Gempar segempar-gemparnya kampungku saat ini. Bukan karena kasak-kusuk dana desa yang dikorupsi ”tikus-tikus” desa gila harta meski tak seberapa. Bukan pula karena isu babi ngepet peliharaan warga yang sugih, padahal tak terlihat bekerja. Bukan, bukan itu. Gempar kali ini karena Yu Tum.
Nama lengkapnya aku tak tahu pasti. Entah Tuminem, Tumijah, atau Tumini, nama-nama khas desa suburku sekitar 30 kilometer arah barat dari ikon wisata tersohor, Malioboro. Yang kutahu, dia tidak bisa baca tulis, buta huruf dalam arti sesungguhnya. Padahal, katanya buta huruf sudah diberantas di negeri gemah ripah loh jinawi, tongkat kayu jadi tanaman alias sejahtera ini.
Wong bodho alias orang bodoh. Begitulah sebagian warga kampungku merujuk nenek bercucu satu itu. Yu Tum pun menanggapi omongan orang-orang di desaku itu dengan santai.
”Pancen nggih bodho, tho, Gus.”
”Ndak bisa moco nulis.”
Lalu, dia terkekeh sembari membereskan kayu bakar di depan pendopo kecil rumah nenekku. Sudah cukup lama Yu Tum mengabdi di keluarga besarku, sejak aku masih SMP, belum merantau dari desa.
Pagi itu, aku yang baru bangun tidur sedang menyesap manis kopi hitam di beranda pendopo ketika Yu Tum sudah cekatan bekerja. Tanpa alas kaki, ia lincah memungut batang-batang kayu kering di antara gunungan kayu bakar untuk memasak. Meski tergolong tokoh terpandang di desa, untuk beberapa urusan pawon atau dapur, nenekku masih memakai tungku kayu bakar.
”Ada apa, Yu. Pagi-pagi kok wes ngomongke bodho,” selaku sambil menyeruput kopi.
”Lha, Si Mbah njenengan tho, Gus.”
Rupanya, ritual itu sudah dimulai. Jika ada yang tak berkenan dengan pekerjaan atau titah perintah, nenekku yang dikenal galak akan dengan murah hati mengomel, marah-marah sambil menyebut kata ”bodoh”. Siapa lagi yang menjadi sasaran jika bukan Yu Tum.
Nenekku, priayi desa pemilik banyak petak sawah, terkenal suka omong apa adanya, lugas. Hampir tak ada saringan halus jika sudah bicara, apalagi dengan orang-orang yang dianggapnya kawula atau tak berpendidikan. Nenekku bisa dengan entengnya memanggil tetangga yang baru saja menggelar hajatan, entah nikah, sunatan, atau pesta lainnya. Lalu, dengan ringan berujar, ”Sumbanganmu entuk piro (dapat berapa)?” Duh, Mbaahhh….
Awalnya, ibuku serba salah dan tidak nyaman dengan perangai mertuanya itu, juga hal-hal lain yang, menurut dia, tidak sepantasnya. Hendak menegur langsung, jelas ibuku tak berani. Masuk kategori tidak patut menegur orangtua, mertuanya pula. Lebih tepatnya mungkin sudah lelah mengingatkan secara halus.
”Sampun biasa. Ibu sepuh memang begitu. Santai mawon, Bu.”
Hampir selalu begitu jawaban tetanggaku tatkala ibuku memohon maaf atas interogasi dan panggilan-panggilan yang sebenarnya tidak penting dan tidak perlu itu. Dan, itu terjadi berkali-kali hingga menjadi semacam permakluman jika Mbah Sujantoyo Pawiroredjo—nama nenekku—memang seperti itu. Kakekku sendiri sudah lama tiada sebelum ayahku mengenalinya karena masih anak balita.
Tapi, namanya sesepuh di desa meskipun banyak ulah dan terkesan semaunya, tetaplah yang muda yang harus maklum. Maka, setiap Lebaran tiba, nenekku yang tidak merayakan sudah harum mewangi, berkebaya terbaik, dan bersanggul rapi duduk di kursi kayunya sejak pagi. Berpuluh orang bergiliran bersimpuh di kakinya, mengucap mohon maaf lahir batin menggunakan bahasa Jawa halus yang aku tak juga hafal saking panjangnya. Aku sangat menghormati kultur lokal toleransi yang sangat elok itu. Begitu setiap tahun, sejak aku belum pindah ke luar desa ikut penugasan dinas bapakku, hingga saat ini.
Tentu saja, ada di barisan silaturahmi itu Yu Tum, yang menurutku tipikal wong ndeso yang pasrah dan sumeleh pada jalan hidup. Kesetiaan mengabdinya sampai pada titik yang aku sendiri kadang tak habis mengerti. Sungguh tidak masuk akal. Apalagi ditilik dari kacamataku, sarjana baru dari kampus besar negeri, di zaman ketika semua interaksi antarmanusia sudah digantikan serba teknologi bernama aplikasi. Ini-itu serba disentuh di layar telepon pintar.
Bagaimana tidak? Bayangkan. Yu Tum yang sudah ditinggalkan suaminya itu mewarisi tanah tegalan dengan luasan 7.000 meter. Aku tak kenal silsilah keluarganya, tetapi aku tahu rumahnya yang berdinding tembok dengan keramik baru corak bunga hijau, yang kini ditinggali anak semata wayangnya bersama suaminya yang berjualan jajanan cilok keliling. Cucunya masih anak balita.
Rumah Yu Tum berkamar dua di tengah tegalan warisan orangtuanya yang tidak kukenal. Aku masih saja heran soal ini, umumnya status sosial warga desa agraris seperti desaku ini disandarkan pada seberapa luas penguasaan seseorang atas tanah. Tapi, keluarga Yu Tum ini tidak masuk hitungan tokoh desa. Atau, mungkin karena tanah mereka bukan sawah. Aku tak tahu persis. Entahlah.
Yang pasti, Yu Tum tak pernah ambil pusing dengan tetek bengek status. Baginya, mengabdi kepada orang lain sudah menjadi takdirnya dan harus dijalani seloyal mungkin sebagai wujud terima kasih. Tegalan ribuan meter miliknya ditumbuhi aneka pohon, selain puluhan batang pohon kelapa, juga beberapa batang pohon jati. Batang-batang jati itulah tabungannya.
Sepetak lahan miliknya pernah ditawar salah satu pengembang perumahan untuk memperluas lahan perumahan baru, tetapi ditolaknya mentah-mentah. Ia merasa tidak butuh uang berlebihan. Cukup sudah dengan apa yang ia miliki. Untuk sikap satu itu, nenekku memuji Yu Tum, yang menilai tanah sebagai pusaka yang tak sepatutnya dijual.
”Kagem nopo, Gus,” kata Yu Tum saat aku bertandang ke rumahnya mengantar ibuku.
”Lho kan lumayan, Yu.”
”Lumayan nopo. Gini saja cukup. Mboten usah aneh-aneh,” lagi-lagi dengan senyum polosnya.
”Kan, lumayan buat tambah-tambah tuku kalung,” kali ini aku yang tersenyum.
Soal kalung ini, aku pernah dapat cerita dari ibuku. Suatu kali Yu Tum merengek minta diantar ke Pasar Godean, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Katanya mau membeli kalung yang ia impikan sejak lama.
”Sampun kok, Gus. Diantar ibu niku,” katanya terkekeh.
”Disimpen lho, Yu. Dipakai besok kondangan manten,” sergah ibuku.
Yu Tum tak setiap hari pulang ke rumahnya, dua kali sepekan, terutama jika ada perlu atau rindu cucunya. Jarak rumahnya sekitar 20 menit bersepeda motor dari rumah nenekku. Dua hari di rumah, biasanya ia sudah muncul lagi, pagi-pagi sudah menyapu halaman rumah nenekku yang jembar.
***
Petang hari itu, rumah nenekku kedatangan tamu pamong dan tokoh desa membahas rencana pembangunan jembatan dan sekolah anak-anak usia dini (PAUD) agar mereka tak perlu lagi menumpang belajar di desa lain. Ini rapat ketiga membahas tema yang sama.
Biasanya rapat akan berlangsung hingga larut, diselingi obrolan. Hadirinnya pengurus kelurahan dan tokoh informal, seperti bapakku, juga para juragan desa, seperti Pak Sukir, pemilik penggilingan gabah; Pak Dul, pengepul beras; dan Paklik Dono, distributor obat tanaman pertanian. Kalau sudah begitu, Yu Tum akan sibuk ke sana kemari layaknya peserta rapat bayangan, menyajikan makanan dan minuman, minimal teh atau kopi manis panas berikut camilan yang dibuat khusus ibuku.
Soal pembangunan jembatan lebih mudah diselesaikan karena hanya merenovasi bagian tepian dan memperkuat salah satu fondasinya. Musim hujan kali ini tak main-main, memicu banjir yang menggerus salah satu kaki jembatan penghubung desa.
Dana desa bisa menyelesaikan masalah anggaran renovasi jembatan. Mengerahkan warga untuk kerja bakti beberapa hari selepas musim hujan, maka selesai sudah masalah pertama. Berikutnya, rencana mewujudkan gedung sekolah. Masalahnya, jangankan membangun, tanahnya pun belum siap.
”Tanah di samping kantor kelurahan itu bagaimana?” tanya Pak Lurah.
”Ada rencana untuk kolam budidaya warga, Pak.”
”Yang dekat lapangan?”
”Itu kan tanah bengkok pengurus desa.”
”Yang di dekat rumah Pak Carik disiapkan untuk lahan pemakaman umum.”
Begitulah suasana rapat di antara kabut kepulan asap rokok kretek yang memenuhi ruangan pendopo.
Ada dua petak lagi lahan kosong, tetapi di sana akan didirikan badan usaha milik desa (BUMDes) dan masjid baru. Masjid lama dinilai tak representatif lagi menampung jumlah jemaah.
Pembahasan malam itu buntu lagi. Belum ada solusi pasti untuk lahan bangunan belajar dan bermain anak-anak usia dini. Sementara jumlah anak usia dini di desaku dan desa sebelah terus bertambah dan memerlukan perhatian khusus.
Seperti pertemuan sebelumnya, malam itu tampaknya masih harus berlanjut pertemuan tambahan. Entah bagaimana mewujudkan lahan yang bisa dipakai untuk gedung sekolah anak-anak, masa depan desa dan bangsa ini. Pertemuan usai lewat tengah malam. Saatnya Yu Tum membereskan piring, gelas, dan tumpukan puntung rokok di asbak ruang tengah pendopo.
***
Sore itu, lapangan bola voli milik desa di samping pemakaman riuh dengan pertandingan persahabatan pemuda dua desa, hiburan gratis dan seru. Lama sudah aku tak berada di atmosfer keseruan yang khas itu, layaknya pertandingan final olahraga memperebutkan piala bergengsi.
Kujadikan kesempatan itu bertemu kawan-kawan sekolah semasa SD, semacam reuni kecil yang tak direncanakan. Beberapa di antaranya sudah merantau ke Kota Tangerang atau Bekasi, Jawa Barat, menjadi buruh konveksi atau pabrik sepatu. Yang tinggal, ada yang jadi pegawai honorer di kelurahan, sopir truk, atau membuka bengkel sederhana. Aku satu-satunya yang bergelar sarjana dari perguruan tinggi ternama, yang menunggu panggilan kerja di Ibu Kota.
Soal kalung ini, aku pernah dapat cerita dari ibuku. Suatu kali Yu Tum merengek minta diantar ke Pasar Godean, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Katanya, mau membeli kalung yang ia impikan sejak lama.
Tapi, pembicaraan sore itu bukan semata keseruan penampilan para jago lokal. Para penonton, bapak-bapak dan ibu-ibu, justru menyebut-nyebut Yu Tum, yang siang hari tadi mendatangi balai desa. Diantar Surti, anaknya, ia temui Pak Lurah untuk mewakafkan sepetak tanahnya buat lahan gedung sekolah anak usia dini. Ia tidak ingin cucunya nanti seperti dirinya.
”Lima ratus meter itu tidak kecil, lho.”
”Yu Tum hebat.”
”Kalau ndak bodho, ya, enggak akan ngelepas tanahnya.”
”Bodho piye, tho. Itu teladan.”
Sosok Yu Tum menyeruak di antara seru pertandingan voli itu. Bagiku tak penting lagi siapa menang, siapa kalah. Di tengah sorak-sorai penonton, aku menaruh hormat pada rewang super loyal nenekku itu, wong cilik buta huruf-dicap bodoh-suruhan orang, yang konkret menghadirkan solusi nyata pendidikan di desa kecil.
Tiba di rumah hampir petang sembari memarkir sepeda motorku di halaman, Yu Tum kulihat masih menyapu dan memunguti ranting-ranting kering di kebun depan. Tidak ada yang berubah pada sosok dan aktivitasnya. Tak berapa lama, dari ibuku, kudengar nenek dan ayahku siap menyumbang semen dan batu bata, setelah tahu kerelaan Yu Tum.
Catatan:
Yu : berasal dari Mbakyu, sebutan untuk perempuan yang lebih tua
Gemah ripah loh jinawi: damai, sejahtera, subur
Pancen : memang
Njenengan : anda
Mawon : saja
Bodho : bodoh
Sampun : sudah
Kagem nopo : untuk apa
Tuku : beli
Tanah bengkok : lahan inventaris desa yang dipinjamkan bagi pengurus desa
Mboten usah : tidak perlu
Rewang : sebutan halus asisten rumah tangga
Jembar : luas
***
Gesit Ariyanto adalah pekerja media yang tinggal di Tangerang Selatan.
sumber : kompas.id, 30 Des 2021.