Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Samanasanta oleh F Rahardi

Posted on Ming, 15 Jul 2007

Kamu akan berangkat lewat Denpasar atau Surabaya atau Kupangkah? Bolehkah aku titip diriku karena ini baru pertama aku datang ke Larantuka. Benarkah nama kota di Flores tempat Samanasanta itu Larantuka? Bolehkah?

Aku meninggalkan Paris sudah seminggu lalu, tetapi terlalu lama aku tertahan di Bangkok. Ditambah lagi ketika Jakarta, yang juga sama macet dengan Bangkok, telah menyita banyak sekali waktu. Tetapi aku senang karena bertemu dengan sangat banyak teman, juga musuh. Tetapi mereka yang dulu menganggap aku musuh, sekarang sudah tidak perlu dianggap musuh lagi. Aku disuruh Pastor Boli menginap di wisma, tetapi aku lebih suka tinggal di hotel. Maka, tiap malam Pastor Flores itu harus mengantarku kembali ke hotel dengan sepeda motornya yang sangat besar. Bagaimana?

Kata Pastor Boli, namanya Maria. Ini mengingatkan aku pada Maria dan Martha, kakak adik yang disebut-sebut Injil. Di Jawa, aku kira masih banyak nama-nama Wati, Nani, Iyem, Minah, tetapi nama-nama itu sudah diganti Anne, Betty, Dona, Fifi, dan Maria yang kausebut-sebut itu, Jawakah atau Flores? Ternyata dia Indonesia sebab kakek dari ibunya Ambon, nenek dari ibunya Jawa, kakek dari bapaknya Batak, dan nenek dari bapaknya Manado. Katanya kakek buyut dan nenek buyutnya, ada Belanda-nya, ada China-nya, ada Jerman-nya, ada Arab-nya juga. Kapan saya bisa menemuinya?

Menurut Pastor Boli, Maria adalah wartawati yang baik, tetapi orang yang pernah dikritik lewat tulisannya yang sangat tajam, banyak yang memusuhinya. Dia berumur hampir lima puluhan, tetapi ingin tetap lajang seumur hidup dan ini membuat bapak dan ibunya dan juga saudara-saudaranya bertanya-tanya, tetapi mereka tidak bisa apa-apa. Sebab, kata Pastor Boli, Maria tidak menikah bukan karena tidak ada yang mengajak menikah, melainkan karena dia tetap ingin hidup bebas sendirian hingga bisa terus terbang seperti burung-burung di langit. Apakah Maria cantik?

Ternyata Maria sangat cantik. Dia juga cerdas dan semangatnya tinggi. Meski sudah mendengar suaranya di telepon, tetapi ketika aku mendengar dia berbicara berhadap-hadapan denganku, aku merasakan suara menjadi lebih berat dan tajam. Dia menyebutku sebagai orang yang terbuang dan terkalahkan, dan aku menerima saja sebutan itu. Aku ingin dia banyak bercerita tentang Samanasanta, tetapi dia malah senang menceritakan suasana politik Indonesia, juga politik Amerika di Iran, dan dia ternyata banyak sekali tahu tentang Perancis. Aku senang melihat dia bersemangat.

Dia mengatakan bahwa pesawat akan berhenti di Denpasar, lalu ganti pesawat lain ke Maumere sebab tiket ke Larantuka sudah habis sejak sebulan lalu.

Di Maumere akan ada Bruder SVD yang menjemput dengan jip, lalu kami harus berjalan darat ke Larantuka. Apakah Larantuka dekat dengan danau warna-warni yang di atas gunung itu? Ya, Kelimutu itu? Ternyata Kelimutu jauh. Di Ende, ya? Dan, kami juga harus bermalam di Maumere. Di sini kami akan bertemu Uskup yang baru saja ditahbiskan, tetapi tiba-tiba uskup itu harus ke Jakarta, hingga kami malah bertemu dia di Airport Ngurah Rai di Denpasar. Sudah berapa puluh tahun aku tidak melihat Denpasar? Apalagi Denpasar, bahkan Jakarta pun hanya tiga kali aku kunjungi selama 40 tahun terakhir ini. Itu pun baru mungkin setelah ada reformasi, ada kerusuhan, tapi bukan. Kerusuhan 98 beda dengan 65. Capekkah kamu Maria?

Indonesiamu ini sebenarnya indah sekali, tetapi, ya, aku tidak perlu melanjutkan kata tetapi ini kepadamu. Tetapi kamu yang kemudian memprotesku bahwa ini juga Indonesiaku. Itu dulu bukan? Itu dulu sekali. Sekarang aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya Jawa, tidak punya Sumatera, tidak punya Indonesia, tidak punya China, tidak punya Perancis. Kalau Uni Soviet memang sudah bubar bukan? Lalu berkali-kali kamu bertanya aku punya apa sekarang? Aku bilang tidak punya apa-apa lagi. Kamu lalu bertanya lagi, bukankah aku ini komunis? Aku bilang dari kecil aku ini Katolik. Kalau begitu masih punya Katolik kan, tanyamu, di pesawat yang menderu-deru di atas pulau-pulau yang jauh di bawah sana. Tanya apa kamu Maria?

Aku bahkan sudah tidak punya kehidupan ini. Tidak usah kaget. Apakah kamu belum tahu bahwa aku ingin datang ke Samanasanta karena sudah tidak terkesan dengan Lourdes dan Fatima, sudah capek dengan Sungai Yordan dan Laut Mati, sebab di sana sudah tidak kudapatkan apa-apa. Juga di Vatikan. Bukan, bukan kesembuhan dari penyakit ini. Bukan itu Maria. Aku mati memang sudah pas bukan? Karena umur memang sudah cukup. Tetapi aku ingin menjadi orang yang sungguh manusia, dengan mendapatkan pengalaman spiritual yang juga sungguh manusiawi. Lalu, aku disuruh banyak kawan agar datang ke Samanasanta. Apa itu Samanasanta? Dulu ketika di Yogya aku memang banyak kawan dari Flores. Tetapi tidak pernah aku mendengar tentang Arak-arakan Paskah itu.

Maria, apakah kamu Katolik sejak kecil, atau, o ya, bukankah orangtuamu campuran macam- macam, hingga kamu pasti sudah Katolik sejak belum dilahirkan. Yang aku heran, sebenarnya aku tidak pernah tahu-menahu tentang Komunis, aku tidak tahu-menahu apa yang pernah terjadi di negeri ini pada tahun 1965 karena ketika itu aku sedang ada di Bucharest, lalu apa salahku? Benar kamu Maria, salahku justru karena berada di Bucharest itu. Tetapi, itu tidak terlalu penting lagi. Jadi arak- arakan Samanasanta itu akan terjadi tepat pada hari Jumat Agung dan itu sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam? Maaf Maria karena aku hanya mendengar dari kawan-kawan bahwa arak- arakan itu pada hari Paskah. Jadi, salah ya?

Aku sebenarnya agak takut naik pesawat di negeri seperti ini. Negaraku juga kan dulu? Ya, benar. Ini dulu negaraku. Sekarang pun juga masih tetap negaraku. Sebab orang-orang Paris, orang- orang Berlin, orang-orang Amsterdam, mereka selalu mengatakan bahwa aku ini Indonesian. Meskipun pasporku paspor Perancis. Itu tidak penting. Apalah artinya buku kecil yang ada foto, ada sidik jari, ada alamat, dan selalu distempel tiap aku datang dan pergi di gerbang imigrasi di negeri sendiri. Aku tetap Indonesia karena rambutku hitam. Tapi sekarang sudah putih, ya? Kulitku coklat bahkan agak hitam. Jadi, tidak mungkin aku bilang aku ini Perancis atau Belanda atau Jerman. Berapa jamkah kita akan berada di dalam pesawat ini Maria?

Agak lega juga aku, ketika pesawat mulai turun, lalu pramugari mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Waloti di Maumere. Kamu ada bagasi banyak sekali kan? Aku hanya ada satu, tetapi itu isinya macam-macam dan mahal. Ada kamera, ada laptop, ada telepon satelit. Mengapa tidak dibawa ke kabin? Ya, apa akan hilang atau rusak? Aku kira tidak. Dan, ternyata benar, koper logam itu masih utuh dan terkunci rapat dan isinya juga tidak ada yang hilang. Aku merasa bahwa Pulau Flores ini juga pulauku, pohon-pohon yang meranggas di sepanjang jalan di pantai itu, yang katamu pohon reo itu, juga pohonku. Apalagi lontar-lontar itu, pelepah bunganya, katanya, selalu disadap dan meneteskan nira seperti halnya kelapa dan enau.

O, kalau di Perancis sana yang disadap pohon chery. Airnya juga manis sekali. Nira lontar itu di sini dibuat minuman keras? Seperti tuakkah? Captikus? Moke? Ya, pasti saya akan mencicipi, meskipun tidak boleh terlalu banyak. Jadi, Bruder juga membawa moke di dalam jip ini? Aduh, tetapi nanti sajalah di Larantuka sana. Maria? Kamu juga doyan mokekah? Ah, itu jawaban yang klise. Yang jelas kawan-kawan Muslim, yang katamu ateis itu, sampai detik ini tetap tidak pernah mau menyentuh minuman itu. Mereka itu mengagumkan sekali imannya. Tetapi, mengapa kamu bilang mereka ateis? Padahal, mereka sangat patuh pada syariat. Mereka shalat lima waktu, juga puasa. Dan, kalau saya makan ham, minum wine, mereka tetap tidak mau ikut mencicipi.

Katamu, aku juga akan diterima Uskup Larantuka? Katamu dia senang bisa bertemu denganku, apakah pentingnya aku? Baiklah Maria, o, ternyata aku memang pasti akan bertemu uskup karena tempat menginapku di wisma keuskupan. Kamu menginap di mana Maria? Ya, di mana-mana memang penuh manusia. Katamu ada berapa? Lima belas ribu orang? Wah, itu banyak sekali Maria. Pantaslah di mana-mana penuh dengan orang. Kapela Tuan Ma yang keramat itu juga banyak didatangi orang, meski belum waktunya dibuka. Dari kapela itu bukit tampak dekat sekali. Bagaimana kalau bukit itu longsor lalu menimbun kapela ini? Kata orang-orang Larantuka, itu tidak akan pernah terjadi.

Benarkah bukit itu pernah longsor menyapu kota, tetapi kapela ini tetap utuh? Terus terang Maria, aku sudah tidak sabar lagi menunggu Samanasanta. Sekarang ini hari apa? Rabu? Jadi, masih dua hari lagi? Kamu mau mengajakku ke Lamalera dan melihat orang-orang menangkap ikan paus? Aku tidak mau. Aku tidak mau melihat paus dibunuh. Paus ikan pun tidak, terlebih Paus yang di Vatikan. Kalau melihat-lihat kampung bolehlah. Wah, matahari di sini benar-benar panas, dan itu sangat menyenangkan. Di Paris, Maria, bisa berminggu-minggu aku tidak melihat matahari itu. Ya, di Jawa juga begitu kalau sedang mendung. Tetapi, Jawa beda dengan Perancis bukan?

Maria, mengapa orang-orang di sekitar Larantuka ini miskin? Apa karena sibuk berdoa lalu mereka lupa bekerja hingga jadi miskin? Atau karena miskin mereka hanya bisa berdoa agar lupa pada kemiskinan itu? Maria, apakah uskup dan bupati, juga pastor dan pegawai-pegawainya, juga ikut miskin? Mereka tampak baik-baik saja bukan? Bukan urusanku? Ya, memang benar. Saya kemari hanya untuk ikut arak-arakan Samanasanta yang kata kawan-kawan di Paris sana, masih terasa spiritualitasnya. Maria, tolong kalau Pastor Boli menelepon tidak usah diberitahu, kapan aku akan ke kembali ke Jakarta. Sebab sudah sejak kemarin HP aku matikan. Juga HP satelit untuk mengirim gambar ke Paris itu belum aku aktifkan.

Cimanggis, Mei 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme