Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Yu Tum oleh Gesit Ariyanto

Posted on Kam, 30 Des 2021

Gempar segempar-gemparnya kampungku saat ini. Bukan karena kasak-kusuk dana desa yang dikorupsi ”tikus-tikus” desa gila harta meski tak seberapa. Bukan pula karena isu babi ngepet peliharaan warga yang sugih, padahal tak terlihat bekerja. Bukan, bukan itu. Gempar kali ini karena Yu Tum.

Nama lengkapnya aku tak tahu pasti. Entah Tuminem, Tumijah, atau Tumini, nama-nama khas desa suburku sekitar 30 kilometer arah barat dari ikon wisata tersohor, Malioboro. Yang kutahu, dia tidak bisa baca tulis, buta huruf dalam arti sesungguhnya. Padahal, katanya buta huruf sudah diberantas di negeri gemah ripah loh jinawi, tongkat kayu jadi tanaman alias sejahtera ini.

Wong bodho alias orang bodoh. Begitulah sebagian warga kampungku merujuk nenek bercucu satu itu. Yu Tum pun menanggapi omongan orang-orang di desaku itu dengan santai.

”Pancen nggih bodho, tho, Gus.”

”Ndak bisa moco nulis.”

Lalu, dia terkekeh sembari membereskan kayu bakar di depan pendopo kecil rumah nenekku. Sudah cukup lama Yu Tum mengabdi di keluarga besarku, sejak aku masih SMP, belum merantau dari desa.

Pagi itu, aku yang baru bangun tidur sedang menyesap manis kopi hitam di beranda pendopo ketika Yu Tum sudah cekatan bekerja. Tanpa alas kaki, ia lincah memungut batang-batang kayu kering di antara gunungan kayu bakar untuk memasak. Meski tergolong tokoh terpandang di desa, untuk beberapa urusan pawon atau dapur, nenekku masih memakai tungku kayu bakar.

”Ada apa, Yu. Pagi-pagi kok wes ngomongke bodho,” selaku sambil menyeruput kopi.

”Lha, Si Mbah njenengan tho, Gus.”

Rupanya, ritual itu sudah dimulai. Jika ada yang tak berkenan dengan pekerjaan atau titah perintah, nenekku yang dikenal galak akan dengan murah hati mengomel, marah-marah sambil menyebut kata ”bodoh”. Siapa lagi yang menjadi sasaran jika bukan Yu Tum.

Nenekku, priayi desa pemilik banyak petak sawah, terkenal suka omong apa adanya, lugas. Hampir tak ada saringan halus jika sudah bicara, apalagi dengan orang-orang yang dianggapnya kawula atau tak berpendidikan. Nenekku bisa dengan entengnya memanggil tetangga yang baru saja menggelar hajatan, entah nikah, sunatan, atau pesta lainnya. Lalu, dengan ringan berujar, ”Sumbanganmu entuk piro (dapat berapa)?” Duh, Mbaahhh….

Awalnya, ibuku serba salah dan tidak nyaman dengan perangai mertuanya itu, juga hal-hal lain yang, menurut dia, tidak sepantasnya. Hendak menegur langsung, jelas ibuku tak berani. Masuk kategori tidak patut menegur orangtua, mertuanya pula. Lebih tepatnya mungkin sudah lelah mengingatkan secara halus.

”Sampun biasa. Ibu sepuh memang begitu. Santai mawon, Bu.”

Hampir selalu begitu jawaban tetanggaku tatkala ibuku memohon maaf atas interogasi dan panggilan-panggilan yang sebenarnya tidak penting dan tidak perlu itu. Dan, itu terjadi berkali-kali hingga menjadi semacam permakluman jika Mbah Sujantoyo Pawiroredjo—nama nenekku—memang seperti itu. Kakekku sendiri sudah lama tiada sebelum ayahku mengenalinya karena masih anak balita.

Tapi, namanya sesepuh di desa meskipun banyak ulah dan terkesan semaunya, tetaplah yang muda yang harus maklum. Maka, setiap Lebaran tiba, nenekku yang tidak merayakan sudah harum mewangi, berkebaya terbaik, dan bersanggul rapi duduk di kursi kayunya sejak pagi. Berpuluh orang bergiliran bersimpuh di kakinya, mengucap mohon maaf lahir batin menggunakan bahasa Jawa halus yang aku tak juga hafal saking panjangnya. Aku sangat menghormati kultur lokal toleransi yang sangat elok itu. Begitu setiap tahun, sejak aku belum pindah ke luar desa ikut penugasan dinas bapakku, hingga saat ini.

Tentu saja, ada di barisan silaturahmi itu Yu Tum, yang menurutku tipikal wong ndeso yang pasrah dan sumeleh pada jalan hidup. Kesetiaan mengabdinya sampai pada titik yang aku sendiri kadang tak habis mengerti. Sungguh tidak masuk akal. Apalagi ditilik dari kacamataku, sarjana baru dari kampus besar negeri, di zaman ketika semua interaksi antarmanusia sudah digantikan serba teknologi bernama aplikasi. Ini-itu serba disentuh di layar telepon pintar.

Bagaimana tidak? Bayangkan. Yu Tum yang sudah ditinggalkan suaminya itu mewarisi tanah tegalan dengan luasan 7.000 meter. Aku tak kenal silsilah keluarganya, tetapi aku tahu rumahnya yang berdinding tembok dengan keramik baru corak bunga hijau, yang kini ditinggali anak semata wayangnya bersama suaminya yang berjualan jajanan cilok keliling. Cucunya masih anak balita.

Rumah Yu Tum berkamar dua di tengah tegalan warisan orangtuanya yang tidak kukenal. Aku masih saja heran soal ini, umumnya status sosial warga desa agraris seperti desaku ini disandarkan pada seberapa luas penguasaan seseorang atas tanah. Tapi, keluarga Yu Tum ini tidak masuk hitungan tokoh desa. Atau, mungkin karena tanah mereka bukan sawah. Aku tak tahu persis. Entahlah.

Yang pasti, Yu Tum tak pernah ambil pusing dengan tetek bengek status. Baginya, mengabdi kepada orang lain sudah menjadi takdirnya dan harus dijalani seloyal mungkin sebagai wujud terima kasih. Tegalan ribuan meter miliknya ditumbuhi aneka pohon, selain puluhan batang pohon kelapa, juga beberapa batang pohon jati. Batang-batang jati itulah tabungannya.

Sepetak lahan miliknya pernah ditawar salah satu pengembang perumahan untuk memperluas lahan perumahan baru, tetapi ditolaknya mentah-mentah. Ia merasa tidak butuh uang berlebihan. Cukup sudah dengan apa yang ia miliki. Untuk sikap satu itu, nenekku memuji Yu Tum, yang menilai tanah sebagai pusaka yang tak sepatutnya dijual.

”Kagem nopo, Gus,” kata Yu Tum saat aku bertandang ke rumahnya mengantar ibuku.

”Lho kan lumayan, Yu.”

”Lumayan nopo. Gini saja cukup. Mboten usah aneh-aneh,” lagi-lagi dengan senyum polosnya.

”Kan, lumayan buat tambah-tambah tuku kalung,” kali ini aku yang tersenyum.

Soal kalung ini, aku pernah dapat cerita dari ibuku. Suatu kali Yu Tum merengek minta diantar ke Pasar Godean, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Katanya mau membeli kalung yang ia impikan sejak lama.

”Sampun kok, Gus. Diantar ibu niku,” katanya terkekeh.

”Disimpen lho, Yu. Dipakai besok kondangan manten,” sergah ibuku.

Yu Tum tak setiap hari pulang ke rumahnya, dua kali sepekan, terutama jika ada perlu atau rindu cucunya. Jarak rumahnya sekitar 20 menit bersepeda motor dari rumah nenekku. Dua hari di rumah, biasanya ia sudah muncul lagi, pagi-pagi sudah menyapu halaman rumah nenekku yang jembar.

***

Petang hari itu, rumah nenekku kedatangan tamu pamong dan tokoh desa membahas rencana pembangunan jembatan dan sekolah anak-anak usia dini (PAUD) agar mereka tak perlu lagi menumpang belajar di desa lain. Ini rapat ketiga membahas tema yang sama.

Biasanya rapat akan berlangsung hingga larut, diselingi obrolan. Hadirinnya pengurus kelurahan dan tokoh informal, seperti bapakku, juga para juragan desa, seperti Pak Sukir, pemilik penggilingan gabah; Pak Dul, pengepul beras; dan Paklik Dono, distributor obat tanaman pertanian. Kalau sudah begitu, Yu Tum akan sibuk ke sana kemari layaknya peserta rapat bayangan, menyajikan makanan dan minuman, minimal teh atau kopi manis panas berikut camilan yang dibuat khusus ibuku.

Soal pembangunan jembatan lebih mudah diselesaikan karena hanya merenovasi bagian tepian dan memperkuat salah satu fondasinya. Musim hujan kali ini tak main-main, memicu banjir yang menggerus salah satu kaki jembatan penghubung desa.

Dana desa bisa menyelesaikan masalah anggaran renovasi jembatan. Mengerahkan warga untuk kerja bakti beberapa hari selepas musim hujan, maka selesai sudah masalah pertama. Berikutnya, rencana mewujudkan gedung sekolah. Masalahnya, jangankan membangun, tanahnya pun belum siap.

”Tanah di samping kantor kelurahan itu bagaimana?” tanya Pak Lurah.

”Ada rencana untuk kolam budidaya warga, Pak.”

”Yang dekat lapangan?”

”Itu kan tanah bengkok pengurus desa.”

”Yang di dekat rumah Pak Carik disiapkan untuk lahan pemakaman umum.”

Begitulah suasana rapat di antara kabut kepulan asap rokok kretek yang memenuhi ruangan pendopo.

Ada dua petak lagi lahan kosong, tetapi di sana akan didirikan badan usaha milik desa (BUMDes) dan masjid baru. Masjid lama dinilai tak representatif lagi menampung jumlah jemaah.

Pembahasan malam itu buntu lagi. Belum ada solusi pasti untuk lahan bangunan belajar dan bermain anak-anak usia dini. Sementara jumlah anak usia dini di desaku dan desa sebelah terus bertambah dan memerlukan perhatian khusus.

Seperti pertemuan sebelumnya, malam itu tampaknya masih harus berlanjut pertemuan tambahan. Entah bagaimana mewujudkan lahan yang bisa dipakai untuk gedung sekolah anak-anak, masa depan desa dan bangsa ini. Pertemuan usai lewat tengah malam. Saatnya Yu Tum membereskan piring, gelas, dan tumpukan puntung rokok di asbak ruang tengah pendopo.

***

Sore itu, lapangan bola voli milik desa di samping pemakaman riuh dengan pertandingan persahabatan pemuda dua desa, hiburan gratis dan seru. Lama sudah aku tak berada di atmosfer keseruan yang khas itu, layaknya pertandingan final olahraga memperebutkan piala bergengsi.

Kujadikan kesempatan itu bertemu kawan-kawan sekolah semasa SD, semacam reuni kecil yang tak direncanakan. Beberapa di antaranya sudah merantau ke Kota Tangerang atau Bekasi, Jawa Barat, menjadi buruh konveksi atau pabrik sepatu. Yang tinggal, ada yang jadi pegawai honorer di kelurahan, sopir truk, atau membuka bengkel sederhana. Aku satu-satunya yang bergelar sarjana dari perguruan tinggi ternama, yang menunggu panggilan kerja di Ibu Kota.

Soal kalung ini, aku pernah dapat cerita dari ibuku. Suatu kali Yu Tum merengek minta diantar ke Pasar Godean, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Katanya, mau membeli kalung yang ia impikan sejak lama.

Tapi, pembicaraan sore itu bukan semata keseruan penampilan para jago lokal. Para penonton, bapak-bapak dan ibu-ibu, justru menyebut-nyebut Yu Tum, yang siang hari tadi mendatangi balai desa. Diantar Surti, anaknya, ia temui Pak Lurah untuk mewakafkan sepetak tanahnya buat lahan gedung sekolah anak usia dini. Ia tidak ingin cucunya nanti seperti dirinya.

”Lima ratus meter itu tidak kecil, lho.”

”Yu Tum hebat.”

”Kalau ndak bodho, ya, enggak akan ngelepas tanahnya.”

”Bodho piye, tho. Itu teladan.”

Sosok Yu Tum menyeruak di antara seru pertandingan voli itu. Bagiku tak penting lagi siapa menang, siapa kalah. Di tengah sorak-sorai penonton, aku menaruh hormat pada rewang super loyal nenekku itu, wong cilik buta huruf-dicap bodoh-suruhan orang, yang konkret menghadirkan solusi nyata pendidikan di desa kecil.

Tiba di rumah hampir petang sembari memarkir sepeda motorku di halaman, Yu Tum kulihat masih menyapu dan memunguti ranting-ranting kering di kebun depan. Tidak ada yang berubah pada sosok dan aktivitasnya. Tak berapa lama, dari ibuku, kudengar nenek dan ayahku siap menyumbang semen dan batu bata, setelah tahu kerelaan Yu Tum.

Catatan:

Yu : berasal dari Mbakyu, sebutan untuk perempuan yang lebih tua

Gemah ripah loh jinawi: damai, sejahtera, subur

Pancen : memang

Njenengan : anda

Mawon : saja

Bodho : bodoh

Sampun : sudah

Kagem nopo : untuk apa

Tuku : beli

Tanah bengkok : lahan inventaris desa yang dipinjamkan bagi pengurus desa

Mboten usah : tidak perlu

Rewang : sebutan halus asisten rumah tangga

Jembar : luas

***

Gesit Ariyanto adalah pekerja media yang tinggal di Tangerang Selatan.

sumber : kompas.id, 30 Des 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme