Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hilang oleh Siti Hajar

Posted on Sab, 15 Jan 2022

Sudah 14 hari lebih Nirmala hilang. Entah ke mana perginya perempuan itu, setelah dini hari pergi bersama tukang ojek kampung langganannya. Tidak seperti hari-hari biasanya saat hendak pergi berdagang sayuran, pagi itu ia mengenakan baju yang rapi bahkan terkesan sangat berlebihan untuk pergi berdagang. Ia pun memoleskan pupur dan gincu pada wajah dan bibirnya. Bakul sayur yang isinya sayuran kering sisa kemarin, ia geletakkan sembarangan di ruang tengah. Tanpa pamit kepada suami dan ketiga anaknya, ia pergi begitu saja, saat semua orang rumah masih terlelap.

Tidak ada yang sadar perginya perempuan itu. Semua orang rumah berpikir, ia pergi berkeliling menjajakan sayuran seperti biasanya. Namun, hingga malam menjelang, Nirmala tak kunjung kembali. Suami dan anak-anaknya mulai resah dan bertanya ke sana kemari. Telepon genggam yang ia bawa tidak aktif, SMS dan chat bahkan tidak dibalas.

Pada hari kepergiannya, ada desas-desus Jahidin si tukang ojek membawanya kabur. Hal ini dikarenakan pada pagi buta, beberapa orang melihat Jahidin membawanya pergi. Orang-orang pun mulai menaruh curiga pada Jahidin, begitu pun dengan Harun suami Nirmala. Namun, Jahidin bersikukuh telah mengantarnya pulang.

“Sumpah! Saya sudah membawanya pulang, saya hanya mengantarnya sebentar,” jawab Jahidin.

“Kau mengantarnya kemana?” tanya Harun.

“Aku mengantarnya ke dukun ujung Kulon di desa tetangga. Dia bilang hendak mencari dukun karena pusing dengan utang-utangnya yang sudah menggunung, sedangkan dagangannya tidak laku.”

Memang akhir-akhir ini sayuran Nirmala tidak terlalu laku. Sejak pandemi, orang-orang lebih suka membeli sayuran secara online yang langsung dikirim ke rumah untuk menghindari paparan Covid-19. Sedangkan, Nirmala masih bertahan dengan kebiasaan yang sama, yaitu menjajakan sayuran berkeliling ke setiap rumah. Orang-orang yang membeli sayurannya, hanya orang-orang yang merasa kasihan padanya.

Selain penjualan sayuran yang sepi, pekerjaan lain pun kian menurun. Pekerjaan serabutan yang biasa ia lakoni sudah semakin langka. Orang-orang berusaha bertahan hidup ditengah pandemi yang terus menghimpit perekonomian. Jangankan untuk memberi pekerjaan kepada orang lain, mereka juga banyak yang kehilangan pekerjaan.

Semakin hari, beban hidup Nirmala semakin berat. Biaya anak sekolah yang semakin ragam bentuknya, kebutuhan pangan yang terus naik, serta keinginan-keinginan yang menuntut pun, menjelma menjadi kebutuhan yang tidak bisa ia lewatkan. Semua membuatnya meminjam uang ke sana kemari dan akhirnya terjerat pinjaman online.

Pada awalnya, Nirmala meminjam tidak seberapa besar dengan jangka waktu satu bulan. Namun, baru satu minggu dari jangka waktu yang ditetapkan, ia terus ditagih utang dengan bunga yang tinggi. Ia dan keluarganya bahkan terus diteror. Semua kontak yang ada di telepon selulernya mendapat pesan dengan nada mengancam, jika Nirmala tidak segera melunasi utangnya. Nirmala begitu malu dan ketakutan karena ulah penagih utang itu. Ia pun akhirnya meminjam lagi ke pinjaman online yang lain dan kembali diteror dan diancam, begitu seterusnya hingga akhirnya ia seperti terjebak dalam lingkaran setan yang melilitnya.

“Memang benar, Kang, Mang Jahidin sudah membawa Nirma pulang sebelum Dzuhur, saya juga melihatnya.” kata Euis tetangganya.

“Iya, saya turunkan di beranda rumahmu persis, setelah itu saya langsung pergi dan saya tidak melihatnya lagi sejak itu.” tambah Jahidin.

Harun merasa berada dalam kebingungan. Pikirannya melayang-layang ke tempat yang jauh entah ke mana. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjadi suami yang baik, yang bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Mungkin ia yang menyebabkan istrinya kesusahan dan kabur dari rumah. Hal ini membuatnya gundah, kemana ia harus mencari istrinya dan kepada siapa ia meminta bantuan.

Terbesit untuk meminta bantuan kepada Pak Lurah, orang yang selalu diandalkan di kampungnya jika terjadi sesuatu. Namun, lelaki tua itu tidak akan mungkin mau membantunya, terlebih lagi Harun juga enggan berbicara dengannya. Berpapasan dengannya saja, akan membuatnya naik darah, apalagi harus mencari Nirmala bersama-sama, hal yang sulit baginya.

Hubungan mereka yang tidak baik, bermula karena perlakuan Pak Lurah kepada Nirmala yang sering kali membuatnya cemburu. Ada-ada saja tingkah lelaki tua itu, terkadang ia duduk sangat dekat dengan istrinya. Beberapa kali bahkan ia melingkarkan tangannya ke pinggang Nirmala. Tanpa rasa malu dan segan kepada Harun, Pak Lurah sering sekali menggoda Nirmala di depan Harun.

Citra Pak Lurah di kampungnya memang sangat buruk. Ia terkenal sering menyewa pelacur berhari-hari di rumahnya untuk memuaskan nafsu birahinya. Sejak ditinggal mati oleh istrinya ia hidup sendirian sebagai tua bangka yang genit. Beberapa kali pula ia memanfaatkan janda-janda yang terlilit utang untuk di sewa di rumahnya. Desas-desus tingkah Pak Lurah itu bukan rahasia umum lagi bagi warga, namun Pak Lurah tetap menjadi pemimpin di kampungnya karena dianggap pintar dan sangat cepat dalam menyelesaikan masalah.

Konflik yang terjadi antara keluarga Harun dan Pak Lurah pun terus berlanjut, ketika Nirmala mendapat Bantuan Sosial pandemi dari pemerintah. Kala itu, ada seorang wartawan bertanya tentang dana BST kepada Nirmala. Nirmala jujur mengatakan bantuan dari pemerintah kerap kali dipotong untuk administrasi kelurahan. Tak jarang sebagai uang tanda terima kasih juga. Setiap warga yang mendapat dana bantuan harus menyetor kepada Pak Lurah.

Dengan kejadian tersebut, orang-orang mengatakan, Pak Lurah didenda bahkan sampai berjuta-juta. Entah itu benar atau tidak, namun, nama keluarga Nirmala akhirnya dihapus dari daftar penduduk miskin. Setiap kali ada dana bantuan dari pemerintah, Pak Lurah akan melewatkan keluarga Nirmala dalam survei penduduk miskin. Begitulah hingga akhirnya Nirmala tidak pernah mendapat bantuan lagi dari pemerintah.

“Kamu seharusnya tidak mengatakan apapun pada lelaki itu.” kata Harun kala itu.

“Memang iya kan setiap dana bantuan dari pemerintah, selalu berkurang setelah beberapa kali dipotong dari atas dan atasnya lagi, belum lagi kita juga harus memberi uang tanda terima kasih.” tegas Nirmala.

“Kita sudah dapat saja bersyukur, meski harus dipotong sana sini. Toh, akhirnya kita sama sekali tidak dapat sepeser pun.”

“Itu hak kita, Kang! Jika pemerintah memberi bantuan, dana yang harus kita terima harus sesuai yang diberikan pemerintah, bukan sesudah dipotong ini dan itu.”

“Sekarang kita bahkan tidak dapat sepeser pun, apakah masih layak dikatakan hak kita?” bentak Harun kesal.

Nirmala hanya menggelengkan kepala dan tetap teguh pada prinsipnya, meski akhirnya ia menyesalinya, karena keadaan ekonomi yang semakin terpuruk. Haruskah ia meminta maaf kepada Pak Lurah dan memohon untuk dicantumkan lagi pada daftar orang miskin ataukah ia harus tetap pada prinsipnya dan menjaga harga dirinya? Semua membuatnya kabur tak tergambar, terkadang harga diri tidak menjadi penting saat hidup sudah di ambang putus asa.

Minggu ke minggu, bulan ke bulan ia harus bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Suaminya yang hanya kuli bangunan, penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan anak sekolah. Di tengah pandemi yang terus mencekiknya, Nirmala bekerja apa saja yang ia dapatkan. Ia mulai berjualan sayuran berkeliling, menyapu halaman rumah orang, membuka jasa mencuci baju, terkadang ia juga jadi kuli angkat kayu saat ada yang menebang pohon dan lainya. Semua pekerjaan ia lakoni dengan sepenuh hati.

Nirmala seorang pekerja keras, namun kehidupannya tetap tidak berubah. Ia tetap sengsara dengan keadaan ekonomi yang melilit hidupnya. Orang-orang bergosip apa yang terjadi kepadanya adalah sebuah karma, karena pada pernikahan dengan suami pertamanya dia memilih bercerai.

Nirmala pernah menikah dengan anak Pak Lurah. Namun, pernikahan itu akhirnya kandas setelah tahu suaminya menikah lagi tanpa izin, dengan perempuan lain. Saat itu suami pertamanya mengatakan ia harus menikahi perempuan itu karena tengah hamil. Karena tidak ingin dimadu Nirmala akhirnya memilih bercerai.

Sejak saat itulah, untuk menjaga harga dirinya yang terluka, ia berjanji akan terus membenci keluarga Pak Lurah, ditambah lagi perlakuan yang tidak senonoh kerap ia dapatkan dari mantan mertuanya. Namun, dendam sudah ia lupakan dan harga diri sudah tidak ada artinya baginya.

Sempurna setelah 30 hari, Nirmala mengetuk pintu rumahnya. Badannya sangat kurus, pipinya tirus dan wajahnya sangat pucat. Ia memberikan uang kepada suaminya untuk melunasi utang-utangnya. Kemudian ia menangis tersedu-sedu sendirian di kamarnya.

Siti Hajar sehari-hari bekerja sebagai staff accounting di salah satu perusahaan.

sumber : kompas.id, 15 Jan 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme