Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tanah Merah oleh Dwicipta

Posted on Ming, 13 Jan 2008

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.

Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.

Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di Jawa dan Sumatera.

“Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil, hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa hidup di sana?” tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.

“Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia. Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia? Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang berontak atau menjadi bajingan!” ujar Letnan Drejer sambil tersenyum kecut.

“Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu? Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu: malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu ke lembah kematian?”

“Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,” ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.

“Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!”

“Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?” ujar Letnan Drejer tak mengerti.

“Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan.”

Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya secepat mungkin.

Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa 120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai. Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.

“Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya, ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?”

Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai. Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan segenap prajurit bawahannya.

Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan. Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang telah diturunkan dari kapal.

Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa menarik napas lega.

“Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak semalam mereka akan menyerang kita,” ujar Kapten Becking keesokan harinya.

“Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan lebih payah lagi,” letnan Drejer menimpali dengan kecut.

“Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa, sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran dan lahan pertanian mereka kelak.”

“Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang Batavia itu,” ujar Letnan Drejer mengejek.

“Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab dan harus tetap berhubungan dengan peradaban.”

“Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab.”

“Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur Jenderal, bukan kepada nurani kita,” ujar Kapten Becking sambil menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.

Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.

Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan, manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun, buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.

Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa. Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki, dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.

“Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari gramofon itu, Kapten,” kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal.

“Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan manusia,” kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.

Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai, secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai Tanah Merah.

Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya, wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.

Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. “Ia sangat gila kekuasaan, Kapten,” ujar Letnan Drejer muak.

Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas militer!

Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya yang putih.

Sokawangi, Oktober 07

Dwicipta (13 Januari 2008)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme