Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bertungkus Lumus oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 27 Jan 2008

Dia menguakkan daun jendela keluar dan mempersilakan angin pagi menyongsong masuk dengan leluasa. Hati-hati disingkapkannya kain putih yang menutupi laptop di atas meja kecil, yang berdiri begitu rapat seperti hendak mencium bibir jendela. Beberapa saat dia berdiam diri dengan wajah cemas, seakan-akan benda yang tertutup di bawah kain putih itu cuma pembawa bencana. Dia meninggalkan tempatnya berdiri, kemudian datang lagi menenteng kemoceng. Kain penutup dia singkapkan dan debu yang tertidur di atas perangkat komputer itu dia kebutkan. Saban hari dia begitu, semacam ritus, selama hampir setengah tahun belakangan ini.

Baru sekali komputer itu dipakai, yaitu ketika putranya, yang datang menghadiahkannya, memberi petunjuk bagaimana cara kerja peranti terbaru itu. Sejak itu, komputer itu hanya terbaring di meja, di mana dia diletakkan dengan hati-hati dan rapi.

Pernah suatu hari perempuan itu diam-diam melepaskan katup laptop. Dia gugup untuk menenteramkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat begitu terlihat penampang keyboard, yang memuat begitu banyak tuts dan tanda-tanda serta petunjuk lain, yang tak pernah dia jumpai selama hidup. Dia kuatkan hatinya untuk melawan rasa enggan berhadapan dengan perangkat mesin paling dipuja zaman sekarang, dan mendorong dirinya untuk mencoba mengetik di situ. Dia menarik napas. Berdoa. Namun, tekanan ujung jari-jemarinya, yang terbiasa mengentak-entak di atas tuts mesin tik, membuat tiap huruf yang tampil di monitor berjejal-jejal tak bermakna. Dia mengeluh dalam. Dengan segera komputer itu dia matikan, kabel-kabel dia lepaskan, dan dia tebarkan kain seputih kafan menutupinya. Dia memejamkan mata dan menarik napas, membuat daun jendela di dekatnya seperti hendak turut berkeluh kesah.

Pagi ini, setelah membuka jendela, perempuan itu tak langsung menjauh. Dia memandang ke luar, melintasi daun belimbing, juga kersen, sementara bola matanya, yang sudah berbalut selaput keabuan, nanap memandangi papan nama bertuliskan Kursus Bahasa Inggris Rainbow, hitam di atas kuning, yang tegak di dekat pagar.

Rainbow, pelangi. Dia suka kata itu, karena dia pernah memberikan harapan begitu melambung—walau akhirnya harapan itu sirna dan dirinya lumat dan hina oleh kekuasaan—pada satu organisasi yang menggunakan perkakas berbentuk melengkung seperti pelangi sebagai lambangnya. Dia juga ingin menuliskan nama itu dalam bahasa Indonesia, tetapi kehendak pasar lebih kuat. Dan dia menyerah.

Di seberang bendul jendela, angin Desember mematahkan setangkai daun kersen kering. Patahan daun melayang melintasi mulut jendela dan menyelip di antara kerah kebaya perempuan yang berdiri memaku. Matanya menyelisik di antara daun-daun kering yang beterbangan di luar. Bukan daun kersen dan belimbing itu benar yang merenggut pandangnya, melainkan huruf-huruf di papan merek. Dia mengernyitkan dahi seraya menatap tajam huruf-huruf hitam yang menjentang. Hatinya terasa digulung duka. Sebersit air mata yang terasa hangat sesuam kuku menggenang di tapuk. Dia melihat huruf-huruf di papan itu sedang berguguran satu per satu. Buat dia, itu adalah alamat terakhir yang menandakan bahwa usahanya, yang berusia lebih dari duapuluh tahun, sudah membentur jalan buntu, dan tak siapa pun yang memerlukannya lagi. Ia mengusap bulir air mata dengan ujung kebaya.

Andra adalah murid terakhir yang datang menemuinya. Tanpa didahului basa-basi, murid kelas satu sekolah menengah atas itu, dengan tangan bergetar, jongkok memegangi lutut perempuan itu.

”Ibu, aku tahu aku akan kehilangan. Aku tahu, sulit bagiku menemukan kursus sebaik di sini, guru sehangat Ibu,” kata gadis itu terbata. ”Bahasa adalah soal perasaan dan hati, bukan masalah alat peraga.”

”Tidak. Takkan pernah. Aku sadar, dunia berubah begitu cepat, membuat aku jauh tertinggal. Percayalah, kau, juga teman-temanmu, akan menemukan yang lebih bagus. Orang setua aku ini sudah tak berguna. Sebuah komputer jauh lebih berfaedah,” kata perempuan itu menghibur. Dan dia teringat ketika anaknya menunjukkan jadwal pelajaran, lesson plan, dan bahan-bahan bacaan berhias gambar warna-warni, seperti pelangi, yang dikumpulkannya dari tempat kursus lain. Di sini, kertas pelajaran tampil dengan huruf yang majal, tintanya merekah pecah-pecah, karena karbon yang tidak rata.

”Ayah yang menginginkan aku berhenti, pindah. Dia ngotot betul pada kursus yang mengandalkan komputer, dan bukan pada manusia,” kata gadis itu lagi seraya memeluk gurunya. ”Kalau tergantung padaku, aku ingin tetap di sini. Tapi…, maafkan aku, Ibu.” Untuk pertama kali gadis itu merasakan pahitnya perpisahan. Dia tersedu dibuatnya.

Dua hari lalu, Karsih, Ambiya, dan Kerton datang berbarengan minta diri sambil bersungut-sungut mencerca kemauan orangtua mereka. Sebelumnya, Tami, murid yang lafal ”r”-nya begitu sempurna, terdengar lidahnya seperti bergulung dengan ujungnya yang nyaris menyentuh langit-langit rongga mulutnya. Juga Fajrul dan Fatma. Pokoknya, semua muridnya yang sepuluh orang, sudah datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Laptop tak bisa berbuat apa-apa. Lantaran orang yang berada di belakangnya berpatah-arang dengan zaman. Dia merasa telah dilahirkan di satu kurun waktu yang tidak dia inginkan. Waktu yang telah merenggut harapan hidupnya. Tidak hanya cita-cita dan harapannya, juga kemuliaan tubuhnya. Begitu menyengsarakan hidup yang dia tempuh, sehingga ketika ada kesempatan bangkit, dia bukannya berdamai dengan waktu, tetapi malah melampiaskan dendam pada tanda-tanda kemajuan zaman. Dia bersikukuh tetap menggunakan mesin tik manual. Terdengar aneh, tentu, tetapi buat dia itulah kesetiaan.

Sebegitu getirnyakah zaman, sampai dia harus berkata tidak pada pencapaian peradaban? Cuma dia yang tahu. Kata tak pernah bisa menjadi cermin yang pas untuk jalan hidupnya. Camkanlah kisahnya ini: Akhir Oktober 1965, suaminya, seorang aktivis, dicari-cari tentara. Apakah sang suami turut membantai para jenderal di Jakarta, sehingga sang istri harus dijadikan sandera sampai suaminya tertangkap kelak? Dia tak pernah jumpa dengan suaminya itu lagi—yang seperti dia juga—adalah guru.

Bagaikan pelacur gudikan tak tahu malu dan tak laku, bokongnya ditendang sepatu larsa, dan dia dijorokkan bagai sampah ke dalam kamp konsentrasi—pusat penahanan yang tiba-tiba menjamur di kotanya menyusul peristiwa berdarah di Jakarta. Ditanya dengan membentak, di mana suaminya, dia menjawab tak tahu. Guru, mengapa berbohong?! pekik tentara memaksa. ”Saya memang tak tahu, Pak. Kami menikah baru beberapa bulan, mengapa saya harus berbohong,” jawabnya, membuat berahi si tentara terbakar. Kejujuran yang dititahkan kepada setiap guru yang baik, selalu menjadi pelita hatinya. Tetapi, di depan interogator yang haus darah, juga nyawa, pengakuan apa adanya hanya memancing bencana. Dia disiksa, diperkosa, untuk memperoleh pengakuan yang, demi Tuhan, memang mustahil.

Suatu hari, seorang kapten mendatanginya. Untuk seseorang yang baru disiksa habis-habisan, sikap perwira itu luar biasa. Dibelainya rambut perempuan kita itu. ”Kau bukan PKI. Kau aku bebaskan. Ikut aku,” katanya.

Dia dinaikkan ke jeep, dan diturunkan di sebuah rumah di luar kota.

”Bantulah aku, cuma berdua kita di sini,” rayu sang kapten. Dia mulai mencuci pakaian kotor yang dibiarkan tentara itu berantakan di bawah tempat tidur. Dia juga menyediakan makanan untuk paduka tuannya itu. Ketika luka siksaan yang dia tanggungkan berangsur sembuh, sang kapten merapat, merayu, dan menggiringnya ke dalam kamar, mencumbunya habis-habisan, hingga perwira jelmaan musang berbulu ayam itu, terkulai di puncaknya.

Hari-hari dilalui perempuan kita itu tak lebih dari sekadar seorang budak gratisan, malam-malam dia lewati tak lebih dari sekadar segumpal daging simpanan. Ketika dia sudah hamil dan melahirkan anak laki-laki, kapten itu mengabarkan dia dipindahkan ke pulau seberang, dan akan kembali menjemputnya. Kata-kata itu cuma janji kosong.

Bagi seorang perempuan, anak yang lahir dari rahimnya tak pernah menjadi anak haram. Hanya lelaki keji yang mengantarkan anak jadah. Bertungkus lumus dia membesarkan jabang bayinya dengan kemuliaan. Dia bekerja sebagai pelayan di sebuah toko busana. Sebelum berangkat kerja, dia mencari penghasilan tambahan, berjualan kue di sekolah. Malamnya, barang satu-dua jam, dia sempatkan berdagang bandrek di pangkalan becak. Ketika merasa sudah cukup modal untuk mendirikan kursus, dia mengundurkan diri dari toko itu.

Dulu, sewaktu duduk dengan damai di fakultas sastra Inggris, dia mahasiswi paling cemerlang. Kalau dia ditempatkan di dalam kamar, dan diminta berkata-kata dalam bahasa Inggris, orang di luar mengira yang berbicara itu native.

Dengan penghasilan dari kursus itulah dia membesarkan anaknya jadi manusia. Anak yang memberikan kebahagiaan, kecuali matanya yang tak kuasa dia tatap. Itu adalah mata laki-laki yang terus-menerus dipertanyakan hutan-rimbanya oleh anaknya itu sampai usianya sudah sedewasa sekarang.

Pintu pagar berderik. Saadatun Alimah adalah murid terakhir yang muncul dan minta berhenti. ”Siapa pula gerangan yang masuk itu?” tanya perempuan itu dalam hati. Dijulurkannya kepala dari mulut jendela.

”Ma…,” mengalun manja. Suara yang sangat dia kenal. Anaknya, yang dulu menghadiahkan laptop, masuk menjinjing satu kotak besar, satu lagi agak kecil memanjang. ”Mama…, ini Ma, peralatan in focus, ada screen-nya juga, layarnya seputih perak! Lihatlah, Ma! Pelajaran jadi lebih menarik, kabarnya. Cobalah, Ma,” suara anak muda itu riang.

Perempuan kita itu menyongsong dengan gairah. Dia tepuk bahunya, dia rangkul, dia cium pipinya, tetapi tidak untuk perangkat yang dibawa anaknya itu. Selama anaknya memperagakan in focus, mencatat kabel yang mana yang harus dicolokkan ke socket yang mana, hati perempuan itu sedingin es. Kalau tidak akan menyakiti perasaan anaknya, dia sudah melengos pergi. Tetapi, anak adalah buah hati semua Mama, kepada siapa mereka selalu mengalah, menyembunyikan perasaan, lantaran kasih. Matanya menyimak apa-apa yang dikatakan anaknya, tetapi pikirannya terbang entah ke mana.

Dia mendekat dan menyampirkan kedua tangannya yang layu di kedua bahu anaknya yang kokoh. ”Aku tak bisa menguasai semua ini. Aku kuno. Dan kau tahu, anak yang terakhir sudah pamit, minta berhenti. Siapa lagi yang akan kuajari?” katanya.

”Ma, Mama harus mencoba, akan kubantu. Cobalah, Ma, apa salahnya mencoba?”

”Ah…”

Ruangan itu diam.

Perempuan kita itu yang mencairkan kebekuan. Katanya sambil menghindari tatapan anaknya: ”Coba, kau bacalah kartu nama yang kuselipkan di jepitan mesin tik itu.”

Yang disuruh melangkah menghampiri mesin tulis di dekat jendela, di seberang ruangan. Sambil memegangi kartu itu, dia merapat ke dada ibunya. ”Siapa ini?”

Selayang, perempuan itu menjenguk mata anaknya. Cuma selayang. ”Kau ingat Lusiana, yang matanya mirip benar dengan matamu? Seminggu yang lalu, dia datang bersama ayahnya untuk pamit. Waktu akan meninggalkan aku, ayahnya berpesan, ’Siapa tahu, suatu ketika Ibu memerlukan saya, simpanlah ini,’ sambil menyodorkan kartu nama itu.”

Entah mengapa, tiba-tiba dia merunduk di bahu anaknya. Tak bangkit-bangkit juga matanya dari lantai, takut bersitatap. Katanya teguh: ”Darahku berdesir, tubuhku terasa dingin, menggigil, ketika melihat mata ayah Lusiana. Jidatnya! Oh…, aku pasti, dialah yang menghamili aku, meninggalkan aku dan kau, membuangbalaikan kita berdua sesudah dia puas mencicipi. Waktu itu, dia kapten. Dan kalau kau baca kartu nama itu, dia pensiun dengan pangkat jenderal.

Diam seribu bahasa. Tak pernah dia bayangkan pengakuan itu akan memecut anaknya untuk mengejar sang ayah sampai pun ke balik dunia. Bukan untuk melampiaskan dendam, tentu, cuma mencari pengakuan. Dendam bisa kehilangan isi, ingatan tak pernah sirna.

Ruangan senyap. Mesin tik di satu sisi diam terduduk, sementara laptop di sisi lain mengendap terdiam. Kabel berseliweran. Pintu pagar terdengar dikuakkan tergesa. Si anak muda meninggalkan rumah ibunya, mencari ayah, dengan menjinjing penanda sepasang bola mata dan selembar kartu nama…***

”Suara Perempuan Korban Tragedi ’65,” Ita F. Nadia

Martin Aleida (27 januari 2008)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme