Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sembilan Nyawa Nawadru oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 30 Jan 2022

Sehari sebelum Nawadru tewas, para pembunuh masih yakin lelaki yang dianggap sebagai guru spiritual Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu memiliki sembilan nyawa dan satwa-satwa pelindung di hutan menuju puncak Gunung Wisaula. Sebelumnya, ada perintah dari Panglima: Tangkap atau bunuh Nawadru. Kartosoewirjo mati jika Nawadru mati.

“Akan tetapi ingat, pemburu Nawadru harus memimpin delapan penembak ulung. Nawadru, yang kini bersembunyi di gunung angker dan senantiasa berkabut, punya sembilan nyawa. Dia hanya bisa mati jika sembilan peluru ke bersarang ke tubuhnya bersama-sama.”

Kepada atasan, Aswatama Dawud, sersan yang ditugasi memburu Nawadru, tidak bertanya siapa panglima yang memerintah pencarian Nawadru. Dia juga tidak mengusut apakah Presiden Sukarno terlibat dalam rencana penyerangan. Aswatama hanya membatin: mungkin selain Presiden, sebelum perintah sampai kepadaku, ada delapan orang yang terlibat dalam perancangan penangkapan.

Aswatama tidak hanya mengajak delapan penembak ulung. Sebelum sampai ke tujuh per delapan puncak gunung, sebelum sampai ke hutan penuh ular, kalajengking, kelabang, dan pohon kantong semar yang suka makan daging, serta stevia yang mirip edelweiss, dia mengajak 18 penembak ulung.

Aswatama dan rombongan mendaki Gunung Wisaula sejak asyar. Setelah berjam-jam mendengar lolongan anjing hutan serupa suara serigala, teriakan merak, kicau elang jawa, elang bido, jalak gading, auman macan tutul, suara monyet, keributan lutung budeng, dan yang terakhir dengus celeng, rombongan Aswatama hanya tersisa sembilan orang.

Saat itu, kira-kira pukul 03.00, hutan diliputi kabut berlapis-lapis. Agar bisa menembus hutan, Aswatama menyorotkan nyala senter kepala ke segala arah. Dia juga menyorotkan nyala senter itu ke arah para prajurit yang menggigil kedinginan.

“Kita telah kehilangan sembilan kawan,” kata Munawar, salah satu prajurit, kepada Aswatama, “Apakah pendakian akan kita teruskan?”

“Menurutmu mereka tidak akan menyusul kita?”

“Aku kira tidak,” jawab Munawar, “Mungkin sebagian tersesat. Mungkin sebagian terperosok ke jurang. Sebaiknya perburuan kita hentikan saja.”

“Ya, kita hentikan saja!” dukung Kidir, prajurit lain, “Menyebar kawan dalam pencarian Nawadru adalah kesalahan besar. Kita tak tahu apakah sekarang mereka mati atau hidup.”

“Kalian mulai tak yakin kita bakal bisa menangkap Nawadru?”

Munawar, Sulaiman, Ibrahim, Permadi, Kidir, Musa, Isa, dan Ahmad tak segera menjawab pertanyaan Aswatama. Mereka merasa, meskipun bakal bisa sampai ke puncak, tak akan bertemu dengan Nawadru.

“Mungkin kita hanya akan berhadapan dengan macan tutul, anjing hutan atau celeng,” kata Sulaiman.

“Nawadru mungkin saja tak pernah ada,” kata Isa.

“Kartosoewirjo menipu kita ketika mengatakan dia punya guru sangat sakti bernama Nawadru,” ujar Ibrahim.

“Jadi, sebaiknya kita kembali ke lembah saja,” usul Musa.

Aswatama yang sangat yakin tak jauh dari puncak gunung ada desa yang dijadikan tempat persembunyian Nawadru, menolak permintaan anak buah. Aswatama yang bisa menghidu bau Nawadru dari angin yang berembus, tidak ingin menyerah begitu saja. “Kalian boleh turun ke lembah. Aku akan tetap mencari Nawadru,” kata Aswatama.

Disindir semacam itu, delapan prajurit yang sudah sangat kelelahan itu memilih diam. Meskipun demikian, mereka tetap mengikuti Aswatama.

Pendakian pun dilakukan lagi. Dari angin yang berembus, mereka tahu di depan ada puluhan ular, ratusan lintah, kalajengking, dan kelabang yang bakal menghalangi perjalanan. Malah mereka yakin benar jika tidak hati-hati akan dicekik oleh pohon-pohon pemangsa daging. Meskipun demikian, mereka tidak takut. Dengan masing-masing mengacungkan senapan berbayonet, mereka merasa bakal bisa membunuh aneka satwa buas.

Mereka memang tidak takut. Akan tetapi karena lelah dan kedinginan, pikiran-pikiran liar berkecamuk. Munawar, misalnya, berpikir untuk membangkang dan membunuh Aswatama. Isa lebih gila. Dia berpikir membunuh semua prajurit yang dia anggap goblok karena mau memburu sesuatu yang tak ada. Dia ingin segera ke lembah. Dia ingin tetap menjadi prajurit waras. Kenyataannya? Hingga mereka mendengarkan auman macan tutul, lolongan anjing, dan dengus celeng, tak ada bunyi letusan senapan. Munawar tak membunuh Aswatama, Isa tak melakukan tindakan konyol.

“Aku telah mendengar auman macan tutul,” tiba-tiba Ibrahim berteriak, “Tidak. Tidak. Ada juga lolong anjing dan dengus celeng.”

“Mungkin jumlahnya sembilan,” ujar Sulaiman.

“Suara-suara itu semakin dekat,” kata Kidir.

“Aku tak mendengar suara mereka,” tukas Isa.

Mendengarkan perkataan Isa yang bisa memengaruhi prajurit lain, ingin sekali Aswatama menghajar atau membunuh Isa. Akan tetapi karena tetap yakin Nawadru hanya bisa mati oleh sembilan penembak, dia menganggap membunuh Isa adalah kebodohan tak terampuni. Karena itulah, dia membiarkan para prajurit berbeda pendapat. Yang penting mereka tetap meneruskan pendakian.

Akan tetapi pendakian kian tak mudah. Kidir, Sulaiman, Ibrahim, dan Isa tiba-tiba dicekik oleh pohon pemangsa daging. Mereka meronta-ronta. Kian kuat meronta, cekikan pohon menjadi-jadi. Aswatama, Munawar, Ahmad, Musa, dan Permadi pun menembaki pohon-pohon itu. Tak pelak, getah pohon bewarna hijau muncrat ke mana-mana. Muncrat juga ke wajah empat prajurit yang nyaris tak bisa bernapas. “Pohon-pohon ini membenci Pak Karno,” tiba-tiba Sulaiman melepaskan humor garing, “Dia lebih memuja Nawadru.”

Tak ada yang tertawa. Mereka lebih memilih menjauh dari pohon-pohon pemangsa daging dan meneruskan pendakian.

Sampaikah mereka di persembunyian Nawadru? Sampai jika mereka bertemu lebih dulu dengan satwa-satwa yang dipercaya sebagai pelindung Nawadru. Dan benar, akhirnya mereka memang merasa bertemu dengan tiga macan tutul, tiga anjing hutan, dan tiga celeng buas. “Ini satwa pelindung Nawadru. Jangan ragu-ragu menembak mereka!” teriak Aswatama.

Tak ada yang ragu. Akan tetapi mereka dikejutkan oleh macan, celeng, dan anjing hutan, yang dalam pandangan samar, berubah ukuran. Mereka ragu apakah hewan-hewan itu membesar hingga tiga kali lipat atau bayangannyalah yang berubah.

“Ayo, tembak!” teriak Aswatama setengah gemetar sambil membayangkan jika tak segera mati, anjing-anjing, celeng-celeng, dan macan-macan tutul itu akan mencabik-cabik tubuh dia dan para prajurit.

Tak ayal satwa-satwa itu pun ditembak. Sembilan peluru melesat. Satu peluru menghunjam ke seekor satwa. Ada yang tertembak kepalanya. Ada yang tertembak lambungnya. Ada yang tertembak jantungnya. Darah pun muncrat.

Sayang satwa-satwa itu tak segera mati.

Karena takut mereka bakal menancapkan taring ke tubuh, Aswatama dan para prajurit melesatkan semua peluru. Semua peluru menghunjam ke kepala.

Apakah mereka mati? Tak ada yang mengerti. Yang mereka tahu satwa-satwa itu lenyap. Ceceran darahnya tak ada.

Apakah sebenarnya mereka itu tak pernah ada? Apakah kisah Nawadru dilindungi sembilan binatang buas hanya khayalan Panglima? Aswatama belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dari kegelapan muncul sosok laki-laki tua bersarung mengacungkan dua keris. Dua keris yang bisa digunakan untuk membunuh siapa saja.

“Kalian mencari aku?” kata lelaki itu.

“Sampean Nawadru?” tanya Aswatama yang memang belum pernah bertemu sosok yang diburu itu.

Nawadru tidak menjawab.

“Jawab pertanyaanku! Sampean Nawadru?”

Nawadru tetap tak menjawab. Disertai lolongan dua anjing, auman tiga macan, dan dengus tiga celeng dari sela-sela pohon yang menjulang, muncul delapan pria seusia Nawadru.

“Aku Nawadru,” kata seseorang, juga mengacungkan dua keris.

“Aku Nawadru,” kata yang lain.

“Aku Nawadru!” teriak enam laki-laki lain.

Tentu Aswatama dan para prajurit kaget. Akan tetapi karena yakin hanya ada satu Nawadru, Aswatama berteriak, “Bunuh semua!”

Tak menunggu perintah kali kedua, para prajurit pun bersiap-siap membunuh siapa pun yang mengaku sebagai Nawadru itu. Akan tetapi, mendadak mereka ragu-ragu menusukkan bayonet. “Tunggu dulu!” tiba-tiba Munawar berteriak, “Mereka memang bukan Nawadru. Lihat dengan cermat! Wajah-wajah mereka seperti wajah kita.”

Aswatama melihat wajah-wajah mereka. Aswatama memang melihat wajahnya sendiri dan wajah Munawar, Permadi, Isa, Kidir, Ibrahim, Musa, Ahmad, dan Sulaiman menyeringai di hadapannya. Aswatama dan delapan prajurit seperti dipaksa membunuh diri mereka sendiri.

“Bunuh semua!” teriak Aswatama, “Salah satu dari mereka pasti Nawadru!”

Karena tak lagi punya peluru, Aswatama dan para prajurit pun dengan beringas menusukkan bayonet kepada sembilan pria yang mengaku sebagai Nawadru. Dalam pandangan samar Munawar menusuk jantung Ibrahim, Ibrahim menusuk jantung Musa, Musa menusuk jantung Sulaiman, Sulaiman menusuk jantung Permadi, Permadi menusuk jantung Ahmad, Ahmad menusuk jantung Kidir, Kidir menusuk jantung Aswatama, dan Aswatama menusuk jantung Munawar.

Hanya Isalah yang merasa telah membunuh Nawadru. Dia yakin tak melihat delapan Nawadru yang lain. Isa bahkan sembilan kali menusukkan bayonet ke tubuh Nawadru. Dia menusuk kepala, leher, lambung, paha, selangkangan, jantung, kuping, dan anus. Dia juga menusuk mulut Nawadru.

Aswatama terkejut menyaksikan keberingasan Isa. Dia kaget karena menjelang Nawadru tewas, mendengar Isa berteriak, “Ternyata mudah membunuhmu. Kami akan mudah juga membunuh muridmu.”

Akan gampangkah membunuh Kartosoewirjo? Aswatama tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aswatama lebih memilih memikirkan segera mencari jalan ke lembah, melawan belitan pohon-pohon pemangsa daging, dan segera berusaha meyakinkan Panglima betapa dia bersama prajurit telah membunuh Nawadru.

Akan tetapi Aswatama Dawud tidak yakin apakah dia akan sampai di lembah. Benar saja dari sela-sela pohon, tiga macan tutul, tiga anjing hutan, dan tiga celeng telah bersiap-siap menerkam, menyeruduk, dan menghunjamkan taring-taring mereka.

Semarang, 2022

Triyanto Triwikromo, peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa. Dia juga menerima Penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas untuk cerita-cerita yang ditulisnya.

Mayek Prayitno

Perupa dan penulis seni rupa. Aktif berpameran dan tergabung dalam berbagai komunitas seni rupa. Pernah belajar di Modern School Desain jurusan seni lukis, FSR ISI Yogyakarta dan studi tubuh di Fakultas Anthropologi UGM Yogyakarta. Di samping itu juga mengerjakan mural, desain dan ilustrasi. Pernah mendapat beberapa penghargaan kompetisi seni rupa di Indonesia, China, dan Vietnam.

sumber : harian Kompas edisi 30 Januari 2022 di halaman 8 dengan judul “Sembilan Nyawa Nawadru”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme