Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mercusuar oleh Sori Siregar

Posted on Ming, 04 Nov 2007

Debur ombak sama sekali tidak terdengar. Hanya suara desir air mencapai bibir pantai yang sayup-sayup sampai ke telinga. Laut ramah dan bersahabat. Pagi yang menyenangkan bagi banyak orang yang bermain-main dan mandi di pantai.

Ian naik speedboat dua jam untuk sampai ke Teripang,” ujar Lilian kepada ibunya yang duduk di kursi malas di sampingnya di halaman hotel di pinggir pantai itu. Teripang adalah nama sebuah mercusuar di sebuah pulau kecil yang jaraknya puluhan mil laut dari tempat mereka duduk.

“Lalu kamu masih ingin pergi ke merkecusuar itu lagi?” Moira bertanya kepada anaknya Lilian.

“Ya, Mama. Ada kenikmatan tersendiri ketika berada di sana, di tengah laut, di sebuah pulau kecil dan jauh dari aktivitas manusia lain.”

“Mmm.”

“Pelayaran dua jam dengan speedboat itu saja telah menenggelamkan Ian ke dalam suasana yang sangat lain. Apalagi berdua saja dengan pengemudi boat. Ian tidak dapat menggambarkan bagaimana suasana lain itu.”

“Mmm.”

“Begitu sampai ke pulau kecil itu, Ian menyaksikan demikian banyak anak tangga yang harus didaki untuk sampai ke dataran mercusuar. Ian seorang diri menapaki anak tangga yang telah berlumut karena jarang didaki itu. Pada saat Ian menginjak anak tangga ke sepuluh dan menoleh ke arah laut, pengemudi speedboat itu melambaikan tangannya dan kemudian melaju menuju ke tengah laut.”

“Ia tidak menunggu kamu?”

“Kalau Ian hanya dua atau tiga jam di sana, ia masih mau menunggu, tapi kalau pengemudi boat itu harus menunggu sampai dua hari, Ian harus membayar biaya tambahan yang lumayan besar.”

“Lalu kamu pulang bagaimana?”

“Saya memintanya menjemput Ian. Karena itu Ian harus membayar biaya pulang pergi dari mercusuar ke pantai.”

“Mmm.”

“Barangkali Ian harus mendaki lebih dari seratus anak tangga untuk sampai di dataran mercusuar. Para petugas mercusuar yang telah mendapat pemberitahuan dari kantor cabang mereka di daratan telah siap menyambut kedatangan Ian. Para petugas yang jumlahnya lima orang itu, satu persatu menjabat tangan Ian dan menyebutkan nama mereka. Bapak-bapak yang semuanya kelihatan berusia di atas empat puluh tahun itu menerima kedatangan Ian dengan akrab dan bersahabat.”

“Mmmm.”

“Mereka membawa Ian ke rumah tempat mereka tinggal dan menyilakan Ian duduk. Mereka memohon maaf tidak dapat menghidangkan apa-apa, karena ketika itu bulan Ramadhan. Kelima petugas penjaga mercusuar itu berpuasa. Ian sendiri juga berpuasa. Menunggu saat berbuka puasa tidak terlalu lama, karena Ian tiba di Teripang sekitar pukul lima sore. Begitu suara beduk terdengar berbunyi dari radio, kami berbuka puasa hanya dengan meminum air teh. Setelah itu Ian dan bapak-bapak yang lima itu shalat magrib berjamaah. Selesai shalat kami langsung makan malam. Nasi dan lauk-pauk itu dipersiapkan Pak Tomo Pendek, satu-satunya orang yang paling rajin memasak dan yang masakannya cukup enak, menurut keempat bapak-bapak rekannya. Mereka benar, karena Ian pun dapat menikmati masakan Pak Tomo Pendek itu. Pukul sepuluh malam kami pergi ke kamar masing-masing untuk tidur. Hanya Pak Karim yang bertugas menjaga lampu suar hingga pukul empat pagi. Setelah itu ia digantikan Pak Hamzah hingga pukul sepuluh siang. Begitulah setiap hari. Petugas yang menjaga lampu suar, berganti setiap enam jam.”

Melihat ibunya tidak memberikan reaksi apa pun terhadap ceritanya, Lilian menyentuh lengan ibunya.

“Mama tidak tertarik pada cerita Ian, ya?”

Mendengar pertanyaan putrinya, Moira tersenyum.

“Mama tertarik. Justru karena itu Mama diam dan tekun mendengarkan. Rasanya Mama dapat memahami bagaimana perasaanmu ketika berada dalam lingkungan seperti itu.”

Lilian setengah percaya kepada jawaban ibunya, tetapi ia tetap melanjutkan ceritanya yang belum selesai.

“Pada saat tiba makan sahur, Pak Tomo Pendek mengetuk kamar Ian yang sangat sederhana itu. Kami makan sahur bersama menikmati masakan Pak Tomo Pendek yang tampak senang sekali dengan kehadiran Ian. Setiap kali ia menatap Ian, ia teringat kepada putrinya, yang usianya sebaya dengan Ian, katanya. Kamar yang Ian huni itu sebenarnya milik Pak Hamzah. Kamar ini mereka persiapkan untuk menyambut Ian. Karena itu Pak Hamzah harus menumpang sementara di kamar Pak Tomo Pendek. Di kamar yang Ian huni itu terdapat sebuah ranjang dengan kasur busa yang sudah kempes. Kasur busa itu dilapisi dengan seprai berwarna putih bersih. Selain ranjang itu, di kamar Pak Hamzah ini tersedia pula sebuah meja kecil tempat Pak Hamzah meletakkan jam beker, air dalam gelas, rokok, sisir, dan foto keluarganya. Ian tidak melihat lemari pakaian, sehingga Ian tidak tahu di mana Pak Hamzah menyimpan pakaiannya.”

Moira tampaknya serius mendengarkan cerita anaknya. Ia mendengarkan cerita itu sambil menikmati angin laut yang mengelus tubuhnya.

“Dua hari bersama mereka di pulau yang sangat kecil di tengah laut itu, rasanya terlalu singkat. Tapi, kantor Ian hanya memberikan waktu dua hari untuk membuat laporan tentang mercusuar di pulau itu. Setelah digarap menjadi sebuah feature yang menarik, laporan tersebut segera diudarakan ke seluruh Tanah Air.”

“Mmmm.”

“Ian merasa berat sekali ketika harus meminta diri kepada mereka, pada saat akan meninggalkan pulau itu. Malam sebelumnya Ian juga tidak dapat tidur. Berada di tengah-tengah mereka selama dua hari dua malam telah membuat Ian merasa dekat sekali dengan mereka. Ketika menjabat tangan mereka satu per satu, Ian berusaha keras memperlihatkan wajah gembira. Berkali-kali Ian ucapkan terima kasih atas pelayanan yang mereka berikan sewaktu Ian berada di tengah-tengah mereka. Mereka juga gembira melepas Ian di samping berharap suatu ketika nanti Ian akan datang lagi menemui mereka. Tetapi ketika menuruni tangga menuju tempat speedboat menunggu, Ian menangis tersedu. Tangis itu lenyap ditelan angin laut yang menderu.”

“Mengapa mereka menyambutmu begitu hangat?”

“Sebelumnya tidak ada orang yang datang ke pulau itu. Enam bulan sekali baru mereka bertemu dengan orang lain di luar lingkungan mereka. Jadwal kerja mereka memang begitu. Mereka baru kembali ke tengah-tengah keluarga setelah enam bulan bertugas di pulau itu. Mereka kemudian libur satu bulan dan saat itulah mereka berada di tengah-tengah keluarga. Setelah masa libur selesai, mereka bertugas lagi selama enam hulan. Terkadang mereka kembali ke mercusuar semula, tetapi tidak jarang pula mereka ditugaskan ke mercusuar lain.”

Lilian berhenti bercerita. Ia menatap ibunya yang tampak serius mendengarkan ceritanya.

“Alangkah menjemukan hidup seperti itu. Jauh dari keluarga dan jauh pula dari kesenangan duniawi. Mereka lebih lama bermain-main dengan rasa sepi.”

“Mereka tidak sendiri, Lilian. Orang-orang yang bekerja di oil-rig, termasuk pamanmu yang dokter itu, juga seperti itu. Mereka hidup di lepas pantai selama dua minggu, dan baru kembali ke darat untuk berlibur selama dua minggu pula. Saat itulah mereka bercengkerama bersama keluarga. Bahkan, di Pulau Sakhalin, Rusia, para petugas perminyakan itu tinggal lebih lama. Tiga bulan. Setelah itu mereka berlibur pula selama tiga bulan. Begitulah menurut cerita pamanmu.”

“Bedanya mencolok, Mama. Para pekerja yang bertugas di oil-rig itu jumlahnya banyak. Selain itu, fasilitas yang mereka perlukan lengkap. Di mercusuar, jumlah petugas hanya lima orang dan fasilitas yang mereka perlukan sangat tidak memadai. Karena itu sebuah radio transistor dan sebuah telepon genggam sangat berarti bagi mereka. Bahkan, jika mereka membutuhkan pertolongan, bantuan yang diberikan sangat terlambat. Tahun lalu, ketika Pak Hamzah bertugas di sebuah mercusuar lain, ia jatuh sakit. Seorang temannya segera menghubungi kantor mereka di pantai. Pertolongan baru datang dua hari kemudian. Untunglah Pak Hamzah yang membutuhkan operasi usus buntu masih dapat diselamatkan. Kondisi petugas di mercusuar sangat berbeda dengan petugas perminyakan di oil-rig mana pun, Mama, termasuk di Pulau Sakhalin itu.”

Moira menarik anaknya lebih dekat kepadanya. Pelan-pelan ia melingkarkan tangan kanannya ke leher Lilian. Ia mengelus-elus anak itu dalam pelukannya. Lalu terdengar suaranya lirih dalam sebuah nyanyian. Tidur, tidurlah tidur, tidur dalam ayunan, pejam-pejam matamu pejam nanti bangun kembali. Lilian membiarkan dirinya diperlakukan seperti anak kecil itu.

Selama dua tahun terakhir Moira sangat sering menyanyikan lagu ciptaan Gordon Tobing itu sambil membelai rambut putrinya. Semua ini bermula dari sebuah tragedi yang menimpa keluarga mereka. Tujuh tahun lalu, Bachtiar, abang Lilian, bersama empat rekannya sesama aktivis mahasiswa tiba-tiba hilang entah ke mana. Belakangan beredar kabar bahwa mereka diculik oleh tangan-tangan kekuasaan, dibunuh lalu dikubur di sebuah pulau kecil tidak bernama di lepas pantai.

Mengapa mereka diculik, dibunuh, dan dimakamkan di pulau kecil itu tidak seorang pun tahu. Apakah benar mereka diculik, juga tidak seorang pun yang tahu. Yang beredar hanyalah dugaan-dugaan. Moira, suaminya, dan Lilian tak jemu-jemunya mencari Bachtiar ke berbagai penjuru. Polisi yang berupaya membantu para orangtua kelima pemuda itu juga angkat tangan, menyerah.

Lilian tumbuh dalam suasana pencarian seperti itu. Di luar keinginannya, perkembangan kejiwaannya berlangsung dalam ketidakstabilan. Setelah lima tahun mencari, Moira, suaminya, dan Lilian akhirnya menyerah. Moira dan suaminya mengikhlaskan kepergian Bachtiar. Tidak demikian halnya dengan Lilian. Ia sangat terpukul. Ia sangat kehilangan seorang abang yang sangat menyayanginya.

Ketidakrelaan menerima kenyataan ini mengantarkannya kepada berbagai ilusi. Salah satu di antaranya adalah cerita yang baru saja dikisahkannya kepada Moira di halaman hotel di pinggir pantai itu. Yang dikisahkannya kepada Moira adalah kejadian yang hidup hanya dalam kepalanya. Pada waktu-waktu sebelumnya, Lilian bercerita tentang sebuah pulau kecil yang sangat sukses sebagai tourist resort, pada ketika lain ia berkisah tentang sebuah pulau kecil yang dilanda ombak besar dan membunuh semua penghuninya. Kisahnya tidak pernah beranjak dari sebuah pulau kecil yang diduganya telah menjadi rumah terakhir Bachtiar.

Sokartara, ayah Lilian, memerhatikan anaknya yang berada dalam pelukan istrinya dari jendela kamar hotel. Air matanya menitik. Bachtiar hilang tujuh tahun lalu. Pencarian dilakukan selama lima tahun. Dan, dua tahun terakhir sejak pencarian dihentikan, Lilian tidak berdaya menghadapi berbagai ilusi yang menjadi sahabatnya. Juga ayah dan ibunya. Lilian berada di mana-mana dan selalu menciptakan kisah-kisah sempurna dan meyakinkan tentang berbagai peristiwa. Namun, kisah itu tidak pernah berada jauh dari sebuah pulau kecil, entah di mana yang senantiasa menjadi lokasi ceritanya.

“Mama,” Lilian bersuara lirih.

“Ya.”

“Bolehkah Ian pergi lagi ke mercusuar Teripang minggu depan untuk bertemu dengan Pak Tomo Pendek dan keempat temannya?”

Moira mencium kening putrinya.

“Boleh, anakku, Boleh. Kalau perlu Mama juga akan ikut.”***

Sori Siregar (4 November 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme