Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Uang Jemputan oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 06 Jan 2008

Aku seperti seonggok batu yang bisu di malam hari. Diam dan kaku. Tubuhku disepuh cahaya bulan. Aku duduk di gubuk sawah milik abak yang tak berdinding dan beratap daun rumbia. Udara dingin menyergap dari berbagai arah. Entah sampai berapa lama aku akan mampu bertahan dari udara malam ini. Udara malam yang mengilu kulit sampai ke semua rusuk tulang. Juga sampai ke hati, karena hati membuka diri untuk membunuh rasa sepi dan pedih tak terperi ini. Sebab bukankah kesedihan hati juga akan membuat suasana akan terkondisi?

Iya. Seperti malam ini rasanya entah apa. Kesedihan menyergap dari berbagai arah. Luka serasa semakin menyiksa karena malam yang sunyi seperti sembilu yang turut melukai hati. Tapi hanya malam dan di gubuk ini aku bisa merenung diri. Menimbang-bimbang nasib. Menyesali diri, mengapa dulu pindah ke kampung halaman ini. Menyepelekan saran sahabat dan kerabat. Kini aku terperangkap dalam keputusan yang digulung adat. Mengunyah harapan dan mematikan keinginan. Di bawah langit yang berbintang, berkali-kali berkelebat wajahmu sambil menusuk sepi ini. Wahai Faraswati, adakah engkau rasakan deritaku ini ?

Semua berawal dari enam bulan yang lalu. Pada sebuah perkenalan yang tak disengaja. Di atas bus ANS pertama kali aku melihatmu. Kala itu aku pulang ke Padang setelah pengajuan surat pindah tugasku dikabulkan. Kutahu engkau naik dari Bukittinggi pada pagi hari. Di kala kedua mataku masih mengantuk dan tubuh terasa penat setelah satu hari aku duduk di kursi bus itu.

Entah sebuah kebetulan atau tidak. Kamu menghempaskan tubuh di tempat duduk di sebelahku. Di antara kantukku yang masih menggantung, aroma tubuhmu berputar-putar menusuk hidungku. Buru-buru aku cepat memperbaiki duduk. Merapikan pakaian yang terlihat kusut. Meraba rambut supaya tidak terlihat semrawut. Faraswati, kau tahu, di masa itu aku sebenarnya begitu gugup. Betapa tidak. Engkau muncul di sisiku seperti bidadari di pagi hari. Tubuhmu ramping. Kulitmu kuning bersih. Pakaian yang kau kenakan memperlihat lekuk tubuhmu.

Maka ketika bus melaju meninggalkan terminal Bukittingi yang sempit itu, aku mulai mencari kata untuk mengenalmu.

Di dalam bus yang melaju. Berlari gegas menyusuri jalan berkelok. Kuperhatikan wajahmu. Kamu seperti memikirkan sesuatu. Tatapanmu lurus ke depan memperhatikan ujung-ujung jalan yang akan dilewati bus itu.

Tepat pada jalan yang agak meluncur, kamu terlihat agak susah payah mengeluarkan handphone di saku celana jeans-mu yang ketat. Lalu kamu mengutak-atik handphone-mu itu. Sepertinya kamu ingin mengirimkan pesan singkat buat seseorang. Setelah selesai kembali kau sorongkan handphone ke dalam celana jeans-mu. Dan di saat itulah, siku tanganmu menyentuh bahuku.

“Maaf,” katamu pelan sambil sedikit tersenyum.

“Tak apa,” jawabku pula.

Lalu kamu kembali duduk seperti semula. Menatap ke depan.

“Mau ke mana,” tanyaku.

“Ke Padang,” jawabmu.

Aku terdiam. Mencoba mencari kembali kata untuk mengajakmu berbicara.

“Ke Padang tempat siapa,” begitu kataku selanjutnya.

Sejenak engkau diam. Seperti mencari sebuah jawaban.

“Ke rumah orangtua,” jawabmu.

“Lalu di Bukittingi tempat siapa?”

“Tempat kakak.”

“O.”

“Kalau uda dari mana?”

“Dari Medan,” jawabku

“Dari Medan,” katamu pelan.

Lalu selanjutnya kita terus berbicara berbagai hal. Menghabiskan jam demi jam. Sampai kau ceritakan tentang dirimu yang akan segera diwisuda di Universitas Negeri Padang. Di atas bus yang menderu, kita bagai dua orang yang sudah lama cukup kenal. Aku pun tak mengerti, mengapa kita lekas begitu akrab. Ketika kamu akan turun di tempat tujuan, tidak lupa kuminta nomor handphone-mu.

Esok harinya aku mencari rumahmu lewat SMS yang kau kirim. Seperti seekor kumbang dengan sayap penuh bunga aku terbang menyusuri kampungmu. Kutahu kampungmu masih dipenuhi sawah-sawah membentang. Ada jalan setapak dari simpang tiga yang menuju ke rumahmu seperti yang kau tulis lewat SMS. Setelah terbang cukup lama akhirnya aku menemukan rumahmu.

Rumahmu berupa rumah panggung. Dipagari bilah-bilah bambu yang melingkar. Bunga-bunga mekar di dalamnya. Setumpuk bunga mawar yang tumbuh di dekat anak tangga memperlihatkan bunga-bunganya yang merah hati. Sewaktu kuinjak anak tangga pertama, jantungku berdebar kencang membayangkan kamu akan membukakan pintu dengan tersenyum. Tapi, ternyata tidak. Setelah pintu kuketuk, rupanya bukan kamu yang membukakan pintu. Akhirnya kutahu dia ayahmu. Badannya kekar. Berkumis tebal. Faraswati, di saat itu aku merasa sangat penakut. Namun setelah berbicara dengan ayahmu, nyatanya dia sangat baik.

Kebaikannya itu pulalah yang membuat aku di hari-hari berikutnya kembali ke rumahmu. Menemuimu di setiap aku merasa seekor kumbang yang ingin hinggap pada sekuntum bunga. Hari dan bulan berlalu. Aku seekor kumbang yang semakin mabuk harum bunga. Akhirnya pada suatu malam, kita memutuskan untuk menikah.

“Menikah? Dengan Siapa? Anak siapa dia, ha. Di mana rumahnya,” tanya abak setelah kunyatakan keinginanku itu.

“Rumahnya di Air Dingin,” jawabku

“Di Air Dingin? Ham. Bagus, berarti masih orang Minang juga. Kutakut, kau bawa pula gadis Batak itu kemari,” jawab amak.

“Tidak-lah mak. Sewaktu bertugas di Medan. Sudah kutanamkan bahwa aku tak akan kawin di sana.”

“Kalau memang sudah begitu, kau suruhlah orangtuanya ke mari. Biar kita buat kesepakatan.”

“Iya bak.”

Lalu dua hari selanjutnya kedua orangtuamu datang. Kuingat itu pada suatu malam. Di dalam kamar, di antara hati yang berbunga-bunga aku berusaha mencuri percakapan mereka. Ternyata, di malam itu, semuanya berubah. Semuanya seperti yang tidak kita duga.

“Apa? Sepuluh juta?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau tiga juta. Karena kami tidak punya uang sebanyak itu. Belum lagi uang untuk pesta dan membeli perlengkapan lain.”

“Itu sudah sepantasnya. Kalau tiga juta itu-kan, untuk laki-laki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tapi anak kami seorang guru pegawai negeri. Kami rasa sepuluh juta itu sudah sepadan.”

“Terus terang kami tidak bisa memenuhi uang jemputan sebanyak itu. Untuk saat ini kami mengalah. Uang itu terlalu besar buat kami.”

Lalu tidak berapa lama kemudian kudengar kedua orangtuamu minta pamit diri.

“Abak, mengapa jadi begitu. Mengapa harus ada uang jemputan sebanyak itu,” tanyaku.

“Sepuluh juta itu sudah biasa buyung. Kau tahu, si Husen anak Apak Kahar yang bekerja sebagai montir Honda dijemput lima juta. Apalagi kau, seorang pegawai negeri.”

“Tapi abak, aku tak butuh uang sebanyak itu. Aku punya uang untuk pesta pernikahanku.”

“Ini soal adat dan harga diri buyung. Apa kata orang nanti. Masa anak seorang pegawai negeri tidak ada uang jemputan.”

“Itu kan lebih bagus abak.”

“Tidak. Tidak ada uang jemputan itu lebih tidak bagus. Pokoknya uang jemputannya sebanyak itu. Jika tidak, jangan harap kau bisa menikah dengannya. Kau sudah susah payah aku sekolahkan. Biayamu besar. Kau tahu.”

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku mondar-mandir di kamar seperti orang kesurupan. Hatiku gelisah. Ruangan kamar itu berubah seperti sebuah petakan yang siap hendak menjepit tubuhku. Setelah lelah berputar, aku akhirnya menghempaskan tubuh di atas kasur. Tidak lama kemudian kuterima kiriman SMS-mu.

“Uda, ayah sudah pulang dari rumah uda. Ayah sudah menceritakan semuanya. Katanya ayah tidak punya sebanyak itu. Itu memang benar. Ayah beberapa bulan yang lalu sudah menjual satu ekor sapinya untuk uang wisudaku yang lalu. Kami bukan orang kaya uda. Jadi bagaimana kami bisa memenuhi uang sebanyak itu? Aku bingung uda. Apakah kasih kita akan patah sampai di sini? Aku tunggu jawaban uda”

Begitu bunyi SMS-mu yang semakin membuat mataku tak bisa dipejamkan malam itu.

Kini, di malam ini aku belum juga bisa membalas SMS-mu itu. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku tak bisa menentang abak. Aku benar-benar menjelma seperti batu. Diam dan kaku. Oh Faraswati, di bawah cahaya bulan, di dalam gubuk tak berdinding ini, kuharap kau mengerti deritaku ini.

Padang 2007

Farizal Sikumbang (6 Januari 2008)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme