Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bronyot oleh I Nyoman Wirata

Posted on Kam, 27 Jan 2022

Suara ”tok… tok… tok” menghilang sejak raungan sirene kerap memasuki desa. Bagaimana mengatakan dirinya memiliki sebuah mimpi jika sejak itu dia mengatakan kehilangan tidurnya. Konon sebatang dagdag hadir di mimpinya. Sebatang yang tumbuh di comberan datang menghadap lalu meminta agar diwujudkan jadi sebuah topeng. Tak tanggung-tanggung, wujudnya harus Arsawijaya.

Arsawijaya adalah topeng halus. Bukan topeng keras dengan mata mendelik. Dibuat dengan pulasan warna putih. Di sudut bibirnya tersungging senyuman. Guratan garis halus dibuat oleh pahat setajam taji. Tak ada sisi yang tertinggal tanpa sentuhan halus. Berlapis-lapis warna dasar dipulas yang kemudian pada tumpukan warna terakhir menghasilkan putih yang unik. Tak sembarang orang mau dan mampu melakukan proses semacam itu.

Sebagai pembuat segala bentuk topeng, Bronyot, sebutan di belakang punggungnya, tahu itu. Itu sebabnya, dia berpikir ulang sekalipun percaya mimpi adalah sebuah wangsit. Tetap ada ada rasa sangsi bisa menakik dagdag dengan baik. Sebab dagdag adalah kayu rapuh dan memiliki serat kasar.

”Ah sudahlah!” katanya kepada istrinya. ”Pendek kata, pohon dagdag tumbuh dekat kandang babi itu kita tebang saja. Daripada tak ada pekerjaan. Pedagang kayu sudah tak bisa diharap akan datang. Kita hanya punya itu.”

”Beh!” sela istrinya. ”Untuk topeng Arsawijaya? Beh… beh… beh, itu bertambah panjang.” Dan sepi pun memanjang pula. Esoknya dagdag ditebang.

”Jangan sampai habis. Sisakan sebagian agar tumbuh dan berdaun lagi. Jika tidak, kita kelak tak punya pakan babi lagi. Babi-babi bunting perlu daun dagdag. Bakalan beranak banyak. Kelak kita jual.”

”Tentu. Beberapa waktu akan tumbuh lagi. Daun-daunnya muda, hijau, dan pasti lebar-lebar karena musim hujan akan membantunya subur. Dahan dan ranting dengan daun lebat. Hujan akan terus ada sampai bulan Maret. Sesudah itu babi-babi bunting akan melahirkan anak-anak. Banyak anak banyak rezeki! Dan bila kayu dagdag menjadi topeng dan ada pembeli, kita haturkan babi guling dari seekor anakannya sebagai kaul.”

Batang dagdag menghasilkan potongan kayu persegi begitu banyak. Denyut kehidupan mulai terasa. ”Gila!” Bergantian tetangganya melongok dari balik tembok ketika suara ”tok… tok… tok” terdengar.

Bronyot benar-benar dianggap gila. Dalam sejarah para perajin, dagdag tak masuk hitungan. Takdir terbaiknya daunnya dijadikan pakan babi. Pohon comberan yang tumbuh dekat kandang babi seratnya memanjang, kasar dan rapuh. Untuk kayu api pun enggan orang menggunakannya.

Hampir dua tahun kehidupan limbung. Suara radio yang biasa terdengar seharian ngecuer menghibur perajin yang menakik topeng tak kedengaran lagi bersamaan suara ”tok… tok… tok…” dari rumah-rumah. Suara gerung mobil makin jarang di jalanan desa. Teriak anak-anak main layangan menghilang.

Kesenyapan berubah mencekam tatkala suara sirene kian mendekat dan sangat dekat, lalu berhenti. Kemudian suara kentongan dari bale banjar. Kemudian segelintir orang tampak bergegas di jalanan menuju kuburan. Sejumput beras, kain putih barang dua meter dibawa ke rumah duka. Suwung menuju malam saat suara cret-nong melepas senja kala ke tikungan waktu menuju malam yang senyap dan terasa mencekam.

”Ini masa terburuk,” kata Bronyot kepada istrinya. Dia masih termangu mengumpulkan keberanian dan keyakinan untuk memulai takikan pertama.

”Lebih buruk daripada masa mencekam yang pernah aku rasakan. Dan entah sampai kapan ini akan berhenti. Dulu, rasa mencekam karena suara gerung mobil tentara, derap langkah sepatu, teriakan di tengah malam, rasa kesakitan kemudian seseorang diseret. Suara teriakan rasa sakit lenyap ketika gerung mobil terdengar. Tak ada yang bisa menjelaskan. Kentongan di bale banjar pun bungkam. Tak ada kejelasan hidup mati seseorang.”

Bronyot kehilangan kata-kata. Lama termangu, ”Tak ada pekerjaan yang lebih buruk bila hanya diam. Membayangkan belulang tubuh ditakik, ditatah menjadi wayang. Lalu jadi bayang-bayang. Menunggu dimasukkan ke dalam kotak kayu hitam yang gelap. Kita harus berupaya.”

Istrinya hanya mendesah tak berani menyela dengan satu patah kata pun. Ia merasa suaminya lebih sakit ketimbang rasa sakit yang dialaminya.

”Saya tak bisa melakukan apa-apa.”

”Saya akan menyelesaikan sendiri,” sergah Bronyot. ”Dagdag beda dengan kayu lain. Kalau tekanan ampelas terlalu keras, kayu akan tergerus dan urat-uratnya akan muncul.”

Tak seperti biasanya dia percayakan pada istrinya untuk menghaluskan dan memulas warna dasar pada topeng buatannya.

Dua kali dia gagal membuat bakalan topeng. Kali ketiga masih sama. Untuk keempat sedikit ada tanda baik. Dia menyurukkan semuanya ke kolong dipan. Bronyot menyerah. Pahat kembali diasah setajam taji. Mencoba lagi. Potongan kayu kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan pada hitungan kesembilan sedikit ada harapan. Dia agak lega.

”Aeng!” desahnya.

Aeng karena ada rasa mencekam. ”Bagaimana mungkin kau membuat Arsawijaya aeng!. Tapi apa ada yang salah? Dia manusia sejarah. Arsawijaya adalah raja. Tak setiap raja anggun, ganteng, dan lemah lembut. Setiap raja, dan wajahnya aku meragukannya.”

Dia hendak melanjutkan ke potongan kesepuluh. Sebelum pahat bekerja dia berhenti. Dia mengambil kembali bakalan topeng kesembilan. Dia menggerak-gerakkan dengan tangan. Menari-narikan dengan tangannya. Pentas sunyi di rumahnya dan topeng seperti tergantung di awang-awang. Dia mendesah. Menurunkan topeng itu lalu menyurukkan ke kolong dipan. Pada potongan kayu kesembilan dia tinggalkan semuanya.

Dia ke ladang. Kembali ke ladang kembali ke tanah. Kacang panjang, pare, kelor berbuah kelentang, gedebong biubatu dipunggal anakannya untuk sayur, kelapa tua diturunkan dari pohon. Harapan hidup kepada tanah. Ubi atau ketela. Itu bisa untuk bertahan. Kembali ke masa lalu dengan sedikit beras dicampur.

Babi-babi tengah bunting. Akan melahirkan anak yang banyak. Kelak bisa dijual. Lumbung masih berisi. Biarlah semuanya berjalan. Biarlah tanpa kepastian. Biarlah raungan sirene terus-menerus karena tak ada yang bisa diperbuat kecuali jangan pergi dari rumah. Seperti anak ayam takut disambar elang bila keluar dari kandang. Sekalipun demikian, sesaji sesederhana apa pun harus tetap dihaturkan. Ketahanan, kewaspadaan, dan doa ke hadapan Hyang. Katakan, bila semua isi rumah mati lalu siapa yang melakukan kewajiban kepada leluhur. Katakan itu. Langit akan mendengar keluh kita. Katakan itu!.

Bronyot mengalur jalanan panjang berliku dari pintu ladang hingga sampai ke pintu rumahnya. Dan istrinya menyergah, ”Aneh! Mengapa kau lagi? Bajra, Murniati sudah beberapa kali menarikan Arsawijaya.”

”Aku tak pernah meminta. Leluhur menentukan caranya sendiri. Bukankah semula ayah lalu aku kemudian entah bagaimana kemudian Bajra dan Murniati dipilih. Aku kini lelaki pilihan. Kau harus bangga. Ini tak main-main. Kau tak perlu repot menyiapkan apa-apa. Segalanya sudah disiapkan, termasuk topeng. Aku tinggal menari. Selesai. Dan tonton aku!” Istrinya beringsut ngedumel, ”Panak liyak.” Bronyot tersenyum merasa berhasil memainkan emosi istrinya.

Ritual dilakukan lalu mengenakan topeng di wajahnya. Ketika suara gamelan meninggi, setangkai kamboja dilentikkan ke tengah pentas. Pelan-pelan tirai dibuka. Penonton mendongak terkejut. Bungkam. Arsawijaya Bronyot duduk sambil menari di atas sandaran kursi. Hanya anjing-anjing menyapanya riuh dengan lengkingan panjang ketika dia ngeloyor pergi setelah selesai menari dan topeng masih melekat di wajahnya.

***

I Nyoman Wirata lahir 1953 dan tinggal di Denpasar. Puisi dan esai yang ditulisnya dipublikasikan di media massa lokal dan nasional. Sudah menerbitkan tiga buku kumpulan puisi. Terakhir, I Nyoman Wirata mendapat penghargaan Bali Jani 2021 dari Pemerintah Provinsi Bali atas keterlibatannya dalam gerakan di bidang sastra di Bali.

sumber : kompas.id, 27 Jan 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme