Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ceracau Ompu Gabe oleh Hasan Al Banna

Posted on Ming, 30 Des 2007

“Ompu Gabe?” sergap seorang anak muda pada sebuah petang yang basah. Belum sempurna angguk Ompu Gabe, anak muda itu sudah mengeluarkan sebilah perintah dan gumaman aneh, “…ke lapo tuak terdekat! Mmh, aku suka naik becak siantar….”

Meski dilanda kecengangan, Ompu Gabe mengengkol sepeda motor peninggalan Perang Dunia II itu. Lantas dengan suara yang gederubum tak ubah letupan meriam, Ompu Gabe mengantar penumpangnya dengan becak khas kota Siantar kepunyaannya. Tapi rupanya kecengangan lain menyongsong. Tiba di tujuan, anak muda itu memang bergegas turun. Tapi ia tidak menyodorkan ongkos, hanya menjulurkan tangan, “Marihot….” katanya sambil menggeser senyum ke pipi kiri.

Ompu Gabe terkesima, lidahnya terkepang. Pun ketika anak muda bernama Marihot itu mengajaknya minum, ia patuh. Ompu Gabe begitu saja mendapatkan dirinya menghadap deretan botol tuak. Lalu, tanpa basa-basi. Marihot leluasa saja merubuhkan kegelisahan—entah kegeraman? Dan ketika Ompu Gabe masih dijerat peranjat, tiba-tiba Marihot membentangkan cita-cita dengan istilah—yang kedengaran asing bagi Ompu Gabe: Revitalisasi Opera Batak!

Marihot tertantang untuk menggempitakan kembali kesenian leluhurnya, opera batak. Bukankah sudah bertahun-tahun ia terlibat pertunjukan teater di Medan, bahkan keliling Sumatera dan Jawa? Maka, dengan air muka yang berkeciak, Marihot membeberkan liuk-lekuk rencana. Ia hendak mengawinkan keluguan opera dengan kilau pertunjukan modern. Marihot juga hendak mendaur torsa-torsa (dongeng), turi-turian (legenda), serta mitos- mitos batak menjadi naskah-naskah yang mujarab untuk ditampilkan. Maklum, opera batak tempo dulu cuma mengandalkan kekuatan bertutur dan improvisasi.

Maka, sudah sejak lama ia, katanya, mencicil semangat, merajut referensi, juga menggalah dukungan—motivasi dan tentu materi. Lantas, ketika semuanya rangkum, ia pun mengokang tekad: ini saatnya! Pusat Pengembangan Opera Batak layak deklarasi. Maka, Marihot mendesak Ompu Gabe pulang ke tahun-tahun lampau. Dengan harapan Ompu Gabe terlibat, tentu. Tapi, meski takjub, Ompu Gabe mengelak, tidak! Ia mengaku telah lama menebas segala kenangan tentang opera batak.

Namun, Marihot terus menggeledah, mengintai, menggoda, dan menyodokkan pertanyaan yang mesti dijawab Ompu Gabe: ya. Marihot berpekik, opera batak jangan mati, tak boleh jadi mumi! Bah, luar biasa gairah anak muda ini, puji Ompu Gabe di sudut hati.

Demi Tuhan, ia pun pernah ditabuh gairah semacam itu, mungkin jauh lebih dahsyat. Aku akan bermain opera sampai batas napas, begitu ia pernah bersumpah. Ketika itu, siapa yang sanggup meninggalkan gelora opera? Ou, dulu, opera batak adalah primadona, selalu ditunggu-tunggu. Maklum, jangankan tivi, listrik pun masih langka. Selain pasar malam, hiburan warga, ya, opera batak yang tur dari kampung ke kampung. Mereka bertahan di sebuah kampung berhari-hari, bahkan dalam hitungan minggu.

Eit, jangan khawatir jika tak ada uang. Tiket bisa dibeli dengan beras atau hasil ladang. Monis pe dijalo do (beras yang terbuang dari hasil menampih pun diterima), seloroh orang kampung. Maka, orang-orang berbondong menonton ke tanah lapang sambil margobar, berselubung selimut tebal. Tentu demi mematahkan angin yang mencengkeram tulang. Tapi iyalah, kelebat tepukan dan jengking siutan pun cukup ampuh menjerang tubuh.

Mmh, darah Ompu Gabe kerap bergeriap setiap melawat kemeriahan opera. Maklum, sejak usia 18 tahun ia sudah menunggang panggung; berlakon, menari, memainkan musik, dan bernyanyi. Ia pemain opera yang dielu-elukan penonton. Puja-puji apalagi yang tidak digemuruhkan ke telinganya. Ia jaya, ternama! Meski pada suatu kesempatan tur, ia pernah kehilangan daya. Diam- diam, seorang penonton setia selalu membikin dadanya berdegup. Setiap malam hadir dan tidak segan menonton di barisan depan.

Oi, ialah gadis bernama Teresia. Katakan, lelaki mana yang tidak hendak meminang pucuk bunga pesohor kampung? Maka tiada yang dapat menghadang kibasan bendera cinta. Pun ketika mereka saling bersulang kasih sayang. Maka, pada kesempatan tur yang ke sekian kali, mereka sepakat berangkat ke pelaminan. Menjadi suami istri muda!

Kehadiran Teresia kian membongkahkan tekad Ompu Gabe untuk tetap berlakon di panggung. Di mana cerita digelar, di situ Teresia bersandar. Ia senantiasa mendampingi, menyemangati—juga memberi dua anak lelaki untuk Ompu Gabe. Teresia adalah mata air kekuatan dan ketabahan. Suatu waktu, ketika zaman berganti gaun dan masyarakat halal menukar selera, grup-grup opera memilih tumbang, termasuk grup tempat Ompu Gabe bernaung. Pemilik opera angkat tangan, bangkrut dan bubar! Awak grup tercecer.

Ompu Gabe meronta: opera tidak boleh mati di tanah Toba! Lalu, Teresia tak tega. Ia pun berjuang keras menimba semangat Ompu Gabe yang amblas ke lubang yang gulita. Ia himpun serpihan kepercayaan Ompu Gabe yang berantakan. Dan ya, berhasil. Ompu Gabe perlahan bangkit, membentuk grup baru, serta menampung kembali pemain dan pemusik grup lama. Tur opera pun kembali berdebur, mengedar lakon demi lakon. Iya, kian berkelang memang jejeran penonton. Pun hasil keuntungan dangkal dan keruh. Tapi Teresia menolak beranjak dari gebyar panggung.

Tentu, Ompu Gabe bangga kepada istrinya. Teresia bahkan pernah didaulat pahlawan oleh awak grup. Saat itu, seorang pemain, tokoh inang, mendadak sakit. Lantas penonton nyaris mengamuk karena pertunjukan lalai dimulai. “Aku yang main!” Teresia menghadap suaminya, lalu segera mendaki panggung. Ia berhasil mengupas rasa canggung sekaligus menghipnotis penonton. Hasilnya? Lumayan, sanjung Ompu Gabe.

Maka, tak heran jika Teresia menjadi pesona baru. Dari opera ke opera, dia memikat hati penonton—juga mendulang pujian dari awak grup. Tapi sumpah, Ompu Gabe tidak pernah menghasut Teresia memikat hati siapa pun di luar lakon. Terlebih itu lelaki, apalagi lelaki itu adalah lawan main Teresia di panggung? Dasar tak beradat! Semula, baginya Teresia adalah kebahagian sempurna! Tapi kebahagiaan apa lahir yang dari sebuah pengkhianatan? Togu, sahabat Ompu Gabe, bermain opera sejak belia bersekutu cinta dengan Teresia. Mereka raib meninggalkan sekerat surat. Hanya sembilan tahunkah usia kesetiaan? Ompu Gabe pun bersemak isak sembari mendekap kedua anaknya: ah, sudah berumur tujuh dan lima tahun. Ompu Gabe berkubang luka!

Puih!

Tapi apalagi, selain pasrah? Siapa hendak menampung lampiasan amuk? Lagi pula, Ompu Gabe tak berniat mengampuni pengkhianat. Luka memang berkibar, dendam, ya, menggelepar. Namun tidak untuk menagih Teresia dari pangkuan Togu. Iya, pikiran Ompu Gabe lintang-pukang. Ia bubarkan grup. Tak ada opera, tiada lagi tur. Ia lipat hasrat untuk mengusung panggung ke kampung-kampung. Sambil menangkis tangis, Ompu Gabe pun menjual seluruh perangkat musik dan segala aset opera. Lalu, janji pun ditancapkannya ke udara: tidak untuk opera dan tidak untuk perempuan!

Nah, ketika sebagian teman— mantan pemain opera—masih tetap berkesenian meski berprofesi pengamen, Ompu Gabe malah membelot menjadi penarik becak siantar. Entahlah, ia serasi sebagai penarik becak antik itu. Kalau tidak, mana mungkin Ompu Gabe setia menarik becak sampai 22 tahun lebih. Ia bahkan sudah bercucu. Tapi belum mampu juga menumpas masa lalu? Kemudian, seorang anak muda bernama Marihot tiba-tiba mengelebatkan hujan cuka, tepat ke ladang luka.

Ah, tidak! Sebelum Marihot datang, Ompu Gabe sudah sejak lama gagal menjemur luka dan membunuh sisa cinta terhadap Teresia dan opera? Ia pun sebenarnya paham jika Marihot tidak berniat mencongkel bekas luka. Memang, Marihot mahir menjangkau geriak kehidupan Ompu Gabe yang hanyut ke muara waktu. Benar, Marihot lihai menyeret Ompu Gabe menelusuri kembali ladang kenangan: riang-gempita dan luka-cita! Tapi ia tidak pantas menuding Marihot sebagai pengobrak lemari kenangannya—bukankah sejak lalu tak terkunci?

Lagi pula, Ompu Gabe pun sadar atas kegagalannya menggenapkan kesumat. Bayangan Teresia sering timbul tenggelam di laut lamunannya. Lalu, ke mana pun angannya berpaling, terperosok juga ke semarak opera; lakon, musik, nyanyian, dan hiruk penonton. Tengoklah, di bawah jok becak tersimpan hasapi. Iseng Ompu Gabe membelinya, tapi tekun memainkannya, bersanding lagu-lagu sampai lalai waktu. Pernah, ketika Marihot menjumpai Ompu Gabe pada kesempatan yang lain, mereka menempuh malam sambil menenggak tuak, bercerita, dan bernyanyi sampai serak.

“He, jariku masih mahir memetik senarnya,” Ompu Gabe mengumbang diri.

“Lebih paten kalau dipetik di panggung,” Marihot berdesis. Lalu kembali meniup sulim.

“Mmh, tidak…” Ompu Gabe menggeleng, tapi matanya bimbang.

Marihot memang anak muda yang gigih. Sabar dan pintar. Apalagi ketika mengetahui pendirian Ompu Gabe mulai oleng. Ia belum mau menyerah. Apalah sulitnya menggedor pintu yang mulai goyah? Maka, pada malam yang lebih menggigilkan, Ompu Gabe akhirnya kehilangan kekuatan.

“Baiklah. Aku bersedia, Marihot…” Teriak Ompu Gabe menaklukkan suara mesin becak. Saat itu Ompu Gabe dan Marihot sedang berputar-putar di kota Siantar, “Aku juga akan membujuk kawan-kawan untuk berlatih dan main.” Marihot menyelidik wajah Ompu Gabe. O, mata Ompu Gabe berkilau, memendar buncahan gairah.

Mantap!

“Tapi ada syaratnya, Marihot…” sesabit senyum mengait di bibir Ompu Gabe. Pangkal hidung Marihot mengerucut, “Aku yang menjadi anak mudanya, heh!” Ompu Gabe mengerling, Marihot terbahak sambil menahan kencing.

Malam ini penampilan perdana: Lakon Guru Saman! Penonton tidak melimpah dalam gedung. Mungkin pekan depan lebih meriah saat mereka tampil di Lapangan Sisingamangaraja, Balige. Menurut rencana, lakon Sipurba Goringgoring yang digelar di sana. Tapi Ompu Gabe tidak peduli dengan jumlah hadirin. Ia cuma menanti kedatangan seseorang untuk menyaksikan kehebatannya ketika berlakon. Ia kembali merasa muda. Matanya menyala.

Ompu Gabe berperan sebagai Guru Saman, jagoan asal Lau Balang-Tanah Karo. Berilmu kebal dan lihai main silat. Nah, cerita punya cerita, tokoh ini membunuh seorang hamba Tuhan— vorhanger, juga istri korban yang sedang hamil. Memang, Guru Saman mendapat ilmu dari seorang guru yang membolehkannya membunuh, tapi ibu hamil jangan! Tapi, petuah itu telah dilanggar Guru Saman. Kesudahannya, Guru Saman berhasil ditangkap komandan intel. Lalu, ya, dihukum gantung….

Ompu Gabe bergelimang peluh. Ia sibuk memompa napas ke dada. Sesekali, Ompu Gabe membidikkan pandangan ke jantung panggung. Hujan cahaya. Tortor Sawan, selingan sekaligus bagian pertunjukan sedang berlangsung. Para penari bersimbah aksi. Musik bertabur, saling menyalip. Suara taganing berkulitak-dung, bunyi garantung bergedatuk- tang. Meski masih berada di luar panggung—wing kanan, Ompu Gabe turut dirasuk musik. Tapi ia masih harus kembali ke panggung. Adegan penangkapan Guru Saman menunggunya.

“Lihat, aku masih bermain mantap. Tapi di mana kau…?” Ompu Gabe bergumam. Dari tadi, dalam kekhusyukan berlakon, sungguh, sepasang mata Ompu Gabe begitu telaten mengedar pandangan ke barisan penonton. Tempias cahaya panggung memang samar,tetapi cukuplah untuk menyenter wajah hadirin di barisan depan. “Biasanya kau duduk di depan itu….” Namun ia tidak menemukan sosok yang diharapkannya. Ia pastikan berkali-kali. Hasilnya serupa, “Mmh, kau tidak datang…?” bisiknya ke telinga sendiri. Harapannya terjungkal!

Adegan pengujung lakon Guru Saman tetap berlanjut. Ompu Gabe sedang tertunduk ditodong tiang gantungan. Ia tegak ditopang bangku kayu. Alunan sarune menyayat, sesaat. Lantas, setelah pembacaan pledoi hukuman, adegan eksekusi pun dimulai. Lengkung tali dikalungkan ke leher Guru Saman. Algojo eksekusi bersiap menebas bangku tumpuan Guru Saman berdiri. Lampu panggung pun seketika padam diiringi jerembab bangku dan bunyi derak tali. Nyawa Guru Saman tamat. Lantas tetabuhan meletup, susul-menyusul. Suara sarune meliuk, mengoyak.

Penonton bertepuk merayakan akhir pertunjukan. Riuh sorak- sorai. Tak ada yang tahu ajal sudah tercerabut dari mulut yang berceracau:

“Ah, di mana kau, Teresia? Di mana? Mampuslah…!”

Medan, Bulan Puasa 2007

Hasan Al Banna (30 Desember 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme