Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dua Tanjung oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 02 Sep 2007

Ini bulan yang kesepuluh itu, Puti. Maka kini kau kutunggu di Sungai Batang Kuranji. Seperti janji kita. Kita akan bertemu di sini, bukan? Sambil menunggumu, aku mencelupkan jari-jari kakiku ke dalam sungai ini. Memain-mainkannya. Dingin yang menjalar ke seluruh tubuh kujadikan perisai kegundahan ini. Di sini, di sungai ini, kuharap tidak ada yang melihatku, Puti.

Kemarin, kudapatkan dirimu termenung di depan jendela kamarmu ketika aku lewat hendak mencangkul sawah bersama abak. Kau menatapku dengan raut sendu. Aku tahu apa yang ada dalam hatimu. Aku iba. Aku ingin menyabarkanmu kala itu, tapi itu tak mungkin, Puti, sebab ada abak. Aku tak ingin hari itu diceramahi abak dan kemudian kami bertengkar. Kamu tahu? Semalam kami telah melakukan itu. Puti, aku sudah tak sabar membawamu, seperti janji kita berdua. Membawamu ke kota jauh.

Puti, di awal cerita, kuingat, kita tumbuh beriring bersama kanak-kanak. Seperti mencabuti bunga-bunga di halaman rumah. Berlarian sepanjang kampung dengan dada telanjang. Membakar diri di sawah di samping rumah. Atau mengerjakan pekerjaan sekolah bersama-sama. Ah, masa lalu itu Puti, tak bisa aku lupakan. Ia seperti kenangan yang selalu menggaris seluruh ingatan. Kau juga begitu, bukan?

Kini kita tidak lagi menjadi putik itu Puti. Kita telah menjelma dua kupu-kupu dewasa yang sering menghabiskan senja di tepi Sungai Batang Kuranji ini. Atau bila malam, kita sering mencurinya sambil memandangi bulan yang sepotong. Seperti dirimu, aku juga tidak tahu bermula dari mana rasa itu menyembul hingga kita terjebak pada lingkaran kasih yang tak mau terpisahkan. Berulangkali aku mengingatkan diri bahwa kita berada dalam satu kaum yang tabu untuk disatukan. Kau juga paham itu, bukan? Tapi seperti dirimu juga, aku tak punya daya. Rasa itu lebih kuat dari keinginan kita. Juga atas keinginan mereka semua: sanak saudara.

Keinginan itu telah terbentur oleh tembok yang sudah dibangun oleh orang tetua kita, Puti. Tapi jika mereka mau jujur, jarak pertalian itu sangatlah jauh. Mereka sendiri saja tidak tahu lagi dari mana kekerabatan itu berawal. Bahkan mereka pun tak punya ranji yang dapat menguraikan, lalu menyatakan bahwa kita berkaum. Ah, nasib hanya terjebak karena kita sama-sama dua tanjung. Tak lebih.

Kuingat, puluhan tahun lampau, kau dan kedua orangtuamu datang ke kampung kami. Kedua orangtuamu yang ditugaskan berdinas sebagai guru di kampungku akhirnya membeli sebuah tanah tidak jauh dari rumahku. Dan itu pulalah akhirnya membuat kita begitu dekat, bukan?

Bukan kita saja, Puti, tapi kedua orangtua kita juga, karena kedua ibu kita ternyata mempunyai suku yang sama. Mereka lalu terlihat begitu akrab. Seperti kita yang selalu menghabiskan masa kanak-kanak. Tidak. Tidak hanya sampai kanak-kanak. Tapi sampai remaja. Sampai perasaan itu tumbuh. Setelah itu aku seperti kupu-kupu yang tidak boleh memasuki taman rumahmu.

Akhirnya kau mengaduh. Dan aku mengeluh. Oleh hidup yang seperti dicabut. Seperti terjajah. Maka saat itu kita mulai mencuri malam. Mencuri detik demi detik dan melarikannya ke tempat yang sunyi. Tapi, tak ada yang bisa disembunyikan apabila ia itu bernama kebohongan, bukan? Lalu aku dirajam, oleh kata-kata yang berbaur pituah. Aku diceramah abak. Tapi aku, lelaki si kepala batu. Dan kau juga begitu, bukan?

“Anak mada. Tak mau mendengar kata orangtua. Jangan kau mencoreng kening di kepala kami,” begitu hardik abak suatu malam, Puti.

“Tapi, abak, coba uraikan, dari mana ranji itu bisa menghubungkan kekerabatan kita dengan mereka.”

“Tak mesti dengan ranji, kesamaan itu sudah menjadi halangannya. Jangan kau keras kepala anak durhaka,” bentak amak pula.

Begitulah abak dan amak Puti, bila aku tak mendengar kata-katanya, beliau akan melemparku dengan kata anak durhaka. Itu semenjak dulu, ketika aku masih kanak-kanak.

Ah, begitulah selanjutnya, kita merajut rindu dalam hari-hari belenggu. Dalam sebuah kampung yang seperti mengurung kita. Tapi dasar kita, dua manusia yang diciptakan dari dua kepala batu. Tak mau tahu apa kehendak orangtua. Kita terus saja mencuri malam.

Sampai pada suatu sore, kau menjumpaiku di sawah dengan wajah basah. Rambutmu acak-acakan. Kutahu kau habis menangis.

“Aku akan disunting orang,” begitu erangmu.

Lalu kau rebahkan tubuhmu di pematang. Kau tahu kala itu Puti, aku seperti seekor burung yang terkena anak panah. Terkapar. Hatiku perih. Terbakar. Langit seperti menimba tubuhku. Nafasku sesak. Sungguh, aku tak ingin kau disunting orang. Tapi ayah dan ibumu melakukan itu. Menerima pinangan orang kampung seberang.

Begitu sedih kau jelaskan laki-laki itu: seorang laki-laki mapan yang berprofesi sebagai guru seperti ayahmu. Kau katakan juga bahwa dia pilihan ayahmu. Mengingat itu, antara aku dengannya memang begitu jauh. Aku laki-laki yang hanya tamat es-em-a dan tidak punya pekerjaan tetap kecuali hanya membantu abak mencangkul di sawah. Musnah. Gairah hidupku begitu musnah. Karena kau disunting orang. Kuyakin kau merasakan deritaku.

“Aku tak ingin dinikahkan,” begitu katamu selanjutnya, dengan mata berlinang tentunya.

“Aku juga tak ingin,” jawabku pula. “Tapi ayahmu telah menerima lamarannya. Lalu bagaimana caranya?”

“Ayah dan Ibu memang keras kepala. Beliau selalu menjadikan kita sesuku untuk melarang hubungan kita.”

“Jadi bagaimana caranya,” kataku lagi dengan kepala terasa berat. Juga dengan pikiran buntu.

“Kita lari saja.”

“Lari?”

“Ya. Lari.”

Aku tatap wajahmu beberapa lama. Mencari kesungguhan di kedua bola matamu.

“Apa yang kau ragukan?” katamu.

“Bukan ragu,” jawabku. “Tapi….”

“Tak ada kata tetapi, bawalah aku lari jika kau sungguh-sungguh,” kalimat itu begitu bergemuruh. Mendebarkan jantung. Memacu semangatku. Dan beginilah kini, di Sungai Batang Kuranji ini, aku menunggumu. Tepat pada hari akad nikahmu….

Ini memang bulan yang ke sepuluh itu, Uda. Di sini orang-orang bergemuruh. Hiruk-pikuk. Sibuk mempersiapkan akad nikahku yang begitu tergesa tanpa kurencanakan. Dua orang sumando di rumahku dan beberapa tetangga dekat telah diutus pihak ibu untuk menjemput calon pengantinku ke kampung seberang. Kini aku di kamar dengan kebaya kuning lengkap dengan riasan yang terasa meresahkan.

Akad nikahku akan dilangsungkan hari ini, Uda. Hanya menunggu sang pengantin laki-laki itu saja. Sedari tadi pintu kamar di awasi oleh suruhan ayah. Ayah memang telah mewanti-wanti jika aku lari. Tapi memang aku ingin lari. Menemui Uda Kalidin di tepi Sungai Batang Kuranji. Sebab kita memang telah berjanji akan meninggalkan kampung menuju kota jauh sebelum acara akad nikah ini bukan? Kulirik arloji di tangan, sudah menunjukkan pukul sebelas. Beberapa saat lagi tentu si pengantin laki-laki itu akan datang. Di luar, suara si penghulu juga sudah sibuk menanyakan pengantin laki-laki. Bertanda dia juga sudah tidak sabar akan menikahkanku.

Ah, tak ada celah. Tapi aku tak ingin pasrah. Aku harus menembus kamar ini. Kulihat hanya ventilasi di kamar ini yang bisa diharapkan. Kayu-kayunya bisa aku buka. Meski tinggi. Meja dan kursi bisalah aku gunakan sebagai peninggi. Aku ingat ketika ayah dulu melarangku keluar rumah. Ventilasi itu juga pernah aku buka.

Bergegas kututup pintu kamar. Kukunci. Namun suara hiruk-pikuk masih terdengar menembus kamar: suara tawa, cekikan (tentu sebagian memperbincangkan kelangsungan acara akad nikahku). Kugeser meja di bawah ventilasi itu, kutambahkan kursi di atasnya. Perlahan kubuka satu-satu kayu yang melintang. Satu demi satu akhirnya terbuka. Hingga ventilasi itu kini menjelma seperti sebuah petakan. Kujulurkan kepala. Memperhatikan ke sekeliling. Tapi beginilah, di belakang kamar ini memang kosong, sengaja sebagai kebun kecil ayah.

Akhirnya aku melompat. Dan terjerembab pada rumput. Pinggangku terasa sakit. Tak kupedulikan. Dengan kebaya kuning rias pengantin aku bergegas meninggalkan belakang rumah. Tentu dengan mengendap-endap. Menghindari orang-orang, dengan tatapan penuh selidik.

Kini, kami saling berdekapan pada siang yang panjang di tepi Sungai Batang Kuranji. Menembus sekat-sekat adat yang mengekang. Menembus kampung menuju kota yang jauh seperti yang kami idamkan. Sungai ini, yang airnya bergemuruh, jernih seperti kristal menjadi saksi kepergian kami. Kemudian kami melangkah meninggalkan tepi Sungai Batang Kuranji. Tapi di kejauhan kami dengar suara-suara

“Cari pengantinnya. Cari pengantinnya.”

“Di sana!

“Di sana!”

Ah, suara itu terasa begitu menggelegar. Dan kami terus berjalan. Berjalan. Tapi tiba-tiba di tepi kaki kami ada jurang yang menanti. Sejenak kami terpaku, sedangkan suara-suara itu terus menyeru. Menyeru!

Padang 2007
Farizal Sikumbang (2 September 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme