata ”frekuensi” itu. Yang jelas, Jamal banyak menghabiskan waktu di warung seakan-akan dia adalah seorang tua yang gemar berbincang-bincang. Tak jarang Jamal masuk ke kamar Amrozi, menghabiskan waktu dengan menonton televisi hitam-putih seakan-akan mereka seusia. Dari Jamal, Amrozi mendapat kabar bahwa Farida sudah pulang.

Apa yang dilihat Amrozi kemudian berbeda dengan apa yang dilihatnya sepuluh tahun sebelumnya. Tak disangka-sangka Farida berubah sedemikian rupa. Tak ada lagi kain yang menutupi rambutnya, tak ada lagi pipi yang kemerahan seperti cabai setengah matang, tak ada lagi bulu-bulu mata yang serupa kawat-kawat logam, tak ada pula sepasang anting di kedua telinganya. Meski begitu, Amrozi tak bisa menampik bahwa sosok itu memang Farida.

Bukan cuma Amrozi yang kaget, melainkan hampir semua warga permukiman itu. Di warung mamak Amrozi pembicaraan tentang Farida selalu membuat suasana jadi riuh. Orang-orang membicarakan bagaimana Farida tak lagi mengenakan kutang dan celana dalam. Bagaimana rambutnya dipotong pendek, sama pendeknya dengan celana yang kerap dipakainya ketika menyapu halaman. Mukanya seperti penuh tambalan dan bentuk tubuhnya jadi tak keruan. Farida yang dulu, bahkan di mata seorang bocah, terlihat penuh pesona, sekarang tampak seperti monster yang tak jelas leluhurnya.

Yang lebih mengherankan lagi adalah sikap Tuan Kasdut yang menerima kembali Farida dalam keadaan seperti itu. Dulu orang-orang berpikir Tuan Kasdut telah menceraikan Farida, itu sebabnya Farida menghilang. Namun, meski Farida telah jadi bahan gunjingan, tak satu pun orang yang berani membicarakan persoalan itu di depan Tuan Kasdut. Sementara Tuan Kasdut sendiri tampak biasa-biasa saja dan masih sering bercakap-cakap dengan Tuan Kusni di rumahnya.

Suatu kali Jamal berkata kepada Amrozi, ”Mamak saya bilang, dia ndak tahu ke mana dulu Bik Farida pergi. Mungkin ke Malaysia. Bik Farida ndak gila, kok.” Saat itu, karena Jamal dititipkan ke kakeknya; sementara orang tuanya datang sesekali saja, menginap sehari semalam di rumah Tuan Kasdut sebelum kembali pergi; Jamal jadi sering menghabiskan waktu bersama Amrozi. Dari anak itu Amrozi bisa mendapat banyak kabar tentang Farida.

Sekali waktu orang-orang dengan jijik melihat bagaimana Farida menggandeng tangan Tuan Kasdut ketika mereka berjalan-jalan di sekitar permukiman, sementara Tuan Kusni mengikuti mereka dari belakang. Pemandangan itu demikian ganjilnya hingga orang-orang membayangkan sosok iblis yang berada di antara orang-orang beriman untuk membujuk mereka melakukan maksiat. Tetapi, sekali lagi, tak ada yang berani menyampaikan pikiran itu di hadapan Tuan Kasdut atau Tuan Kusni. Sementara, jangankan berbicara dengan Farida, melihatnya saja mereka sudah merasa mual. Diam-diam mereka membayangkan azab yang pedih bakal menimpa mereka.

Suatu hari menjelang siang ketika permukiman sepi sebab orang-orang sedang bekerja, Jamal, masih memakai seragam sekolah, berlari menemui Amrozi. Anak itu memanggil-manggil sambil menerobos pagar halaman dan langsung masuk ke kamar Amrozi yang pintunya memang terletak di bagian samping bangunan. Jamal bilang ada keributan di rumahnya.

Sesampainya di rumah Tuan Kasdut, Amrozi melihat banyak orang sudah berkerumun. Sebagian dari orang-orang itu kelihatan kesal, meludah ke Tuan Kusni yang lengannya dipegang seorang tua berpeci. Tuan Kusni diseret ke jalanan, orang tua berpeci berteriak-teriak meminta orang-orang berhenti meludah. Orang-orang menurut, tapi tetap menyeret Tuan Kusni; mereka sepakat membawa Tuan Kusni ke rumah kepala lingkungan. Di antara kerumunan, Farida tertawa-tawa seakan melihat suatu hiburan yang menyenangkan hatinya.

Amrozi yang masih bertahan di sana melihat Tuan Kasdut tiba-tiba muncul dari dalam rumah, berjalan gontai menghampiri seorang perempuan yang air matanya membecekkan pipi, dan terus melontarkan pertanyaan kepada Farida.

”Dia cium-cium saya. Di sini, di sini, juga di sini,” celoteh Farida sambil menunjuk kening, pipi, serta dadanya.

Melihat Tuan Kasdut, perempuan itu berbalik sambil berseru, ”Bapak sudah tahu semua ini kan? Sudah sering kan dia masuk diam-diam? Sudah sering kan dia melakukan semua ini?” Perempuan itu menghambur hendak memukul Tuan Kasdut, tapi beberapa orang menahannya. Sementara Farida terus saja tertawa-tawa. ”Itu mamak saya,” bisik Jamal pada Amrozi sambil menunjuk perempuan yang memukul Tuan Kasdut. ”Tapi saya ndak satu frekuensi sama dia,” tambahnya. (*)

Sandik, 26 Juni 2021

—

KIKI SULISTYO : Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 23 Januari 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme