Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sepatu Tuhan oleh Ugoran Prasad

Posted on Ming, 18 Nov 2007

Seorang sersan muda sedang mencegah tersangka merebut tas kecil dari meja ketika Letnan Sardi masuk. Wibawa yang bergelantungan di pundak Sang Letnan menghentikan keriuhan kecil di ruang interogasi tanpa sedikit pun tenaga tersia-sia. Si Sersan melepaskan genggamannya, membiarkan tersangka merebut dan memeluk tas itu erat-erat. Keadaan terkendali.

Letnan Sardi duduk dengan tenang dan menatap tajam ke depan. Sepotong masa lalunya kini menggumpal di seberang meja, duduk di kursi sebagai tubuh rikuh si tersangka. Sardi ingat.

Tersangka itu sahabatnya. Dulu. Sahabat sekaligus, diam-diam, seteru.

Dalam setiap permainan, mereka biasa saling bahu-membahu. Orang-orang mengenal keduanya sebagai ujung tombak kembar PS. Gunung Terang. Ujung tombak kembar yang tajam.

Sersan itu melaporkan keadaan. Mengeluhkan, lebih tepatnya. Tersangka tak mau bicara. Segala cara sepertinya percuma. Sardi menatap penuh selidik pernyataan anak buahnya, mencari maksud di balik pernyataan “segala cara”.

Ditatap seperti itu, Si Sersan merasa jengah. Ia beranikan diri minta pamit. Sardi hanya bertanya, “ke mana?” untuk menyatakan sikapnya. Intonasi pertanyaan itu terang artinya bagi Si Sersan. Permohonannya ditolak.

“Pelajari caraku menyelesaikan kasus ini.”

Sersan mematung tak jauh dari pinggir meja, menyembunyikan sikap meremehkan yang memenuhi lambungnya. Sersan itu percaya, perbedaan keduanya sebagai polisi hanya soal di mana pangkat tersemat. Lengan dan pundak bagaimanapun hanya dipisahkan ketiak, tak perlulah bersikap congkak.

Letnan Sardi bukan tak dapat merasakan sikap meremehkan ini, sebagaimana seluruh bawahannya menyimpan sikap serupa. Pagi itu, ia tak peduli, memilih tenggelam di berkas catatan di depannya.

Asan. Laki-laki. Menikah. Wiraswasta. 29 tahun. 32, ralat Sardi diam-diam. 3 tahun itu diambil untuk sebuah pertandingan tarkam sekota, 13 tahun yang lalu. Waktu itu, setiap peserta harus berumur kurang dari 18. Ia tahu, sebab 3 tahun itu juga diambil darinya.

Sardi melihat ke arah cermin di sisi ruangan, ke arah bayangannya sendiri, sebelum kembali ke Asan. Mungkin usia bekerja dua kali lebih kejam pada Asan, ia tampak ringkih dan kering.

Kebanyakan orang tentu heran bagaimana orang seringkih ini bisa mempunyai kekuatan untuk melakukan kekejian. Asan diduga keras adalah pelaku pembunuhan Raman Jereng, bandar judi besar kota ini. Tangan kecilnya telah menghantamkan batu ke tengkuk Raman, menyiramkan bensin, lalu membakar korbannya. Visum percaya bahwa korban belum tewas ketika api menyala.

Sardi menoleh ke arah Sersan, bertanya apa isi tas tersangka.

“Sepatu bola, Pak.”

Sardi menatap Sersan lekat-lekat. Sersan sempat mengira atasannya terheran-heran, sebagaimana dirinya tadi. Tapi mengapa Letnan Sardi tersenyum? Apakah akademi mengajarkan untuk menutupi perasaan heran dengan tersenyum?

Sardi ingat sepatu itu.

13 tahun yang lalu, sebelum kenal tentara, Raman Jereng cuma bandar kelas kampung. Ia masih mengotori tangannya untuk menggosok-gosok pemilu kades atau pertandingan sepak bola.

Sore itu, seusai pertandingan pertama kompetisi tarkam sekota, Raman datang membawa dua pasang sepatu. Sepatu pertama, yang kemudian dipakai Sardi, sebenarnya cukup baik. Kulitnya nomor satu, jahitannya kuat, tiga garis putih membuatnya tampak gagah. Sepatu Kaisar Bekenbewer, kata Raman.

“Sepatu ini bikin Jerman juara 74,” kata Raman. “Lu mau?” Sardi muda mengangguk. Nantinya, keputusan ini ia sesali seumur hidup.

Raman Jereng selalu punya cerita untuk apa saja. Termasuk untuk sepatu-sepatunya. Sepatu kedua, yang dihadiahkannya pada Asan, punya cerita lebih seru.

“Pernah dengar tangan Tuhan?”

Raman menyodorkan sepatu kedua ke tangan Asan. Kulitnya sama nomor satu, jahitannya sama kuat. Bedanya, sepatu itu bergambar macan kumbang sedang menerkam. “Sedang terbang,” ralat Raman. Ceritanya belum selesai, masih akan lebih seru.

Raman mengulangi pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. “Pernah dengar tangan Tuhan?” Asan berbinar-binar, tak sadar mulutnya menganga. Sardi mengangguk berkali-kali.

“Itu sepatunya.”

Asan memandangi sepatu itu tak percaya. Sepatu yang biasa dipakainya adalah sepatu sobek pinjaman Sardi. Salah satu sepatu terburuk dari koleksi anak sulung juragan kopi itu. Kini ia punya sepatunya sendiri. Tak tanggung-tanggung, sepatu Tuhan.

Sardi mengulangi kalimat yang ia dengar dari bapaknya. Komentar mengenai betapa musyriknya julukan Tangan Tuhan. “Hensbol itu tangan Setan.” Sardi bicara sendiri. Asan sibuk menatapi sepatu, Raman sibuk menatapi Asan.

Sepanjang kompetisi tarkam sekota, sepasang ujung tombak kembar Gunung Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu pun, Asan sebenarnya cukup membuat satu gol saja. Satu yang mengatasi gabungan seluruh gol di kompetisi ini.

Di perempat final, Gunung Terang tidak mengendurkan serangan sekalipun sudah memimpin 1-0. Dalam satu skema serangan, posisi para pemain tiba-tiba meniru skema gol kedua Argentina di gawang Inggris, sebulan sebelumnya.

Dari tengah, Asan lepas sendirian. Dua rekan termasuk Sardi mengikuti dari sayap. Asan terus menggempur. Satu pemain terlewati, lalu satunya lagi. Pemain ketiga mengira cukup dengan bermain posisi, tapi malah kalah lari. Pemain keempat memapasi, mengincar kaki, tapi Asan meliukkan tubuhnya dengan ajaib. Pemain keempat ini bermaksud meniru meliuk tapi malah kehilangan keseimbangan, terpelanting. Pemain kelima menghadang dengan emosi tinggi, sudah terkalahkan jauh sebelum berhadapan dengan Asan. Di depan kiper, Asan, dengan macan di sepatunya yang entah menerkam atau terbang, menyontekkan bola ke sudut kiri. Diego Asando Maradona, 2-0, legenda kampung kami.

Setahun setelah gol itu, Sardi mengutuk diri. 7 gol dan 5 umpan matang, tak seorang pun akan ingat. Bagaimana mungkin? Orang-orang cuma ingat bahwa di partai semifinal, Gunung Terang dihajar Tunas Harapan 3-0. Kalau saja Asan main di partai semifinal, ceritanya pasti lain. Kalau saja di malam sebelumnya tak ada pengendara motor krosboi melintas, kalau saja bukan Asan yang tersuruk di kolam Haji Sanusi.

Sardi tak mungkin bisa memaafkan kekalahan ini. Pencari bakat dari dua tim galatama, memasang wajah bosan di partai semifinal, mencoret sepasang nama tombak kembar Gunung Terang dari catatan mereka. Suatu keputusan buruk yang mengakibatkan Indonesia gagal juara dunia.

Mengubur cita-cita, Sardi mendaftar akademi polisi. Begitu pun, ini gagal mengubur sepotong curiga. Curiga ini terlalu meyakinkan.

Di sore sehabis gol istimewa Asan diciptakan, Raman datang, khusus mencari Asan. Keduanya bercakap di pojokan, sembunyi-sembunyi. Dalam percakapan itu, wajah Asan cepat berubah dari senang menjadi tegang, lalu cemas dan ketakutan.

Malam harinya, jendela kamar Sardi diketuk dari luar. Itu ketukan Asan. Sebentar kemudian mereka mengendap melintasi malam menuju rumah Raman Jereng. Di akhir perjalanan pulang, alasan Asan mengembalikan sepatu Tuhan tak juga terang. Sepanjang jalan Asan tak bersuara. Sekali-kalinya ia bicara, hanyalah ketika mereka berpisah. Itu pun semakin tak menerangkan apa-apa.

“Aku tak punya sepatu lagi.”

Sardi berjanji meminjamkan salah satu sepatunya.

“Yang biasanya saja.”

Sardi mengangguk.

Sepatu itu tak jadi dipinjamkan, sebab besok malamnya Asan ditabrak lari. Penanganan rumah sakit yang buruk menghentikan karier sepak bolanya. Persahabatan kedua ujung tombak itu juga turut surut. Asan selalu menghindar.

Tak lama sesudah sembuh dan menerima takdir kakinya pincang, Asan bekerja untuk Raman. Lebih tepat, Raman datang menawarkan pekerjaan. Setelah itu, 13 tahun jalan bergegas, tentara mengubah Raman menjadi bandar kaya, tapi tentu tidak jongos-jongosnya.

Asan menikah, sebentar. Istrinya kabur dengan seorang penyanyi dangdut, bukan dari Asan yang sudah mengecewakan sejak minggu pertama, tapi dari seorang anak laki-laki hiperaktif hasil pernikahan mereka. Anak laki-laki itu kini seusia putra Sardi. Keduanya kini sudah tergila-gila bermain bola.

13 tahun, pikir Letnan Sardi. Kenapa terlalu lama?

Seperti 13 tahun terakhir, kini pun Asan menghindarinya. Ia menunduk. Mereka berdua duduk berhadapan, namun tak akan ada seorang pun yang mampu mengendus gelagat lembut bahwa keduanya saling mengenal. Apalagi mengendus bahwa keduanya sempat berpapasan dalam kesempatan yang lain, sebelum ini. Seminggu lalu, di pinggir suatu lapangan sepak bola, menonton pertandingan dua kelompok bocah, keduanya duduk berdekatan. Tidak, tidak seorang pun bisa menduga. Tak seorang pun akan mengetahui, sebab bahkan Sardi dan Asan telah berjanji untuk melupakan perjumpaan ini.

Kesempatan, cetus Sardi dalam hati, menjawab pertanyaannya sendiri. Itulah alasannya. Setiap dendam butuh waktu. Tentu, tak salah lagi. Sardi telah bergumul dengan para kriminal, ia paham watak dasar mereka. Keliru jika memandang mereka sekadar mengandalkan urat nekat. Kriminal tertangguh adalah mereka yang paling bisa menciptakan kesempatan. Bukan, bukan sekadar kesempatan untuk melakukan kejahatan. Paling penting adalah kesempatan untuk merancangnya. Raman Jereng sadar benar tentang ini.

Bandar judi itu cukup licik untuk merawat Asan, terutama karena ia tahu pada gilirannya kejahatannya akan terungkap. Raman bersiasat, jika akhirnya Asan mendapati bahwa kecelakaan di kolam Haji Sanusi terjadi atas perintahnya, pengawasan ketat akan mencegah Asan membalas dendam. Berada dalam kendali berarti mempersempit kesempatan Asan merancang apa pun bagi diri sendiri. Sempit kesempatan sempit pula keberanian. Itulah resepnya.

Resep yang baik, pikir Letnan Sardi, tapi belum tentu manjur. Bagaimana jika ada orang lain, peristiwa lain, yang memungkinkan suatu kesempatan tercipta. Raman Jereng bisa saja terus mengawasi Asan, tapi ia tidak bisa mengawasi semua hal. Ia tidak bisa memasukkan semua orang ke dalam kantongnya. Ia bisa berusaha, tapi luas kantong ada batasnya.

Sardi membayangkan wajah Raman ketika terkejut mendapati api menjalar di atas kulitnya. Apakah ia mempunyai kesempatan berteriak?

Asan duduk dengan kepala terus menunduk. Apakah sahabat kecilnya itu sempat ragu? Apa kini ia menyesal? Ia tampak resah. Ya, seharusnya ia menyesal. Penyesalanlah yang membedakan antara dirinya dan kriminal semacam Raman. Yang membedakan kita dengan dia, kata Sardi diam-diam. Menjalankan kesempatan bisa berarti berkhianat pada hati kecil.

Hati kecil, ia tahu banyak tentang hal ini. Usaha kopi bapaknya tidak begitu baik ketika ia didaftarkan ke akademi polisi. Padahal, harga sogok menyogok begitu tinggi. Semenjak itu, hidupnya tergadai. Mungkin bahkan sejak sebelumnya. Sejak sepatu Kaisar diterimanya. Raman Jereng tak merasa cukup dengan bekingan tentara, ia ciptakan pula kesempatan antara dirinya dan seorang calon polisi muda dari Gunung Terang.

Raman Jereng dan seluruh kesempatan-kesempatan yang diciptakannya, semua pantas mati. Sardi tak bisa membayangkan berapa banyak orang terselamatkan, berapa banyak kesempatan kejahatan terbungkam.

Sardi tersenyum, menyimpulkan. Tak ada akhir yang paling tepat bagi seorang penjahat selain mati di tangan senjatanya sendiri. Dua buah senjata yang memakan tuannya sendiri. Adapun jika orang lain menyangka satu, itu tak lain karena kebanyakan orang cenderung lebih mengingat siapa yang bikin gol. Sardi telah berdamai dengan dirinya sendiri. Tak ada buruknya memberi umpan matang. Lagipula Kaisar memang dikalahkan Tuhan di Meksiko 86.

Letnan Sardi bersiap mengenyahkan kasus ini dari hadapannya. Ia menoleh ke arah sersan, bertanya “Sudah paham?”

Sersan menggeleng, terheran-heran. Apa yang bisa dipahaminya, dipelajarinya? Sejak tadi Letnan Sardi hanya membaca.

“Itulah yang membuat kau sersan dan aku letnan. Motif, buruh yang tertindas, majikan yang kejam, buruh balas dendam. Sederhana. Bukan pembunuhan berencana. Laki-laki ini terlalu pengecut untuk itu.”

“Bensinnya, Pak?”

“Baca lagi arsipnya.”

“Sepatunya?”

“Ini bukan cerita detektif. Kecuali kalau kau menganggapnya begitu.”

Sersan menggeleng, lemah.

Letnan Sardi, menenteng tas kecil, berjalan santai ke arah tempat parkir mobilnya. Di dalam mobil, dua orang bocah tersenyum riang menyambutnya. Bocah laki-laki yang duduk di depan, ini putranya. 7-8 tahun lagi ia akan merajalela dengan sepatu Kaisar. Bocah yang duduk di belakang, anggota baru keluarganya, masih sering terselip lidah memanggilnya dengan sebutan Oom, bukannya Ayah.

“Ini dari bapakmu.” Putra angkatnya menerima tas itu dengan canggung, tak berani membukanya.

“Apa isinya?” Sergah putranya sendiri, penasaran.

“Pernah dengar tangan Tuhan?”

Keduanya menggeleng.

Sepanjang jalan, Letnan Sardi bercerita tentang Piala Dunia 86. Satu gol terkenal Maradona adalah gabungan dari sedikit kerja kepalanya dan sedikit kerja tangan Tuhan, tapi itu belum seberapa. Di perempat final, Asan, sahabatnya, melewati lima pemain sebelum menundukkan Peter Shilton. Di semifinal mereka dikalahkan PS. Tunas Harapan 3-0. Tak apa. Setiap cita-cita berhak mendapatkan kesempatan kedua, sebagaimana Indonesia berhak juara dunia.

“Gol kedua itu, ini sepatunya.”

ugoran prasad (18 November 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme