Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mama Menelepon dari Neraka oleh Surya Gemilang

Posted on Ming, 20 Feb 2022

Peti jenazah Mama ditutup. Lalu aku keluar ke halaman rumah duka untuk menyulut rokok, meninggalkan para bibi dan paman yang tersedu-sedan di dalam; aku merenung soal dosa-dosa yang harus ditebus manusia di akhirat, dan tahu-tahu ponselku berdering: panggilan dari mamaku.

“Sayang …” ucapnya terbata, “Mama masuk neraka.”

Sudah kuduga.

***

Mama layak masuk neraka. Mama pernah sengaja meninggalkanku di pasar, dan seorang pedagang lele berhasil membawaku kembali ke rumah pada esoknya, dan ketika Mama membuka pintu tatapannya berkata: Setan alas. Aku yakin lebih dari 80% ibu yang masuk neraka adalah tukang buang anak. Namun, bukan dosa itu yang ingin Mama tebus ketika ia meneleponku dari neraka.

“Kata iblis itu, Mama harus menebus tiga dosa terberat agar tak mendapat siksaan abadi—ia benar-benar berkata begitu,” jelasnya di telepon, ia tak pernah terdengar setakut itu. Entah suara berisik yang melatarbelakangi percakapan kami berasal dari mana: kendaraan-kendaraan yang melintas di depan gerbang rumah duka, atau instrumen-instrumen penyiksa di neraka. “Tentu tidak ada anak yang ingin mamanya mendapat siksaan abadi—bukan begitu, Sayang?”

“Luar biasa. Cuaca di neraka pasti membuat siapa pun ingat akan anaknya.”

Aku tak berminat menebus dosa Mama; aku pulang ke kota ini khusus untuk merayakan kematiannya. Aku mengulur-ulur percakapan dengannya, dengan mengingatkan dosa-dosa yang pernah ia perbuat padaku—tentu ia mengucapkan maaf bertubi-tubi—dan aku berharap dapat mendengar tubuhnya keburu dirobek instrumen penyiksa. Namun, aku tak bisa diam ketika ia berkata:

“Dosa pertama—dengarkan baik-baik. Mama dan papamu tak pernah bercerai. Ia berada di kebun belakang rumah kita—dari lima tahun lalu.”

***

Papa juga layak masuk neraka—tapi tak selayak Mama. Papa tak berbuat apa pun setiap Mama berbuat jahat padaku, baik ketika Mama menghajar ubun-ubunku dengan penggaris atau membuangku di pasar. Papa hanya peduli pada SPP sekolahku, dan itu tak menghentikan ketersiksaanku di rumah. Setidaknya, berkat SPP darinya, aku bisa mengejar cita-citaku: aku rajin belajar untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar kota, dan bekerja di luar kota setelah lulus, dan mempunyai alasan untuk tak pulang selama-lamanya—kecuali untuk merayakan kematian Mama. Mungkin Papa layak masuk neraka, tapi ia tak layak untuk kutemukan terkubur di kebun belakang—yang tersisa darinya hanyalah tulang-belulang.

Papa dikubur di bawah pohon mangga. Dengan dinding beton pembatas halaman, yang lebih tinggi sekitar 30cm dari kepalaku, tindakan Mama sangat mungkin dilakukan tanpa ketahuan. Dan dengan dibuangnya Papa oleh keluarganya sejak kawin-lari dengan mamaku, plus dengan jarangnya ia bergaul bersama para tetangga, sangat mungkin mayatnya tak diendus siapa pun selama bertahun-tahun.

Sekitar enam bulan setelah aku keluar kota, Mama mengirimiku SMS tentang perceraiannya. Aku tak peduli apa sebabnya; Mama layak ditinggalkan oleh semuanya. Harusnya aku lebih peduli pada perceraian Mama dan Papa: tak semua perceraian berujung pada lelaki dan perempuan yang tinggal di rumah berbeda; terkadang berujung pada mereka yang tinggal di alam berbeda.

Aku memakai sarung tangan, dan kumasukkan tulang-belulang Papa ke dalam tas gunung. Pada malam pukul sepuluh, seorang tetangga bertanya aku hendak pergi ke mana, ketika aku melintas di depan rumahnya, dan aku mengaku hendak mendaki untuk sekadar menghibur diri. Dan aku pun tiba di tempat pemakaman umum barang sejam kemudian, pemakaman di mana kedua orang tua Papa dikubur. Dan seperti fiksi kebanyakan, misi pertama berjalan mudah: aku menyogok si Penjaga Pemakaman sehingga ia bersedia menggali makam entah siapa, makam di samping kedua orang tua Papa, dan menumpuk tas gunungku di atas peti seseorang tersebut. Mama hanya meminta Papa dimakamkan di samping kedua orang tuanya—ia tak menyebutkan bagaimana seharusnya Papa dimakamkan.

“Sial. Aku akan masuk neraka ….” gumam si Penjaga Pemakaman setelah menutup kembali makam yang dibongkarnya. “Anak-anakku mungkin akan menanggung dosaku pula ….”

“Rileks. Malaikat mencatatmu sebagai penolong seekor tikus dari siksa abadi neraka.”

***

Aku menyulut rokok kedua. Aku sudah bertekad untuk tak merokok secara berantai; aku sempat batuk darah seminggu lalu; tapi mendengar dosa kedua Mama membuatku ingin merokok secara berantai.

Mama tak langsung menjawab ketika kutanya apa dosa berikutnya. Terdengar ia bernapas berat; kutahu dosa ini mestilah lebih berat. Bahkan saking beratnya, suara napas itu tak kalah dari pekik klakson truk besar yang lewat di depan rumah duka. Asap hitam dari knalpotnya memasuki gerbang dan seperti hantu terbang mendekatiku; aku terjebak dalam instrumen siksaan neraka, instrumen yang menyelipkan karet ban terbakar ke dalam paru-paruku. Aku hanya mengipaskan tangan di depan hidung, seolah berpindah tempat dapat membuat suara Mama menghilang selama-lamanya.

“Sebelum Papa tak ada …” akhirnya Mama menjawab, “ia berselingkuh dengan gadis SMP. Gadis itu sudah tamat SMP ketika Mama membalas dendam.”

***

Aku langsung menutup panggilan setelah Mama menjelaskan misi kedua. Menjalankan misi ini sama saja dengan melayakkan diriku untuk jatuh ke neraka. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak datang ke rumah bocah selingkuhan papaku—aku hanya ingin melihat kondisinya sekarang.

Ia bocah yang baik, aku yakin begitu. Setiap bocah baik adalah bocah bernasib malang. Aku mengintipnya dari jendela di halaman belakang rumahnya pada pukul sebelas malam. Ia telentang di kasur, cahaya lampu tidur kekuningan membuatnya seperti berada di dalam perapian, dan ia tinggal menunggu maut. Selang medis menjulur dari mulutnya, tersambung ke kubus putih seperti mesin cuci dengan monitor komputer berdiri di atasnya, dan infus tersambung ke pergelangan tangannya. Aku berfirasat dulu ia gadis yang ceria, yang bermain ayunan di halaman belakang sembari merenungkan soal aljabar, dan papa-mamaku membuatnya serenta lidi di atas bara.

Papa berselingkuh dengan si Gadis SMP dan Mama memergoki mereka di hotel. Sekitar empat tahun kemudian Mama memberanikan diri mendatangi rumah ini, ketika hanya ada sang gadis yang sedang menonton TV sembari mengerjakan PR-nya, dan membenturkan kepala gadis mungil itu bertubi-tubi ke TV.

Mama memintaku membunuhnya. Bukan sebab Mama membencinya—meski benar ia masih membencinya—melainkan Mama harus menyelamatkannya dari maut yang menjilati tubuhnya tanpa membunuh.

“Lebih baik maut mendudukimu hingga remuk dan tewas, ketimbang sekadar menjilatimu sepanjang waktu,” ucap Mama. Aku tak tahu Mama bisa sedikit bijak.

Bagaimanapun aku tak berminat membunuhnya. Aku hanya akan memandanginya dari halaman belakang, dari bawah bayangan ayunan yang tergantung di dahan pohon mangga dan diayun-ayunkan udara. Cahaya pucat dari lampu di tepi kolam ikan membuat pantulan wajahku di jendela seperti hantu pengintip yang mesum.

Aku tak ingin membunuhnya. Meski aku percaya ia harus mati secepat-cepatnya. Aku tak ingin membunuhnya, sampai seorang wanita memasuki kamarnya—mungkin ia ibunya—dan duduk di tepi kasur sembari menangis—sang anak sudah seperti ini selama setahun terakhir, ibu mana yang tak sedih kecuali mamaku?—dan tiba-tiba wanita itu menampar anaknya. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Dan itu terus berulang hingga kali kelima, dan sang anak tak kunjung terbangun.

Setelah tamparan kelima, sang ibu tersedu-sedan dan mengusap-usapkan tangan ke pangkuan. Kakiku gemetar dan serenta es setipis lidi; udara menyelipkan salju ke balik sepatu serta jaketku; keringat berlesatan dari dahi dan ketiak dan punggungku—sang ibu menampar gadis itu untuk keeenam dan ketujuh dan kedelapan kalinya.

Aku tak bisa diam. Ia harus mati secepat-cepatnya. Penamparan selanjutnya masih berlangsung. Aku memungut dua batu sekepalan tanganku dari tepi kolam, kulempar batu pertama hingga kaca jendela pecah dan sang ibu menoleh—segera kulempar batu kedua hingga menghantam dahinya dan ia pun tumbang. Lalu aku membakar tali ayunan, kuangkut dudukan ayunan kayu itu ke depan jendela, dengannya kubersihkan birai jendela hingga terbebas dari pecahan kaca, dan aku memasuki kamar tersebut, sang ibu pingsan, kuhantam bertubi-tubi kepala sang gadis dengan dudukan ayunan.

Ia anak yang baik. Beberapa anak yang baik lebih baik mati secepat-cepatnya.

***

Tak ada siapa pun di rumah ini selain mereka berdua, jadi aku membuka pancuran air di kamar mandi—aku tak mungkin kabur dengan baju dan tubuh berlumur darah. Air hangat mengucur; aku duduk menekuk lutut di lantai; tubuhku melepuh dan ruangan dipenuhi uap—aku duduk pasrah di bawah cuaca panas neraka.

Tiba-tiba ponselku berdering, kukeluarkan dari pakaianku yang menumpuk di sudut wastafel—sial: sejak kapan pakaianku jadi bersih dari cipratan darah? Aku segera merentangkannya di depan cermin dan membolak-baliknya—pakaianku benar-benar bersih dari cipratan darah ….

Ah, ponselku masih berdering. Aku menjawab panggilan. Mama menelepon lagi dari neraka—ia menjelaskan dosa terakhirnya yang mesti kutebus: inilah dosa paling berat ketimbang dua dosa sebelumnya ….

Malam itu aku tak pulang. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga; aku tak menunggu esok malam seperti saat menebus dosa pertama dan dosa kedua.

Aku berdiri di depan makam Mama. Bunga-bunga segar mengepung makamnya. Wanita jahat tak layak dikepung bunga-bunga yang segar. Aku menendang semuanya. Aku membuka celana dan berjongkok di makamnya. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga—aku tak berminat menebus dosa ketiga—Mama layak masuk neraka—Mama layak mendapat siksaan abadi. Aku berak di atas makamnya.

Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia telah lulus dari Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015),Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Basabasi.co, dan lain-lain.

Butet Kartaredjasa, dikenal sebagai aktor monolog. Sejak di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) akhir tahun 1970-an, lelaki kelahiran Yogyakarta 1961 ini aktif berteater. Kini, selain jadi motor Teater Gandrik dan program “Indonesia Kita” juga salah satu Dewan Pembina Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

sumber : harian Kompas edisi 20 Februari 2022 di halaman 9 dengan judul “Mama Menelepon “.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme