Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Surat di Negeri Pageblug oleh Iswadi Bahardur

Posted on Sab, 29 Jan 2022

Nama Pak Surat sangat termasyur. Tidak hanya di desa tempat tingggalnya, melainkan sampai ke desa-desa lain. Penyebabnya tidak lain karena lelaki berusia senja itu adalah orang pintar. Pak Surat dipercayai mampu menyembuhkan berbagai penyakit manusia, hanya dengan tetesan air ludahnya.

Sejak pertama kali kabar tentang kehebatan Surat tersiar, orang yang sakit berbondong-bondong mendatangi kediamannya. Setetes air ludahnya selalu dinantikan belasan sampai puluhan orang sakit sepanjang hari. Bagaikan air mukjizat yang diturunkan Tuhan dari surga, ludah Surat tak dibiarkan terjatuh ke tanah barang secuil saja. Kalau saat prosesi pengobatan ada ludah Surat tertumpah ke lantai rumahnya, maka berebutanlah orang-orang sakit meraupnya kemudian membalurkan ke bagian tubuh sakit mereka.

”Pak Surat, aku akan sebut namamu setiap kali berdoa kepada Tuhan agar kau panjang umur dan ludahmu tidak pernah kering.”

”Tuan Surat, aku akan minta istriku membuat masakan daging kerbau paling lembut untuk kau santap agar ludahmu mujarab mengobati sakit di kakiku.”

”Aku berjanji, Tuan Surat, akan membawakan perhiasan emas paling mahal untuk anak dan istrimu jika ludahmu bisa menyembuhkan luka di punggungku.”

Begitulah janji-janji orang-orang sakit yang datang kepada Surat untuk minta berkah kesembuhan. Tak banyak kata yang dikeluarkan Surat setiap kali mendengar janji-janji manis mereka. Hanya senyum, anggukan, dan sesekali perkataan, ”Ya, tentu!” yang menunjukkan kalau Surat merasa senang atas segala janji untuknya.

Mengapa Surat sangat irit bicara? Tentu demikian karena sejak kecil dia dikenal sebagai lelaki pendiam. Saat telah menikah pun, Surat hanya akan memberikan anggukan atau gelengan saja jika istrinya telah terlalu banyak berbicara.

Makin hari kehebatan Surat memang tidak bisa diremehkan lagi. Setiap orang sakit yang datang kepadanya selalu berbuah sembuh sentosa. Semakin banyak orang sakit yang sembuh, semakin berbondong pula orang sakit berikutnya datang meminta kesembuhan kepadanya. Seperti nabi yang turun ke bumi membawa wahyu penyelamat manusia, Surat semakin dipuji, semakin dicari, dan tentunya semakin kaya.

Sampai suatu ketika seorang lelaki tua berjubah putih didampingi dua laki-laki muda gagah rupawan menemui Surat.

”Benarkah kau bernama Surat?” lelaki berjubah menyapa Surat dengan suara begitu wibawa.

”Siapakah Tuan dan dari manakah berasal?” Surat berbalik menanya lelaki berjubah dengan keheranan yang seksama. Baru kali ini ia mendapati orang sakit yang datang kepadanya malah dalam kondisi segar bugar.

”Aku sakit. Dapatkah kau menyembuhkan aku?”

”Tentu, kalau Tuan bermaksud mendapat pengobatan dari ludahku.”

”Sebelum kau mengobatiku dengan ludahmu, izinkan aku bertanya sesuatu hal terlebih dahulu.”

”Silakan. Hal apakah yang akan Tuan tanyakan?,

Sebelum melanjutkan maksudnya, lelaki berjubah putih terdiam sejenak sembari mengelus-elus jenggot.

”Apakah kau pernah menggunakan mulutmu untuk berdusta?” tanyanya kemudian.

Baca Juga: Air Doa

Mendengar pertanyaan itu, Surat tercekat. Selama ini belum pernah ada orang sakit bertanya demikian kepadanya. Surat menjadi dilema. Jika dijawabnya pertanyaan lelaki berjubah dengan jujur, ya, dia pernah menggunakan mulutnya untuk berdusta, reputasi kesaktiannya akan tercoreng. Namun, kalau dijawab pula dengan jawaban dusta, dua kali lipat kerugiannya; lelaki berjubah itu batal berobat dan itu artinya dia juga gagal mendapatkan uang.

Cukup lama Surat termenung sebelum menemukan jawaban yang tepat.

”Kami akan mengurungkan rencana berobat kepadamu jika kau ragu menjawab,” lelaki berjubah sedikit mengacam Surat yang masih diam.

”Oh, maaf, Tuan. Tentu saja aku tidak pernah menggunakan mulutku untuk berdusta. Kalau aku berdusta, mana mungkin ludahku mengandung kesaktian. Ah, Tuan bertiga tidak perlu mengkhawatirkan hal itu,” balas Surat akhirnya berdusta.

Selepas berkata demikian, Surat sadar telah berdusta. Namun tindakan itu harus dilakukannya

”Baiklah kalau begitu. Kami akan datang lagi besok pagi. Jika apa yang kau katakan tadi dusta, maka ludahmu akan menjadi sumber penyakit bagi semua orang.”

Surat tak sempat menjawab karena ketiga lelaki asing itu tiba-tiba telah lenyap dari hadapannya tanpa menyisakan jejak. Surat tercenung seperti mendapati kekalahan telak. Tak ingin berlama-lama memikirkan raibnya ketiga lelaki itu, Surat pun membuang muka dengan kesal. Sambil merapikan pakaian, ia bangkit dari duduk dan berjalan menemui istrinya.

”Bu, bersiap-siap, ya, besok pagi kita pergi pelesiran ke kota di negeri seberang,” perintah Surat dengan jumawa seperti ingin memusnahkan kebimbangan yang tiba-tiba menyergap pikirannya.

”Benarkah?” sambut istri Surat dengan suara tergagap, seperti tidak yakin atas apa yang baru dia dengar.

Surat mengangguk tanpa menatap wajah istrinya yang sedang memoleskan lipstik tebal-tebal ke bibir.

”Lalu bagaimana dengan orang-orang sakit yang mencarimu besok pagi?” sambung istrinya, masih dengan perasaan tidak yakin kalau Surat mendadak memutuskan pergi pelesiran.

”Ludahku dan mulutku adalah milikku. Tidak ada orang lain, apalagi orang-orang sakit itu berhak mengaturku!” intonasi Surat meninggi seketika.

Istri Surat menunduk. Perempuan bertubuh gemuk itu sedang tak ingin berdebat. Dia lebih tertarik membayangkan indahnya pelesiran ke kota besar.

”Baiklah, aku akan siapkan dulu keperluan anak-anak kita untuk berangkat besok pagi,” pungkas istri Surat menyudahi saja kegiatan berdandannya.

Surat melepas langkah istrinya dengan wajah yang masih diliputi kekesalan atas perkataan lelaki berjubah. Diseretnya langkah ke ruangan tempat biasa menerima orang sakit. Di depan ruangan itu, di luar pintu yang sedikit terbuka, puluhan orang sakit berdiri menunggu Surat. Tanpa mempedulikan orang sakit yang berjubel, Surat menutup pintu dengan hempasan keras.

”Hari ini saya tidak buka praktik!” teriak Surat begitu kencang sebelum pintu terkatup rapat.

**

Surat telah matang dengan rencana pelesirannya. Sesuai perintah kepada istri dan anaknya yang akan ikut serta, pagi-pagi betul Surat pun bermaksud memastikan apakah mereka telah siap untuk berangkat. Surat ingin, mereka telah meninggalkan rumah sebelum laki-laki tua berjubah kembali datang meneror. Maka tergopoh-gopohlah Surat menuju kamar tidur anak sulungnya. Sekonyong-konyong Surat terkejut bukan main ketika sampai di depan pintu kamar anaknya. Di lantai kamar, istri dan kedua anaknya malah ditemukannya tergeletak. Mereka nampak begitu kesakitan, mengerang, menggelepar dengan dada naik turun, serupa ikan kehilangan air. Surat tidak percaya istri dan anaknya mendadak sakit parah, karena pada malam sebelumnya ketiganya masih dalam kondisi sehat bugar.

”Bu! Kau kenapa?”

”Nak! Kau kenapa?”

Surat mengguncang-guncang tubuh istri dan kedua anaknya bergantian. Ia semakin panik menyaksikan dari mulut ketiga orang kecintaannya itu mengeluarkan bunyi gemuruh, serupa terowongan yang mengandung gelora air demikian besar.

Belum selesai Surat dengan kepanikannya, di halaman rumahnya terdengar suara-suara heboh yang entah dimulai sejak kapan.

”Surat! Surat! Keluar kau! Tanggung jawabkan kematian saudara-saudara kami!”

”Ya! Surat! Kau harus bertanggung jawab atas kematian anak-anak kami oleh ludahmu!”

”Ya! Surat keparat! Keluar kau!”

Suara-suara berteriak di halaman rumah Surat semakin ramai. Makin tak terkendali dan makin bergemuruh.

Surat demikian panik, antara ingin menyelamatkan anak dan istrinya atau melihat situasi riuh dari halaman rumah. Dalam kepanikan, dia baru ingat untuk menggunakan ludahnya sebagai obat istri dan kedua anaknya. Diluahkannya ludahnya ke atas telapak tangan untuk dioleskan ke wajah istri dan kedua anaknya berulang kali. Surat yakin itulah cara paling ampuh untuk menghentikan ketiganya dari sekarat. Tetapi kali ini Surat salah perkiraan. Ludahnya yang semula sakti mandraguna ternyata tidak mempan untuk menyembuhkan istri dan anaknya.

Dalam panik itu Surat teringat kembali pertanyaan lelaki berjubah tentang mulutnya yang berdusta.

”Sial!”

Surat mengumpat kencang dan melompat ke luar kamar, berlari ke arah teras rumahnya. Belum sempat membuka pintu, dari kaca jendela Surat menyaksikan orang-orang sakit yang pernah diobatinya berkumpul berdempetan di halaman. Mereka terlihat sakit dan sesak nafas. Puluhan atau mungkin ratusan di antaranya bahkan telah terkapar tak bernyawa. Sementara puluhan orang lainnya berdiri huyung dengan mulut yang berbatuk dan berbuih. Surat tak siap mental menghadapi situasi seburuk itu. Dia berbalik badan dan berlari secepatnya menuju tanah lapang berpohon-pohon lebat di belakang rumahnya. Surat ingin membenamkan diri di sana tanpa dapat dikejar lagi oleh orang-orang sakit itu. Ia tak percaya kalau ludahnya yang menyebabkan orang-orang itu sekarat dan meninggal.

**

Sudah setahun kejadian ngeri itu berlalu, namun Surat masih belum bisa melepaskan diri dari rasa takutnya.

”Kami mohon Pak Surat bersedia menyerahkan tanah yang Bapak beli dari hasil praktik dukun itu,” begitulah permintaan pak Lurah setahun lalu, saat ratusan orang meninggal dalam peristiwa pageblug mendadak setelah Surat berbohong kepada lelaki berjubah putih.

Surat tidak sanggup menolak permintaan pak lurah di desanya. Entah disulut oleh rasa ditekan atas ucapan si lurah atau karena rasa simpatinya terhadap korban yang pernah diobati dengan ludahnya, Surat menyanggupi untuk menyerahkan tanah miliknya untuk dijadikan sebagai area pemakaman para orang sakit yang telah meninggal.

”Ya saya bersedia.”

Lurah yang mengenakan kopiah itu mengangguk sebagai tanda puas atas kesediaan Surat.

”Serahkan surat-surat tanah itu kepada saya,” sambung Lurah.

Surat bingung. Dia tidak mengerti dan tidak tahu apa yang dimaksud dengan surat-surat tanah.

”Tidak ada, Pak,” tanggap Surat singkat.

”Baiklah. Kalau begitu biarkan kami bekerja,” putus Lurah.

Tak butuh lama, tanah seluas ratusan meter di belakang kediaman Surat telah menjelma kuburan masal dengan nisan berjejer-jejer. Di tempat itu juga Surat menyaksikan mayat istri dan anaknya dimasukkan ke dalam tanah kuburan. Prosesi penguburan itu dilakukan oleh perangkat desa yang dibantu oleh puluhan orang dari kota yang memakai seragam serba putih. Surat masih belum mengerti, mengapa orang-orang dari kota tersebut memakai pakaian seragam yang aneh, serba putih, tertutup dari ujung kaki sampai kepala. Mereka tak ubahnya seperti badut besar yang sedang bermain di taman anak-anak.

Surat telah mendengar, sejak kejadian itu, orang-orang kota yang datang ke tempat tinggalnya menyebut kejadian nahas itu sebagai musim pandemi. Surat tidak mengerti apakah maksud dari musim pandemi. Dia tidak pernah sekolah, apalagi mempelajari tentang musim-musiman begitu. Membaca dan menulis saja Surat tidak bisa, apalagi belajar ini dan itu. Kalau pun dia mengetahui musim-musim berpenyakit, namanya adalah musim pageblug, bukan musim pandemi. Atas kebodohannya, orang-orang berseragam serupa badut putih itu memang tidak sepenuhnya menyalahkan Surat sebagai penyebar pageblug yang merenggut nyawa ratusan manusia. Namun Surat merasakan perasaan bersalah yang sangat deras.

”Saya bersedia dihukum atas kejadian ini. Sebagai hukumannya, saya mohon, biarkan saya tetap menghuni kampung ini sendirian,” putus Surat ketika dia diminta pindah dari kampung yang hampir semua penduduknya telah meninggal.

”Kalau kau ingin tetap tinggal di kampung ini, kau harus tandatangani dulu surat pernyataan,” balas seorang perangkat desa kesayangan Lurah.

”Surat pernyataan apa? Saya tidak bisa membaca dan menulis, bagaimana saya akan tanda tangan,” tanya Surat dengan raut wajah bingung.

”Kalau kau tidak bisa membaca dan menulis, tandatangani dengan cara ini. Gampang kok,” sambung petugas itu sambil memegang jempol tangan kanan Surat. Kemudian petugas itu mencelupkannya jempol kanan Surat ke dalam cairan tinta yang diletakkan di sebuah botol terbuka. Jempol kanan Surat yang telah dilumuri cairan berwarna biru tua ditempelkan si petugas ke atas selembar kertas yang telah berisikan kalimat panjang-panjang.

”Selesai, pak Surat. Kau boleh tetap berada di tempat ini, sesuai permintaanmu,” ujar si petugas berbaju putih dengan wajah datar.

Pak lurah dan pengikutnya pergi meninggakan Surat dengan mengantongi surat tanah bercap jempol pak Surat. Tanah yang semula milik Surat kini telah menjelma hamparan batu nisan berjejer-jejer. Penguburan dan pemasangan nisan diselesaikan petugas kelurahan dan petugas dari kota dalam waktu sehari semalam saja.

**

Setahun sudah musim pageblug berlalu. Namun pak Surat masih berada di sana, di antara jejeran batu nisan. Tak ada yang tersisa, hanya kesunyian dan detak jantung Surat yang berlomba-lomba dengan desau angin di ujung daun-daun. Setiap hari Surat bersimpuh di samping makam istrinya. Di sana dia tak henti mengajak istri dan kedua anaknya bercakap-cakap.

”Pak, serifikat tanah kau serahkan ke siapa toh?” suara istri Surat bertanya setengah mengomeli suaminya.

”Ya ndak tahu aku toh, Bu. ‘Kan aku tidak bisa baca toh. Kau tanya sana sama pak Lurah,” Surat membela diri atas ketidakmampuannya membaca dan menulis.

”Sejak pageblug dan kau tak buka praktik pengobatan lagi, kita bangkrut, Pak. Kau lihat perhiasanku sudah habis terjual! Rumah kita sudah tergadai! Apalagi yang bisa kau banggakan, Pak? Apa kau mau mati kelaparan, toh?”

Istri Surat masih mengomel tanpa henti, sementara lelaki yang makin ringkih itu hanya tertunduk lesu.

”Kemarin orang kelurahan bagi-bagi bantuan untuk tetangga kita yang di-PHK sejak pageblug. Lha kita dapat apa, Pak?”

”Sudah Bapak tanya, Bu, ke petugas kelurahan itu. Eh, jatah bantuanku mana? Kok nggak dikasih? Tapi mereka malah balik nanya, apa bapak punya kartu identitas yang onlen-onlen itu? Ya Bapak nggak punya. Lha, mereka jawab lagi, kalau bapak nggak punya kartu identitas, tidak bisa ngambil jatah bantuan itu.”

Mendengar jawaban Surat yang panjang lebar, istrinya bangkit dan merentakkan kaki. Perempuan setengah tua itu berlalu dengan wajah kusut berkerut. Surat tak menanggapinya. Ia hanya tertunduk dengan tangan meremas lengan kursi. Remasannya kuat dan semakin kuat.

**

”Suster! Bantu saya lepaskan pegangan pasien ini!” seorang dokter terlihat meringis karena lengannya dicengkram oleh seorang pasien tua.

”Ya, Dok!” seorang perawat perempuan berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan tempat pasien tua yang mencengkram lengan dokter muda.

”Berikan dia suntik penenang, ya Sus! Jangan sampai dia mengamuk sebelum dimasukkan ke ruang isolasi.”

”Baik, Dok.”

Perawat itu gesit mengeluarkan jarum suntik, menakar dosis obat suntikan dan bersiap menghadap kepada lelaki tua yang tatapannya kosong.

Dokter yang menangani pasien tua dengan gangguan jiwa itu membaca dokumen yang tergeletak di atas meja. Di lembar catatan identitas pasien tertulis nama Surat.

Padang, 14 Oktober 2021

****

Iswadi Bahardur lahir dan menetap di kota Padang. Selain menulis puisi dan cerpen, dia juga bercatat sebagai dosen di Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA). Puisi-puisi terbarunya terhimpun dalam buku puisi Riwayat Tanah Ibu (2021). Cerpen-cerpennya terhimpun dalam kumpulan cerpen Menunggu Damar. Puisi-puisinya juga terhimpun dalam berbagai buku antologi puisi bersama, di antaranya Jejak Puisi Digital (yayasan HPI, 2021), Bunga Rampai Jalur Rempah & Sejarah Kemaritiman Dunia (2021), Khatulistiwa (2021), Ombak, Laut, dan Kerinduan (2021). Penulis dapat ditemui di instagram @adhi_trusardi dan Facebook Iswadi Bahardur Adhi.

sumber : kompas.id, 29 Jan 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme