Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wadon oleh Dinda Pranata

Posted on Sab, 05 Feb 2022

Sri Asih gadis cantik yatim piatu. Orang tuanya sudah lama bersatu dengan Yang Agung dan ia pun dirawat oleh neneknya yang berdarah biru. Gadis ini memiliki tutur kata lembut, tapi hidupnya mungkin bisa saja bangkrut. Apa ia kurang hebat yang lantas membuatnya hampir bangkrut? Tidak, hanya saja lingkungannya cukup kusut untuk menjadikannya wanita setengah penurut. Bagaimana jika Anda mencoba menjadi tokoh Sri Asih?

***

Anda sebagai Sri Asih,

Sejak lulus SMA Anda ingin bisa bekerja. Tapi sayangnya tidak ada restu bagi wanita berdarah biru untuk mengais uang. Terlebih lagi Anda sudah dijodohkan dengan seorang berdarah biru sejak masih berusia sepuluh tahun. Anda tinggal bersama nenek yang sangat menjunjung tinggi nilai bahwa wanita itu sejatinya bekerja sebagai abdi laki-laki, memiliki buah hati dan mengatur jalannya logistik.

Suatu hari Anda mengatakan keinginan untuk bekerja kepada nenek.

”Lha, gawe opo to Nduk kerjo? (untuk apa bekerja to Nduk?),” tanya nenek Anda.

”Sri ini ingin bekerja untuk meningkatkan taraf hidup, Mbah. Zaman sekarang banyak wanita bekerja untuk memperbaiki hidup,” bujuk Anda pada nenek dengan logat khas Jawa. Tapi sekali lagi, pandangan itu ditolak mentah-mentah. Anda pun tidak bisa membantah tradisi patriarki yang sudah mendarah daging.

”Sri, awakmu ‘kan arep kawin. Mengko yen wis kawin manut karo Den Mas, nggih (Sri kamu kan mau menikah. Nanti kalau sudah menikah ikuti kata Den Mas ya),” pinta Nenek Anda sebelum beliau meninggal. Anda begitu teringat kata-kata nenek Anda bahkan saat Anda sudah menikah dengan Den Mas—Pria yang dijodohkan dengan Anda—yang juga seorang berdarah biru.

Setelah menikah dengan Den Mas dan Anda tinggal di rumah keluarganya itu. Ya, memang pahit rasanya memendam asa untuk berkuliah tapi terjebak dalam tradisi yang belum sepenuhnya runtuh. Apa yang nenek Anda sampaikan serupa dengan Romo—panggilan untuk bapak Den Mas—yang menyayangi Anda, beliau selalu menasehati, ”Nduk, wong wadon iku kudu manut karo bojo. Ben uripe bejo lan ora rekoso.” (Nak, perempuan itu harus mengikuti apa kata suami. Supaya hidupnya beruntung dan tidak menderita). Sekali lagi kata-kata Romo begitu dalam pada Anda. Lalu setelah Romo meninggal, Anda dan suami Anda hidup dengan Kanjeng Ibu. Bagaimana dengan suami Anda?

Den Mas Pria yang baik dan bertanggung jawab, tapi pikirannya sama seperti Nenek dan Romo. Mungkin juga karena dirinya sudah memiliki jabatan sebagai manajer personalia di perusahaan asuransi serta harta melimpah dari keluarga Romonya sehingga meminta Anda untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Anda mencoba berbicara dengan suami Anda tentang keinginan membuka usaha.

”Kang mas, bagaimana kalau aku kerja? Ya, buka toko atau usaha di rumah begitu,” kata Sri, ”Lumayan juga kalau bisa membuka usaha buat menambah tabungan.” imbuh Anda dengan logat Jawa yang lembut.

”Ojo konyol kowe, Sri! Aku sendiri juga sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” tawa suami Anda. ”Sudah, kowe fokus saja di rumah mengerjakan tugas istri sambil membantu ibu.” lanjut Den Mas dan ia meletakkan koran paginya di meja. Den Mas beranjak buat berganti pakaian menuju kamarnya untuk segera berangkat kerja.

Beberapa hari kemudian Anda membantu ibu mertua—Kanjeng Ibu—sekalian Anda belajar menjahit dengannya.

”Jahitan ibu rapi, Sri suka sekali,” celetuk Anda.

”Yo, ibu kan sudah lama belajar menjahit. Dulu waktu Romo masih ada, ibu yang menjahitkan semua bajunya.” Kanjeng Ibu menengadah ke atas sambil mengingat masa lalunya sendiri.

”Wanita zaman dulu sebelum menikah perlu dipingit dulu, Sri. Mereka diajari cara menjahit, menyulam, memasak sampai bagaimana memperlakukan suami,” jelas Kanjeng ibu pada Anda. ”Sangat beda dengan zaman sekarang, Nduk.” Kanjeng ibu menggelengkan kepala.

”Tapi akan lebih bagus kalau perempuan bisa ikut membantu, nggih Bu,” kata Anda dengan senyum penuh harap.

”Sejatinya kita ini wadon, Nduk. Wong Wadon sing artine abdine bojo. Jadi, kita harus mengabdi pada suami termasuk menuruti kata suami,” jelas Kanjeng Ibu dengan tutur yang halus dan lembut. Sekali lagi Anda cuma bisa menuruti apapun yang diperintahkan suami atau Kanjeng Ibu tanpa membantah.

***

Walau tidak mendapat restu Anda tetap belajar melalui pembantu di rumah Romo, karena era tahun 1997-an belum banyak yang memiliki ponsel apalagi smartphone seperti sekarang. Salah satunya adalah Ratih Mahesa. Ratih bekerja sebagai tukang masak di rumah Romo, ia bekerja untuk membantu sang ibu yang berjualan pisang goreng keliling kampung karena sang bapak sudah meninggal lama.

Malam itu, Anda berbincang di dapur bersama Ratna tepat pukul sepuluh malam. Saat Den Mas dan Kanjeng Ibu sudah tidur.

”Den, apa tidak apa-apa saya mengajari Den Ayu berjualan?” tanya Ratna takut.

”Sudahlah, Na. Asal kamu bisa merahasiakan ini dari Kanjeng Ibu dan Den Mas semua aman,” kata Anda.

Ratna masih takut untuk mengajari Anda, karena bukan tanpa sebab. Perkaranya dahulu ada yang melanggar aturan di dalam rumah Romo dan tidak butuh lama Romo untuk mengusirnya.

Sesuatu yang tidak terduga terjadi saat itu, Den Mas tiba-tiba bangun karena air minumnya habis dan Anda tidak ada di kamar. Ia pergi ke dapur dan mendengar sayup-sayup suara perbincangan kalian.

”Lapo kowe Sri?” wajah Den Mas tampak murka. Ratna segera meremas kertas yang ia pakai untuk mencorat-coret. Den Mas mendekati mereka setelah melihat secarik kertas yang diambil oleh Ratna.

”Tidak, Kang Mas kami ha—,” Tidak sampai selesai mengucapkan Den Mas merebut kertas yang diremas Ratna dan membacanya.

”Apa ini Sri?” tanya Den Mas dengan nada tinggi, ”Opo kowe mau kerja! Kowe tahu statusmu iki opo!” bentak Den Mas sekali lagi. Ratna hanya bisa menundukkan kepala dan mundur satu langkah ke belakang.

”Bukan begitu Kang Mas, aku hanya ingin membantu. Rasanya tidak ada yang salah dengan wanita yang bekerja membantu suami,” kata Anda.

”Ini tidak bisa dibenarkan, Sri. Kowe itu wadon!” seru Den Mas. Anda hanya mengangguk dan mengiyakan. ”Yen kowe ngerti. Bukan sudah jelas wadon itu tugasnya apa. Wadon iku abdine bojo, Sri. Aku masih kepala rumah tangga dan kewajiban menafkahi keluarga itu aku, bukan kowe.” Den Mas menunjuk dadanya sendiri.

Pertengkaran itu pun menyebabkan Ratna dipecat sebagai tukang masak dan membuat hubungan Anda merenggang dengan Den Mas. Kanjeng Ibu tidak banyak berkomentar, baginya Anda pun dianggap salah karena melakukan hal yang sudah dilarang dalam keluarga besarnya.

***

Selang setahun pada tahun 1998, Anda dan suami sudah memiliki buah hati. Masalah pun muncul di mana perusahaan tempat Den Mas sering terjadi gagal bayar, belum lagi krisis moneter menerjang Indonesia. Banyak perusahaan yang hampir pailit termasuk perusahaan asuransi tempat Den Mas bekerja. Perusahaan asuransi itu banyak mengurangi karyawan dan membuat suami Anda pun cemas. Kecemasan itu bertambah karena ada tanggungan anak balita yang harus dipenuhi.

Melihat kecemasan pada Den Mas, Anda merasa ini seperti kesempatan dalam kesempitan. Anda pun mencoba mengutarakan maksud untuk membuka usaha kecil membuat roti atau menerima jahitan dari lingkungan sekitar untuk membantu Den Mas mencari nafkah.

”Duh! Aku iki bojo, Sri. Kok, aku malu menyuruh istri bekerja,” keluh Den Mas.

”Mboten Kang Mas. Aku siap membantu. Kita keluarga dan sudah sepantasnya saling membantu jika ada yang kesulitan,” jawab Anda mantap.

Dengan bekal yang setahun lalu Anda kumpulkan dengan Ratna, Anda dengan berani membuka usaha membuat roti dan menerima jahitan dari lingkungan sekitar.

”Apa ini hasil belajarmu sendiri, Sri?” tanya Kanjeng Ibu. ”Ngapunten, Bu. Sri belajar secara mandiri dari Ratna dan juga dari obrolan para pembantu di rumah ini,” jawab Anda malu-malu.

”Aku bangga, Sri. Setidaknya aku bisa tahu bahwa wanita bekerja itu juga berguna yo,” kata Kanjeng Ibu yang rupanya puas dengan apa yang dilakukan Anda.

Den Mas tak khawatir dengan perusahaannya akan bangkrut karena ia sudah memiliki usaha sendiri berkat Anda yang ajeg mencari ilmu. Anda pun menjadi pionir perubahan makna dari kata “wadon” yang sebelumnya diartikan sebagai abdi bagi suami menjadi abdi bagi keluarga, lingkungan sekitar dan negara.

Selesai

***

Dinda Pranata memiliki nama asli Ni Luh Ketut Yuniasari Lediayana ini lahir di Banyuwangi, 17 Juni 1990. Ia merupakan lulusan S-1 Sastra Jepang, Universitas Airlangga, yang saat ini berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Ia anggota aktif dari berbagai komunitas blog seperti BloggerHub, 1Minggu1Cerita dan komunitas penulis 30 Days Writing Challange (30DWC). Ia juga salah satu blogger yang mendukung gerakan anti-kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. Tulisan lainnya dari Dinda bisa ditemukan di website pribadinya di www.senjahari.com.

sumber : kompas.id, 05 Feb 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme