Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gincu Ini Merah, Sayang oleh Eka Kurniawan

Posted on Ming, 01 Jul 2007

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga,” katanya, setelah keterkejutannya reda.

“Katakan itu nanti kepada suamimu,” seorang petugas menjawab.

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. Para petugas itu bicara mengenai peraturan daerah tentang pelacuran dan memperlakukannya seolah-olah ia pelacur. Dalam hatinya, ia mengakui pernah menjadi pelacur, tapi malam ini ia berani bersumpah bahwa dirinya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia belum punya anak memang, Tuhan belum memberinya, tapi ia punya suami. Para petugas tak menggubris soal itu. Menurut mereka, semua pelacur selalu merasa punya suami dan mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh interogasi sepanjang malam. Ia meminta gadis-gadis itu membantunya meyakinkan para petugas bahwa dirinya bukan bagian dari mereka. Tapi tiga tahun berlalu dan ia tak lagi mengenali gadis-gadis itu, demikian pula mereka tak mengenalinya. Semuanya gadis baru dan ia tak menemukan teman-teman lamanya di antara mereka. Gadis-gadis itu tak punya gagasan tentang siapa perempuan itu dan apa yang dilakukannya di pintu Beranda pada pukul setengah dua malam.

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. Ia kembali memohon minta dibebaskan, berkata bahwa suaminya pasti akan merasa kehilangan dan barangkali kini tengah mencari-carinya. Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, “Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu.”

“Tetapi, suamiku tak tahu aku ada di sini,” katanya.

“Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?”

Sejujurnya ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya. Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati menghubungi suaminya. Setelah bicara dengan Rohmat Nurjaman, suami Marni, perempuan dari dinas sosial itu kemudian berbaik hati mengantarkan Marni pulang. Penuh rasa syukur Marni mencuci muka, menaburkan bedak yang dipinjam dari seorang gadis bar ke mukanya, dan memoleskan gincu ke bibirnya. Ia akan pulang dan bertemu kembali dengan suaminya.

Namun, sesampainya di rumah, selepas kepergian perempuan yang mengantarnya, Marni dihadapkan pada keadaan yang tidak lebih baik. Di atas sofa, tergeletak koper berisi barang-barangnya. Rohmat Nurjaman berdiri di pintu kamar, memandang wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapan kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek, “Sebaiknya kita bercerai saja.”

Marni ingin menjelaskan, tetapi tak tahu apa yang harus dijelaskan. Dan, Rohmat Nurjaman tampaknya tak menginginkan penjelasan.

Sebenarnya Rohmat Nurjaman tak suka melihat istrinya mempergunakan gincu. Tapi jika ia melarangnya, dan kemudian mengemukakan alasannya, ia khawatir itu akan menyinggung perasaan istrinya. Marni pasti tak suka jika kepadanya ia berkata, “Dengan gincu itu kau tampak serupa pelacur.”

Masalahnya, ia memang menemukan istrinya di satu tempat remang-remang beberapa tahun lalu. Tentu saja itu masa lampau dan mereka telah bersepakat melupakannya. Itu masa-masa ketika Rohmat Nurjaman bersama tiga temannya menghabiskan malam-malam di beberapa bar dangdut yang berserakan di sepanjang Jalan Daan Mogot. Di sanalah Rohmat Nurjaman berkenalan dengan Marni.

Awalnya hubungan mereka merupakan pertemuan ganjil antara pelanggan dan pelayan. Seperti semua orang tahu, gadis-gadis yang bekerja di tempat serupa itu selalu akan mempertahankan pelanggannya agar tidak diambil gadis lain. Ini menyangkut penghasilan tambahan mereka yang kenyataannya lebih besar daripada upah yang dibayarkan pemilik bar. Tak jarang timbul cekcok di antara gadis-gadis itu jika seorang dari mereka menyerobot pelanggan milik gadis lain. Biasanya ini terjadi dengan gadis baru atau pelanggan yang lama tak muncul.

Bagi pelanggan sendiri, paling tidak bagi Rohmat Nurjaman kala itu, kecenderungan gadis-gadis tersebut juga menguntungkannya. Ini memberinya jaminan setiap kali datang ke bar tersebut, ia akan memperoleh seorang gadis. Percayalah, tak menyenangkan berada di tempat serupa itu, dengan biduan bernyanyi di atas panggung kecil dan bir di atas meja, tanpa seorang gadis bergelayut di sampingmu.

Begitulah, setiap kali ia datang ke Beranda, salah satu bar dangdut di daerah tersebut, Rohmat Nurjaman akan ditemani Marni. Bisa dihitung dengan jari kunjungan Rohmat Nurjaman tak membuatnya bertemu dengan Marni. Biasanya itu terjadi saat jatuh hari libur si gadis, atau si gadis meriang, atau pulang kampung ke Banyumas.

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Di siang hari yang penat, dengan udara yang membosankan, sekonyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, “Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang.”

Dan suatu pagi, Rohmat Nurjaman menemukan pesan dari si gadis di layar telepon genggamnya, “Mas, nanti malam datang tidak? Aku kangen.”

Tentu saja bukan waktu yang singkat dalam hubungan mereka yang semacam itu, jika kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. Rohmat Nurjaman pergi ke pedalaman Banyumas ditemani ketiga temannya. Di sana ia menikahi Marni, sebelum membawanya kembali ke Jakarta dan tinggal di sebuah rumah mungil agak di luar kota.

Ternyata itu bukan perkawinan yang mudah. Pada hari-hari pertama perkawinan mereka, Rohmat Nurjaman sering didera mimpi melihat istrinya ditiduri para pelanggan lain di kamar-kamar Beranda. Karena Rohmat Nurjaman tahu di suatu masa mimpinya merupakan kebenaran, ia sering dilanda kecemburuan begitu terbangun dari tidur. Marni juga didera khayalan yang mengganggu, membayangkan suaminya pergi ke Beranda dan meniduri gadis lain. Ini pun pernah terjadi dan mereka berdua tahu.

Kecemburuan itu membawa mereka pada pertengkaran kecil, yang lalu diselamatkan oleh cinta. Suatu hari, di bulan ketujuh belas pernikahan mereka, keduanya berjanji untuk tak lagi mengenang masa lalu dan mengubur habis semua kecemburuan. Setelah itu segalanya berjalan lebih baik.

Kecuali gincu di bibir Marni.

Ia belajar mempergunakan gincu dari Maridah, perempuan yang saat itu paling tua di bar. Maridah pulalah yang membawanya dari Cibolang, sebuah nama yang tak ada di peta dan hanya akan disebut sebagai “di pedalaman Banyumas”. Banyak gadis-gadis di awal belasan tahun telah dibawa Maridah ke Jakarta dari tempat itu. Sejak awal mereka tahu akan bekerja di bar-bar semacam Beranda, tetapi Maridah meyakinkan mereka dengan berkata, “Kamu tak perlu jadi pelacur di sana, cukup melayani pelanggan minum bir.”

Awalnya memang begitu, tetapi tidak benar-benar begitu. Para pelanggan itu tak hanya ingin dilayani menuangkan bir ke gelas mereka, tetapi minta didampingi. “Temani saja,” kata Maridah. Jadi, ia duduk di samping mereka, ikut minum dan makan cemilan, dan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Itu tak seberapa jika tangan para lelaki pelanggan itu bisa diam. Jemari mereka cenderung bergerak, awalnya hanya menyentuh tangan, lama-lama merayap ke segala arah.

Belakangan ia mulai belajar dengan cara itulah ia bisa memperoleh uang lebih banyak. Dan, kemudian tahu, jika ingin memperoleh lebih banyak lagi, ia mesti tidur dengan mereka. Lima bulan selepas itu Marni kehilangan keperawanannya dan hidupnya terus berjalan dari malam ke malam hingga ia berjumpa dengan Rohmat Nurjaman.

Dalam hal-hal tertentu, Rohmat Nurjaman tak berbeda dengan pelanggan lain yang gemar menjamah. Bahkan, lebih buruk karena kadang membayar lebih sedikit. Tetapi, dalam perkara lain, ada hal-hal berbeda yang disukai Marni. Tidak seperti pelanggan lain yang buru-buru mengajak ke lantai atas menjelang pukul lima, di mana terdapat kamar-kamar untuk telanjang, Rohmat Nurjaman lebih suka membawanya keluar selepas bar tutup.

Mereka akan mencari motel dan itu berarti Marni tak perlu berbagi penghasilannya dengan pemilik bar. Itu bukan satu-satunya yang menyenangkan buat Marni. Di motel mereka tak merasa perlu buru-buru, mereka bisa bermalas-malasan hingga pukul dua belas siang. Mereka juga bisa berjalan-jalan di siang hari selepas itu, mencari sarapan yang terlambat. Apa boleh buat, itu membuat mereka lambat-laun mulai jatuh cinta satu sama lain.

Sejarah kecil itu diketahui sepenuhnya oleh Rohmat Nurjaman.

Tiga tahun usia perkawinan mereka, namun Rohmat Nurjaman masih merasa sesuatu mengganjal dalam kehidupannya. Itu adalah gincu di bibir istrinya. Gincu yang sama sebagaimana ia pernah melihatnya di keremangan bar Beranda. Memang ketika mereka mengikrarkan pernikahan, keduanya telah berjanji untuk menjalani hidup baru sebagai suami dan istri, bukan pelayan bersama pelanggannya.

Tetapi, Marni masih mempergunakan gincu yang sama dan dengan cara yang sama. Rohmat Nurjaman ingin melarangnya, tapi berpikir jika ia melakukannya, itu hanya akan mengingatkan kepada masa-masa mereka di bar. Dari pagi ke pagi, dari senja ke senja, gincu itu semakin mengganggunya. Hingga akhirnya Rohmat Nurjaman mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan istrinya sementara ia pergi bekerja.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali ia sengaja mendadak pulang, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. Hingga suatu pagi seorang perempuan dari dinas sosial meneleponnya dan ia merasa memperoleh bukti untuk kemudian menghukumnya tanpa ampun dengan sebaris kalimat pendek:

“Sebaiknya kita bercerai saja.”

Tak ada tempat untuk pergi kecuali ke Beranda. Pemilik bar masih mengenalinya dan memperbolehkan Marni untuk kembali bekerja di sana.

Di tempat itu ingatannya kepada Rohmat Nurjaman malah menjadi-jadi. Saat menemani seorang pelanggan, ia akan mengenang masa ketika mereka bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tak dimengertinya, tapi dengan senang hati ia mendengarkan, dan Rohmat Nurjaman tak pernah menuntutnya untuk mengerti. Suatu ketika Rohmat Nurjaman berkata kepadanya, “Banyak perempuan di luar sana, beberapa pernah jadi pacarku, gemar bicara padahal mereka tak mengerti apa pun.”

Ia merasa itu pujian untuknya. Tetapi, saat paling membahagiakan dalam hidupnya adalah malam ketika Rohmat Nurjaman berkata:

“Rasanya aku mencintaimu.”

Sejak itu ia mulai sering berdandan setiap tahu akan bertemu Rohmat Nurjaman. Ia tak tahu banyak hal untuk diberikan kepada kekasihnya, kecuali memamerkan senyum yang tulus berhias gincu.

Hingga tiga tahun perkawinan mereka dan Marni mendapati suaminya berubah. Rohmat Nurjaman sering tak pulang dan tak lagi mencumbunya dengan kegairahan seorang lelaki cabul. Barangkali aku tak lagi cantik, pikirnya. Barangkali karena tak juga kami punya anak, katanya kepada diri sendiri. Atau barangkali suaminya pergi kembali ke Beranda dan menemukan gadis yang lebih manis di sana? Barangkali gadis itu masih empat belas tahun dan mengoleskan gincu lebih tebal di bibirnya? Marni merasa panas namun mencoba membuang kecurigaan tersebut. Meski begitu, suatu malam ketika suaminya tak juga muncul selewat pukul dua belas dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tak pula menemukan jawaban, perempuan itu memutuskan keluar rumah.

Marni memoleskan gincu ke bibirnya, percaya itu akan membuat Rohmat Nurjaman kembali ke pelukannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan minta diantar ke Beranda. Di sana, atas nama peraturan daerah tentang pelacuran, lima orang petugas menangkap Marni. Sejujurnya ia mulai menganggap semua itu hukuman untuknya, yang telah berburuk sangka suaminya pergi ke Beranda untuk meniduri perempuan lain. Menurut dia, itu malam buruk yang diawali pikiran buruk dan ia sungguh menyesal.

Kini, kembali bekerja di bar tersebut, Marni terus memelihara keyakinan bahwa suatu malam suaminya akan muncul, lalu mereka akan memulai semuanya dari awal. Dalam penantiannya, ia masih kukuh pada janji yang tak pernah diucapkannya. Ia tak mengenakan gincu. Seorang gadis dua belas tahun yang baru bekerja di sana pernah menanyakan mengapa ia tak bergincu, dan Marni menjawab:

“Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku.”

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme