Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ihwal Nama Majid Pucuk oleh T Agus Khaidir

Posted on Ming, 06 Feb 2022

Tiap kali nama Abdul Majid disebut, orang-orang di kota kecil kami akan menyahutinya dengan satu kata yang diletupkan dengan penuh rasa kesal. Pucuk! Oi… Majid Pucuk!

Sekiranya rajin dan ada luang waktu, bukalah kamus bahasa Indonesia dan kalian akan menemukannya diterangjelaskan dalam lima arti berbeda. Namun, bukan ini yang kami maksud. Ada ”Pucuk” lain. ”Pucuk”, yang diucapkan sebagai ”Pucok”, dengan huruf ”O” yang tidak betul-betul bulat.

Datanglah ke kota kecil kami, atau ke kota dan daerah-daerah lain di Sumatera Utara, dan kalau kalian mendengar seorang yang diminta mengerjakan sesuatu balik bertanya, ”jelas pucuknya?”, itu berarti yang bersangkutan sedang ingin memastikan, apakah dari pekerjaan tersebut dia akan mendapatkan uang atau tidak.

Lalu kenapa kata yang sesungguhnya bertendensi kocak ini justru diletupkan dengan rasa kesal, bahkan marah, tiap kali disematkan di belakang nama Abdul Majid?

Kejadiannya belum lama. Adalah Zainuddin Tambi yang jadi mula perkara. Satu hari menjelang ashar, akhir Juli 2019, dia mengaku melintas di depan rumah Marjili Samsuri dan melihat Abdul Majid keluar dari pekarangan dengan langkah tergesa. Rumah Zainuddin berselisih empat rumah dari rumah Marjili, sedangkan dengan Abdul Majid persis bermuka- muka, dipisahkan jalan selebar tak lebih dari satu setengah meter.

Waktu itu, Zainuddin dan Abdul Majid sedang perang dingin karena semangkuk pulut durian. Sebenarnya tak ada yang istimewa. Pulut durian, seperti sebelumnya anyang pakis, urap, bubur sop, mi gomak, kwetiau, ikan mas arsik, rendang jengkol, petai bakar, kue rasidah, atau minuman-minuman racikan sebangsa bandrek atawa teh susu telur, entah sudah berapa puluh kali dikirimkan dan saling dipertukarkan (tiap mangkuk atau piring atau gelas yang dikembalikan tak pernah dalam keadaan kosong), dan selama ini semuanya memang baik-baik saja. Namun, kali itu berbeda. Pulut durian yang dimasak istri Abdul Majid ternyata apek. Mungkin lantaran beras pulut yang terlalu lama disimpan.

Zainuddin tersinggung dan menyuruh anaknya mengembalikan pulut durian yang baru dicicipnya setengah sendok itu. Istri Abdul Majid, juga Abdul Majid sendiri, datang meminta maaf, tapi Zainuddin, dan terutama istrinya, rupa-rupanya memang betul-betul tersinggung. Belakangan terungkap, istri Zainuddin mengira istri Abdul Majid melakukan pembalasan. Dua hari sebelumnya dia mengirim sekotak lapis legit ke rumah Abdul Majid. Kue itu sudah berjamur di bagian bawahnya. Dia sama sekali tidak tahu, dan baru tahu setelah mendengar istri Abdul Majid berteriak menyuruh anaknya membuang lapis legit tersebut ke tong sampah.

Sejumlah orang berupaya mendamaikan. Termasuk tentunya Tamsil Kalimaya, kepala lorong kami. Dia mengundang mereka ke rumahnya. Tamsil menyuguhkan gulai kepala ikan kakap dan burung puyuh goreng untuk santapan.

Upaya ini gagal total. Perseteruan justru makin terbelit. Zainuddin Tambi dan Abdul Majid membentuk faksi-faksi, mulai dari pos ronda, hajatan orang kawin, sunatan, bahkan sampai majelis taklim. Begitu pun memang sungguh tak seorang pun dari kami yang menyangka perseteruan ini akan sampai ke kantor polisi. Tuduhannya serius pula. Pasal 170 Ayat 2 KUHP: penganiayaan berat yang menyebabkan kematian.

Begitulah, pada satu hari menjelang ashar di akhir Juli 2019 Zainuddin Tambi mengaku melintas di depan rumah Marjili Samsuri dan melihat Abdul Majid keluar dari pekarangan dengan langkah tergesa. Kira-kira dua jam kemudian polisi datang. Anwar Sadat ditemukan mati di parit belakang rumah Marjili. Kepalanya remuk. Dekat mayatnya teronggok sebatang kayu balok berlumur darah.

Anwar Sadat seorang kepala tukang dan dia sedang bekerja membangun loteng di rumah Marjili. Dia akan menggelar kenduri pernikahan anaknya yang sulung, dan untuk urusan seperti ini, orang-orang di kota kecil kami, mau tak mau, harus berurusan dengan Abdul Majid. Ada sekian grup organ tunggal, tetapi memang tidak ada yang lebih aduhai dari Majid Entertainment. Mereka punya tiga unit kibor mutakhir dan sembilan biduan: lima perempuan, tiga laki-laki, dan satu wadam yang mampu menirukan gaya para penyanyi populer.

Undangan sudah disebar. Namun, sampai menjelang hari-H, negosiasi Anwar Sadat dengan Abdul Majid perihal uang sewa kibor belum juga tuntas. Sadat yang memang terkenal kedekut kikir pelit naudzubillah terus menawar demi harga terendah. Padahal, Abdul Majid sudah memberi potongan 50 persen lebih.

Pertanyaannya, mungkinkah Abdul Majid kesal dan kemudian membunuh Anwar Sadat? Sampai di sini warga lorong terbagi dua. Sebagian bilang tak mungkin. Sebagian yang lain bilang mungkin saja. Siapa tahu ada setan kebetulan lewat, bilang mereka. Iya, katakanlah begitu. Namun, apa yang dilakukan Abdul Majid di rumah Marjili Samsuri? Andaikan dia memang berniat membunuh Anwar Sadat, kenapa harus melakukannya di rumah orang lain? Apakah dia tidak bisa menemukan lokasi eksekusi lain yang lebih tersembunyi?

Kami masih riuh mengira-ngira ketika meluncur kabar mengejutkan dari kantor polsek. Abdul Majid babak belur. Sekedipan mata beredar pula foto-fotonya. Alamakjang! Wajah Abdul Majid bengap! Ada dua benjolan nyaris sebesar telur di jidatnya. Pelipisnya pecah, bengkak dan membiru, dan dari hidung serta sudut-sudut bibirnya mengalir darah.

Segera kami berhambur ke sana. Tamsil Kalimaya, anak istri Abdul Majid, dan tak kurang dua puluh orang lainnya. Tentu, di antara kami tak ada Zainuddin Tambi. Setelah memberi kesaksian lebih lanjut bersama Marjili Samsuri di kantor polisi, Zainuddin pulang dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat.

Polisi bilang, Abdul Majid dikeroyok di sel. Namun, kepada kami, pengakuan Abdul Majid sama sekali berbeda. Bukan tahanan yang mengeroyok, katanya berbisik.

Lantas? Abdul Majid, dalam bisik yang lebih lirih, menyebut saat dia diperiksa, sejumlah orang berseragam dan tidak berseragam datang dan memaksanya mengaku membunuh Anwar Sadat. Selain dipukul, ditendang, dia juga disetrum dan jari-jari tangannya dijepitkan ke sela pintu. Ada juga yang mengetuk dengkulnya dengan martil. Apakah mereka polisi? Abdul Majid mengangkat bahu. Mungkin, bisiknya makin lirih.

Istri Abdul Majid meraung. Sejumlah wartawan datang dan sebentar kemudian berita tentang laki-laki yang dipaksa mengaku melakukan pembunuhan beredar. Dan tak perlu menunggu lama pula, bermacam versi berita dengan beragam variasi bumbunya melesat. Identitas Abdul Majid diungkap. Mulai dari pengusaha organ tunggal, sampai sebutan mantan artis yang pernah tampil di TVRI Programa Medan dan terkenal lantaran sering melantunkan lagu-lagu Pance F Pondaag. Juga nama istrinya, nama anaknya, bahkan nama kucing-kucing dan burung peliharaannya.

Polisi yang awalnya berkeras menyebut Abdul Majid sebagai pelaku pembunuhan Anwar Sadat pelan-pelan mulai goyah. Terlebih setelah kami menggelar unjuk rasa. Kami datang ke gedung DPRD kota dan provinsi dan meminta para wakil rakyat itu mendesak polisi melakukan tiga hal: mengeluarkan Abdul Majid dari tahanan, mengungkap pelaku sebenarnya, dan menghukum oknum-oknum yang memaksanya membuat pengakuan palsu.

Pemberitaan di media juga makin kencang. Kapolres ikut berkomentar. Pun Kapolda. Bahkan menteri. Mereka mengecam upaya pengambinghitaman Abdul Majid.

Enam hari kemudian Abdul Majid dibebaskan. Kami bergembira. Istri Abdul Majid membuat syukuran, masak nasi kuning dengan urap, telur, dan ikan asin, dan dibagi-bagikan ke seluruh warga lorong—kecuali ke rumah Zainuddin Tambi dan Marjili Samsuri. Panggung didirikan di depan rumahnya dan ketiga kibor miliknya dikeluarkan sekaligus. Kesembilan biduan kibornya untuk kali pertama tampil berbarengan.

Wartawan juga datang dan di hadapan mereka, Abdul Majid bilang akan mendesak polisi menghukum penganiaya dirinya. Mereka harus dipecat, serunya lantang. Dia juga meminta pelaku sebenarnya, serta orang yang menuduhnya, diseret ke penjara. Kalimat terakhir ini disuarakannya melalui mikrofon dari atas panggung.

Pernyataan Abdul Majid segera jadi berita yang paling banyak dibaca di media-media daring. Ribuan pendapat hinggap di kolom komentar. Rata-rata memberi dukungan. Esoknya, nama Abdul Majid juga bertengger gagah di halaman-halaman depan koran.

Kami merasa bangga, tetapi tidak lama. Kebanggaan runtuh hanya sepekan berselang tatkala kami membaca berita-berita lanjutan yang isinya justru memojokkan dia. Dalam berita disebut Abdul Majid tidak dapat lagi dihubungi. Tidak mau lagi memberi pernyataan. Dia diduga menerima uang damai dari oknum-oknum yang menyiksanya. Tak disebut berapa dalam berita, tapi entah berangkat dari informasi mana, di lorong kami, dan lorong-lorong lain, lenting ucap sela menyela menyebut jumlahnya tiada kurang dari lima ratus juta.

Abdul Majid membantah. Lalu kenapa berhenti? Kenapa tidak menuntut lagi? Dia punya jawaban, tapi tak ada yang percaya. Sejak itu kami menyebutnya Majid Pucuk. Sebutan yang diletupkan dengan nada kesal, dan tetap begitu meski Abdul Majid sudah tak lagi tinggal di lorong kami. Sekitar setengah tahun pascakejadian, dia pindah, menyusul Zainuddin Tambi dan Marjili Samsuri yang angkat kaki tiga bulan sebelumnya.

Terkait pelaku pembunuhan Anwar Sadat sendiri beredar sejumlah nama yang dicurigai. Namun, kami sudah tak lagi peduli.

Medan, 2020-2021

–

T Agus Khaidir lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 4 Februari 1977. Menulis beberapa puluh cerpen yang sebagian besar telah tersebar dan dimuat di berbagai media cetak, daring, ataupun sejumlah buku antologi bersama. Kini tinggal di Medan sebagai wartawan. Masih memotret, sesekali melukis, mengerjakan desain grafis, membuat sketsa, ilustrasi. Juga masih bermusik, dan tentu saja bermain sepak bola.

Andi Yudha Asfandiyar lahir di Malang, 21 Maret 1966. Kuliah Desain Grafis ITB tahun 1985-1991. Sekarang bekerja di berbagai lini, antara lain sebagai desainer grafik, guru, pelatih berpikir kreatif, ilustrator, dan storyteller. Dia menciptakan karakter kucing Mio. Pendiri PicuPacu Kreativitas! Indonesia, PicuPacu Creative Children Community, serta Institut Drawing Bandung.

sumber : kompas.id, 06 Feb 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme