Pagi itu Iis merasa aneh, jumlah ikan di kolam kecilnya bertambah. Ia yakin tak membeli ikan lagi, setelah membeli sekilo ikan mujair.
Rumahnya dikelilingi persawahan. Walau sawah-sawah itu bukan miliknya, pemandangan hijau padi tetap bisa ia nikmati. Hawa sejuk menjadi keuntungan tambahan karena membangun rumah di perkampungan yang masih asri.
Di depan rumahnya, ia bangun kolam ikan kecil. Mulanya, hanya untuk mainan anaknya yang masih berusia 6 tahun. Namun, lama-kelamaan suaminya ikut berminat merawat kolam kecil itu.
”Kita perluas sedikit agar ukurannya tak terlalu sempit.” Itu kata suaminya suatu sore. Iis mengiyakan saja, toh ia juga memang berpikiran sama.
Keesokan harinya, saat Iis membuang sisa makanan, ia merasa ada yang aneh dengan ikan-ikan di kolam kecilnya. Ia yakin tak ada ikan dengan ukuran sebesar itu kemarin. Terlebih anak lelakinya bilang, jumlah ikan yang kemarin mereka beli adalah lima puluh lima. Usia TK membuatnya senang menghitung apa saja di sekitar.
Iis coba menghitung secara acak ikan yang muncul ke permukaan. Hampir empat puluh. Jumlah itu tak ia hitung dengan cermat karena ikan yang hilang timbul membuatnya kesulitan, tapi ia yakin jumlah ikan semuanya melebihi angka yang anaknya sebutkan.
”Bang, kok ikan di kolam kita ada yang besar-besar, ya? Perasaan kemarin kita beli kecil semua.”
”Ada kok yang gede, udah bisa dibakar malah.”
Iis ragu, ia sangat yakin tak ada ikan dengan ukuran seperti itu. Iis ingin meyakinkan keraguannya.
Sore harinya, suami Iis memperluas kolam kecil itu. Tentu saja semua ikan harus dipindah terlebih dahulu ke dalam bak. Iis pikir, ini kesempatan untuk menghitung kembali jumlah ikan. Jika lebih, tentu itu bukan miliknya.
Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Iis semakin yakin ada yang salah saat sampai di angka lima puluh karena ikan di ember masih ada sekitar enam belas. Hatinya mulai bertanya, dari mana asal ikan tersebut?
Tak mungkin dari sawah, tak ada yang memelihara ikan di sawah dekat rumah. Tak mungkin juga dari kolam tetangga, jarak kolam itu dengan rumahnya terhalang dua petak sawah dan satu bangunan rumah. Iis terus berpikir tentang dari mana ikan-ikan itu berasal.
”Kamu kok tanya aku, mana aku tahu? Harusnya kamu seneng kalau ikan kita bertambah, mungkin beranak atau itu ikan-ikan yang tersesat.” Itu jawaban suaminya saat Iis bertanya.
Beranak? Mana ada ikan beranak lebih besar daripada induknya. Iis bukan orang bodoh, ia yakin ada yang tidak beres. Iis merasa ikan itu bukan miliknya dan ia tidak berhak memiliki. Walau hidup pas-pasan, Iis tak mau memakan makanan yang tak jelas asal-usulnya.
Tiba-tiba, ia ingat kejadian kemarin malam saat suaminya keluar dari rumah. Iis pikir, suaminya sedang memeriksa air di kolam kecil mereka, tapi beberapa kali memeriksa, suaminya tak ada di sana.
”Bang Maman, Bang?”
Tak ada sahutan. Iis celingukan, suasana malam yang gelap membuatnya kesulitan mencari ke tempat selain halaman rumah.
Iis memutuskan masuk, ia pikir mungkin suaminya membeli rokok ke warung. Tapi, tak lama berselang, terdengar derap langkah tergesa di halaman. Iis bergegas keluar, memeriksa. Ternyata suaminya. Ia tengah berjongkok menghadap kolam. Iis tak tahu apa yang sedang suaminya lakukan di pinggir kolam malam-malam.
”Bang, ngapain?”
”Gak ngapa-ngapain, ayo masuk.”
”Abang habis dari mana? Tadi Iis panggil kok enggak ada?”
”Gak dari mana-mana. Ayo masuk.” Suaminya mengajak masuk dengan wajah agak gundah. Iis menurut saja, bertanya pun suaminya tak menjawab.
Sekilas, sebelum masuk, Iis menoleh ke sisi kolam tempat suaminya berjongkok tadi. Kantong keresek hitam terlihat mengambang di sana. Tadi siang tak ada apa pun di kolam. Rasa penasaran menyeruak, bahkan hingga suaminya terlelap.
Perlahan Iis mengendap, keluar dari kamar. Sudah pukul sebelas malam, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Diraihnya kantong keresek hitam yang masih mengambang, Iis ingin memastikan bekas apa kantong keresek itu. Dikoreknya bagian dalam kantong keresek dengan hati-hati, ada lendir seperti dari sisik ikan. Didekatkannya kantong keresek itu ke lubang hidung, bau amis menyeruak. Dugaannya benar, kantong keresek itu bekas wadah ikan. Tapi, kemarin, ia pun membeli ikan dengan kantong keresek. Apakah ini kantong keresek yang sama?
***
Mie S, wanita sederhana yang hobi membaca. Saat ini hanya mengurus rumah tangga. Novel fiksi yang terbit, Pasangan Hidup Terakhir (2019), Dia Mencuri Mahkotaku (2020), cerpen Dua Lamaran yang dimuat harian Kompas.
sumber : kompas.id, 01 Jan 2022.