Sri Asih gadis cantik yatim piatu. Orang tuanya sudah lama bersatu dengan Yang Agung dan ia pun dirawat oleh neneknya yang berdarah biru. Gadis ini memiliki tutur kata lembut, tapi hidupnya mungkin bisa saja bangkrut. Apa ia kurang hebat yang lantas membuatnya hampir bangkrut? Tidak, hanya saja lingkungannya cukup kusut untuk menjadikannya wanita setengah penurut. Bagaimana jika Anda mencoba menjadi tokoh Sri Asih?
***
Anda sebagai Sri Asih,
Sejak lulus SMA Anda ingin bisa bekerja. Tapi sayangnya tidak ada restu bagi wanita berdarah biru untuk mengais uang. Terlebih lagi Anda sudah dijodohkan dengan seorang berdarah biru sejak masih berusia sepuluh tahun. Anda tinggal bersama nenek yang sangat menjunjung tinggi nilai bahwa wanita itu sejatinya bekerja sebagai abdi laki-laki, memiliki buah hati dan mengatur jalannya logistik.
Suatu hari Anda mengatakan keinginan untuk bekerja kepada nenek.
”Lha, gawe opo to Nduk kerjo? (untuk apa bekerja to Nduk?),” tanya nenek Anda.
”Sri ini ingin bekerja untuk meningkatkan taraf hidup, Mbah. Zaman sekarang banyak wanita bekerja untuk memperbaiki hidup,” bujuk Anda pada nenek dengan logat khas Jawa. Tapi sekali lagi, pandangan itu ditolak mentah-mentah. Anda pun tidak bisa membantah tradisi patriarki yang sudah mendarah daging.
”Sri, awakmu ‘kan arep kawin. Mengko yen wis kawin manut karo Den Mas, nggih (Sri kamu kan mau menikah. Nanti kalau sudah menikah ikuti kata Den Mas ya),” pinta Nenek Anda sebelum beliau meninggal. Anda begitu teringat kata-kata nenek Anda bahkan saat Anda sudah menikah dengan Den Mas—Pria yang dijodohkan dengan Anda—yang juga seorang berdarah biru.
Setelah menikah dengan Den Mas dan Anda tinggal di rumah keluarganya itu. Ya, memang pahit rasanya memendam asa untuk berkuliah tapi terjebak dalam tradisi yang belum sepenuhnya runtuh. Apa yang nenek Anda sampaikan serupa dengan Romo—panggilan untuk bapak Den Mas—yang menyayangi Anda, beliau selalu menasehati, ”Nduk, wong wadon iku kudu manut karo bojo. Ben uripe bejo lan ora rekoso.” (Nak, perempuan itu harus mengikuti apa kata suami. Supaya hidupnya beruntung dan tidak menderita). Sekali lagi kata-kata Romo begitu dalam pada Anda. Lalu setelah Romo meninggal, Anda dan suami Anda hidup dengan Kanjeng Ibu. Bagaimana dengan suami Anda?
Den Mas Pria yang baik dan bertanggung jawab, tapi pikirannya sama seperti Nenek dan Romo. Mungkin juga karena dirinya sudah memiliki jabatan sebagai manajer personalia di perusahaan asuransi serta harta melimpah dari keluarga Romonya sehingga meminta Anda untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Anda mencoba berbicara dengan suami Anda tentang keinginan membuka usaha.
”Kang mas, bagaimana kalau aku kerja? Ya, buka toko atau usaha di rumah begitu,” kata Sri, ”Lumayan juga kalau bisa membuka usaha buat menambah tabungan.” imbuh Anda dengan logat Jawa yang lembut.
”Ojo konyol kowe, Sri! Aku sendiri juga sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” tawa suami Anda. ”Sudah, kowe fokus saja di rumah mengerjakan tugas istri sambil membantu ibu.” lanjut Den Mas dan ia meletakkan koran paginya di meja. Den Mas beranjak buat berganti pakaian menuju kamarnya untuk segera berangkat kerja.
Beberapa hari kemudian Anda membantu ibu mertua—Kanjeng Ibu—sekalian Anda belajar menjahit dengannya.
”Jahitan ibu rapi, Sri suka sekali,” celetuk Anda.
”Yo, ibu kan sudah lama belajar menjahit. Dulu waktu Romo masih ada, ibu yang menjahitkan semua bajunya.” Kanjeng Ibu menengadah ke atas sambil mengingat masa lalunya sendiri.
”Wanita zaman dulu sebelum menikah perlu dipingit dulu, Sri. Mereka diajari cara menjahit, menyulam, memasak sampai bagaimana memperlakukan suami,” jelas Kanjeng ibu pada Anda. ”Sangat beda dengan zaman sekarang, Nduk.” Kanjeng ibu menggelengkan kepala.
”Tapi akan lebih bagus kalau perempuan bisa ikut membantu, nggih Bu,” kata Anda dengan senyum penuh harap.
”Sejatinya kita ini wadon, Nduk. Wong Wadon sing artine abdine bojo. Jadi, kita harus mengabdi pada suami termasuk menuruti kata suami,” jelas Kanjeng Ibu dengan tutur yang halus dan lembut. Sekali lagi Anda cuma bisa menuruti apapun yang diperintahkan suami atau Kanjeng Ibu tanpa membantah.
***
Walau tidak mendapat restu Anda tetap belajar melalui pembantu di rumah Romo, karena era tahun 1997-an belum banyak yang memiliki ponsel apalagi smartphone seperti sekarang. Salah satunya adalah Ratih Mahesa. Ratih bekerja sebagai tukang masak di rumah Romo, ia bekerja untuk membantu sang ibu yang berjualan pisang goreng keliling kampung karena sang bapak sudah meninggal lama.
Malam itu, Anda berbincang di dapur bersama Ratna tepat pukul sepuluh malam. Saat Den Mas dan Kanjeng Ibu sudah tidur.
”Den, apa tidak apa-apa saya mengajari Den Ayu berjualan?” tanya Ratna takut.
”Sudahlah, Na. Asal kamu bisa merahasiakan ini dari Kanjeng Ibu dan Den Mas semua aman,” kata Anda.
Ratna masih takut untuk mengajari Anda, karena bukan tanpa sebab. Perkaranya dahulu ada yang melanggar aturan di dalam rumah Romo dan tidak butuh lama Romo untuk mengusirnya.
Sesuatu yang tidak terduga terjadi saat itu, Den Mas tiba-tiba bangun karena air minumnya habis dan Anda tidak ada di kamar. Ia pergi ke dapur dan mendengar sayup-sayup suara perbincangan kalian.
”Lapo kowe Sri?” wajah Den Mas tampak murka. Ratna segera meremas kertas yang ia pakai untuk mencorat-coret. Den Mas mendekati mereka setelah melihat secarik kertas yang diambil oleh Ratna.
”Tidak, Kang Mas kami ha—,” Tidak sampai selesai mengucapkan Den Mas merebut kertas yang diremas Ratna dan membacanya.
”Apa ini Sri?” tanya Den Mas dengan nada tinggi, ”Opo kowe mau kerja! Kowe tahu statusmu iki opo!” bentak Den Mas sekali lagi. Ratna hanya bisa menundukkan kepala dan mundur satu langkah ke belakang.
”Bukan begitu Kang Mas, aku hanya ingin membantu. Rasanya tidak ada yang salah dengan wanita yang bekerja membantu suami,” kata Anda.
”Ini tidak bisa dibenarkan, Sri. Kowe itu wadon!” seru Den Mas. Anda hanya mengangguk dan mengiyakan. ”Yen kowe ngerti. Bukan sudah jelas wadon itu tugasnya apa. Wadon iku abdine bojo, Sri. Aku masih kepala rumah tangga dan kewajiban menafkahi keluarga itu aku, bukan kowe.” Den Mas menunjuk dadanya sendiri.
Pertengkaran itu pun menyebabkan Ratna dipecat sebagai tukang masak dan membuat hubungan Anda merenggang dengan Den Mas. Kanjeng Ibu tidak banyak berkomentar, baginya Anda pun dianggap salah karena melakukan hal yang sudah dilarang dalam keluarga besarnya.
***
Selang setahun pada tahun 1998, Anda dan suami sudah memiliki buah hati. Masalah pun muncul di mana perusahaan tempat Den Mas sering terjadi gagal bayar, belum lagi krisis moneter menerjang Indonesia. Banyak perusahaan yang hampir pailit termasuk perusahaan asuransi tempat Den Mas bekerja. Perusahaan asuransi itu banyak mengurangi karyawan dan membuat suami Anda pun cemas. Kecemasan itu bertambah karena ada tanggungan anak balita yang harus dipenuhi.
Melihat kecemasan pada Den Mas, Anda merasa ini seperti kesempatan dalam kesempitan. Anda pun mencoba mengutarakan maksud untuk membuka usaha kecil membuat roti atau menerima jahitan dari lingkungan sekitar untuk membantu Den Mas mencari nafkah.
”Duh! Aku iki bojo, Sri. Kok, aku malu menyuruh istri bekerja,” keluh Den Mas.
”Mboten Kang Mas. Aku siap membantu. Kita keluarga dan sudah sepantasnya saling membantu jika ada yang kesulitan,” jawab Anda mantap.
Dengan bekal yang setahun lalu Anda kumpulkan dengan Ratna, Anda dengan berani membuka usaha membuat roti dan menerima jahitan dari lingkungan sekitar.
”Apa ini hasil belajarmu sendiri, Sri?” tanya Kanjeng Ibu. ”Ngapunten, Bu. Sri belajar secara mandiri dari Ratna dan juga dari obrolan para pembantu di rumah ini,” jawab Anda malu-malu.
”Aku bangga, Sri. Setidaknya aku bisa tahu bahwa wanita bekerja itu juga berguna yo,” kata Kanjeng Ibu yang rupanya puas dengan apa yang dilakukan Anda.
Den Mas tak khawatir dengan perusahaannya akan bangkrut karena ia sudah memiliki usaha sendiri berkat Anda yang ajeg mencari ilmu. Anda pun menjadi pionir perubahan makna dari kata “wadon” yang sebelumnya diartikan sebagai abdi bagi suami menjadi abdi bagi keluarga, lingkungan sekitar dan negara.
Selesai
***
Dinda Pranata memiliki nama asli Ni Luh Ketut Yuniasari Lediayana ini lahir di Banyuwangi, 17 Juni 1990. Ia merupakan lulusan S-1 Sastra Jepang, Universitas Airlangga, yang saat ini berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Ia anggota aktif dari berbagai komunitas blog seperti BloggerHub, 1Minggu1Cerita dan komunitas penulis 30 Days Writing Challange (30DWC). Ia juga salah satu blogger yang mendukung gerakan anti-kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. Tulisan lainnya dari Dinda bisa ditemukan di website pribadinya di www.senjahari.com.
sumber : kompas.id, 05 Feb 2022.