Suara ”tok… tok… tok” menghilang sejak raungan sirene kerap memasuki desa. Bagaimana mengatakan dirinya memiliki sebuah mimpi jika sejak itu dia mengatakan kehilangan tidurnya. Konon sebatang dagdag hadir di mimpinya. Sebatang yang tumbuh di comberan datang menghadap lalu meminta agar diwujudkan jadi sebuah topeng. Tak tanggung-tanggung, wujudnya harus Arsawijaya.
Arsawijaya adalah topeng halus. Bukan topeng keras dengan mata mendelik. Dibuat dengan pulasan warna putih. Di sudut bibirnya tersungging senyuman. Guratan garis halus dibuat oleh pahat setajam taji. Tak ada sisi yang tertinggal tanpa sentuhan halus. Berlapis-lapis warna dasar dipulas yang kemudian pada tumpukan warna terakhir menghasilkan putih yang unik. Tak sembarang orang mau dan mampu melakukan proses semacam itu.
Sebagai pembuat segala bentuk topeng, Bronyot, sebutan di belakang punggungnya, tahu itu. Itu sebabnya, dia berpikir ulang sekalipun percaya mimpi adalah sebuah wangsit. Tetap ada ada rasa sangsi bisa menakik dagdag dengan baik. Sebab dagdag adalah kayu rapuh dan memiliki serat kasar.
”Ah sudahlah!” katanya kepada istrinya. ”Pendek kata, pohon dagdag tumbuh dekat kandang babi itu kita tebang saja. Daripada tak ada pekerjaan. Pedagang kayu sudah tak bisa diharap akan datang. Kita hanya punya itu.”
”Beh!” sela istrinya. ”Untuk topeng Arsawijaya? Beh… beh… beh, itu bertambah panjang.” Dan sepi pun memanjang pula. Esoknya dagdag ditebang.
”Jangan sampai habis. Sisakan sebagian agar tumbuh dan berdaun lagi. Jika tidak, kita kelak tak punya pakan babi lagi. Babi-babi bunting perlu daun dagdag. Bakalan beranak banyak. Kelak kita jual.”
”Tentu. Beberapa waktu akan tumbuh lagi. Daun-daunnya muda, hijau, dan pasti lebar-lebar karena musim hujan akan membantunya subur. Dahan dan ranting dengan daun lebat. Hujan akan terus ada sampai bulan Maret. Sesudah itu babi-babi bunting akan melahirkan anak-anak. Banyak anak banyak rezeki! Dan bila kayu dagdag menjadi topeng dan ada pembeli, kita haturkan babi guling dari seekor anakannya sebagai kaul.”
Batang dagdag menghasilkan potongan kayu persegi begitu banyak. Denyut kehidupan mulai terasa. ”Gila!” Bergantian tetangganya melongok dari balik tembok ketika suara ”tok… tok… tok” terdengar.
Bronyot benar-benar dianggap gila. Dalam sejarah para perajin, dagdag tak masuk hitungan. Takdir terbaiknya daunnya dijadikan pakan babi. Pohon comberan yang tumbuh dekat kandang babi seratnya memanjang, kasar dan rapuh. Untuk kayu api pun enggan orang menggunakannya.
Hampir dua tahun kehidupan limbung. Suara radio yang biasa terdengar seharian ngecuer menghibur perajin yang menakik topeng tak kedengaran lagi bersamaan suara ”tok… tok… tok…” dari rumah-rumah. Suara gerung mobil makin jarang di jalanan desa. Teriak anak-anak main layangan menghilang.
Kesenyapan berubah mencekam tatkala suara sirene kian mendekat dan sangat dekat, lalu berhenti. Kemudian suara kentongan dari bale banjar. Kemudian segelintir orang tampak bergegas di jalanan menuju kuburan. Sejumput beras, kain putih barang dua meter dibawa ke rumah duka. Suwung menuju malam saat suara cret-nong melepas senja kala ke tikungan waktu menuju malam yang senyap dan terasa mencekam.
”Ini masa terburuk,” kata Bronyot kepada istrinya. Dia masih termangu mengumpulkan keberanian dan keyakinan untuk memulai takikan pertama.
”Lebih buruk daripada masa mencekam yang pernah aku rasakan. Dan entah sampai kapan ini akan berhenti. Dulu, rasa mencekam karena suara gerung mobil tentara, derap langkah sepatu, teriakan di tengah malam, rasa kesakitan kemudian seseorang diseret. Suara teriakan rasa sakit lenyap ketika gerung mobil terdengar. Tak ada yang bisa menjelaskan. Kentongan di bale banjar pun bungkam. Tak ada kejelasan hidup mati seseorang.”
Bronyot kehilangan kata-kata. Lama termangu, ”Tak ada pekerjaan yang lebih buruk bila hanya diam. Membayangkan belulang tubuh ditakik, ditatah menjadi wayang. Lalu jadi bayang-bayang. Menunggu dimasukkan ke dalam kotak kayu hitam yang gelap. Kita harus berupaya.”
Istrinya hanya mendesah tak berani menyela dengan satu patah kata pun. Ia merasa suaminya lebih sakit ketimbang rasa sakit yang dialaminya.
”Saya tak bisa melakukan apa-apa.”
”Saya akan menyelesaikan sendiri,” sergah Bronyot. ”Dagdag beda dengan kayu lain. Kalau tekanan ampelas terlalu keras, kayu akan tergerus dan urat-uratnya akan muncul.”
Tak seperti biasanya dia percayakan pada istrinya untuk menghaluskan dan memulas warna dasar pada topeng buatannya.
Dua kali dia gagal membuat bakalan topeng. Kali ketiga masih sama. Untuk keempat sedikit ada tanda baik. Dia menyurukkan semuanya ke kolong dipan. Bronyot menyerah. Pahat kembali diasah setajam taji. Mencoba lagi. Potongan kayu kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan pada hitungan kesembilan sedikit ada harapan. Dia agak lega.
”Aeng!” desahnya.
Aeng karena ada rasa mencekam. ”Bagaimana mungkin kau membuat Arsawijaya aeng!. Tapi apa ada yang salah? Dia manusia sejarah. Arsawijaya adalah raja. Tak setiap raja anggun, ganteng, dan lemah lembut. Setiap raja, dan wajahnya aku meragukannya.”
Dia hendak melanjutkan ke potongan kesepuluh. Sebelum pahat bekerja dia berhenti. Dia mengambil kembali bakalan topeng kesembilan. Dia menggerak-gerakkan dengan tangan. Menari-narikan dengan tangannya. Pentas sunyi di rumahnya dan topeng seperti tergantung di awang-awang. Dia mendesah. Menurunkan topeng itu lalu menyurukkan ke kolong dipan. Pada potongan kayu kesembilan dia tinggalkan semuanya.
Dia ke ladang. Kembali ke ladang kembali ke tanah. Kacang panjang, pare, kelor berbuah kelentang, gedebong biubatu dipunggal anakannya untuk sayur, kelapa tua diturunkan dari pohon. Harapan hidup kepada tanah. Ubi atau ketela. Itu bisa untuk bertahan. Kembali ke masa lalu dengan sedikit beras dicampur.
Babi-babi tengah bunting. Akan melahirkan anak yang banyak. Kelak bisa dijual. Lumbung masih berisi. Biarlah semuanya berjalan. Biarlah tanpa kepastian. Biarlah raungan sirene terus-menerus karena tak ada yang bisa diperbuat kecuali jangan pergi dari rumah. Seperti anak ayam takut disambar elang bila keluar dari kandang. Sekalipun demikian, sesaji sesederhana apa pun harus tetap dihaturkan. Ketahanan, kewaspadaan, dan doa ke hadapan Hyang. Katakan, bila semua isi rumah mati lalu siapa yang melakukan kewajiban kepada leluhur. Katakan itu. Langit akan mendengar keluh kita. Katakan itu!.
Bronyot mengalur jalanan panjang berliku dari pintu ladang hingga sampai ke pintu rumahnya. Dan istrinya menyergah, ”Aneh! Mengapa kau lagi? Bajra, Murniati sudah beberapa kali menarikan Arsawijaya.”
”Aku tak pernah meminta. Leluhur menentukan caranya sendiri. Bukankah semula ayah lalu aku kemudian entah bagaimana kemudian Bajra dan Murniati dipilih. Aku kini lelaki pilihan. Kau harus bangga. Ini tak main-main. Kau tak perlu repot menyiapkan apa-apa. Segalanya sudah disiapkan, termasuk topeng. Aku tinggal menari. Selesai. Dan tonton aku!” Istrinya beringsut ngedumel, ”Panak liyak.” Bronyot tersenyum merasa berhasil memainkan emosi istrinya.
Ritual dilakukan lalu mengenakan topeng di wajahnya. Ketika suara gamelan meninggi, setangkai kamboja dilentikkan ke tengah pentas. Pelan-pelan tirai dibuka. Penonton mendongak terkejut. Bungkam. Arsawijaya Bronyot duduk sambil menari di atas sandaran kursi. Hanya anjing-anjing menyapanya riuh dengan lengkingan panjang ketika dia ngeloyor pergi setelah selesai menari dan topeng masih melekat di wajahnya.
***
I Nyoman Wirata lahir 1953 dan tinggal di Denpasar. Puisi dan esai yang ditulisnya dipublikasikan di media massa lokal dan nasional. Sudah menerbitkan tiga buku kumpulan puisi. Terakhir, I Nyoman Wirata mendapat penghargaan Bali Jani 2021 dari Pemerintah Provinsi Bali atas keterlibatannya dalam gerakan di bidang sastra di Bali.
sumber : kompas.id, 27 Jan 2022.